Tampilkan postingan dengan label catatanperjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatanperjalanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

Langit di Jakarta


Picture from here



apa yang kau kenang dari kotamu itu
diam-diam lampu kota menyala
langitnya dari terang pun remang
kemudian gelap
kemudian tak lagi ada matahari
lalu orang bergegas pergi
lantas kembali pulang

diam-diam seorang karwayan belajar jatuh cinta
di tengah kemacetan
yang begitu asing di negeri lain

diam-diam seorang pengamen belajar berjuang
di tengah keterasingan
yang begitu keras dan tiada ampun

diam-diam seorang pemulung belajar sabar
di tengah bah musiman
untuk lari dari keberadaan

di dalam kota yang begitu kecil
seperti sesak, di langit pun demikian
bahkan
langit di kota ini pun
terlalu sulit untuk menjadi terang lagi

kemudian
seorang pengemis kecil
yang mengiba di pinggir lampu merah
menatap tulisan
"Dirgahayu 485 DKI Jakarta"

ia pun bergetar membacanya
lirih, haru
sekaligus perih

"beginikah semua ibu?
bahkan termasuk ibukota?"
bisiknya di tengah klakson
yang memekakan telinganya



Jakarta, 22 Juni 2012 | 21.22
A.A. - dalam sebuah inisial

Senin, 11 Juni 2012

Do What You Love, Love What You Do

Bekerja, bagi saya, adalah sebuah kesempatan untuk memaknai kehidupan sekecil apa pun itu. Bahkan, kebahagiaan pun dapat bersumber dari apa yang saya lakukan pada saat ini, pada waktu saya bekerja, atau hal-hal remeh yang sering dianggap orang sebagai kutukan atau beban yang harus dipikulnya.

Bekerja adalah momen untuk menangkap momen keindahan seminimal apa pun. Untuk saya, bekerja pun bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Tanpa pernah bisa diduga, kadang pula tanpa bisa direncanakan, atau bisa saja di dalam kondisi yang tidak diharapkan untuk bekerja.

Setidaknya saya adalah salah satu manusia yang paling berbahagia di dunia ini. Meskipun saya bekerja, sesungguhnya saya pun tidak merasakan apa yang dinamakan oleh orang-orang sebagai beban atau keterpaksaan. Saya bekerja atas dasar saya mencintai apa yang saya kerjakan, apa yang saya lakukan. Dengan demikian, saya pun sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Confucius bahwa dengan mencari pekerjaan yang sesuai dengan hatimu, engkau tidak akan pernah merasakan bekerja.

Itulah saya. Saya pun tidak merasakan bagaimana beban bekerja, malah sebaliknya, saya menganggapnya itu sebagai wahana permainan yang menyenangkan. Wahana di mana saya bisa bebas berpikir dan bertindak. Bebas untuk membebaskan diri sendiri.

Kalau ditanya, di mana saya bekerja, saya sendiri pun sering merasa kesulitan untuk menjawabnya. Pekerjaan saya hanya butuh media untuk menulis dan kebebasan untuk berpikir. Saya sering bekerja ketika sedang menunggu jam masuk kuliah, di restoran, di dalam mobil travel, atau sedang menunggu jadwal rapat. Saya pernah diharuskan membuat esai di tengah seminar sedang berlangsung. Atau saya pun pernah dikontak tengah malam di saat baru tiba di bandara untuk mengirimkan materi presentasi.

Semua itu saya lakukan tanpa beban. Saya melakukannya dengan cinta karena dengan berbagai alasan yang membuat saya mencintai pekerjaan saya. Tanpa perlu saya mengeluh, tapa perlu merasa tersiksa, dan saya pun melakukan sesuatu yang belum tentu orang lain dapat melakukannya: mencintai apa yang mereka lakukan, melakukan apa yang mereka cintai.

Tabik!



Jakarta, 12 Juni 2012 | 16.10
A.A. - dalma sebuah inisial

Selasa, 13 Maret 2012

Perihal: Dua Pertemuan, Tiga Tatap

G yang baik,

Bukankah kita tidak pernah berpikir atau merancang atau mengagendakan suatu pertemuan di awal tahun ini? Sebuah pertemuan telah membuatku berani menentukan pilihan yang seharusnya kuambil. Pada mulanya, kita tidaklah saling mengenal. Pada mulanya, kita bukanlah siapa yang mengerti tentang apa-apa. Tetapi pada akhirnya, kita tidak bisa menyangkal bahwa kita pernah saling kenal, bertemu, sapa, berbagi senyum, dan bertukar tawa.

Pertemuan seringkali dalam wujud yang tidak terduga, tidak bisa menduga-duga seperti kita menerka kapan matahari akan datang. Aku percaya, setelah dua pertemuan yang tersisa sejak hari ini, kita masih akan bertemu lagi entah di mana dan kapan. Kepercayaan yang telah membuatku berani, kepercayaan pula yang telah membentukku untuk siap dan sigap menantang kehilangan. Menantang perpisahan. Menantang epilog yang memang harus terjadi sebagai penutup sebuah perjalanan.

Lalu, ada janji yang pernah kusimpan diam-diam di lubuk hati ketika aku tahu terlalu banyak tentang kamu. Percayalah, aku tetap setia untuk menyimpannya di dalam wujud rahasia. Meskipun prinsipku tetap sama: aku lebih bahagia untuk tidak mengetahui apa yang seharusnya tidak kuketahui. Sikap itu kurasakan berubah, tapi aku tidak dapat memungkirinya. Membiarkannya tetap menjadi sebuah rahasia. Selalu kucoba untuk bersikap biasa saja, apa adanya. Aku coba untuk mengabaikan rahasia yang terbongkar itu, yang membuatku menganga sendiri. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi.

G yang baik,

Setiap orang memiliki rahasianya sendiri. Seperti langit yang diam-diam memiliki misteri yang tidak bisa diungkap begitu saja. Semakin bertumbuh besar, seseorang akan memiliki tabir rahasia yang berlimpah. Biar saja berbagai tabir itu tersimpan rapi sebagai rahasia yang harus kamu jaga sampai kelak menutup mata. Bila rahasia itu terbongkar, mungkin memang saatnya ia tidak lagi terjaga sebagai sebuah rahasia.

Dan tetaplah percaya kepadaku, rahasiamu tetap kupegang erat sebagai rahasia.

G yang baik,

Pada akhirnya, kita harus siap dengan bentuk perpisahan bagaimanapun bentuknya. Hari ini merupakan salah satu pertemuan yang kunantikan dan akan kurindukan kelak. Tersisa satu pertemuan lagi yang kurasa bisa saja tidak bisa terwujud karena suatu hal yang tak terprediksi. G, aku akan selalu pulang ketika aku memang butuh pulang. Tapi bukan di hatimu aku akan berlabuh untuk pulang. Ia hanyalah dermaga sesaat. Dermaga yang ingin melepaskanku dari penat sesaat. Pulang yang sesungguhnya adalah ke hati yang kumiliki sendiri. Pulang yang sesungguhnya adalah ketika hati memang selalu merasakan hal yang paling nyaman.

Terima kasih untuk berbagi cerita. Terima kasih untuk berbagi cerita, canda, tawa, dan ilmu yang bisa saja terlupa dari bangku sekolah. Terima kasih telah mengisi hari-hariku setidaknya sepekan kita pernah berpapas wajah sekadar untuk bertukar senyum.

Dan itu, akan kurindukan kelak.





Bandung, 14 Maret 2012 | 06.38
A.A. - dalam sebuah inisial

Sabtu, 11 Februari 2012

Prolog: Menuju Timur



Sesungguhnya, tak pernah ada di benak saya bahwa suatu kali saya akan menulis dan terus menulis. Sampai kini. Sampai kini pun saya tetap menulis, entah di mana saja, entah kapan saja. Kini, menulis sudah seperti bernapas bagi saya dan kebutuhan itu bisa membuat saya tetap hidup hingga kini.

Sebuah tawaran menarik datang dari teman saya ketika sedang mengerjakan proyek untuk dua buku. Tanyanya,"mengapa blog-mu yang sudah dikunjungi ribuan orang itu tidak kamu bukukan?" Belum terlintas untuk menjawab apa, dia kembali berujar,"bukukan saja yang terbaik. Dengan cara apa pun."

Akhirnya, saya pun sadar saya memang bukan orang yang rapi dalam mendokumentasikan tulisan saya. Hampir seluruhnya berantakan di mana-mana. Entah di catatan kuliah, catatan sewaktu sekolah, di dalam catatan telepon genggam, blog yang berkeliaran di mana-mana, di blog mikro, entah di mana saja.

Pada akhirnya, Menuju Timur inilah yang menjadikan seluruh catatan saya sedikit rapi. Setelah melewati tahap seleksi, menyusunnya, dan memilih akan diterbitkan dengan cara apa, ia pun terlahir. Prosesnya tak memakan waktu sampai setahun. Bahkan hanya beberapa bulan saja. Ia lebih banyak diendapkan daripada diproses.

Isinya pun banyak mengambil dari blog ini dan pada catatan-catatan saya yang biasa berkeliaran di mana-mana. Dokumentasi yang apik, menurut saya secara pribadi.

Rencana awalnya adalah buku ini akan dipublikasikan bersamaan dengan usia blog ini yang keempat. Tetapi karena saya sudah terikat kontrak dengan salah sebuah penerbit untuk penulisan naskah dan ada proyek lain yang harus dituntaskan mendekati bulan April, maka ia terlahir prematur.

Terima kasih untuk selalu dan tetap mendukung keberadaan blog ini sehingga ia telah menjadi nyata di muka bumi ini. Terima kasih untuk sebuah dedikasi yang besar yang sesungguhnya ini adalah perwujudtan cinta itu sendiri yang tidak pernah pergi begitu saja.

