Rabu, 08 April 2009

Yang Datang Tanpa Rasa Sayang

Yang Datang Tanpa Rasa Sayang


Kepadamu aku hadir

tanpa rasa sayang,


Hari ini aku hadir lagi melalui ungkapan dalam ketikan huruf keyboard. Sungguh menjadi alasanku mengapa aku tak ingin bertemu denganmu. Menjadikan aku merasa enggan dan seolah membuatmu menjadi salah paham dengan keberadaanku yang lebih nyaman ketika aku tidak mendekat padamu. Ada banyak alasan yang menjadikanku lebih memilih menjauh daripadamu dibandingkan seperti masa-masa dulu, dapat hadir tanpa beban.

Sungguh, aku terpaksa mengakuinya! Mendekat padamu adalah beban yang amatlah amat berat.

Pada awalnya, aku cinta dengan ungkapan-ungkapanmu melalui surat elektronik ataupun melalui pesan singkat di telepon genggamku. Aku merasa nyaman dengan setiap lekuk kata yang terbentuk dari pikiranmu. Aku merasa semua hal itu adalah hal yang hidup. Terlalu mustahil jika aku tidak bisa mengerti apa yang kau maksud. Kau rangkai semua keindahan aksara itu lewat apa yang kau kirimkan.

Lama-lama aku mengerti ada hal yang tak seharusnya kita lakoni. Dengan terpaksa, aku harus membenci semua yang kau kirimkan padaku. Surat elektronikmu terpaksa langsung kubuang tanpa kubaca. Pesan singkatmu yang senantiasa absen dalam layar telepon genggamku langsung kuhapus tanpa jejak sedikitpun. Perlahan aku menjadi merasa muak dengan ungkapan - ungkapan yang kau kirimkan setiap hari untuk memotivasiku. Rasa-rasanya aku tak perlu dimotivasi dengan kata - katamu.

Pada awalnya, aku nyaman ketika berada di dekatmu. Kau seperti penjaga yang selalu siap sedia untuk menjagaku. Tak perlu kurasakan khawatir ataupun gundah ketika kau menggandengku. Aku tahu itu adalah caramu untuk menyalurkan rasa sayangmu padaku. Dari banyak cara, kau memang telah memutuskan untuk demikian.

Lama-lama, aku mengerti aku tak perlu dijaga olehmu. Aku tak pernah merasa membutuhkanmu. Kutepis tanganmu ketika engkau ingin menggandengku. Aku tahu hatimu terluka dengan perbuatanku. Koyakan itu begitu dalam, namun tetap kuteruskan ketika tanganmu mulai mendekat untuk menggandengku. Aku menjadi enggan dengan caramu untuk menyalurkan rasa sayang.

Pada awalnya, aku sungguh gembira ketika bertemu denganmu. Perjumpaan denganmu selalu kunantikan sepanjang hari. Kadang, aku menjadi risih dan ingin tahu keberadaanmu ketika kau jauh daripadaku. Aku jadi merasa diguna-guna oleh air wajahmu yang selalu membuatku merindu. Aku menjadi seorang gila yang menanti aktor kesayangannya pentas di depannya dan membuatnya histeris. Itulah aku ketika kamu ada.

Lama-lama, aku mengerti memang seharusnya aku tak perlu sampai jauh ke sana untuk merindumu. Terlalu naif. Akupun jadi muak sendiri dengan pola tingkahku masa lalu di matamu. Aku menjadi merasa salah dengan hal itu aku bisa membuatmu terus berharap. Aku lebih memilih untuk hidup sendiri walau itu menyesakkan.

Pada awalnya, aku suka dengan setiap nasihatmu. Dari gayamu berbahasa, mudah kucerna dan mudah membuatku merasuk. Begitu kau berbicara, aku seperti mendengar pidato seorang yang besar. Kau seperti Tuhan atas diriku. Hanya kau dan kau sajalah yang berhak mengusik diriku seorang.

Lama-lama, aku mengerti tak boleh lagi kau berbuat demikian di hadapanku. Seharusnya kupatahkan semua nasihatmu. Semua nasihatmu menjadi api yang siap membakar hatiku. Tak lagi kucamkan dalam pikiranku bahwa kau adalah penasihat agung yang ulung. Malah sebaliknya, kau hanya mengguruiku saja.

Seandainya kau tahu, dengan apa yang kuperbuat sekarang benar-benar membuatku menjadi perih sendiri. Kadang aku ingin juga merasakan cabikan yang kubuat sendiri kepadamu. Namun, aku tak perlu merasakannya. Memang semua rasa itu kuperbuat untukmu. Penuh dedikasi kepadamu dengan rasa benci.

Mungkin dengan membuang setiap lekuk aksaramu. Mungkin dengan menolak pegangan tanganmu. Mungkin dengan menjauhkan diri darimu. Atau dengan membuatmu bosan untuk menasihatiku. Dengan cara itu kuharap kau dapat membenciku sehingga dengan mudah kamu dapat membenciku.

Tapi apa yang kuharapkan malah berbanding terbalik. Lekuk aksaramu selalu mengundangku untuk membacanya. Kata-katamu selalu membuatku mati dalam penasaran. Walau seharusnya tak perlu kubuka atau kubalas. Kadang rasa selalu mengalahkan apa yang diinginkan.

Atau dengan menjauhkan darimu adalah hal yang mudah bagiku? Ternyata tidak! Ketika bertemu denganmu, matamu selalu mengundangku untuk lekas bertemu. Walau dengan mudah aku berlari menjauhimu, ternyata tak pernah mudah. Setiap kali aku ingin tahu kegiatanmu, kesibukanmu, atau di mana kau saat ini.

