Tampilkan postingan dengan label neversaygoodbye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label neversaygoodbye. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2011

Perihal: Pergi

Biar hari-hari menjadi sebuah manifestasi karya yang sangat abadi, maka kita harus berani meninggalkan mereka yang kita kasihi untuk sebuah masa depan yang setiap detik akan kita sambut. Adapun tentang hari ini, biar waktu mengelolanya menjadi sebuah kenangan yang tersimpan rapi di sebuah ruang, di dalam rumah yang tak pernah lupa untuk mengingatnya.

Aku pun demikian adanya. Kuberanikan diri untuk pergi, menanggalkan semua yang telah kumiliki, meninggalkan semua yang kucinta, dan melangkahkan kaki ke negeri yang berbeda. Kita berpisah. Bukan berarti melupakan. Untuk itulah, mengapa mereka membenci apa yang dinamakan berpisah. Meski hari demi hari bergulir, cepat atau lambat, tahu atau tidak, sanggup menerima atau tidak, kehilangan akan datang seperti matahari yang terbit tanpa sanggup kita menjegalnya untuk tidak tenggelam.

Bahwa aku mengasihi semua kenangan yang pernah ada di kota ini. Maaf bila aku lebih sering menggerutu sebagai manusia daripada mensyukuri apa yang pernah kunikmati dalam suka dan duka, bahagia dan lara, senang dan susah. Dan aku pun hanyalah manusia; tak pernah lepas dari segala kesalahan.

Begitu banyak cerita yang kurawi di kota ini, terlalu banyak harapan yang kutaruh di tempat ini, namun masih adakah tempat bagiku untuk berpulang di suatu hari nanti? Sejauh apa pun aku pergi, aku percaya esok aku akan kembali, seperti petualang mana yang tak rindu akan rumah. Bagiku, tiada apa-apa bila aku tidak mengeja rasa rindu yang menggebu dan meletup di dada. Aku hanya sanggup menyimpannya dan menumpahkannya ketika pulang di hari depan.

Percayalah, aku tidak akan melupakan begitu saja. Terlalu manis untuk dilupakan begitu saja. Dan satu lagi, aku akan pulang untuk melepas cumbu mesra di hari esok.

Aku pergi dulu, sampai jumpa di lain waktu.




Peluk sapa dan cium mesra,

Jakarta, 7 Agustus 2011 | 23.15
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 29 Juli 2011

Perihal: Pamit

: Berlianevie Harjan


Ini sudah kuinsafi sejak lama bahwa suatu hari nanti kita memang akan memilih, menempuh, dan menikmati jalan kita sendiri-sendiri. Bahwa yang hanya bisa kita kenang adalah kenangan yang masih tersimpan rapi di dalam mozaik pikiran kita. Ada jalan di mana kita harus berpisah untuk bertemu lagi di suatu ketika. Mungkin di Puncak Everest, di Pegunungan Alpen, di Samudra Atlantik, di Laut Baltik, atau di jalur Gaza. Mungkin. Atau kemungkinan yang bisa terjadi adalah kita tidak pernah bertemu lagi.


Aku tahu, ini adalah soal melepas yang memang harus dilepas. Kehilangan memang sudah tidak bisa dipungkiri dan tak seorang pun mampu untuk menolaknya. Sejak kecil, kita sudah dididik untuk menerima kehilangan itu menjadi suatu hal yang lumrah, tetapi semakin bertumbuh dewasa, kita semakin mengerti bahwa kehilangan adalah hal yang begitu menyakitkan. Kita tidak bisa menerima lagi kehilangan itu sebagai hal yang biasa, tetapi juga bukan hal yang spesial. Justru itu, kita lebih memilih membenci apa yang dinamakan dengan kehilangan.


Waktu pun tidak memiliki hak apa pun untuk mengubah yang telah ada. Kehilangan adalah kehilangan, apa pun namanya, bagaimana bentuknya, seperti apa caranya, di mana, kapan, atau mengapa harus ada, ia akan tetap berwujud kehilangan. Itulah yang pernah dan akan kita rasakan: kesepian dan saling rindu di dunia yang beribu-ribu jarak yang memisahkan.


Di musim panas dan hujan, aku pun tahu, kita pernah mencipta kenangan dan bahagia pernah teranyam di setiap segmennya. Untuk itu, kenangan selalu berwujud meski tak sanggup kita sentuh. Dengan cara itu, di masa depan, kita bisa kembali ke hari-hari kemarin meski tak akan lagi sama.


Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik, sahabat dalam suka dan duka, dan penasihat yang ulung. Terima kasih sudah pernah mengisi waktu dengan bahagia dan air mata. Terima kasih sudah menjadi bahagiaku dan sedihku karena tiada itu semua betapa tawarnya hidup ini.


Aku selalu membenci sebuah pertemuan, karena kuyakin akhirnya adalah sebuah perpisahan.




Jakarta, 29 Juli 2011 | 23.09
A.A. - dalam sebuah inisial

Kamis, 21 Juli 2011

Tentang Rumah Penuh Kenangan

Rumah adalah tempatmu untuk kembali pulang setelah ribuan mil kau lintasi dunia ini dengan ribuan pengalaman yang harus kau simpan.
Rumah adalah kotak pandora yang tak bisa berdebu, selalu mengingat tentang kelahiranmu sampai saat kau harus dilepas orang tuamu.
Rumah adalah harapan di masa mendatang yang selalu rajin dipupuk agar bertumbuh subur.
Rumah adalah pabrik yang memproduksi kehangatan tiada henti dan tak pernah mengenal berhenti produksi.
Rumah adalah tempat untuk belajar terbang hingga pada waktunya kita pun akan meninggalkannya untuk mengangkasa.
Rumah adalah rumah dengan definisi yang tak bisa dijangkau oleh aksara.

Akupun akan rindu pulang, suatu hari nanti.



Jakarta, 21 Juli 2011 | 22.52
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 01 Juli 2011

Vale!



kita, di antara cangkir yang hangat dan gelas yang berkeringat
seperti uap yang menguap dari mulut cangkir
seperti embun yang membasahi tubuh gelas
kupikir kau dan aku seperti uap dan embun: pergi dan kembali
tapi, kapan?


hujan pun menyaksikan pembicaraan intim kita
bukan aku tak suka, tapi aku lebih semakin merasa terperih
kadang kita bisa mencintai hujan
tapi bisa membencinya seperti hari ini, hari ini aku membencinya

ia tak bersalah apapun kepadaku, tapi dengan datangnya
ada seribu kenangan yang mengalir dalam langkah kita
ia mengingatkanku tentang caranya menangis
meski aku selalu bingung bagaimana caranya mengeluarkan air mata

gulana datang ketika gundah pun tiba
kita sanggup melewati waktu, tapi tak sanggup menghentikannya
dan saat itulah,puncak segala puncak aku harus siap
dan kaupun juga, seharusnya siap

pada akhirnya akan ada punggung yang saling berbalik
ada mereka yang berangkat ke negeri timur
ada yang hanya diam di kotanya saja, menunggu pulang
dan ada juga yang hanya mampu menatap cakrawala

ketika kita tahu soal ini, mungkin kita tak akan memilih
biar saja angin membawanya berlari ke mana pun inginnya
dan agar ada waktu yang berjumpa di hari depan
akupun kelu melepas, tapi aku bahagia demi hari depan