Apa pun keadaannya, ia telah ada. Ia telah lahir.

Selamat datang di dunia ini. Selamat menuju timur.




Bandung, 12 Februari 2012 | 09.30
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 20 Januari 2012

Gracias

Dear W,

I wanna say thank you for your kindness, for the experiences, and your trusts.
I wanna say thank you for the nice lessons, for the spirit, and anything.
Finally, I decided to resign from my position.
I'm sorry if I cannot do the best and I can't make you proud of it.

Cause I thought the happiness doesn't come from money and many treasure.
But happiness comes from what we do with love and we enjoy to do that.

Kamis, 05 Januari 2012

Surat Tentang Suratan

Pro I,
seorang sahabat, teman perjalanan, kisah di dalam sebuah kisah.


It is good to have an end to journey toward; but it is the journey that matters, in the end. - Ernest Hemingway



Apa kabarmu? Aku tidak menemukan kata-kata yang lebih layak daripada bertanya tentang kabarmu. Lama kita tak bersua, duduk di kedai kopi dari siang sampai tengah malam. Cangkir berganti cangkir, gelas berganti gelas, pembicaraan berganti pembicaraan. Sesekali kita mendiskusikan tentang manuskrip yang tak pernah selesai itu diselingi gelak tawa yang mengundang perhatian pengunjung lainnya. Tapi aku suka. Aku suka bila mereka tahu kita pun dapat bahagia dengan duduk memegang cangkir atau gelas, menyeruput kopi, dan tawa yang nyaris tiada henti.

Telah lama aku hendak menuliskan surat kepadamu. Ada sedikit dari ribuan kisah yang hendak kubagikan kepadamu tentang kunjunganku ke berbagai tempat, berinteraksi dengan banyak orang, dan menemukan esensi yang menarik yang sepatutnya kau ketahui sebagaimana kerap kau bagikan kepadaku. Dapatlah kau katakan ini adalah catatan perjalanan yang kurangkum dengan caranya tersendiri.

Telah tiga pekan aku berada di kota ini. Tentunya interaksi yang kulakukan kepada sekelilingku juga semakin banyak. Aku mendiskusikan tentang buku, musik, film, penerbitan, plagiarisme, konsep perjalanan, sampai kepada soal yang paling bodoh: cinta. Aku tidak tahu mengapa sampai sekarang aku menyebut pembicaraan soal cinta adalah pembicaraan yang bodoh. Tapi aku suka. Aku suka membicarakannya tiada henti.

Baiklah, aku mengawalinya dari sini saja.

Akhirnya aku bertemu dengannya. Awalnya aku membuat perjanjian dengannya di kedai kopi. Tetapi ada satu dan lain hal, akhirnya kusambangi ia untuk bertemu di depan perpustakaan desa yang telah ditutup karena hari menjelang sore. Bagiku, bertemu di mana saja bukanlah sebuah masalah. Yang penting: bertemu. Sesederhana itu saja.

Aku pernah bertemu dengan kawanku di tengah jalan. Membuat janji dengannya di tengah jalan pada pukul sepuluh malam. Aku nangkring begitu saja di atas motor dan menunggu mobilnya berhenti di depanku. Dan benar saja kalau kau menduga bahwa aku dan dia berdiskusi di pinggir jalan. Sewaktu itu, di Bandung, jalan sedikit lebih ramai dari biasanya. Kurasa ini karena efek dari akhir pekan. Dingin masih bisa menembus ke pori-pori kulit meski aku telah mengenakan jaket yang cukup tebal yang biasanya kukenakan saat aku mendaki gunung.

Tapi pembicaraan tidaklah sebeku yang kau kira, tidak sedingin angin Bandung. Seperti biasa saja, seperti kawan lama yang hendak bertemu dan peluk sapa. Kami bermain di dalam kata-kata.

Begitu pula dengan pertemuan bersama kawanku yang satu itu. Hujan baru saja usai turun dan kita bersua tepat di depan perpustakaan. Berbicara banyak hal tentang buku, puisi, cerpen, sampai pada penerbitan. Aku tak tahu mengapa tiap kali bertemu dengan kawan yang satu ini pasti topiknya selalu sama dan aku tidak pernah bosan bercerita tentang hal yang itu-itu saja. Mungkin karena lama tidak bersua dan setumpuk percakapan pun tetap saja menarik.

"Semakin gemuk saja setelah jalan-jalan keluar negeri."

Balasnya adalah gelak tawa. Aku tersenyum saja. Cukup. Diskusi kami cukup panjang dengan durasi nyaris 75 menit. Aku yang harus pergi karena sudah ada janji lain untuk pertemuan online dengan karib yang lain. Sedikit gila aku di hari itu dengan nekatnya membuat perjanjian pada jadwal yang begitu cepat dan mepet.

Ada bingkisan yang diberikannya kepadaku. Pembatas buku dan gantungan kunci. Sebenarnya aku mengharapkannya memberikanku hanya pembatas buku saja. Tapi tak apalah, sudah diberi pun adalah hal yang baik. Terima kasih kepadamu, kawan, kalau tanpa sengaja kau mampir ke lamanku untuk kawanku yang kusebut di atas itu.

Kemudian, aku bermain di sebuah kantor penerbitan. Cukup lama. Padahal kawan-kawanku sudah menunggu di tempat lain. Kuundur saja janji dengan kawanku itu sampai pukul sembilan malam barulah kami bertemu. Sudah cukup lama aku tidak bermain di sana sampai larut malam.

Aku tiba sekitar pukul sebelas siang. Kabarnya, akan ada penulis yang menandatangani bukunya bertepatan dengan kedatanganku. Setibanya, aku lebih cenderung bermain-main dengan buku-buku, bacaan-bacaan yang tergeletak begitu saja. Aku tak tahu bagaimana menyebut 'kerja' dengan sesuatu yang kusukai. Bagiku, bekerja dengan apa yang kusenangi bukan lagi sebuah beban, tetapi sebagai wahana bermain.

"Kapan novel lo?"

Pertanyaan itu lahir dari seorang editor di balik bertumpuk-tumpuk buku bersampul hitam. Glek! Pertanyaan itu pernah lahir di awal Januari tahun lalu. Terasa deja vu. Benar saja, aku belum pernah menuliskan novel. Hanya cerpen, sajak, atau sekadar esai yang dipesan.

"Gue yakin lo ada interest ke sana."

Ya, aku mengangguk sembari tersenyum. Aku tidak dapat memungkirinya. Dengan sebuah pertanyaan,"dari mana aku memulai?" dan jawabannya adalah "lo tulis aja yang sesuai dengan lo sebagai permulaan."

Ah, baiklah! Sebuah pelajaran, menarik!

"Deadline-nya dong, Kak."

"Karena pertama kali, tiga bulan!"

Kusambut lagi kata-katanya dengan tawa. Tiga bulan! Glek! Tapi tak ada salahnya mencoba kalau benar-benar sebuah manuskrip pertama ditulis dalam tiga bulan. Mencari ide, merawinya, mengejawantahkannya, kemudian mengirimkannya sebagai pelunasan utang. Manis!

Ya, sedikit aku ingin bercerita. Sesungguhnya aku pernah mencoba menulis novel, tetapi karena satu dan lain hal, novel itu kandas di tengah jalan. Ya, lenyap begitu saja.

Masih asri dan hijau, begitu ketika aku menengokkan kepalaku ke halaman belakang kantor redaksi ini. Terngiang pertama kali saat aku mendapat panggilan dari kantor ini. Satu-satunya yang paling muda! Matilah aku saat itu setelah aku tahu satu-satunya manusia yang menyandang gelar SMA. Aku duduk di tengah. Kiriku saat itu adalah laki-laki yang berjaket BEM UI. Seingatku ia adalah seorang mahasiswa Sastra Korea. Digenggamannya ada buku Negeri 5 Menara dari A. Fuadi sebagai caranya menghabiskan waktu untuk menunggu waktu wawancara. Di sebelah kanan, seorang lelaki pula. Kurasa ia adalah mahasiswa juga. Dihabiskannya waktu menunggu dengan mendengarkan musik sembari tidur.

Awalnya aku hanya iseng. Iseng mengirimkan lamaran sebagai pengulas pertama naskah mana yang siap naik. Kupikir merekalah yang sudah menyandang gelar mahasiswa yang bakal diterima. Sedangkan aku? Mari tertawa! Dan di sore menjelang akhir pekan, aku menerima telepon dari editor yang kuceritakan di atas itu dua tahun yang lalu. Saat itu, baru saja aku di atas kendaraan, hendak pulang ke rumah setelah menyelesaikan rutinitas.

"Masih kosong di hari Sabtu?"

Kuiyakan saja. Memang waktu itu aku sedang kosong di akhir pekan. Tidak sesibuk sekarang dengan berbagai rutinitas yang ada. Dan esoknya adalah kali kedua aku datang ke kantor itu. Bertemu dengan editor-editor lain. Kelak kuceritakan lebih banyak lagi tentang pertemuan-pertemuan yang sudah-sudah.

Aku memilih untuk menyelesaikan apa yang harusnya kukerjakan di hari itu di balik kubikel setelah membantu seorang penulis menandatangani bukunya tersebut. Kemudian bercakap-cakap banyak hal sampai pukul tujuh malam. Kemudian aku pun pamit.

I yang baik,

Masih ingat bukan ketika aku menceritakan bahwa aku hendak menghabiskan musim penghujan di Yogyakarta? Tetiba kuurungkan karena sebuah telepon datang dan menawarkan sebuah pertemuan. Kutunda lagi dan lagi perjalanan menuju ke sana. Kupilih menghabiskan liburanku di ibukota saja. Bertemu dengan kawan-kawan lama. Yang penting aku berjalan-jalan, entah dengan siapa saja dan ke mana saja.

