Rabu, 03 Agustus 2011

Menghitung Matahari

ada berapa matahari malam ini
katanya matahari hanya tertutup punggung bumi
ia tetap ada, tapi tak seorang tahu berapa banyak
coba rasakan dari panasnya
bukankah semuanya bisa dihitung dari hal tersebut

ada berapa matahari malam ini
selama kau merasa gerah dan mengipas perut dengan baju
itu yang dinyatakan dengan banyaknya matahari
tapi, pernah kauhitung berapa banyaknya
apakah lebih banyak dari bintang

ada berapa matahari malam ini
aku tidak lagi memikirkannya, tapi
matahari masih ada untuk pagi ini kan?



Jakarta, 5 Agustus 2011 | 00.27
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 02 Agustus 2011

Menunggu Matahari Terbit di Ubun-ubun

aku hanya menunggu matahari
di sebuah persimpangan yang beku
membuat kaki benar-benar kaku
sampai terbitlah di luas langit
dan aku tahu:
matahari mencintai hari dengan matahati




Bandung, 3 Agustus 2011 | 05.41
A.A. - dalam sebuah inisial

Presiden Prawiranegara

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Akmal Nasery Basral
Pahlawan yang Terhapus Namanya

Dalam sejarah Indonesia, ada dua orang pemimpin negara ini yang tidak tercatat sebagai presiden, yaitu Mr. Assaat dan Mr. Syafruddin Prawiranegara. Sementara itu, kita hanya mengenal Indonesia hanya memiliki enam presiden, yakni Sukarno, Suharto, B. J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Mr. Assaat merupakan Presiden Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia saat Indonesia masih berstatus Republik Indonesia Serikat. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang merupakan lembaga pembantu presiden.

Sementara, Mr. Syafruddin Prawiranegara merupakan Menteri Kemakmuran setelah Surachman Tjokrodisurjo di zaman Sukarno. Ketika terjadi Agresi Militer II, Sukarno dan Moh. Hatta memberikan kepercayaan kepada Syafruddin untuk membentuk sebuah pemerintahan darurat agar keberadaan Indonesia tetap diakui dunia dan tidak ditenggelamkan oleh bom-bom Belanda.

Lewat kacamata Kamil Koto, seorang pencopet yang terkenal di Pasar Pariaman yang menjadi pengikut Residen Rasyid setelah diselamatkan olehnya dalam sebuah peristiwa, Akmal Nasery Basral berkisah tentang perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara yang sering disebut Kuding di dalam novel ini.
Kedatangan Bung Hatta ke rumah Kuding di sore itu membuatnya harus meninggalkan rumah. Janji Bung Hatta kepada keluarganya hanyalah beberapa hari membawa Kuding keluar dan menuju Bukittinggi. Ternyata janji Bung Hatta tidak bisa ditepati karena bom sudah menghujani Yogyakarta di saat KTN yang juga diliput oleh wartawan internasional. Belanda semakin menjadi. Sukarno dan Hatta sudah memprediksi bahwa mereka akan terkena tahanan rumah, mereka lekas-lekas mengirimkan kabar kepada Syafruddin, Sudarsono, dan A. A. Maramis. Sudarsono adalah dubes RI untuk India dan A. A. Maramis adalah Menteri Keuangan yang sedang berada di New Delhi.

Benar saja, Sukarno dan Hatta beserta beberapa pejabat tinggi lainnya terkena status tahanan rumah dari Belanda. Jendral Sudirman melakukan pergerakan militer di Yogyakarta meski dalam kondisi ia bernapas dengan satu paru-paru. Kuding melakukan pergerakan sipil di Bukittinggi setelah mendapat kabar Sukarno dan Hatta sudah dipenjarakan oleh Belanda.

Rapat digelar oleh Teuku Hasan, Syafruddin, dan beberapa pejabat tinggi lainnya untuk menentukan sikap ke depannya yang akan dilakukan oleh pemerintah agar keberadaan Indonesia tidak semakin dirusak oleh Belanda. Akhirnya sebuah rapat berhasil menunjuk Syafruddin Prawiranegara sebagai Ketua PDRI dan Teuku Mohammad Hasan sebagai wakilnya.

Mungkin hal ini yang membuat Kuding tidak dianggap sebagai presiden: kerendah-hatiannya. Ketika orang-orang telah memanggil dirinya sebagai Presiden PDRI, dengan tegas ia menegur,”Saya Ketua PDRI, bukan Presiden.” Untuk itu, ia tidak dianggap sebagai presiden karena atas kehendaknya sendiri.