Serpong, 1 Juli 2011 | 20.00
A.A. - dalam sebuah inisial


Jumat, 24 Juni 2011

Gone Too Soon



Like a comet
Blazing 'cross the evening sky
Gone too soon

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night

Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon

Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon

Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon


Michael Jackson
June 25, 2009 - June 25, 2011


Sabtu, 04 Juni 2011

Soal Perih



Buat kamu,


Ternyata saya tahu bagaimana rasanya berbagi sakit. Tapi saya lebih tahu untuk mempersiapkan kehilangan yang teramat sangat. Sesungguhnya, saya sangatlah tidak siap untuk menghadapinya. Ini benar-benar godam yang harus saya pikul dengan sangat berat. Saya siap akan pertemuan tetapi saya tidak sanggup menghadapi apa yang dinamakan dengan kehilangan. Saya memang manusia biasa, seperti insan pada umumnya yang tak sanggup menghadapi kehilangan.

Saya pikir saya seorang yang kuat, siap menghadapi semua ini. Saya pikir ini adalah hal yang biasa, ternyata lebih dari itu. Saya pikir saya bisa berjalan seperti biasa dalam kondisi seperti ini. Saya pikir saya akan tenang-tenang saja untuk meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini.

Ternyata keterikatan batin kita terlalu kuat. Sangat kuat.

Arwah kita satu, darah kita satu. Yang terluka padamu, berdarah padaku. - Sutardji Calzoum Bachri

Saya menuliskan untuk kamu dengan terpaksa, dengan mata yang sembab menahan bendungan air mata. Semua kata mengalir begitu saja. Tak ada lagi yang bisa saya pendam. Saya benar-benar dalam ketakutan saat ini. Saya bukan takut akan kematian yang akan menghadang di depan, tetapi terlebih dari itu, saya takut dengan kehilangan yang menyakitkan.

Saya benci air mata. Saya benci menangis. Saya hanya suka dengan kebersamaan. Ya, terserah dengan kata orang-orang bila saya orang yang egois karena mereka belum tentu mengerti seberapa dekat antara kita. Mereka mengatakan perpisahan adalah hal yang lumrah karena mereka belum pernah menghadapinya. Bila mereka mengerti, mereka akan tahu ini pedih yang begitu perih.

Seberapa jauh surga dari kita? Itu yang selalu ingin kutanyakan. Biar aku bisa menghentikan waktu. Aku tahu Tuhan tidak bisa menghentikan kehilangan, menghentikan perpisahan. Aku juga tak ingin menyalahkan Tuhan. Ia tak bersalah atas apa pun. Aku hanya ingin menghentikan waktu. Biar ia menunda kehilangan yang akan kita hadapi sampai aku puas. Puas untuk mencumbumu dengan bahagia sehingga bila saatnya telah tiba, aku tak perlu mengantar perpisahan dengan air mata. Biar kamu tak perlu merasa perihnya air yang menetes di antara luka.

Saya banyak belajar setelah berita yang (sebenarnya tidak terlalu) menyentak saya ketika mendengarnya. Saya tahu kita akan pergi ke mana orang-orang akan pergi. Tapi lagi-lagi saya tidak bisa menghadapi apa yang dinamakan kehilangan.

Bila memang harusnya pergi, tolong katakan dahulu agar saya punya waktu untuk mengucapkan sampai jumpa. Saya masih mematri apa yang dinamakan selamat tinggal dan sampai jumpa itu sangatlah berbeda. Saya membenci ucapan 'selamat tinggal' karena saya percaya orang-orang masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi, entah di mana, entah di dimensi mana, dan entah di gurun yang mana. Tapi, apa kau tahu bagaimana caraku menyayangimu dengan diam-diam seperti ini?

Mungkin kurasa, kehilangan yang akan memberikan makna seberapa besar arti seseorang ketika ia tiada, bukan ia ada.


Jangan lekas pergi, tapi lekaslah sembuh! Masih banyak cerita yang belum kita rawikan di halaman rumah sebelum rumah ini kita tinggalkan.




Lebih dari sekadar benang merahmu,




Jakarta, 4 Juni 2011 | 20.38
A.A. - dalam sebuah inisial

Sabtu, 19 Februari 2011

Totalitas Memberi, Totalitas Menerima


Satu-satunya yang membuat saya bahagia adalah kini saya bisa fokus kepada satu hal: belajar untuk lulus. Ada target di sana, ada cita-cita yang saya tanamkan di dalamnya. Tapi semua itu juga tak seirama bila saya tak luput oleh kesedihan bahwa saya pernah bekerja dengan cinta untuknya. Saya melepaskannya kini.

Ya, waktu yang dapat saya gunakan tinggal sejengkal lagi. Menghitung dua ratus jam lagi. Tak banyak lagi. Saya pernah belajar untuk jatuh cinta berproses di dalamnya. Saya tumbuh besar bersamanya dan saya belajar banyak darinya. Saya mengenal dan dikenal oleh banyak kalangan. Saya dituntut untuk tetap fokus dan bisa mengatur waktu meski lebih banyak melanggarnya daripada fokusnya.

Saya bekerja di belakang layar. Di belakang layar salah satu penerbitan. Tak banyak yang tahu kalau orang di belakang layar itu adalah saya. Ratusan macam pertanyaan hadir siapa sebenarnya orang yang berada di belakang layar itu. Saya cuma bisa tertawa ketika salah seorang pengikut berkomentar, “sesekali admin-nya (administrator) nongol dong.” Banyak pertanyaan dan pernyataan serupa yang keluar selama saya menangani.

Tapi dari sana, saya menemukan esensi. Saya mengakrabi diri dengan satu dan lainnya tanpa harus mereka ketahui siapa saya dan saya tak perlu cemas siapa mereka. Toh, akrab tak perlu tahu siapa seseorang itu bukan?! Selama kita merasa kita bisa dekat dan merasa nyaman, kita tak peduli siapa dia.

Rasa bahagia, sedih, jengkel, kesal, dan lucu selalu mewarnai hari-hari saya selama bekerja di dalamnya. Bahagia bila saya mengadakan suatu “acara” online diwarnai keberhasilan. Bahagia bila apa yang saya lakukan demi satu buku menuai keberhasilan: cetak ulang (meski saya insafi kebahagiaan saya tak sebesar kebahagiaan penulis yang mendapat kabar cetak ulang itu, haks!) Bahagia bila saya bisa dekat, hadir, dan masuk ke dunia “teman-teman” maya yang tak mereka kenali. Itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk saya.

Sedih apabila mendapat kabar buku yang pernah saya perjuangkan tak berdaya di pasaran meski saya sudah berupaya semampu saya untuk menggempurkannya. Sedih apabila mendapat teguran karena saya salah, saya lengah, dan saya salah mendapat informasi. Sedih apabila saya merasa hilang dan waktu saya tersita untuk hal yang lain. Itu adalah kesedihan sendiri untuk saya.