Mungkin perjalananku adalah perjalanan sederhana di mana setiap orang bisa saja menikmatinya, menjalaninya. Tapi itulah aku. Lebih memilih untuk bercerita seperti ini. Berbagi kepadamu apa yang hendak kubagikan. Cukup lama bukan kamu menunggu cerita tentang kunjunganku semacam ini? Dan inilah yang dapat kubagikan kepadamu.

Kupikir perjalanan bukanlah ke mana kita harus pergi, berlomba siapa yang sampai dahulu di tempat yang paling jauh, berapa banyak jejak langkah yang kita tinggalkan. Bagiku perjalanan adalah memaknai setiap segmen rutinitas dengan sederhana.

Itu dulu ceritaku. Kalau cukup banyak waktu, aku akan bercerita lebih banyak lagi. Tentunya di sisa liburanku, aku masih memiliki kesempatan untuk berkunjung ke mana pun. Kuceritakan kelak. Ingatkan aku biar aku tak letih-letihnya berbagi setiap langkah yang kupatrikan di mana saja kepadamu.

Semoga hari-harimu manis dan kau tak mengenal lelah untuk tetap tersenyum.

Tabik!



Peluk dari sahabatmu selalu,


Jakarta, 6 Januari 2011 | 11.02
A.A. - dalam sebuah inisial




I adalah tokoh fiktif yang diceritakan oleh A.A. Kamu, yang sebagai pembaca, bebas menerjemahkan sosok I seperti kehendakmu. Semoga pertanyaan siapa I terjawab dan tak perlu kamu menduga-duga ia laki-laki mana lagi atau perempuan yang macam apa. Kamu bebas menjelmakan I sebagai apa saja. ~ Tukang Tulis.

Minggu, 18 Desember 2011

Puncak di Atas Segala Puncak

Catatan penutup tahun 2011 ini memang saya angkat dari topik yang berbeda. Catatan ini pun ditulis dari tempat yang berbeda dari biasanya dan waktu yang benar-benar singkat karena saya pun diterpa deadline yang bertubi-tubi. Tentunya kawan-kawan yang mengikuti lini masa di Twitter saya pasti tahu kapan saya tidur, kapan saya bangun, berapa jam saya tidur, atau aktivitas lannya dari ceracauan saya itu. Ya, mungkin saya masih menulis blog, tetapi tahun ini cukuplah rajin saya meng-update-nya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Topik yang saya angkat tahun ini adalah puncak di atas segala puncak. Saya rasa pencapaian saya untuk tahun 2011 ini cukup dahsyat. Bagaimana tidak, di dalam waktu setahun saya sudah bisa berproduktif berkarya sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang waktu. Ada rasa kepuasan batin tersendiri ketika seluruh karya kita diapresiasi dengan baik.

Seperti di sebuah pendakian, kita pun dari bawah ingin sekali menuju ke atas. Itulah yang saya lakukan untuk 2011 ini. Diawali dari bulan Januari yang kita tempuh. Pendakian menuju ke puncak pun terasa begitu sulit. Ada terpaan yang selalu menjadi penghadang. Saya pun tidak dapat menafikan terpaan itu, mau tidak mau maka kita harus melawannya. Awal tahun ini cukup sulit bagi saya untuk menemukan pola menulis-membaca-belajar-bekerja. Setidaknya di awal tahun dapat dilihat bahwa saya tidaklah terlalu produktif berkarya.

Kemudian, selepas dari awal tahun, saya mulai menemukan ritme bagaimana mendaki tahun ini untuk semakin menikmati setiap langkahnya. Di punggung pun sudah ada ransel yang berisi tugas-tugas yang cukup berat untuk saya pikul, tetapi dengan menikmati setiap langkahnya saya pun ikut di dalam bahagia. Saya tahu tugas itu dan saya mencintainya. Bagi saya, bekerja yang paling menyenangkan adalah bekerja karena kau mencintai pekerjaanmu, bukan mencintai yang lain. Maka, berbahagialah mereka yang mencintai pekerjaannya.

Totalitas saya untuk berkarya pun selalu menjadi pemicu untuk saya mencintai kehidupan ini. Nyatanya ada satu puisi saya yang tersangkut di dalam buku, serta ada dua buku yang saya bantu untuk proses kelahirannya. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya. Bahkan yang lebih membuat saya bahagia adalah keberhasilan di tahun 2009 pun kembali terulang. Nah, penasaran keberhasilan apa? Silakan dicari sendiri. Hahaha...

Adapun saya merasakan ‘kembali pulang’ setelah cukup lama tidak mampir di tempat yang saya cintai, bertemu dengan sahabat-sahabat yang menyenangkan. Bahkan di kota yang baru pun, saya sempat bertemu dengan teman-teman baru dan teman-teman lama. Ini menjadikan kenyataan bahwa kita pun tidaklah pernah sendiri meski di dalam kesunyian. Lewat blog pula, saya bertemu dengan banyak kawan baru. Untuk itu, terima kasih bagi kalian!

Satu lagi yang membahagiakan bagi saya adalah ketika perpisahan tidak lagi begitu menikam saya di pertengahan Juli. Rasanya memang berat, seperti seorang pendaki yang berjuang mencari jalan ke puncak gunung. Itulah saya. Setidaknya perpisahan yang saya rasakan membuat saya lebih bijaksana untuk menghadapi kehidupan selanjutnya dan merekam setiap kejadian dengan lebih penuh kebajikan.

Suatu masa, seorang pendaki akan merasakan bahagia. Suatu masa pula, seorang pendaki akan merasakan duka. Setidaknya untuk mencapai ke puncak yang paling atas, ada siklus kehidupan yang harus dilewati. Keberhasilan tertinggi seorang pendaki adalah ketika mereka berhasil berdiri di puncak dalam keadaan apa pun. Atau keberhasilan lainnya adalah ketika mereka harus pergi ke puncak yang paling tinggi di dalam masa pendakian. Tak seorang pun tahu dan cukuplah bagi kita untuk tetap mendaki meski di dalam kondisi terburuk sekalipun.

Untuk itu, catatan penutup di tahun ini rasanya sudah mewakili apa yang ada di tahun 2011 bagi saya. Dengan segala kebahagiaan dan kesedihan yang silih berganti, setidaknya itu yang menjadikan perjalanan menuju ke puncak yang paling puncak yang memberikan suasana yang berbeda, meninggalkan kesan yang mengesankan, dan menciptakan bahagia yang paling bahagia.

Nah, kawan, selamat bila kau merasa 2011 adalah puncak tertinggimu sepanjang kau hidup! Selamat Natal bagi kawan-kawan yang merayakan! Selamat tahun baru untuk kalian semua!

Tetap tersenyum,

 

 

Bandung, 14 Desember 2011 | 07.59
A.A. – dalam sebuah inisial

Minggu, 11 Desember 2011

Berapa Buku yang Anda Baca di Tahun 2011?

Berapa buku yang telah Anda baca tahun ini? Seperti tahun kemarin, saya membuat daftar bacaan yang telah saya habiskan untuk tahun ini. Mungkin saja bertambah karena Desember masih memiliki19 hari lagi. Mana tahu sebuah keajaiban saya bisa menambah 19 buku lagi sampai di akhir tahun ini.

Lagi-lagi kendala saya adalah waktu di mana deadline yang tak henti-hentinya menerpa sehingga beberapa buku sempat tertunda atau tidak memiliki catatan tukang baca. Nah, berikut daftar bacaan saya untuk tahun ini. Kalau ada yang pernah membaca buku serupa dengan saya, mari kita berbagi.


Angka tidak menunjukkan peringkat.

1. Balada Ching-ching, Maggie Tiojakin
2. Leaving Microsoft to Change The World, John Wood
3. The Goddess of The Hunt, Tessa Dare
4. Selepas Bapakku Hilang, Fitri Nganti Wani
5. The Lover's Book, Kate Gribble
6. Surrender of A Siren, Tessa Dare
7. The Magicians, Lev Grossman
8. The Man Who Loved Book So Much, Allison Hoover Bartlett
9. Coming Home, Sefryana Khairil Badariah
10. Ayat-ayat Api, Sapardi Djoko Damono
11. Surat Kecil untuk Tuhan, Agnes Davonar
12. A Lady of Persuasion, Tessa Dare
13. Mati, Bertahun yang Lalu, Soe Tjen Marching
14. Selamat Datang di Pengadilan, Daniel Mahendra
15. (Cerita-cerita) dari Luar Jendela, Maestaccato
16. Eclair, Prisca Primasari
17. The Journeys, Adithya Mulya, dkk
18. Oksimoron, Isman H. Suryaman
19. Dan Saya Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini, Ronny Pattinasarani
20. Matahari yang Mengalir, Dorothea Rosa Herliany
21. Perempuan, Langit ke Timur, Olin Monteiro
22. Tuesday with Morrie, Mitch Albom
23. The Pilgrimage, Paulo Coelho
24. Larasati, Pramoedya Ananta Toer
25. Tales From The Road, Matatita
26. Snow Country: Daerah Salju, Yasunari Kawabata
27. Karena Kita Tidak Kenal, Farida Susanty
28. Cecilia dan Malaikat Ariel, Joestin Gaarder
29. Stanza dan Blues, W.S. Rendra
30. Abad yang Berlari, Afrizal Malna
31. The Naked Traveler 3, Trinity
32. Gelang Giok Naga, Leny Helena
33. Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, Leo Tolstoy
34. Sebelas Patriot, Andrea Hirata
35. Iluminasi, Lisa Febriyanti
36. Perahu Kertas, Dee [baca ulang]
37. Madre, Dee
38. Konde Penyair Han, Hanna Fransisca
39. Kedai 1001 Mimpi, Valiant Budi
40. Love, Aubrey, Suzanne LaFleur
41. That Camden Summer, LaVyrle Spencer
42. Presiden Prawiranegara, Akmal Nasery Basral
43. Kereta Tidur, Avianti Armand
44. Meraba Indonesia, Ahmad Yunus
45. Letters To Sam, Daniel Gotlieb
46. Life Traveler, Windy Ariestanty
47. Nasional.Is.Me, Pandji
48. Poconggg Juga Pocong, @poconggg
49. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Joestin Gaarder
50. Asas-asas Manajemen, Ulber Silalahi
51. Once Upon a Love, Aditia Yudis
52. Jump, Moemoe Rizal
53. Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budiardjo
54. Principles of Economic, N. Georgy Mankiw
55. Pengantar Logika, B. Arief Sidharta
56. The Windflower, Sharon dan Tom Curtis
57. Never Let Me Go, Kazuo Ishiguro



Untuk tahun ini, buku terbaik veri saya jatuh kepada Never Let Me Go dari Kazuo Ishiguro.