Kuding adalah menteri yang jujur, terbukti dengan ketidakmampuannya membeli gurita untuk anaknya, ia tidak menggunakan uang negara untuk itu. Kuding adalah pribadi yang bersahaja, terbukti dengan kata-katanya selalu terpikirkan dengan matang, bertindak dengan hati nurani, dan tidak sekadar asal-asalan. Kuding adalah pendengar yang bijaksana dan penasihat ulung, terbukti dengan ia mengajarkan Kamil untuk lebih menghargai ayahnya dengan baik meski rasa sakit hati tidak bisa tidak datang begitu saja.

“Ayahmu menteri keuangan, Icah,” Lily menyeka matanya yang basah. “Ayah mengurusi banyak sekali uang negara, tetapi dia tak punya uang untuk membeli kain gurita bagi anaknya, adikmu Khalid, yang baru lahir. Kalau Ibu tidak mengalaminya sendiri, Ibu sendiri pasti tidak percaya. Tapi itu nyata. Ayahmu sama sekali tidak tergoda memakai uang negara, meski hanya untuk membeli sepotong kain gurita.” - Presiden Prawiranegara, hlm. 25

Gaya penceritaan Akmal lewat Kamil Koto yang jatuh cinta kepada Zahara, perempuan yang berayahkan Ajo Sidi, orang yang hampir membunuh Kamil, membuat suasana cerita menjadi berwarna dan tidak membosankan. Kamil Koto, tokoh yang seolah-olah ada dan hidup, membuat novel ini menjadi kisah yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Penuturan lugu seorang Kamil bisa mengundang tawa sekaligus pilu. Kita juga diajak bersimpati dan ‘ikut berjuang’ dalam keluar-masuk belantara bersama Kuding untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Pertengkaran mulut antara Sutan Syahrir dan Sukarno yang menganggap Sukarno adalah presiden tolol dan menghina martabat seorang petinggi negara karena mengemis juga memberi warna tersendiri yang menghibur pembaca. Saya pun tak memungkiri sejak kali pertama membaca bab novel ini, saya langsung berpikir Sukarno adalah presiden tolol dan pengecut.

Syafruddin pun memiliki catatan hitam dalam lembaran sejarah Indonesia. Ia dianggap membangkang dengan mendirikan PRRI dan melakukan pemberontakan karena kekecewaannya terhadap pimpinan Sukarno. Di masa tuanya, ia menjadi pendakwah dan berkotbah tentang politik. Isinya selalu membangkitkan emosional rakyat sehingga isi pidatonya harus diperiksa sebelum dikotbahkan. Posisinya pun pernah digantikan khatib lain karena ia menolak isi kotbahnya diganti.

Meski hanya 207 hari, Kuding sudah berjuang untuk Indonesia. Ia pernah ada sebagai pemimpin yang bijaksana untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia meski ia harus mengorbankan keluarganya dan dirinya sendiri. Syafruddin Prawiranegara, seorang presiden yang terhapus namanya.

Bandung, 2 Agustus 2011 | 21.02
A.A. – dalam sebuah inisial

Minggu, 31 Juli 2011

Ada Satu Kisah di Kota Itu

pulang, adalah esensi yang mengagumkan
tak peduli dengan baju baru atau uang yang melimpah
tak peduli dengan makan dan minum yang sangat lezat
tapi berbuka bersama adalah hal yang dinanti

pulang, adalah rindu yang terpecah
tak peduli seberapa maaf yang diberikan
tak peduli seberapa doa yang dihanturkan
tapi maaf dan doa menjadi ibadah yang hakiki

pulang, adalah cerita yang ditunggu
tak peduli berapa lama engkau pergi
tak peduli berapa banyak yang kau raih di kota lain
tapi kebersamaan selalu menjadi hal yang begitu indah





Jakarta, 31 Juli 2011 | 18.18
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 29 Juli 2011

Kapan 'di' Diberikan Spasi?

Sebenarnya tulisan ini sudah pernah saya publikasikan di blog ini pada bulan Mei tahun 2008, tetapi masih ada saja yang belum bisa membedakan kapan 'di' diberikan spasi dan bertanya-tanya tentang hal tersebut, maka saya publikasikan ulang untuk menelaah kapan 'di' tersebut diberikan spasi.

'di' memiliki dua fungsi yaitu sebagai imbuhan dan sebagai kata depan (preposisi).

1. 'Di' sebagai kata depan
         
 
Contoh: di kamar → artinya berada di kamar
                          di waktu senggang → artinya saat waktu senggang
                          di mana – mana → artinya berada pada berbagai tempat

            Kesimpulan: Jika 'di' berfungsi sebagai kata depan, maka 'di' harus dipisah. (Artinya 'di' menjadi suatu kata di depan kata keterangan berikutnya). 'Mana' adalah kata yang menyatakan suatu tempat atau waktu, jadi harus dipisah.