Jengkel bila e-mail yang saya tunggu-tunggu tak masuk pula. Jengkel bila saya sudah memberikan deadline kepada penulis, mereka seakan-akan mengabaikannya (dan pikir saya, mentang-mentang buku sampeyan sudah terbit, deadline bocah ini dilupakan). Jengkel bila di saat saya yang harus turun tangan, terpaksa orang lain yang turun. Itu adalah kejengkelan sendiri untuk diri saya.

Kesal jika media online tidak bekerja secara optimal untuk saya. Kesal jika tulisan yang harusnya saya publikasikan malah lenyap sendiri karena lupa disimpan. Kesal jika internet dalam kondisi naik-turun, sementara interaksi harus dikejar. Itu adalah kekesalan sendiri untuk saya.

Lucu karena komentar-komentar yang masuk di antara berharap dan bercerita. Lucu karena saya membaca balasan-balasan e-mail dari penulis yang dingin ternyata memiliki selera humor. Lucu karena saya pun bisa bercanda di dalamnya sambil bekerja. Ini adalah kelucuan sendiri untuk diri saya.

Ya, kebahagiaan, kesedihan, kejengkelan, kekesalan, dan kelucuan tersebut akan menguap tak lama lagi. Lagi-lagi saya akan kehilangan mozaik-mozaik yang pernah bersatu bersama saya. Betapa bernilainya sesuatu bukan kala ia ada, tetapi kala ia tiada dan mau tak mau kita harus melepasnya. Kini saya tahu betapa bernilainya semua itu, semua yang pernah saya lakukan, semua yang pernah saya terima.

Saya memberi sesuatu, saya mendapatkan sesuatu. Ada cermin kebahagiaan yang terpantul di dalamnya. Saya pernah menjadi bagian darinya. Saya pernah ada untuknya, untuk satu totalitas: totalitas bekerja. Saya bekerja dalam kondisi apa pun. Di kala bahagia dan tidak. Di kala sedih dan tidak. Di kala marah dan tidak. Semua itu mempengaruhi meski tak begitu tampak. Di antara keterbatasan waktu, saya bisa menyempatkan diri untuk bercanda di dalam dunia maya. Di antara sela-sela deadline, saya bisa mendapatkan bahagia. Saya terhibur di dalamnya walaupun sesungguhnya saya sedang bekerja.

Saya menikmati pekerjaan ini. Di belakang layar, tak banyak orang yang tahu, saya dikenal seperti apa diri saya. Dengan banyaknya sebutan untuk diri saya dari mereka. Membalas pesan dan komentar mereka satu per satu. Mewujudkan harapan mereka satu per satu. Dan antara saya dan mereka, kami dapatkan bahagia tanpa sengaja.

Di sini juga saya mengenal banyak orang dari berbagai macam karakter dan kepentingan. Mulai dari redaksi yang berdiri di belakang saya, menuntun saya, mendidik saya harus seperti apa, dan memberikan totalitas dengan berbagai kemudahan kepada saya. Sudi saya telepon meski sudah bukan lagi jam kantor. Sudi membalas pesan saya meski bukan di hari kerja. Sudi mengirimkan e-mail yang saya minta di tengah malam. (Ah, ya, begitulah saya. Aktifnya baru tengah malam, haks!)

Juga kepada penulis yang sudah menopang saya, membantu saya, dan (tak langsung) men-support saya. Rela menunggu jawaban dari saya untuk jadwal yang telah saya tetapkan. Rela menjawab pertanyaan saya meski saya beri waktu begitu minim. Rela saya ‘kejar-kejar’ agar simbiosis mutualisme di antara saya, penulis, dan redaksi bekerja dengan baik.

Sampai kepada pembaca. Tak ada nilainya harga sebuah buku bila tak ada pembacanya. Saya menjaga hubungan mereka dengan saya dengan berbagai macam cara. Seperti menanam bibit, mereka akan tumbuh subur, berbunga, dan berbuah bila kita merawat dengan baik. Saya merawat mereka dengan berbagai macam ide yang tumpah di kepala saya dengan satu tujuan: memetik buah setelah itu. Tanpa mereka, saya, redaksi, dan penulis pun tak akan bernilai apa-apa.

Dengan kepenuhan hati saya memberikan sesuatu, totalitas bekerja. Dan dengan kepenuhan hati saya menerima sesuatu, totalitas hasil. Selalu ada hal yang bertautan meski tak tampak jelas. Selalu ada hal yang bisa dibagikan meski dalam waktu yang minim.

Saya bahagia karena saya pernah menjadi bagian di dalam kebahagiaan mereka. Menjadi kebahagiaan di antara penulis, redaksi, dan pembaca. Saya pernah merasakan menjadi ketiganya. Saya pernah menjadi penulis, pernah menjadi redaksi, dan pernah menjadi pembaca. Saya tahu merasakan ketiganya dan tahu apa yang dialami oleh ketiganya. Dan setelah saya pernah memberi, saya pernah menerima, kini saya harus merelakannya. Itu menjadi kesedihan hari ini bagi saya.

Saya akan merindukan hal itu, pasti. Ah, mungkin sesekali saya akan mampir dengan status yang berbeda. Tapi nuansanya tentu akan berbeda. Ada kalanya memberi, ada kalanya menerima. Ada kalanya mendapatkan, ada kalanya merelakan. Bukankah hidup memang sudah dijodohkan untuk saling berpasangan demikian?

Ini adalah persembahan saya kepada mereka yang pernah berada di dalam lingkup kehidupan belakang layar ini. Tangkup sembah untuk kalian semua. Saya tak tahu harus dengan cara apa saya berterima kasih kepada kalian selain melalui ini. Terima kasih untuk totalitas memberi dan totalitas menerima dari kalian. Itu semua tak pernah bisa kubalaskan.

Dan saya tahu, esok tak akan lagi sama. Saya akan merasa kehilangan. Dan biarkan saya berada dalam lingkup kerinduan yang sangat mendalam.

Tabik!

 

Jakarta, 16 Februari 2011| 2.00
A.A. -  dalam sebuah inisial

 

Pro GM, sekali lagi, terima kasih untuk tawa, canda, dan kebahagiaan yang pernah kita beri dan terima.

Kamis, 04 November 2010

Cerita Tentang Kehilangan

Jakarta, 4 November 2010

Tak lagi dapat kupungkiri bahwa aku memang kehilanganmu. Kehilanganmu memang seperti kehilangan matahari di mana aku tak menemukan cahaya yang dapat melepaskan kegulitaan daripadaku. Meski semua hari berlari begitu cepat, melepaskanmu untuk pergi berlalu meninggalkanku seperti angin. Ia berhembus datang, bermain-main sedetik, kemudian pergi lagi. Walau sekuat apapun kita melawan, toh pada akhirnya kita juga harus menerima.

Bahwa kita tak akan pernah menemukan perjumpaan tanpa adanya perpisahan, seperti juga kelahiran tanpa adanya kematian. Jugalah seperti kata orang Jepang bahwa semua harus seimbang seperti Yin dan Yang. Mau sepeti apa kita melawan, toh kita juga akan kembali mengikuti arus. Percaya atau tidak, buktikan saja.