Untuk buku dengan gaya bahasa penceritaan menarik jatuh kepada Kedai 1001 Mimpi dari Valiant Budi.


Untuk desain sampul terbaik versi saya jatuh kepada The Journeys dari Adithya Mulya, dkk.



Untuk buku yang paling tebal yang saya baca tahun ini adalah Principles of Economic dari N. Georgy Mankiw.



Untuk penulis dengan ide paling kreatif  versi saya jatuh kepada Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken dari Joestin Gaarder.



Untuk penulis dengan tema paling menarik versi saya jatuh kepada Never Let Me Go dari Kazuo Ishiguro.



Untuk penulis terbaik tahun ini versi saya jatuh kepada Akmal Nasery Basral.



Nah, begitulah daftar bacaan saya sepanjang tahun ini. Bagaimana dengan Anda?



Bandung, 12 Desember 2011 | 07.02
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 18 November 2011

Di Dalam Sebuah Euforia

:Adryan Adisaputra Tando


kita selalu membicarakan hal yang remeh
mungkin persahabatan selalu dimulai dengan cara demikian
tapi bukankah pernah kukatakan tentang sebuah sahabat
dan kita telah membuktikannya, kehidupan kita berkelindan
dan kita bukanlah sahabat
:karena kita lebih dari sahabat, lebih dari sekadar bersahabat

kita selalu memberikan ilmu-ilmu yang sederhana
lebih mudah dimengerti dan tak perlu bergelut dengan rumus
tak perlu pembuktian teori semesta semata, karena itulah
pernah kukatakan kepadamu di suatu masa yang baik
dan kita telah membuktikannya, kehidupan kita mengajarkan
dan kita bukanlah guru
:karena kita lebih dari guru, lebih dari sekadar menggurui

kita selalu berjalan di dalam petualangan yang menakjubkan
sementara orang-orang menganggapnya itu sebagai hal biasa
karena mereka tak pernah merasakannya sendiri, tentang ini
kita sanggup menerjang kebahagiaan yang tak sekadar fana
ia akan selalu hidup di hati, ia membatin di dalam darah
dan kita telah membuktikannya, kehidupan kita memberikan
dan kita bukanlah petualang
:karena kita lebih dari petualang, lebih dari sekadar bertualang


tetap menjadi lebih dari sekadar sahabat
tetap menjadi lebih dari sekadar guru
tetap menjadi lebih dari sekadar petualang

sahabat bisa tercerai berai, tetapi tidak dengan kita
guru bisa meninggalkan di masa lain, tetapi tidak dengan kita
petualang bisa hilang di suatu waktu, tetapi tidak dengan kita

bagimu, adalah bahagia
dirgahayu untukmu, bertumbuhlah dan berdewasalah



Peluk dan cium mesra,

A.A. - dalam sebuah inisial
Jakarta, 19 November 2011 | 07.16



PS: Ketika kutulis ini, kuputar selalu Dewi Lestari, Selamat Ulang Tahun, dan aku tahu di saat yang sama pula, kau sedang berbahagia.

Rabu, 19 Oktober 2011

Tentang Sepi yang Meraja

Dear G,

Rasanya tidak begitu lama kita tidak bersua meski telah berapa bulan kita terbentang jarak. Apa kabarmu, itu yang hendak kutanyakan. Berkali-kali kutanya lewat angin, hujan, matahari, dan bulan, mungkin aku tahu jawabmu adalah sama. Tetapi lewat pertanyaan berbasa-basi itu, aku setidaknya ingin membuat sebuah persetujuan denganmu bahwa kita memang baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kalau kau bertanya tentang apa yang saat ini paling kunikmati, tentu akan kujawab adalah kesendirianku. Ternyata kesendirian itu lebih nikmat daripada hura-hura. Lewat kesendirian itu, aku lebih bebas dengan segala hal yang akan kulewati dan ingin kutempuh. Bahkan tulisan untukmu kali ini, kutulis dengan kesendirianku.

Semakin dewasa, aku semakin sadar ternyata kita akan semakin bergelut dengan kepentingan saja. Aku semakin mengerti bahwa keutuhan yang ada di dunia ini bersifat sementara. Ia akan melebur sendiri dengan keadaan, keberadaan, dan keberadaban. Dan semakin dewasa pula, kita pelan-pelan telah dilepas untuk sanggup berdiri sendiri dan melintasi segala hal yang ingin kita raih.

Sekarang aku cenderung memilih jauh dari hiruk-pikuk dan lebih memilih pulang, membuka laptop, membaca buku, atau mencari teman satu-dua orang untuk berdiskusi. Entah orang-orang mengatakan aku memang ingin mengasingkan diri atau tidak, tetapi dengan cara ini aku mendapatkan apa yang aku inginkan.

Dan aku pun sesekali rindu tentang rumah. Dengan cara ini, aku belajar berkawan, bukan melawan sepi. Aku mencintai sepi seperti aku mencintai diriku, seperti aku mencintai segala kenangan tentang kamu dan yang kutangkap dari segala medan perih ternyata tidak pernah menjadi nyata. Ia hanya lembaran yang begitu klise. Dengan mencintai sepi itu, selalu ada rasaku yang pulang meski jasmaniku masih berada di sini. Masih ada kehangatan tentang rumah yang tak pernah hilang dan kuketahui bahwa yang dinamakan rumah adalah ketika kita mampu menempatkan hati di mana saja kita bisa merasakan zona nyaman.

Di sini sangatlah sepi. Awan berarak ke timur, kata orang-orang dan aku percaya saja. Tidak ada suara kereta, mobil, atau kebisingan lain. Aku pun bisa memutar Enya dengan jelas meski volume suara yang sangat kecil. Cenderung pula aku menghabiskan waktuku dengan tidur meski tak pernah merasa nyenyak. Seringkali aku terbangun di tengah malam atau waktu tidurku tidak pernah sama dengan ketika aku berada di rumah. Tapi bagiku cukup.

G, aku akan pulang. Entah di hari apa, tetapi kurasa kita tidak akan sempat bertemu. Namun aku selalu mendapatkan bahagia ketika aku sanggup menuliskan surat kepadamu dan dengan cara ini kuketahui bahwa kekayaan kata-kata bisa membuatku lebih bernyawa. Lewat cara inilah, kita bertemu.



Bandung, 20 Oktober 2011 | 10.32
A.A. - dalam sebuah inisial

Minggu, 25 September 2011

Petang Bersama Ayah

adalah petang yang paling mengagumkan
dan tak akan pernah terlupakan.






Bandung, 25 September 2011 | 17.26
A.A. - dalam sebuah inisial

Senin, 19 September 2011

Mendengar Cita-cita

Sebuah malam Juli di Senayan, Jakarta, saya mencegat taksi untuk menumpang setelah hampir seharian berkelana di kota ini. Tepatnya bukan berkelana, tetapi menyerahkan hasil kerja dan hendak pulang. Jakarta sudah memperlihatkan langitnya yang pekat dalam gelap dan saya sudah enggan untuk berdesak-desak di dalam busway yang semakin hari semakin tidak bisa membuat puas para penumpangnya karena armada bus yang tak pernah sesuai dengan jumlah penumpang.

Masuklah saya ke dalam sebuah taksi. Seorang bapak, sebutlah namanya Pak Amir. Tak ada ucapan selamat malam, tak ada sapa hendak ke mana arah kita. Tiba-tiba ia langsung bercerita sendiri. Tapi saya membiarkannya saja apa yang hendak dikatakannya sembari mengatakan ke mana saya akan beranjak.

Langit Jakarta sudah terisi oleh kerlap-kerlip dari lampu-lampu. Jalanan ibukota tetap padat, apalagi saya pulang di jam orang-orang pulang ke rumah. Klakson, umpat, dan suara knalpot menjadi hal yang tak asing lagi ketika hidup di Jakarta. Rasanya hampir tak ada orang yang hidup di jalanan Jakarta yang tidak ingin mengumpat dengan sikap dan perilaku sesama pengguna jalan. Bahkan sampai pengemis dan pengamen pun bisa menjadi sasaran ketika seorang pengguna jalan sudah naik darah di jalanan ini.

Saya tahu, malam-malam itu adalah malam-malam terakhir saya menikmati kemacetan Jakarta secara utuh. Setelahnya, mungkin saya hanya menikmati udara dingin dan angkot-angkot yang tahu sopan santun dalam mencari penumpang. Jakarta keras, dan itu benar-benar keras. Dari jalanan saja kita bisa melihatnya.