Sialnya, nasihatmu terlalu begitu berharga. Semua itu memang pantas untuk kulakukan. Tak bisa kutolak. Nasihatmu semuanya benar. Dan kau mungkin telah tahu sendiri bahwa aku telah jenuh dengan nasihatmu yang sebenarnya tak pernah membuatku untuk penat. Aku ingin membuatmu berhenti dengan kata-katamu.

Dengan hal demikian yang kulakukan, seharusnya kau dapat membenciku dan menjadikan aku jijik di matamu. Bukan sebaliknya seperti sekarang. Kamu malah semakin mencoba menyayangiku.

Aku tak bisa memisahkan diri daripadamu begitu saja. Ada hal yang kau tak dapat mengerti mengenai keputusan yang kubuat ini. Aku memang salah terlalu dini membuat ikrar tak akan memisahkan dirimu selamanya. Jadi dengan cara ini kucoba membuatmu berlalri dariku. Seharusnya memang kau membenciku bukan membebaniku dengan rasa sayangmu yang semakin menggunung seperti sekarang. Aku harus, ya aku harus membuatmu membenciku. Karena dengan cara itu kau dapat membuatku tak lagi layak bersanding di hadapanmu.

Sungguh... Aku terlalu mencintaimu, namun ada hal yang tak dapat kau mengerti.
Aku tak akan lagi pernah datang kepadamu dengan rasa sayang.
Walau kutahu itu hal yang sungguh munafik termasuk kepadaku sendiri.



Dariku
yang datang tanpa rasa sayang




A.A. - dalam sebuah inisial
8 April 2009 | 20.20


PS: Tulisan ini sengaja kutuliskan untukmu, Margareth, untuk seseorang yang ingin kau buat membencimu, YD.

38 komentar:

  1. coba nih surat diikutin ke lomba surat cinta gagas waktu itu
    pasti masuk

    BalasHapus
  2. Weks... kapan juga gue menangnya? Hahaha...

    BalasHapus
  3. pesan dari xl
    heehehe... yang sering difward ke kita

    BalasHapus
  4. Penyakit maag kalau pagi belum makan :-))

    BalasHapus
  5. Udah jarang dapat, kalo dapat nanti gue foward

    BalasHapus
  6. so sweet...
    makin cantik tulisannya...
    keep writing..

    BalasHapus
  7. Ini kan karena pakarnya, Om Nino
    Keep writing too, Om Nino
    Ga siaran?

    BalasHapus
  8. barangkali dengan membuangnya bisa sedikit mengurangi beban :D

    BalasHapus
  9. tulisan pergulatan batinnya seru juga mbak Av....
    simply love it : )

    BalasHapus
  10. sweet.... ada emosi mesra dalam tiap jejalan hurufnya...

    BalasHapus
  11. Terima kasih Ibu Connie :-)
    Selamat berlibur

    BalasHapus
  12. Ah, bisa aja nih... :P
    Tapi tetap saja saya kalah sama pakarnya

    BalasHapus
  13. Yang dibuang tanpa rasa sayang :D
    Siang Ave ^^

    BalasHapus
  14. Untung judulnya "Yang Datang Tanpa Rasa Sayang"
    Hehehe...
    Siang juga Mbak Dewi, ceriakah hari ini?

    BalasHapus
  15. Wahahaha... jadi dong. Sampe sore banget, jam 4-an

    BalasHapus
  16. Bukan. Ini soal rahasia pribadi :-))

    BalasHapus
  17. Sekitar 200 pemilih, sisanya berputih ria...

    BalasHapus
  18. rasa sayangnya di simpan di mana dik?

    uraian yang asyik nih, ayo episode 2 mana?

    BalasHapus
  19. apakah cinta penuh rasa kemunafikan, shg tak perlu lagi kejujuran?

    *wah, cukup membuat penasaran episode ini.

    BalasHapus
  20. Alhamdulillah cerah dan panas :D
    Mulai rame nih jalanan gak kayak kemarin sepi......
    Sedang apa Ave ?

    BalasHapus
  21. Lupa, Om Damuh... kekekekeke...
    Om Damuh mungkin ingat taruh di mana?

    Tunggu ya, Om Damuh. Terima kasih.

    BalasHapus
  22. Cuma dua episode saja, Mas Suga...
    Penasaran dulu saja ya :-)

    BalasHapus
  23. Jakarta sepi, tandanya mereka semua migrasi ke Jogja.
    Sedang menikmati sepinya Jakarta, Mbak Dewi :-)

    BalasHapus
  24. Tuhan mencintai semua orang tanpa membedakan siapakah orang itu dan perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. God bless you !

    BalasHapus
  25. seperti kata hati yang ingin terucap...

    :)

    BalasHapus
  26. Amin Rm. Lauren. Tuhan selalu tahu apa yang dilanda oleh umatNya.

    BalasHapus
  27. Namun tak bisa dilampiaskan :-))
    Heuheuheuheuheu....

    BalasHapus
  28. halah... ungkapkan saja yang ingin di ungkapin...
    daripada terbebani dan jd melow....
    :))

    BalasHapus
  29. Nanti saya sampaikan kepada orangnya langsung...
    (Ini bukan cerita tentang aku dan dia, melainkan dengan dia dan dia yang lain)
    Halaaagh!!! Hehehe...

    BalasHapus
  30. Sungguh... Aku terlalu mencintaimu, namun ada hal yang tak dapat kau mengerti.
    Aku tak akan lagi pernah datang kepadamu dengan rasa sayang.
    Walau kutahu itu hal yang sungguh munafik termasuk kepadaku sendiri.

    akhir kalimat yang mempesona. meski cukup bergidik membacanya. nice wiriting Ave :)

    BalasHapus