Malam ini aku kehilanganmu. Betapa jujurnya aku bukan? Ini bukan hal yang mudah untuk diterima tetapi mudah untuk kau mengerti bagaimana aku mendapatkan bahagia selama ini.

Mungkin hari ini aku bahagia, tapi semu. Tapi apakah aku menyadarinya? Aku tak tahu juga. Aku sendiri masih larut dalam kehilanganmu, di mana letak kebahagiaanku tertambat dalam jatimu.




20.44
A.A.- dalam sebuah inisial

Kamis, 15 Juli 2010

Dan Hari-hari Tidaklah Lagi Sama



Dan mereka pergi begitu saja, tanpa kita ketahui
walau telah kita sadari tak akan ada yang abadi
termasuk ketidakabadian itu sendiri, perubahan dan kepastian
mereka akan terus berkembang dan berubah
bagaimana juga waktu menjalari suatu ziarah yang panjang
meskipun kita berusaha sejauh apa yang kita bisa
tak mungkin juga kita daki gunung tertinggi
dengan langkah yang terseok-seok
aku tidak butuh teman untuk tertawa
aku hanya butuh mereka sebagai tempatku bercerita
sebagai wadahku untuk menempati wahana kesepian
di mana bianglala berputar seorang diri
dan kuda-kuda mainan hanya peduli dengan kekosongan
mungkin aku sedang berada di sana
tanpa kusadari sepanjang waktu ini
kita tidak lagi bersama
kita terpisah oleh bentangan jarak yang mematri pada egois
kita menghancurkan jembatan antara kita
dan waktu tidaklah lagi sama seperti dahulu
warna-warna lampu kota tidak semeriah dahulu
mereka meredup, hendak mati sendiri
tetapi matahari menangis
dan bintang tersedu-sedu kala malam

Kini hari-hariku tidaklah lagi sama
tidak seperti kemarin
tidak seperti bulan lalu
tidak pula seperti tahun lalu
musim lalu
atau sebelum terbetuknya dunia
hari-hari ini berbeda
tapi apa yang berbeda?


Jakarta, 15 Juli 2010 | 17.23
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 22 Januari 2010

Klimaks

Ada beberapa hal yang memutuskanku untuk menekan tombol pause, menjauh sejenak dari dunia maya. Aku sendiri kalut kalau sampai-sampai kupaksakan lagi, aku lagi-lagi akan terjatuh seperti pada insiden-insiden sebelumnya. Di dalam taraf hidup manusia, aku menemukan banyak pola tingkah dan sikap dari terjemahan karakter-karakter manusia yang begitu kuat. Aku juga memiliki salah satunya. Salah satu dari semua yang ada di dalam dunia ini walau kuaminkan saja aku tidak dapat memiliki semua karakter yang baik dan jahat dari keseluruhkannya.

Kusadari juga pada akhirnya manusia punya batas. Begitu juga denganku. Di awal tahun 2010 ini, aku sungguh terlena dengan kenyataan yang begitu memahitkan hidupku sendiri. Kadang aku begitu egois terhadap diriku sendiri, aku hanya ingin bercerita kepada diriku sendiri. Aku mencurahkan semua ceritaku kepada nuraniku dan tidaklah berbagi solusi kepada realitas yang sudah menjadi bayang-bayang hitam di belakang punggungku sendiri.

Pada kenyataannya juga, aku begitu rapuh kepada diriku sendiri. Aku bersandar di tembok yang berlumut yang telah rayap kenyang memakannya. Di awal ini juga aku harus tergeletak nyaris dua minggu dengan hasil: nihil. Aku tidak melakukan banyak hal. Menulispun tidak. Aku begitu marah kepada diriku sendiri. Aku dendam kepada diriku sendiri. Ini adalah puncakku untuk melampiaskan amarah yang begitu membuncah.

Tubuh ini protes kepada tuannya. Tuannya yang sangat kurang ajar. Tidak tahu diri. Dibayar tidak sesuai dengan upah yang seharusnya. Mulailah aku berpikir harusnya kuinsafi aku hanyalah semata manusia.

Terima kasih kepada seluruh kawan-kawan yang begitu perduli kepadaku. Beberapa SMS, telepon, dan e-mail yang masuk ke dalam inbox-ku begitu banyak. Aku semakin sadar masih banyak yang peduli kepadaku di dalam kesendirianku. Aku sendiri tak tahu apa yang aku cari di dunia ini, apa yang hendak kutetaskan pada tanah yang kuinjak ini.

Memasuki tahunnya yang ketiga untuk blog ini, entah berapa banyak kulahirkan karakter-karakter yang jenaka, yang lucu, yang menggemaskan, yang menyebalkan, yang menakutkan, yang menggelikan, atau yang sama sekali tak tersadari olehku sendiri. Bisa jadi itu jelmaan dari diriku semata atau jelmaan imajinasiku semata. Atau pula itu dari konsep-konsep kawanku dan akulah eksekutornya.

Ini bukanlah blogku yang pertama. Aku punya kavling-kavling lain di dunia maya ini. Aku sering hilir mudik ke mana saja. Aku sering berkelana dan bertemu dengan banyak orang di sana. Namun, ketika aku berlari ke sana, aku merasa di sinilah aku berada. Aku layaknya memang di sini.

Aku tak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Yang jelas, semata aku sedang berada di puncaknya. Di titik paling tinggi dari sebuah konflik.

Siapa nyana, ketika kuungkapkan kata itu, aku sendiri benar-benar terkoyak. Puluhan pesan offline di YM, komentar-komentar di blog, lima e-mail, beberapa SMS dan telepon masuk ke dalam telepon genggamku semata menanyakan keberadaanku. Aku sendiri? Entahlah!

Untuk itu pula, kuucapkan ratusan, ribuan, jutaan, atau tak lagi terhingga terima kasih kepada kalian semua yang datang, membaca, berkomentar, "numpang ngobrol", sampai menjadi ruang temu kangen di kediamanku ini. Kuhargai tak ternilai semua itu, kuhormati sebagai tanda syukur dan terima kasih. Puji dan puja kupersembahkan kepada kalian semua. Itu adalah awal dan permulaan dari sebuah kehangatan.

Kini, kumohon persilahkanlah aku untuk beristirah sejenak. Aku akan kembali. beberapa hari mendatang. Jaga kesehatan selalu, salam untuk keluarga di rumah.


Jabat erat selalu,


Jakarta, 23 Januari 2010 | 12.06
Aveline Agrippina - Pencari Antiklimaks

Jumat, 04 Desember 2009

Pesta Kebun Akhir

Pesta Kebun Akhir
Napak Tilas 2009 Januari - 2009 Desember



"Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That's why it is called the present." - Joan Rivers

Ini adalah sebuah pesta. Pesta sederhana. Tidak lebih dari sebuah temu sesapa hangat. Tidak kurang dari sebuah reuni singkat untuk cengkrama. Apa yang dapat dibagikan dalam pesta? Sekadar makanan? Sekadar salam dan senyum? Nah, tuan rumah dapatlah berbagi cerita. Untuk kali ini, suguhan nikmati saja seadanya...