Pembicaraan saya dan sopir taksi tadi belum usai. Tiba-tiba ia bertanya tentang hal yang tak biasa saya bicarakan dengan supir taksi lainnya.

"Dik, kerja di mana?"
"Kerja sambil kuliah, Pak. Kerja serabutan. Hahaha..."
"Kuliahnya di mana?"
"Bandung."
"Lho? Kok?"
"Kuliah belum mulai, saya di sini bekerja iseng-iseng saja. Isi waktu liburan."
"Kuliahnya apa, Dik?"
"Ilmu Politik, Pak. Kenapa?"
"Tahu dong kasusnya Nazaruddin?"
"Tahu, Pak."
"Menurut Adik, Nazar salah atau tidak?"
"Salah dong, Pak. Tapi masih ada kepalanya lagi yang lebih salah."
"Pernah bercita-cita dengan Indonesia yang bebas dari korupsi, Dik?"

Glek! Seorang sopir taksi menanyakan hal seperti ini kepada saya. Cukup mengejutkan sekaligus membuat sebuah hal yang tak pernah saya duga-duga sebelumnya. Selama ini, saya tahu kasus Nazaruddin seperti apa dan saya mengikutinya. Tetapi saya tidak pernah bertanya kepada diri saya apakah saya pernah berpikir dan bercita-cita memiliki negara yang bebas dari korupsi.

"Mungkin, Pak. Kalau Bapak sendiri?"
"Selalu. Saya sering sedih, tapi saya kan cuma sopir taksi."
"Lalu, mengapa dengan sopir taksi, Pak? Apa saya yang mahasiswa dan Bapak yang seorang sopir taksi tidak boleh bercita-cita?"
"Ya, boleh. Tapi cita-cita cuma cita-cita saja."
"Cita-cita bisa terwujud kalau mimpi kita tidak ketinggian dan kita mampu menggapainya, Pak. Kalau negara tanpa korupsi itu pasti tidak pernah ada di dunia ini."

Malam itu pula, telinga saya seperti mendengar lagu dari John Lennon, Imagine. "
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as on"

"Saya dulunya kerja di Telkom, Dik. 15 tahun di sana. Semua tunjangan kesehatan dan sekolah anak ditanggung."
"Kok berhenti?"
"Gaji tak naik. Meski tunjangan ada, sering tidak cukup karena mereka tidak pernah menaikkan tunjangan sampai penuh. Tapi, sampai sekarang saya tetap ditanggung karena saya mengundurkan diri."

Di kursi belakang saya mengangguk. Kemudian mendengarkan lagi Bapak itu bercerita.

"Anak saya sudah selesai SMK. Syukur, saya bisa menyekolahkannya dari taksi. Kadang juga saya sedih, anak saya sebenarnya ingin kuliah. Tapi saya belum mampu. Untung dia mau masuk SMK. Sekarang dia bisa bantu bapaknya. Desain gelas, spanduk, dan baju."

Saya selalu percaya, semua orang memiliki cita-cita. Semua orang pasti akan bercita-cita. Seorang sopir taksi atau seorang mahasiswa yang duduk bersama di dalam satu mobil, melintasi jalan yang sama pun pasti memiliki cita-cita. Bukankah kita sedari kecil memang sudah ditanamkan cita-cita? Cita-cita membuat kita supaya bertahan hidup untuk memperjuangkannya dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada, membuat seseorang untuk menilai dirinya lebih berarti di dalam setiap kesempatan yang ada.

"Cita-cita itu ada batasnya, Pak. Kalau ketinggian, kita tak bisa menggapainya. Kalau kerendahan, mudah menggapainya, tetapi mudah juga untuk dilupakan oleh kita sendiri."
"Iya, Dik. Tapi orang miskin dilarang bercita-cita juga?"
"Cita-cita itu gratis, Pak. Semua orang bebas bercita-cita. Setinggi apa pun, serendah apa pun. Tapi kita harus sadar akan keterbatasan kita, Pak. Manusia pun ada batas dalam bermimpi. Bisa saja kita tidak sanggup menggapai cita-cita karena ketinggian."
"Jadi Adik tidak setuju dengan Sukarno?"
"Ya, tentu tidak. Memang bisa kita ke langit untuk menggapai cita-cita? Naik pesawat saja belum sampai ke langit paling atas. Hahaha..."

Perjalanan hampir usai. Saya hampir tiba sampai tujuan. Ada kesimpulan dalam hati bahwa Bapak Amir ini memang sudah bercita-cita. Orang kaya dan orang miskin boleh bercita-cita, perempuan dan laki-laki bebas bercita-cita. Cita-cita hanya berbeda dalam tinggi-rendah, besar-kecil, diperjuangkan-tidak, dan berhasil-belum berhasil. Tak ada cita-cita yang gagal.

Ada benarnya pula kata Andrea Hirata, berhenti bercita-cita adalah tragedi kehidupan manusia. Pak Amir bukannya ia tak mau memperjuangkannya, mungkin saja baginya dua cita-cita yang terdengar sederhana itu terlalu tinggi untuk digapainya seorang diri. Setidaknya, Beliau tidak berhenti untuk tetap bercita-cita.

Langit Jakarta hanya berhias lampu. Tibalah saya di destinasi berikutnya di mana teman saya sudah menunggu untuk obrolan malam sebelum saya pindah ke luar kota. Saya mengakhiri obrolan yang menarik dengan seorang sopir taksi yang memiliki cita-cita. Saya turun setelah membayar lebih sedikit sebagai bonus untuk mengisi kekosongan perjalanan saya yang terlalu membosankan hanya dengan diam.

Taksi itu melaju. Mungkin hanya saya dan Tuhan yang tahu, seorang sopir taksi pun memiliki cita-cita yang selalu ingin digapainya.




Bandung, 20 September 2011 | 07.19
A.A. - dalam sebuah inisial

Minggu, 07 Agustus 2011

Perihal: Pergi

Biar hari-hari menjadi sebuah manifestasi karya yang sangat abadi, maka kita harus berani meninggalkan mereka yang kita kasihi untuk sebuah masa depan yang setiap detik akan kita sambut. Adapun tentang hari ini, biar waktu mengelolanya menjadi sebuah kenangan yang tersimpan rapi di sebuah ruang, di dalam rumah yang tak pernah lupa untuk mengingatnya.

Aku pun demikian adanya. Kuberanikan diri untuk pergi, menanggalkan semua yang telah kumiliki, meninggalkan semua yang kucinta, dan melangkahkan kaki ke negeri yang berbeda. Kita berpisah. Bukan berarti melupakan. Untuk itulah, mengapa mereka membenci apa yang dinamakan berpisah. Meski hari demi hari bergulir, cepat atau lambat, tahu atau tidak, sanggup menerima atau tidak, kehilangan akan datang seperti matahari yang terbit tanpa sanggup kita menjegalnya untuk tidak tenggelam.

Bahwa aku mengasihi semua kenangan yang pernah ada di kota ini. Maaf bila aku lebih sering menggerutu sebagai manusia daripada mensyukuri apa yang pernah kunikmati dalam suka dan duka, bahagia dan lara, senang dan susah. Dan aku pun hanyalah manusia; tak pernah lepas dari segala kesalahan.

Begitu banyak cerita yang kurawi di kota ini, terlalu banyak harapan yang kutaruh di tempat ini, namun masih adakah tempat bagiku untuk berpulang di suatu hari nanti? Sejauh apa pun aku pergi, aku percaya esok aku akan kembali, seperti petualang mana yang tak rindu akan rumah. Bagiku, tiada apa-apa bila aku tidak mengeja rasa rindu yang menggebu dan meletup di dada. Aku hanya sanggup menyimpannya dan menumpahkannya ketika pulang di hari depan.

Percayalah, aku tidak akan melupakan begitu saja. Terlalu manis untuk dilupakan begitu saja. Dan satu lagi, aku akan pulang untuk melepas cumbu mesra di hari esok.

Aku pergi dulu, sampai jumpa di lain waktu.




Peluk sapa dan cium mesra,

Jakarta, 7 Agustus 2011 | 23.15
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 29 Juli 2011

Perihal: Pamit

: Berlianevie Harjan


Ini sudah kuinsafi sejak lama bahwa suatu hari nanti kita memang akan memilih, menempuh, dan menikmati jalan kita sendiri-sendiri. Bahwa yang hanya bisa kita kenang adalah kenangan yang masih tersimpan rapi di dalam mozaik pikiran kita. Ada jalan di mana kita harus berpisah untuk bertemu lagi di suatu ketika. Mungkin di Puncak Everest, di Pegunungan Alpen, di Samudra Atlantik, di Laut Baltik, atau di jalur Gaza. Mungkin. Atau kemungkinan yang bisa terjadi adalah kita tidak pernah bertemu lagi.


Aku tahu, ini adalah soal melepas yang memang harus dilepas. Kehilangan memang sudah tidak bisa dipungkiri dan tak seorang pun mampu untuk menolaknya. Sejak kecil, kita sudah dididik untuk menerima kehilangan itu menjadi suatu hal yang lumrah, tetapi semakin bertumbuh dewasa, kita semakin mengerti bahwa kehilangan adalah hal yang begitu menyakitkan. Kita tidak bisa menerima lagi kehilangan itu sebagai hal yang biasa, tetapi juga bukan hal yang spesial. Justru itu, kita lebih memilih membenci apa yang dinamakan dengan kehilangan.


Waktu pun tidak memiliki hak apa pun untuk mengubah yang telah ada. Kehilangan adalah kehilangan, apa pun namanya, bagaimana bentuknya, seperti apa caranya, di mana, kapan, atau mengapa harus ada, ia akan tetap berwujud kehilangan. Itulah yang pernah dan akan kita rasakan: kesepian dan saling rindu di dunia yang beribu-ribu jarak yang memisahkan.