 

2. 'Di' sebagai imbuhan

            Contoh: dimakan → artinya melakukan makan
                          diperlihatkan → artinya memberi lihat
                          dipercantik → artinya membuat cantik

            Kesimpulan: Jika 'di' berfungsi sebagai imbuhan, maka 'di' harus digabung. (Artinya 'di' menjadi suatu imbuhan untuk suatu kata dasar). 'Di' digabung ketika akan digunakan sebagai penyambung kata kerja atau kata sifat.



Bagaimana kalau saya tidak tahu kapan harus diberikan spasi?

Caranya mudah: tentukan saja kata yang akan Anda gunakan tersebut, termasuk kata kerja atau tempat. Bila kata kerja, maka 'di' berfungsi sebagai imbuhan. Bila tempat atau nominal, maka 'di' berfungsi sebagai imbuhan.

Bagaimana dalam penulisan judul?

Bila dalam penulisan judul, akan ada dua perbedaan, tergantung fungsi 'di' tersebut sebagai imbuhan atau kata depan.

1. 'di' dalam judul sebagai imbuhan
               
Contoh:
a. Diberi Waktu
→ 'di' tetap kapital karena ada di awal kalimat.
b. Ia Disayang Tuhan
→ 'di' tetap kapital karena berfungsi sebagai imbuhan pembantu kalimat.

2. 'di' dalam judul sebagai kata depan

Contoh:
a. Di Mana Cempaka?
→ 'di' tetap kapital karena ada di awal kalimat.
b. Pada Surat di Kotak Posmu
→ 'di' tidak lagi kapital karena kata depan tidak pernah kapital kecuali ada di awal kalimat atau awal judul.




Aveline Agrippina
Sekadar belajar sekaligus berbagi

Perihal: Pamit

: Berlianevie Harjan


Ini sudah kuinsafi sejak lama bahwa suatu hari nanti kita memang akan memilih, menempuh, dan menikmati jalan kita sendiri-sendiri. Bahwa yang hanya bisa kita kenang adalah kenangan yang masih tersimpan rapi di dalam mozaik pikiran kita. Ada jalan di mana kita harus berpisah untuk bertemu lagi di suatu ketika. Mungkin di Puncak Everest, di Pegunungan Alpen, di Samudra Atlantik, di Laut Baltik, atau di jalur Gaza. Mungkin. Atau kemungkinan yang bisa terjadi adalah kita tidak pernah bertemu lagi.


Aku tahu, ini adalah soal melepas yang memang harus dilepas. Kehilangan memang sudah tidak bisa dipungkiri dan tak seorang pun mampu untuk menolaknya. Sejak kecil, kita sudah dididik untuk menerima kehilangan itu menjadi suatu hal yang lumrah, tetapi semakin bertumbuh dewasa, kita semakin mengerti bahwa kehilangan adalah hal yang begitu menyakitkan. Kita tidak bisa menerima lagi kehilangan itu sebagai hal yang biasa, tetapi juga bukan hal yang spesial. Justru itu, kita lebih memilih membenci apa yang dinamakan dengan kehilangan.


Waktu pun tidak memiliki hak apa pun untuk mengubah yang telah ada. Kehilangan adalah kehilangan, apa pun namanya, bagaimana bentuknya, seperti apa caranya, di mana, kapan, atau mengapa harus ada, ia akan tetap berwujud kehilangan. Itulah yang pernah dan akan kita rasakan: kesepian dan saling rindu di dunia yang beribu-ribu jarak yang memisahkan.


Di musim panas dan hujan, aku pun tahu, kita pernah mencipta kenangan dan bahagia pernah teranyam di setiap segmennya. Untuk itu, kenangan selalu berwujud meski tak sanggup kita sentuh. Dengan cara itu, di masa depan, kita bisa kembali ke hari-hari kemarin meski tak akan lagi sama.


Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik, sahabat dalam suka dan duka, dan penasihat yang ulung. Terima kasih sudah pernah mengisi waktu dengan bahagia dan air mata. Terima kasih sudah menjadi bahagiaku dan sedihku karena tiada itu semua betapa tawarnya hidup ini.


Aku selalu membenci sebuah pertemuan, karena kuyakin akhirnya adalah sebuah perpisahan.




Jakarta, 29 Juli 2011 | 23.09
A.A. - dalam sebuah inisial

Menunggu

Pekerjaan baru. Tapi pekerjaan ini tak asing bagi diriku. Sudah hal biasa untuk menghadapi laki-laki yang memang tak mengerti bagaimana hati perempuan bila mereka mengetahui kalau seseorang yang mengatakan kalau ia sungguh dicintai oleh sang lelaki malah memancarkan cintanya kepada perempuan seperti aku.