Terlalu dini. Ya, mungkin terlalu dini bagi Anda untuk mengucapkan selamat tahun baru. Tetapi tidak untuk saya. Ini pesta kebun untuk blog saya. Pesta kecil-kecilan dan menjadi sebuah napak tilas dari perjalanan yang terlewati selama 365 hari. Belum genap memang 365 hari, masih ada 20 hari lagi yang tersisa untuk tahun 2009, tetapi lebih baik saya genapkan saja karena ini adalah catatan terakhir blog ini untuk tahun 2009. Blog ini akan kembali update untuk berkisah pada tahun 2010. Kalau ada update terbaru, itu mungkin hanya cerita lama yang baru sempat diprasastikan di dalam blog ini atau memang sudah berbentuk draft lama sekali di blog ini. Yang paling terbaru kupastikan 2010.

Seperti yang kukatakan pada akhir tahun 2008, aku memang tidak membuat resolusi untuk hal apapun. Kuaminkan bahwa semua akan tergapai dengan sendirinya, usaha dan doa adalah alat untuk proses meraih cita-cita. Dan terbukti memang, tanpa resolusi, tanpa target, saya bisa berproses lebih menyeluruh.

Nestapa dan gembira. Air mata dan tawa. Duka dan suka. Semua ada dalam 2009. Semua nyaris sempurna memadu menjadi satu. Pertemuan dan perpisahan sudah terjadi. Kematian dan kehidupan dalam sebuah jalan adalah kemudahan untuk berpulang, mencari jalan untuk mencapai suatu tujuan. Kita tidak pernah sendiri untuk mencarinya, tetapi menemukannya adalah sendiri. Tak dapat ditentukan kapan kita dapat menerima dan dapat merelakan.

Kehilangan dengan orang yang pernah saya kasihi dan pernah kita jalankan untuk berbagi cerita. Awalnya memedihkan, di mana itu terjadi di awal tahun. Tetapi berjalannya waktu, setiap kalender harian terus disobek dan bertambahlah usianya setiap manusia. Saya bisa menerima kehilangan dan saya belajar memaknai hidup bahwa kita sebagai manusia adalah fana. Tak lebih dari itu adalah ketidakabadian yang akan datang dan yang abadi adalah sejarah yang pernah terukir.

Juga ada lagi kisah yang kubagikan mengenai rasa rindu yang menggebu-gebu untuk sahabat nun jauh di seberang sana. Perpisahan acap kali membuat orang lupa mereka masih ada yang harus diingatnya dan mereka yang benar-benar sejati sebagai seorang sahabat adalah mereka yang tak lupa menghitung jumlah sahabatnya dan selalu rela berbagi kepada sahabatnya itu. Kubagi kisah denganmu, kisah sebuah persahabatan sejati. Persahabatan yang tak digoyahkan jarak dan waktu.

Pertambahan usia untuk orang tua, saudara, dan sahabat juga sudah pernah kubagikan di dalam blog ini. Dalam sajak, cerita, atau esai sebagai hadiah ulang tahun mereka. Yang jelas, mereka tak tahu bahwa aku sudah menuliskannya atas dasar kasih dan cinta tak terbalaskan dari kalian. Kutulis semuanya itu berdasarkan cinta yang kalian berikan dan kudedikasikan kepada mereka semua dengan tulus pada dasar yang paling tulus. Tiada balasan yang kuharapkan selain itu semua.

Patah semangat dan putus asa telah kuanyam jadi sajak dan cerpen. Terkadang esai. Atau penuh kemarahan juga sudah kukupaskan dalam berbagai cerita. Ada yang bermakna dan juga tidak. Kubagi cerita-cerita yang sudah kujalankan dalam kehidupan ini. Ketika aku sedang berbincang dengan sahabatku, ketika kudapatkan sesuatu yang baru, pengalaman rasa berbagi dan cinta adalah sebagai penyedapnya saja. Sebagai wujud itu semua, kubuktikan aku tidak main-main dalam berkata dan membuat apa tujuan dari hidup ini sebenarnya. Sekadar penantian? Sekadar pencarian? Atau sekadar lainnya?

Kisah lainnya juga sudah kubagi seperti cerita perpisahan di bandara. Di mana bandara adalah tempat yang bisa penuh dengan air mata. Penuh rasa sedih dan gembira. Mengharu biru atau duka nestapa. Melebur semua menjadi satu dalam sebuah perpisahan. Beberapa tulisan memang sebagai pengingat saya, saya pernah bertemu mereka yang hebat, mereka yang rendah hati dan tetap beradaptasi pada dunia mereka yang lainnya. Di mana mereka menghirup udara yang sangatlah berbeda dengan keadaan lainnya.

Ada juga kisah kehidupan yang kuulas dalam tulisan, dalam foto, dan dalam nuansa-nuansa lainnya. Tentang kejujuran, nurani yang bicara, dan keberanian menjadi patriot sejati. Cara menjadi manusia yang sebenarnya tak pernah kubagi, tetapi komentar-komentar kawan-kawan adalah cara dan saluran bagaimana berproses lebih bijak. Pertanyaan-pertanyaan temanku yang pernah kuposting juga itu sebagai sekadar berbagi, bukan prosesku untuk memotivasi atau sok sebagai pakarnya dalam bidang polah pikir manusia.

Blog inipun juga pernah mati suri. Ketika aku sibuk bermain di petak lainnya, dia terlantar. Namun aku kembali menenun kata demi kata dan setiap jurnal yang tertulis seperti kisah sendiri dalam hidup. Kemenangan dan kekalahan, kebangkitan dan keletihan, semua silih berganti. Cerita-cerita perjalananku di mana setiap kakiku menyambangi jalan, kubagi cerita kepada aksara-aksara yang tak henti minta ditulis.

Nah, akhir tahun sudah datang lagi. Pesta akhir tahun, pesta kebun kuakhiri saja. Semoga persahabatan maya yang akan menjadi nyata, persahabatan nyata untuk keabadian, dan pesta ini adalah singgasana untuk berbagi, menapaki dan mengulas semua yang pernah kubagikan dan pernah kujalani. Para tetamu sudah menikmati sesajian dan berpamit pulang, mungkin akan kosong. Tetapi masih ada anjangsana-anjangsana lainnya yang membuat kita akan bertemu pada suatu ruang dan lorong waktu yang tak seorangpun tahu.

Sekarang, selamat tahun baru! Dirgahayu untuk semuanya! Pesta kebun berakhir sampai di sini. Kita bertemu di pesta lainnya...

Hendaknya hidup bukan sekadar menunggu, tetapi melakukan. Kemarin adalah sejarah, esok menjadi misteri, hari ini adalah hadiah. Tiada yang lebih indah dari semua itu. Itulah satu-satunya alasan menjadi kado yang paling baik dan nyata.





Jakarta, 4 Desember 2009 | 22.54
A.A. - dalam sebuah inisial


Sabtu, 14 November 2009

Setetes Air

Bapak enggan memakannya. Sakit memaksanya hanya dapat menerima asupan konsumsi lewat selang yang begitu lambat mengalir untuk masuk ke dalam tubuhnya. Aku tetap setia menunggunya. Walaupun dokter sudah mengetok palu, memberikan vonis kepadanya, tak akan lama lagi waktunya, aku tetap menantinya.