Di musim panas dan hujan, aku pun tahu, kita pernah mencipta kenangan dan bahagia pernah teranyam di setiap segmennya. Untuk itu, kenangan selalu berwujud meski tak sanggup kita sentuh. Dengan cara itu, di masa depan, kita bisa kembali ke hari-hari kemarin meski tak akan lagi sama.


Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik, sahabat dalam suka dan duka, dan penasihat yang ulung. Terima kasih sudah pernah mengisi waktu dengan bahagia dan air mata. Terima kasih sudah menjadi bahagiaku dan sedihku karena tiada itu semua betapa tawarnya hidup ini.


Aku selalu membenci sebuah pertemuan, karena kuyakin akhirnya adalah sebuah perpisahan.




Jakarta, 29 Juli 2011 | 23.09
A.A. - dalam sebuah inisial

Minggu, 19 Juni 2011

Tentang Ayah yang Mengagumkan



Siapa orang yang paling mengaggumkan dalam hidupmu?

Ayah.

Empat tahun menulis di blog ini, tentu sudah banyak ceritera yang saya bagikan lewat tulisan, foto, musik, video, atau sekadar komentar di blog kawan-kawan. Bagi yang sudah lama mengikuti blog saya, mungkin ceritera tentang ayah saya bukan lagi sesuatu yang baru. Tentang ayah saya sering kali saya bagikan lewat blog ini.

Saya selalu percaya sosok ayah adalah sosok yang istimewa di dalam setiap hidup orang. Seorang Abraham Lincoln saja menganggumi sosok ayahnya yang menjadi motivator dalam hidupnya. Pendukung masa depannya yang paling setia dan yang paling tahu apa yang ia butuhkan. Meskipun Abraham Lincoln dididik untuk bekerja, bukan mencintai.

Saya memang harus mensyukuri atas kelahiran saya yang begitu istimewa. Saya hidup di tengah keluarga yang tentunya istimewa. Di tengah maraknya berita tentang ayah yang menyiksa anaknya, ayah saya bukan termasuk orang yang melakukan hal serupa. Ayah saya jauh dari kekerasan terhadap anak-anaknya. Saya dididik secara bebas dan merdeka, tidak dipaksakan dan terbuka.

Masih saya ingat betul ketika dengan gembiranya saya datang kepadanya membawa kabar bila saya diterima di salah satu jurusan yang saya kehendaki. Saya berlari dan berteriak di hadapannya. Euforia di hadapannya benar-benar.

"Itu sudah pilihanmu. Sekarang tinggal waktunya berjuang dan itu menjadi keputusanmu untuk berjuang dan bertahan atau mundur dari sana."

Saya tahu itu bukanlah jurusan yang dikehendakinya. Beliau lebih memilih saya untuk mengambil jurusan ilmu hukum. Sebelumnya juga beliau sempat mengeluh kepada saya.

"Untuk apa susah-susah kamu masuk IPA, tapi malah kuliah di IPS?"
"Iseng. Hahaha..."
"Di mana-mana orang pengin masuk IPA supaya bisa jadi dokter. Kamu bisa masuk IPA malah ambil IPS!"

Tak jarang saya harus beradu argumen dengannya. Kami tetap pada keputusan kami masing-masing. Tidak lagi peduli dengan kata egois yang distempelkan orang-orang kepada kami. Saya adalah anak yang mewarisi gen keras kepalanya. Saya dan beliau selalu ngotot dengan pendapat kamilah yang paling benar.

Ketika saya harus meninggalkan rumah, bertarung kembali dengan alam, katanya hanyalah sederhana. "Jangan lupa makan vitamin! Sudah papa masukkan ke dalam tasmu!" Aku hanya tertawa dan sekembalinya ke rumah, vitamin itu masih utuh. Tak disentuh, tak dibuka, dan tidak sekali pun diteguk! Sontak saya menyimpannya di dalam laci meja dan ketika beliau bertanya,"mana vitaminnya? Habis tidak?" Saya hanya manggut-manggut berbohong.

Saya bukanlah anak yang patuh. Saya kerap membangkang. Saya selalu merasa lebih mengerti apa yang saya butuhkan. Ketika saya gagal, beliau selalu siap menjadi pendengar keluh kesah saya. Beliau siap untuk menjadi teman perjalanan yang baik dan menyenangkan. Di saat itu, keras kepala kami melebur menjadi satu. Kami punya prinsip yang sama.

Betapa hebatnya semesta menciptakan orang-orang yang seperti saya dan ayah saya yang bisa menjadi satu meski memiliki kepala yang benar-benar melebihi batu. Memang ayah saya adalah ayah yang istimewa. Orang yang paling istimewa dalam hidup saya.

Ayah saya adalah guru yang terbaik, sahabat yang paling setia, dan ayah yang paling luar biasa yang pernah saya kenal. Saya bangga memiliki ayah sepertinya. Saya bangga dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya mencintainya dengan sepenuh hati.

Dan saya meyakini ayah saya menyayangi saya meskipun saya bukanlah anak yang selalu bisa dibanggakan olehnya.

Terbentang ribuan jarak yang membuat kisah kita begitu banyak untuk dibagi, Pa. Ada ribuan kenangan. Ada jutaan bahagia. Ada milyaran berbagi. Semua itu selalu kita gunakan untuk menjalin persahabatan yang lebih dari ayah dan anak. Aku adalah anak yang mewarisi gen keras kepalamu tetapi selalu luluh ketika aku harus bercerita tentang dirimu yang selalu dapat aku banggakan. Seutuhnya, aku benar-benar bahagia memiliki ayah sepertimu.

Teman-temanku tentunya iri hati kepadaku bila papa masih sempat untuk datang untuk menemaniku mengambil ijazah. Sempat-sempatnya di antara kesibukanmu, kau menemaniku untuk pergi ke suatu tempat di mana masa depanku akan ada di sana. Bahkan kau siap untuk melepasku pergi lagi dengan leluasa.

Terima kasih untuk segala totalitasmu, Pa. Terima kasih untuk amarahmu yang membuatku untuk kembali pulang kepada jalur di mana aku harus berada, terima kasih untuk selalu menjadi alarm yang mengingatkanku bahwa aku tidak pernah bisa berjalan sendiri, terima kasih untuk menjadi teman perjalanan yang menyenangkan yang bisa diajak berbagi, terima kasih untuk menjadi pendengar setia dan menjadi penasihat agung ketika aku butuh, terima kasih untuk menjadi guru yang bisa kuteladani, dna terima kasih telah membuatku bebas melebihi burung yang merdeka untuk terbang.

Maaf, kalau aku bukanlah anak yang bisa engkau banggakan.

Selamat Hari Ayah, Pa!



Jakarta, 19 Juni 2011 | 19.53
A.A. - dalam sebuah inisial

Kamis, 05 Mei 2011

Rumah










Adakah dari mereka yang tak pernah rindu pulang? Adakah mereka yang tak rindu untuk kembali merebahkan kepala di atas kasur di rumah? Bukankah rumah menjadi tempat untuk menaruh hatimu yang paling hakiki? Tempat untuk kau berdiam di dalamnya? Tempat menyimpan segala kenangan masa kecil dengan teman sepermainanmu?

Saat ini, aku rindu pulang. Pulang ke rumah. Meski aku sedang berada di dalamnya.

Rumah yang kukenal kini sudah berbeda. Ah, mungkin pula aku yang berubah. Tapi entahlah. Kini semua sudah tak sama. Rasaku, ini adalah efek aku meninggalkan rumah begitu lama. Berkelana sesuka hatiku saja. Baru pulang ke rumah, sekadar bersapa, kemudian pergi lagi. Seperti itu hampir keseharianku.

Tapi, rumah tak pernah membiarkanku kesepian meski aku pergi meninggalkannya sendiri. Ia bukan hanya tempat yang kokoh untuk kudiami, tapi juga tempat untuk kuberkeluh kesah. Rumah bagiku bagai rahim ibu yang mencukupi segala nutrisi, membiarkan aku bermanja di dalam tubuhnya. Rumah selalu menyimpan rapi cerita yang kubagikan kepadanya setelah pulang; seperti ibuku yang tahu masa kecilku yang seperti apa.

Sungguh, aku rindu rumah. Rumah yang paling sejati.

Seperti janjiku, biarkan aku berkelana dahulu, sebebas-bebas yang kukehendaki. Karena aku selalu percaya bahwa rumah akan selalu merindukanku untuk pulang sebagaimana aku rindu terhadapnya.

Aku rindu akan harum masakan yang berkeliling di dalam rumah, menerobos celah-celah kecil di sudut-sudut pintu dan jendela, dan membuatku lapar serta bergegas untuk menyerbunya. Aku rindu akan acara televisi yang selalu dikritik oleh ayahku karena tak pernah mendidik kami, kemudian ia menggantinya dengan berita yang langsung menuai protes dari kami. Aku rindu akan buku-buku yang kutinggalkan sampai berdebu, menguning, dan seperti tak punya harapan. Aku rindu meja kerjaku yang senantiasa menemaniku menganyam ribuan cerita yang ada, menjadi kasur kala aku tertidur, dan tak pernah marah bila kutumpuk beban yang berat di atas bahunya.

Kini, sesungguhnya aku benar-benar merasa kesepian. Ingin rasanya aku menetap di rumah berhari-hari hanya untuk memanjakan diriku kepadanya. Ingin masuk kembali ke dalam rahimnya dan bermain di dalamnya. Melupakan semua hal yang harus kukerjakan lekas-lekas. Aku ingin pulang.

Aku selalu percaya, rumah tak pernah menolakku.
Karena rumah selalu memberikan tempat untuk hatimu berpulang, kembali berada.