Tidak. Aku memang tidak pernah berniat untuk bekerja sebagai perempuan yang hina dina ini. Tapi alasanku untuk menjadi perempuan seperti ini adalah alasan yang mahaklise. Aku pun tahu kamu juga mengatakan alasan ini bak nasi yang benar-benar telah membasi, sudah bertumbuhan dengan jamur, diselimuti cendawan.

“Malam, Mas...” kataku sembari membuka jaketku.

“Aku mau kamu memberikan pelayanan spesial.”

“Spesial seperti apa?”

“Spesial tanpa harus membuka pakaianmu.”

Aku terbelalak! Bagaimana bisa kali ini aku melayani pelanggan tanpa harus membuka pakaian? Di mana letak kenikmatan yang ada itu? Tapi seperti kata pepatah: “pelanggan adalah raja”, maka kulakukan kehendaknya demikian. Aku tak bertanya apa pun, toh dia sudah mengatakan maksudnya:

“Aku mau kamu menjadi teman curhat sepanjang malam ini. Dua jam saja. Hari ini hari terakhir aku bersama kamu.”

Oh, rupanya ia sudah ketahuan istrinya. Aku pun duduk di meja dekat ranjang tersebut. Kembali mengenakan jaketku. Di hadapanku, sudah ada wajahnya yang sudah menungguku untuk berbicara. Entahlah, ini hari yang tak biasa yang akan kuhadapi dengannya. Mengapa ia memintaku untuk menjadi sekadar teman curhat?

“Ternyata perilakuku jauh lebih hina daripada pekerjaanmu memuaskan hasrat laki-laki seperti aku. Kamu pun tahu apa saja yang aku lakukan setiap harinya. Ternyata mimpi kemarin malam benar-benar membuatku takut.

Aku dikejar oleh orang yang membenciku. Aku hendak dikuburnya hidup-hidup. ‘Kau memang lebih layak untuk mati,’ katanya. Saat itu, aku hendak berlari. Namun, kakiku tak ingin bergerak. Aku hanya bisa diam dan pasrah. Tubuhku pun diangkatnya dan dimasukkan ke tanah kubur. Di sana benar-benar menjijikkan.

‘Kamu jauh lebih menjijikkan daripada semua ini. Kamu adalah manusia yang paling menjijikkan di dunia ini. Kamu tidak boleh mati begitu saja. Kamu harus disiksa dengan hukum neraka yang paling berat.’

Tanah pun ditimbunkan ke dalam kuburku. Aku benar-benar merasakan panas di tubuh. Mendadak aku menjerit sakit. Punggungku dipecut setiap kali tanah ditimbunkan ke dalam kuburku. Kurasakan darah mengalir dari punggung. Tapi darah itu mengalir seperti pancaran air. Di kubur itu, aku terjebak banjir oleh darahku. Aku ingin bergerak, ingin memberontak. Semakin aku berusaha melawan, semakin pula aku tak bisa bergerak, dan semakin pula sakit karena luka di tubuhku itu. Saat kusadari tanah itu dipadatkan dengan diinjak. Benar-benar punggungku yang terluka itu seperti ditaburi garam. Perihnya luar biasa.

Aku sudah disiksa di dalam mimpiku sendiri. Benar-benar semalaman aku tak dapat tidur. Ketika aku berusaha tidur kembali, aku malah melanjutkan penderitaan itu di dalam mimpi. Tapi setelah mimpi itu, telingaku seperti mendengar suara,”kamu busuk. Kamu manusia busuk. Kamu pantas disiksa di mana pun. Kamu sudah menyiksa orang lain dengan bahagia kamu. Kamu busuk.”

Benar-benar. Aku ingin mati.”

“Mungkin itu bayangan kamu saja.”

“Aku tahu mungkin setan memperingatkanku kalau aku sudah ada dalam lingkarannya. Sudah kotor, najis, dan busuk. Aku penipu, penyelinap, dan juga laki-laki yang tak tahu diuntung.”

“Itu hanya mimpi dan halusinasi, jangan terlalu dipikirkan.”

“Kamu sudah boleh pergi, saya sudah selesai bercerita.”

Laki-laki itu memberiku satu amplop cokelat berisi uang. Entah berapa isinya, tapi kurasa bukan lagi puluhan juta, mungkin sudah seratus juta yang berarti aku sudah melayani 20 laki-laki dalam semalam. Benar-benar persetan!

***

Koran pagi dipegang anak di pinggir jalan ketika aku hendak berangkat ke pusat perbelanjaan. Di halaman awal tercetak wajah laki-laki kemarin. Ia telah mati. Bunuh diri dengan racun serangga setelah berkencan denganku.

Ia buronan polisi selama ini. koruptor, pembunuh, dan juga laki-laki tak tahu diuntung. Seperti kata dirinya sendiri.




Jakarta, 12 Juni 2011 | 0.34
A.A. - dalam sebuah inisial