"Aku haus..."

Aku tidak diperbolehkan memberikannya minum. Paru-parunya sudah begitu basah. Dokter mengatakan cukuplah suplai dari infus saja yang hanya boleh masuk ke dalam tubuhnya. Zat kimia sudah begitu banyak menumpuk di dalam tubuhnya. Setiap jam, setiap menit, perawat dan tim medis lainnya hilir mudik. Entah mereka mengukur tensi dan suhu tubuh bapak, memeriksa infus, mengganti botol infus, memberikan suntikan, dan lainnya.

Bau obat ini cukup mengenyangkanku. Aku tak bisa makan. Perutku serasa penuh.

Bapak mencengkram tanganku, namun tidaklah keras. Aku tahu apa yang dikehendakinya. Air. Aku tetap berpura-pura mengacuhkannya. Ini demi kesembuhanmu, Pak...

Namun, bukannya bapak menyerah dan membiarkanku tetap pada pendirianku, bapak malah melambai-lambaikan tangannya ke dekat meja di mana gelas berisi air penuh diletakkan. Ia hampir menggapainya, namun gelas itu pecah.

"Praaaang...."

Aku hanya tercengang menatapnya. Bapak menjatuhkan tangannya lunglai. Perlahan ia menangis. Benar-benar air matanya jatuh. Aku berusaha mengembalikan posisi tidurnya sambil merayunya.

"Pak, paru-paru bapak sudah terlalu basah..."
"Aku hanya ingin minum. Aku haus."
"Tapi ini demi kesembuhan bapak."
"Aku akan mati, aku tahu. Aku tak akan sembuh."

Ketika ia mengatakan itu, pecahlah air mataku. Membelah pipiku sendiri.

"Bapak, jangan bicara seperti itu!"
"Berikan aku minum, setetes saja. Aku tak akan meminta lagi."

Aku meminta gelas baru dan menuangkan air untuknya. Sesuai dengan kesepakatan: setetes air. Kujatuhkan setetes ke dalam mulutnya. Bibirnya begitu kering.

"Tiba saatnya..."

Bapak tertidur, lelap... Lelap sekali. Dan tak pernah bangun lagi untuk meminta setetes air.




Jakarta, 15 November 2009 | 11.42
Terngiang menjagamu di kamar beku itu, Om...

Kamis, 09 Juli 2009

Ketika Ada Kata "Perpisahan"

Bagaimana mendeskripsikan kata perpisahan? Saya rasa semua orang juga bisa. Mendeskripsikan kata perpisahan adalah sebuah hal yang mudah. Begitu mudahnya. Mereka mendeskripsikan lebih menjurus pada sesuatu rasa luka, pedih, kehilangan, dan air mata. Eh, air mata? Rasanya belum tentu kalau ada air mata.

Adakah perpisahan yang bernada kegembiraan? Saya tak pernah yakin untuk hal itu. Setiap kali saya menuju bandara, melihat kerabat salah seorang penumpang menangis ketika sang penumpang hendak pergi. Ketika saya di stasiun, mereka rela berbondong-bondong mengantar kepergian. Dan yang paling pasti adalah ketika saya berada di pemakaman, mengantar jenazah. Adakah pemakaman seorang keluarga tanpa air mata? Tak ada. Walau dia seorang pembunuh sekalipun, seorang teroris atau perusak nama baik keluarga, ketika berpulang, pasti akan ada air mata yang mengantarkannya.

Ketika ada perpisahan, lantas bagaimana? Akankah kita terus berkeluh kesah?

Mengapa kalau perpisahan adalah sebuah lambang kedukaan, dia tetap dibiarkan ada?

Seperti inilah aku bercerita kepadamu, kawan. Seorang lahir memang sendiri-sendiri. Dia harus belajar bernafas dan berjuang melawan arus gelombang hidup. Siapa yang gagal, dia akan tersingkir dari permainan. Nah, ketika seseorang lahir dan belajar, dia telah mengenal yang namanya pertemuan. Pada suatu hari nanti, seorang itu pasti akan tersingkir dari permainan. Entah karena usia atau hal lainnya. Dan di sanalah proses perpisahan terjadi.

Maka, ketika ada pertanyaan. Mengapa ada pertemuan dan ada perpisahan? Karena itulah hukum alam. Semua orang tidak bisa melawannya. Mengapa ada kata perpisahan? Karena kata hanyalah sebuah simbolik dari sebuah makna. Hanya saja, ketika bagaimana kita merasakan, semua sudah terangkum dari sebuah kata: perpisahan.

Seperti halnya ada kelahiran, tentu ada kematian. Tak ada awal yang tanpa akhir. Tak ada cinta tanpa benci. Semua itu adalah sebuah proses yang diciptakan oleh alam dengan sendirinya. Tak ada yang dapat melawan semua proses-proses itu dan semua orang akan menjalaninya. Bukan semua orang, semua makhluk yang tanpa sengaja terlahir di dunia ini.

Ketika jarak begitu sangat jauh, ketika kita merasa kehilangan, maka ketika itulah kita tahu sebuah makna dari kata perpisahan. Sayapun sampai sekarang masih bertanya mengapa kata itu ada. Ketika perpisahan hanyalah membuat orang menjadi dirundung duka nestapa, terasa tanpa akhir. Dan semua orang juga akan menjalaninya, cepat atau lambat, tua atau muda, awal atau akhir. Bagaimana caranya, Tuhan memang punya rahasia besar, termasuk dengan perpisahan ini.

Nah, postingan ini memang tertuju untuk seorang karib yang akan berangkat menuju dunianya yang baru dan menjadi pertanyaannya pula: “mengapa harus ada kata 'farewell'?” ketika sedang berbincang di Yahoo! Mesengger, Astrid Camilla. Seperti itulah kawanmu ini menjawabnya. Saya sudah menjanjikannya dan patutnya juga saya menggenapi seperti sebuah pasangan yang tak dapat lagi dipisahkan. Tak akan ada kematian tanpa kelahiran, begitu pula ketika pertemuan ada, maka perpisahanpun menjadi epilognya. Kawan, berbahagialah di duniamu yang baru.

(Aku benci sebuah pertemuan, karena aku tahu akhirnya adalah perpisahan...)