Jakarta, 5 Mei 2011 | 19.44
A.A. - dalam sebuah inisial

Kamis, 14 April 2011

Keajaiban Menulis


Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. – Seno Gumira Ajidarma


Dalam sebuah diskusi, seorang teman mengajukan pertanyaan kepada saya, “mengapa menulis?” Saya pikir ini adalah sebuah pertanyaan yang sangatlah absurd, yang di mana saya sendiri tidak bisa menemukan kepastian untuk jawabannya. Memang, saya menulis di mana saja. Di dunia maya maupun di dunia nyata. Arsip saya tersedia di mana-mana dan selalu saya simpan dengan rapi agar ketika saya membutuhkannya, saya tinggal membukanya dan menggunakannya setiap saat.

Tak jarang juga teman-teman saya yang meminta saya untuk menuliskan sesuatu untuk mereka hanya saya kirimkan tautan blog saya. Biar mereka mencari sendiri apa yang mereka butuhkan. Ketika mereka mengatakan tak menemukan apa yang mereka butuhkan, barulah saya kembali menuliskan untuk mereka.

Saya insafi beberapa minggu ke belakang ini, saya sudah jarang menulis. Kalau pun menulis, hanya ada tulisan yang sekadar selesai saja. Tetapi intinya, saya masih menulis. Entah itu di blog ini, di kertas, lewat microblogging seperti Twitter dan Plurk, atau merawi proyek pribadi saya. Keseharian saya dihabiskan dengan membaca, menulis, dan meneliti. Saya selalu bahagia dengan waktu yang dapat dilewati dengan cara tersebut.

Kembali ke pertanyaan teman saya tersebut. “Mengapa menulis?” Pertanyaan ini membuat saya mengerutkan dahi dan sesungguhnya saya tak tahu apa alasan saya menulis. Bagi saya, menulis bukan lagi sebuah hobi, tetapi menjadi seperti makanan pokok. Mungkin pula menulis seperti bernapas yang harus dilakukan setiap saat.

Acap kali, kalau saya tak ada wadah untuk menulis, saya merasa gelisah. Entah apa yang saya gelisahkan selalu tak menunjukkan arah yang jelas berlabuh ke mana. Mungkin memang saya menulis karena saya gelisah. Apa yang saya gelisahkan, mungkin karena saya tidak menulis pada saat itu.

Saya mengamini kata-kata Seno Gumira Ajidarma tersebut. Saya bukanlah orang yang suka banyak bicara kecuali memang saya merasa saya perlu untuk bicara. Orang-orang lebih memandang saya berkepala dingin dan sejenisnya. Saya bukanlah orang yang pandai berbasa-basi, mengangkat suatu topik pembicaraan yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan berhari-hari. Saya hanya bisa bicara langsung pada inti persoalan yang ada.

Faktor ini juga yang menurut saya, saya selalu dianggap dingin oleh orang sekitar saya.
Saya lebih suka mencurahkan semuanya dengan menulis. Duduk diam, dengan kertas dan pena atau laptop. Kemudian jemari-jemari saya biarkan saja bergerak dengan sendirinya. Biar ia menyusun aksara yang ada. Dengan cara itu, saya sudah bicara. Mungkin pula dengan bercerita seperti yang sedang Anda baca ini.

Dengan menulis pun, saya bisa saling bersapa, ngobrol, bahkan menjalin persahabatan. Sila percaya atau tidak, keajaiban menulis begitu nyata bagi saya. Dengan menulis, saya bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Dengan menulis, saya menyalurkan kegelisahan saya. Dengan menulis, saya bisa menjadi abadi. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “menulis adalah bekerja menuju keabadian.”

Betapa besar keajaiban menulis bagi saya. Ah, bisa jadi, ini menjadi jawaban mengapa saya menulis dan tetap menulis sampai saat ini meski dalam kondisi yang sulit dan kosong.

Nah, bagaimana dengan Anda?

Jakarta, 15 April 2011 | 1.09
A.A. – dalam sebuah inisial

Senin, 14 Maret 2011

Surat Kepada G

Pro G,



Aku tahu,
Di dalam sebuah pertemuan akan menjumpai sebuah perpisahan. Entah kapan, pasti akan ada saatnya. Seperti bus yang selalu melaju dari kota ke kota, ia akan mencari tempat persinggahannya untuk berhenti dan juga kembali. Hari ini kita kembali seperti setahun lalu lagi 'kan?

Esok,
adalah masa di mana aku tidak lagi menjumpai engkau. Bukan tidak lagi mengenal engkau. Ada satu fase di mana kita memang dipertemukan dengan bahagia, harusnya diceraikan juga dengan bahagia. Tak ada perpisahan yang membahagiakan, katamu. Meski kuinsafi saja bahwa memang aku tidak bisa menjadi orang yang bahagia dengan kehadiran perpisahan.

Berpisah denganmu.

Kehilangan adalah satu cabikan yang begitu perih. Namun tanpa kehadirannya, toh, hidup juga tidak akan berwarna. Ia menjadi salah satu warna pelangi yang berkelindan di kehidupan kita. Apa kau akan merasakan hal yang sama seperti yang kurasa?

Terima kasih untuk kesetiaan yang pernah kau berikan. Terima kasih untuk kesempatan yang tak bisa dan tak sama yang diberikan kepadaku dengan orang lain darimu. Terima kasih karena aku boleh mengenal dan menjadi bagian darimu. Untuk sebuah persahabatan dan totalitas, ribuan terima kasih tak terbayar untukmu.

Esok akan datang, tapi akankah ia sama? Aku yakin sangatlah berbeda. Tak ada aktivitas lagi di antara kita yang benar-benar membuat kita menjadi hidup dengan rasa percaya.

Hari ini kita berpisah.

Itu saja yang aku ketahui. Setahun mengenalmu, menjadi bagian darimu. Semoga kamu tidak pernah menyesal dengan sebuah pertemuan denganku. Aku pun percaya, akan ada orang yang lebih baik daripadaku esok.

Aku tidak memintamu untuk tetap ada, tetap menjadi teman seperjalanan. Hidup adalah improvisasi yang berujung dengan mati. Aku akan mengenal orang lain di dalam hidup ini, tentu juga dengan kamu. Meski semua memerlukan lagi adaptasi, memerlukan waktu untuk bisa saling memahami dan saling belajar. Di dalam perjalanan, kita akan menemukan banyak perbedaan yang pernah kita kenal dari seorang sebelumnya. Untuk itu, perpisahan tentu akan ada. Kehilangan akan datang. Dan aku tidak berharap kamu tetap ada di sini. Kita perlu belajar dari orang lain jua.

Kini, aku dan kamu akan berpisah,
hari ini kita berpisah tanpa syarat apa pun, tak perlu pertanda dan firasat apa pun.

Dan untuk semua yang pernah diberi,
terima kasih untuk semua totalitas dan inilah apologiku bila aku pernah mengoyakkan hatimu.







Jakarta, 15 Maret 2022 | 8.03
A.A. - dalam sebuah inisial



Sabtu, 19 Februari 2011

Totalitas Memberi, Totalitas Menerima


Satu-satunya yang membuat saya bahagia adalah kini saya bisa fokus kepada satu hal: belajar untuk lulus. Ada target di sana, ada cita-cita yang saya tanamkan di dalamnya. Tapi semua itu juga tak seirama bila saya tak luput oleh kesedihan bahwa saya pernah bekerja dengan cinta untuknya. Saya melepaskannya kini.

Ya, waktu yang dapat saya gunakan tinggal sejengkal lagi. Menghitung dua ratus jam lagi. Tak banyak lagi. Saya pernah belajar untuk jatuh cinta berproses di dalamnya. Saya tumbuh besar bersamanya dan saya belajar banyak darinya. Saya mengenal dan dikenal oleh banyak kalangan. Saya dituntut untuk tetap fokus dan bisa mengatur waktu meski lebih banyak melanggarnya daripada fokusnya.

Saya bekerja di belakang layar. Di belakang layar salah satu penerbitan. Tak banyak yang tahu kalau orang di belakang layar itu adalah saya. Ratusan macam pertanyaan hadir siapa sebenarnya orang yang berada di belakang layar itu. Saya cuma bisa tertawa ketika salah seorang pengikut berkomentar, “sesekali admin-nya (administrator) nongol dong.” Banyak pertanyaan dan pernyataan serupa yang keluar selama saya menangani.

Tapi dari sana, saya menemukan esensi. Saya mengakrabi diri dengan satu dan lainnya tanpa harus mereka ketahui siapa saya dan saya tak perlu cemas siapa mereka. Toh, akrab tak perlu tahu siapa seseorang itu bukan?! Selama kita merasa kita bisa dekat dan merasa nyaman, kita tak peduli siapa dia.

Rasa bahagia, sedih, jengkel, kesal, dan lucu selalu mewarnai hari-hari saya selama bekerja di dalamnya. Bahagia bila saya mengadakan suatu “acara” online diwarnai keberhasilan. Bahagia bila apa yang saya lakukan demi satu buku menuai keberhasilan: cetak ulang (meski saya insafi kebahagiaan saya tak sebesar kebahagiaan penulis yang mendapat kabar cetak ulang itu, haks!) Bahagia bila saya bisa dekat, hadir, dan masuk ke dunia “teman-teman” maya yang tak mereka kenali. Itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk saya.

Sedih apabila mendapat kabar buku yang pernah saya perjuangkan tak berdaya di pasaran meski saya sudah berupaya semampu saya untuk menggempurkannya. Sedih apabila mendapat teguran karena saya salah, saya lengah, dan saya salah mendapat informasi. Sedih apabila saya merasa hilang dan waktu saya tersita untuk hal yang lain. Itu adalah kesedihan sendiri untuk saya.

Jengkel bila e-mail yang saya tunggu-tunggu tak masuk pula. Jengkel bila saya sudah memberikan deadline kepada penulis, mereka seakan-akan mengabaikannya (dan pikir saya, mentang-mentang buku sampeyan sudah terbit, deadline bocah ini dilupakan). Jengkel bila di saat saya yang harus turun tangan, terpaksa orang lain yang turun. Itu adalah kejengkelan sendiri untuk diri saya.

Kesal jika media online tidak bekerja secara optimal untuk saya. Kesal jika tulisan yang harusnya saya publikasikan malah lenyap sendiri karena lupa disimpan. Kesal jika internet dalam kondisi naik-turun, sementara interaksi harus dikejar. Itu adalah kekesalan sendiri untuk saya.

Lucu karena komentar-komentar yang masuk di antara berharap dan bercerita. Lucu karena saya membaca balasan-balasan e-mail dari penulis yang dingin ternyata memiliki selera humor. Lucu karena saya pun bisa bercanda di dalamnya sambil bekerja. Ini adalah kelucuan sendiri untuk diri saya.

Ya, kebahagiaan, kesedihan, kejengkelan, kekesalan, dan kelucuan tersebut akan menguap tak lama lagi. Lagi-lagi saya akan kehilangan mozaik-mozaik yang pernah bersatu bersama saya. Betapa bernilainya sesuatu bukan kala ia ada, tetapi kala ia tiada dan mau tak mau kita harus melepasnya. Kini saya tahu betapa bernilainya semua itu, semua yang pernah saya lakukan, semua yang pernah saya terima.

Saya memberi sesuatu, saya mendapatkan sesuatu. Ada cermin kebahagiaan yang terpantul di dalamnya. Saya pernah menjadi bagian darinya. Saya pernah ada untuknya, untuk satu totalitas: totalitas bekerja. Saya bekerja dalam kondisi apa pun. Di kala bahagia dan tidak. Di kala sedih dan tidak. Di kala marah dan tidak. Semua itu mempengaruhi meski tak begitu tampak. Di antara keterbatasan waktu, saya bisa menyempatkan diri untuk bercanda di dalam dunia maya. Di antara sela-sela deadline, saya bisa mendapatkan bahagia. Saya terhibur di dalamnya walaupun sesungguhnya saya sedang bekerja.

Saya menikmati pekerjaan ini. Di belakang layar, tak banyak orang yang tahu, saya dikenal seperti apa diri saya. Dengan banyaknya sebutan untuk diri saya dari mereka. Membalas pesan dan komentar mereka satu per satu. Mewujudkan harapan mereka satu per satu. Dan antara saya dan mereka, kami dapatkan bahagia tanpa sengaja.

Di sini juga saya mengenal banyak orang dari berbagai macam karakter dan kepentingan. Mulai dari redaksi yang berdiri di belakang saya, menuntun saya, mendidik saya harus seperti apa, dan memberikan totalitas dengan berbagai kemudahan kepada saya. Sudi saya telepon meski sudah bukan lagi jam kantor. Sudi membalas pesan saya meski bukan di hari kerja. Sudi mengirimkan e-mail yang saya minta di tengah malam. (Ah, ya, begitulah saya. Aktifnya baru tengah malam, haks!)

Juga kepada penulis yang sudah menopang saya, membantu saya, dan (tak langsung) men-support saya. Rela menunggu jawaban dari saya untuk jadwal yang telah saya tetapkan. Rela menjawab pertanyaan saya meski saya beri waktu begitu minim. Rela saya ‘kejar-kejar’ agar simbiosis mutualisme di antara saya, penulis, dan redaksi bekerja dengan baik.

Sampai kepada pembaca. Tak ada nilainya harga sebuah buku bila tak ada pembacanya. Saya menjaga hubungan mereka dengan saya dengan berbagai macam cara. Seperti menanam bibit, mereka akan tumbuh subur, berbunga, dan berbuah bila kita merawat dengan baik. Saya merawat mereka dengan berbagai macam ide yang tumpah di kepala saya dengan satu tujuan: memetik buah setelah itu. Tanpa mereka, saya, redaksi, dan penulis pun tak akan bernilai apa-apa.

Dengan kepenuhan hati saya memberikan sesuatu, totalitas bekerja. Dan dengan kepenuhan hati saya menerima sesuatu, totalitas hasil. Selalu ada hal yang bertautan meski tak tampak jelas. Selalu ada hal yang bisa dibagikan meski dalam waktu yang minim.

Saya bahagia karena saya pernah menjadi bagian di dalam kebahagiaan mereka. Menjadi kebahagiaan di antara penulis, redaksi, dan pembaca. Saya pernah merasakan menjadi ketiganya. Saya pernah menjadi penulis, pernah menjadi redaksi, dan pernah menjadi pembaca. Saya tahu merasakan ketiganya dan tahu apa yang dialami oleh ketiganya. Dan setelah saya pernah memberi, saya pernah menerima, kini saya harus merelakannya. Itu menjadi kesedihan hari ini bagi saya.

Saya akan merindukan hal itu, pasti. Ah, mungkin sesekali saya akan mampir dengan status yang berbeda. Tapi nuansanya tentu akan berbeda. Ada kalanya memberi, ada kalanya menerima. Ada kalanya mendapatkan, ada kalanya merelakan. Bukankah hidup memang sudah dijodohkan untuk saling berpasangan demikian?

Ini adalah persembahan saya kepada mereka yang pernah berada di dalam lingkup kehidupan belakang layar ini. Tangkup sembah untuk kalian semua. Saya tak tahu harus dengan cara apa saya berterima kasih kepada kalian selain melalui ini. Terima kasih untuk totalitas memberi dan totalitas menerima dari kalian. Itu semua tak pernah bisa kubalaskan.

Dan saya tahu, esok tak akan lagi sama. Saya akan merasa kehilangan. Dan biarkan saya berada dalam lingkup kerinduan yang sangat mendalam.

Tabik!

 

Jakarta, 16 Februari 2011| 2.00
A.A. -  dalam sebuah inisial

 

Pro GM, sekali lagi, terima kasih untuk tawa, canda, dan kebahagiaan yang pernah kita beri dan terima.

Selasa, 15 Februari 2011

Waktu Sempit Itu


Rasanya sudah cukup lama saya tidak menulis. Menulis yang dimaksud adalah menulis untuk personal. Sudah beberapa lama tak ada tulisan di blog ini yang saya posting. Folder yang ada di dalam arsip pribadi pun kosong. Tak ada stok tulisan yang dapat dimasukkan ke dalam blog ini lagi.

Dan akhirnya hari ini saya kembali menulis. Menulis secara personal, tentunya.

Setelah sekian lama, saya dilanda deadline yang seakan mengejar saya setiap hari, saya diminta untuk tetap sigap. Siap menulis dan tetap kreatif dalam bentuk apa pun. Tulisan saya ditunggu oleh mereka. Saya harus menulis. Saya membaca, saya menulis. Begitu seterusnya sehingga hidup seolah-olah monoton. Saya berada pada poros yang sama. Pagi, saya bangun untuk menyiapkan aktivitas saya. Siang, saya belajar. Sore, saya menyelesaikan dosa saya yakni agenda yang terjadwal. Malam, saya membaca dan menulis (serta belajar lagi untuk mengejar target lulus tahun ini).

Maka, bila ada kesempatan untuk menulis secara personal pun tentunya ada. Tapi tak sebanyak dahulu. Kegiatan saya benar-benar menguras energi. Maka, menulis di mini blog seperti Twitter menjadi solusi bagi saya yang ingin tetap menulis. Bagi saya, menulis harus menjadi kewajiban. Menulis adalah bernapas. Tak menulis di hari itu, pertanda saya tak bernapas.

Mungkin saya menjadi salah satu orang yang merasakan betapa 24 jam adalah waktu yang sangat kurang setiap harinya. Bayangkan bila seseorang menghabiskan sepertiga waktunya hanya untuk tidur, bagaimana ia bisa bekerja? Memotong jatah jam tidur menjadi solusi yang baik untuk saya untuk tetap menulis di blog ini. Seperti terbitnya tulisan ini di tengah malam, ketika semua orang tertidur, saya malah menulis.

Eh, atau saya yang memang salah dimensi waktu?

Ya, bisa jadi begitu.

Namun, di waktu yang sempit, di antara deadline yang seolah berada di dalam lintasan balap, di saat saya dituntut untuk tetap kreatif dan imajinatif, saya suka dengan cara saya menghargai waktu yang sempit. Di sini, saya tahu betapa berharganya waktu yang pernah saya buang dan kini ingin saya kumpulkan dan menyatukannya ketika saya membutuhkannya.

Sayangnya, waktu bukanlah uang yang bisa dikumpulkan dan digunakan dalam kuota yang banyak. Waktu memiliki caranya sendiri agar ia merasa dihargai. Dengan cara ini, saya menghargai waktu. Memotong jam tidur, konsentrasi kepada pekerjaan, fokus kepada semua hal yang membutuhkan diri saya.

Di waktu yang sempit itu, saya menggunakannya dengan penuh. Seperti saya yang menjadi ayah dan waktu yang menjadi anak, saya berkomitmen untuk menghidupinya dengan baik. Dan saya telah memilih untuk berlomba dengan waktu. Ketika waktu berjalan, maka saya akan berlari. Ketika waktu berlari, saya akan terbang. Dengan demikian, target saya akan terpenuhi meski waktu begitu minim. Waktu begitu jahat bila kita tak memanfaatkannya.

Nah, begitulah cerita saya tentang waktu. Bagaimana dengan Anda?




Jakarta, 16 Februari 2011 | 0.57
A.A. - dalam sebuah inisial