Jakarta, 9 Juli 2009 | 10.31

Rabu, 08 Juli 2009

Jackson, In Memorial




GONE TOO SOON

Like A Comet
Blazing 'Cross The Evening Sky
Gone Too Soon

Like A Rainbow
Fading In The Twinkling Of An Eye
Gone Too Soon

Shiny And Sparkly
And Splendidly Bright
Here One Day
Gone One Night

Like The Loss Of Sunlight
On A Cloudy Afternoon
Gone Too Soon

Like A Castle
Built Upon A Sandy Beach
Gone Too Soon

Like A Perfect Flower
That Is Just Beyond Your Reach
Gone Too Soon

Born To Amuse, To Inspire, To Delight
Here One Day
Gone One Night

Like A Sunset
Dying With The Rising Of The Moon
Gone Too Soon

Gone Too Soon

Michael Jackson - Dangerous



Minggu, 24 Mei 2009

Dialog Malam

            : Teruntuk Astrid Camilla

Kita semua punya cerita, kawan
Dan melalui cerita itu, kita mencoba berdialog
Mengenai rangkai kata yang disulap jadi kalimat
Melalui itulah kita belajar pada sesuatu yang lebih

Aku pun juga punya kisah, kawan
Tentang hidupku dan negeri yang panjang
Itu adalah secuil dari nukilan yang ada
Untuk kubagi denganmu

Jangan salah!
Kematian adalah akhirnya 
Dan awalnya adalah kelahiran
Kau harus bedakan itu

Kita punya jalan masing - masing
Sebagaimana kita punya kisah masing-masing

Kalau kau ingin pergi, pergilah
Dengan kulepaskan engkau, itulah harapan
Dengan kurelakan engkau, itulah asa

Aku tak ingin menjadi rakus
Untuk menjadikan dirimu adalah abadi
Kau bukan punyaku dan aku bukan punyamu
Kita akan berpulang : pada waktunya

Kau bertanya kapan, aku tak tahu...
Tuhan saja masih bertanya-tanya

Aku tahu kau heran ketika aku katakan
Maaf dan terima kasih - kata sederhana
Takut untuk terlambat

Kita punya nasib dan takdir sendiri
Tak ada yang berhak mengusiknya
: termasuk aku sendiri

Kenyataan adalah kepahitan
dan kepahitan yang akan kau kecap
Akan menjadi manis, manis sekali

"Tuhan akan menghiburmu..."katamu
Aku hanya tersenyum seperti manja
Dan koyaklah seketika hatiku, seketika

Dia bisa melihatmu
Dia bisa mendengarmu
Tetapi tidak dengan kau, tidak...

Hidup hanya sebuah permainan, maka mainkanlah...

Dan aku akan melepasmu, pergilah jika itu yang baik adanya



Penghujung Jakarta, 24 Mei 2009 | 22.35
A.A. - dalam sebuah inisial

Sabtu, 25 April 2009

Blogger Block

Selama memasuki tahun kelima berkencan dengan internet, yang pertama kali dikenalkan dengan email. Lalu menjalar ke situs pertemanan, Friendster. Pada akhirnya saya memiliki blog sendiri, blog pertama saya yang akhirnya memutuskan untuk diselesaikan saja ceritanya pada awal November tahun lalu. Karena diikuti keisengan oleh karib saya, saya membuat blog di Blogspot. Atau banyak kisah lainnya yang dapat saya torehkan pada tulisan saya kali ini. Ya, kali ini saja saya bercerita tentang perjalanan saya yang pada akhirnya lagi dan lagi terpaksa saya selesaikan juga.
Hidup itu bukan koma, melainkan hidup itu akan bertitik suatu hari nanti.
Banyak hal yang sudah saya alami selama ini dengan internet. Baik email, situs pertemanan, chatting, blog, atau sekedar mencari referensi sejenak sampai nyasar ke situs yang haram. (Sungguh, ini tanpa sengaja karena ada SPAM yang masuk ke Inbox email saya).
Kalau dihitung - hitung kini, blog saya ada sekitar sepuluh. Termasuk yang saya buat lalu ditinggalkan dan yang telah mati setelah beberapa kali diisikan berbagai macam ceritera.

Kamis, 05 Maret 2009

30 Mei 2009

Mungkin adalah sebuah tujuanmu untuk bergegas ke dunia sana. Dan saya pun tahu mengenai itu semua. Kamu boleh menyapa dirimu sepanjang harimu yang tersisa di dunia sini. Namun ketika kamu tak lagi di sini, aku selalu yakin kamu akan menemukan tempatmu yang lebih membahagiakan. Tapi tak sebahagia di sini.

Ya, saya akan mengantar teman saya ke belahan dunia lain. 30 Mei 2009. Dia akan menemukan tempat lainnya. Berjumpa dengan kedua orang tuanya yang menantinya di sana. Mungkin dia yang akan berbahagia di sana. Namun saya selalu mengatakan dengan ejekan untuknya. "Suatu hari nanti, dirimu bakal mencariku lagi yang ada di sini."

Saya tak mengerti mengapa di dunia ini harus ada yang namanya perpisahan. Dan perpisahanlah yang selalu menjadi cikal bakal seseorang untuk berduka. Untuk apa ada pertemuan ketika semua harus dipisahkan dengan perpisahan? Bukankah semua itu menjadi sebuah kesia-siaan dengan apa yang kita isap sari-sarinya?

"Hei... lo bakal ke Amrik (Amerika Serikat), kan?" tanyaku suatu hari ketika sedang sibuk mengerjakan majalah dinding.
"Sialan! Tahu dari mana lo?"
"Evander bilang sewaktu SMS lo sampai ke Vini."
"Sialan! Ember banget si Evander."

Saya langsung tertawa. Namun saya langsung bertanya - tanya untuk apa kamu menyimpan semua rahasiamu mengenai kepergianmu? Untuk apa? Toh, pada akhirnya semua orang juga akan tahu kamu akan berlari dari dunia ini dan ke dunia sana.

Sanjaya Pratama
. Saya menuliskan ini untukmu dengan penuh rasa persahabatan sebelum kamu berangkat ke Amerika. Berjumpa dengan keluargamu di bumi yang baru. Menjumpai nuansa baru. Menjumpai segalanya yang baru. Termasuk teman - teman yang baru. Termasuk guru - guru yang baru. Termasuk apapun yang baru. Adanya yang tak ada di dunia ini akan kau temui di duniamu yang baru.

Mungkin ketika kamu membaca tulisanku ini, kamu akan tertawa. Untuk apa aku menuliskan kepergianmu? Sebelum tawa itu menjadi tangis perpisahan, ada kala baiknya kita menerima kehilangan dulu sebelum kehilangan yang nyata datang kepada kita sehingga semua yang kita jalani sebelumnya akan menjadi keringanan di masa mendatang.

Untuk suaramu yang belum mengadahkan kehilangan, memang terlalu dini untuk menuliskan semua ini. Masih dua bulan lagi kamu berangkat. Ya, aku tahu semua itu. Tapi tidakkah kamu tahu bahwa menyembuhkan luka kepergianmu lebih dini semakin baik dibanding ketika kamu mengucapkan "selamat tinggal" semenit sebelum keberangkatanmu? Itu menyakitkan!

Saat ini kamu boleh tertawa. Tertawa bahwa dunia yang sampai saat ini kita pijaki (dan yang akan kamu tinggalkan) adalah sebuah dunia yang penuh humor. Humor yang sama sekali tak bisa dilogikakan. Banyak yang miskin. Banyak yang kaya. Banyak yang tampan. Banyak yang jelek. Apapun ada di dunia yang ini.

Dan dua bulan kemudian, ketika kamu menginjakkan kaki di duniamu yang baru, menghirup oksigen di dunia yang baru, tak akan ada yang benar - benar sama seperti di dunia ini.

Setidaknya kita pernah bertemu. Berjabat tangan. Bertegur sapa. Bertatap muka. Berdiskusi. Bercanda. Lalu melambaikan tangan melambangkan perpisahan.

Sebelum kamu bertanya untuk apa saya menuliskan semua ini, ada baiknya saya menjawab dulu sebelum pertanyaan diluncurkan. Saya menulis ini sebagai rasa pertemanan saya. Rasa persahabatan saya denganmu, dengan teman - teman di kelas saya yang baru. Saya menemukan sesuatu yang baru di tahun yang baru. Saya menemukan sukacita yang baru di tahun yang baru. Saya menemukan dukacita yang baru di tahun yang baru.

Setidaknya tulisan ini menjadi pengingat saya bahwa saya pernah menemui orang yang mau berteman dengan saya. Menjadikan sebuah benih pertemanan menjadi pohon persahabatan. Dan pada akhirnya kita jua yang akan memetik buah hasil panen pohon itu. Kita juga yang akan mencicipi rasa buahnya. Entah manis atau asam.

Tulisan ini dibentuk dengan jutaan rasa yang tak bisa saya katakan. Semua yang telah kita lakoni dan apresiasikan pada bumi ini akan berbaur menjadi satu, kenangan. Simpan semua tawa, canda, ejek, iseng, marah, egois, dan semuanya yang pernah bumi ini tahu dan disaksikannya.

Sekarang silahkan kamu tertawa sepuasmu, namun ketika kamu berada di belahan dunia yang baru, kamu akan memetik hasilnya.

Nah, Sanjaya, aku sebagai temanmu mengucapkan selamat jalan. Mengucapkan terima kasih untuk semua kebaikan yang pernah kamu berikan. Juga aku mengucapkan kata maaf ketika aku khilaf untuk berbuat sesuatu yang tak seharusnya menurutmu.

Selamat datang di duniamu yang baru! Selamat mengenang bumimu yang ini dari kejauhan sana!

Kita akan berjumpa lagi di mana dan kapan, aku tak pernah tahu.



A.A. - dalam sebuah inisial
Jumat, 6 Maret 2009

Kamis, 08 Januari 2009

Firasat dan Kehilangan

Tentang Firasat

Berbicara tentang firasat, yang tercetus di pikiraan setiap orang adalah bayang-bayang yang buruk akan terjadi. Atau firasat yang nyata secara fisik, dialek berbicara, dan tingkah laku. Bisa juga dengan mimpi.

Firasat. Apa itu sebenarnya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), firasat adalah:
1 keadaan yg dirasakan (diketahui) akan terjadi sesudah melihat gelagat: rupanya dia sudah mendapat -- bahwa tidak lama lagi polisi akan membekuknya; 2 kecakapan mengetahui (meramalkan) sesuatu dng melihat keadaan (muka dsb): menurut -- ku, ia adalah orang yg bijaksana; 3 pengetahuan tt tanda-tanda pd badan (tangan dsb) untuk mengetahui tabiat (untung malang dsb) orang: setengah orang percaya benar kpd ilmu --; 4 keadaan muka (mata, bibir, dsb) yg dihubung-hubungkan dng tabiat orangnya (untuk mengetahui tabiat orang): menilik -- nya orang itu keras hati sebab rambutnya tebal dan kaku

Firasat bisa disalurkan dengan berbagai cara, salah satunya mimpi dan tingkah laku.

Mungkin saya adalah orang yang tidak bisa membaca pertanda sesuatu alias firasat. Atau saya adalah orang yang cuek terhadap pertanda-pertanda yang mendekat pada hidup saya. Atau satu kemungkinan lagi adalah saya tidak percaya dengan firasat. Atau saya tidak mengerti apa itu firasat.

Ketika anggota keluarga saya ada yang meninggal, sebelumnya ada beberapa pertanda yang ditunjukkan secara nyata. Misalnya, ketika paman saya yang biasanya tidak pernah menegur saya, beberapa hari sebelum 'kepergiannya', justru paman saya memanggil saya. Saya hanya tanggapi dengan kewajaran dan biasa saja. Tak ada rasa curiga tentang 'kepergiannya'. Lalu beberapa hari kemudian, paman saya tersebut berpulang.

Atau yang baru saya alami hari ini. Kemarin saya masih menjumpainya dalam keadaan sehat. Ya... sehat. Beliau adalah supir antar jemput saya. Saya memanggilnya "Oom". Sebenarnya saya bisa berangkat tanpa dia, orang tua saya memberikan kelegawaan untuk hal-hal tersebut. Saya boleh menggunakan supir pribadi, saya boleh naik kendaraan umum, atau sebagainya.

Entah apa yang bisa membuat saya menjadi ikut antar jemputnya. Mungkin agar saya bisa berbicara dengan teman-teman saya selama di perjalanan. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan sejak saya masuk ke bangku sekolah. Atau supaya saya bisa mengerjakan tugas dengan menyalin dari teman yang sekendaraan.

Harus saya akui, beliau memang orang yang amat baik. Sabar. Dan beliau menganggap kami -saya dan teman-teman saya sekendaraan- sebagai anaknya sendiri. (Adakah seorang supir yang menganggap demikian selain dirinya?) Mungkin kalau saya dan teman-teman saya mendengar hal itu, mungkin akan mengucapkan sesuatu yang bisa jadi tak berkenan di hatinya. Tapi secara tidak langsung, saya merasakannya.

Saya tak mengerti dengan apa yang diperbuatnya akhir-akhir ini. Saya memang merasa ada sesuatu yang aneh. Saya tidak menanggapi bahwa itu adalah suatu pertanda. Suatu firasat.

Sampai pada subuh tadi, saya menerima telepon dari teman saya. Orang yang saya panggil "Oom.." itu telah tiada.

Tentang Kehilangan

Mengapa saya menjadikan firasat dan kehilangan menjadi satu? Karena ini adalah sebuah hal yang amat identik.

Beberapa bulan sebelumnya, salah seorang teman saya mengajak saya agar tak perlu memakai jasa pengantaran Oom itu lagi. Untungnya, saya menolak.

Sampai hari ini, sebuah rasa... tercipta dengan ajaibnya.

Biasanya, ketika pagi menjelang, sebuah mobil diesel sudah berada di depan rumah saya. Hari ini tak ada. Ketika saya duduk di dalam kendaraan, saya tak lagi duduk di sebelah orang yang saya panggil Oom itu. Ketika saya pulang, kini saya dan teman-teman duduk di kendaraan umum.

Rasa kehilangan. Itulah yang saya dan teman-teman alami.

Terutama teman saya, dia bahkan sampai berujar pada saya. "Baru terasa kini tidak ada yang seperti kemarin." atau "Rasanya ada yang aneh dan mengganjal."

Memang dengan firasat akan mengalir rasa kehilangan. Dan rasa kehilangan itu baru tercipta ketika kita mulai merasa ada sesuatu yang hilang dan tak akan kembali. Serta, barulah kita merasa kehilangan ketika kita mengerti dan memahami sesuatu telah berakhir.



Catatan ini ditulis untuk saya sendiri
Jakarta, dalam senja yang menjelang
Hari kedelapan di tahun 2008


Aveline Agrippina T.