Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2012

Dream Catcher

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Alanda Kariza
Mimpi: Sekadar Diciptakan atau Diejawantahkan?

Mungkin –sekali lagi, mungkin- Alanda Kariza menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat seseorang yang berpenampilan tak sewajarnya di dalam talkshow Dream Catcher-nya kali pertama di Bandung. Seseorang yang memakai jaket hitam dan bersandal jepit, tergesa di antara orang-orang yang mengantre untuk booksigning. Baru datang. Fatalnya adalah ia bukan menyapa Alanda yang di hari Sabtu itu menjadi idola, melainkan menyapa seseorang yang lain dan tertawa-tawa bersamanya. Kemudian, orang itu ikut serta santap malam bersama Alanda. Haks!

Iya, itu saya. Dan saya memang bukan menyambut Alanda, mengajaknya berkenalan. Malah saya menyapa seorang teman yang terlebih dahulu sudah saya kenal -tepatnya seminggu sebelum bertemu Alanda, saya sudah berkenalan dengan teman saya itu-. Awalnya, memang saya tidak ingin ikut serta di dalam antrean itu karena dua hal: Alanda sedang repot dengan para teman barunya di ITB dan kebetulan pula saya belum membaca buku Alanda yang satu ini.

Mengetahui siapa Alanda memang bukanlah hal yang baru untuk saya. Dengan segala cita-citanya dan apa yang telah ia dapatkan selama ini, bagi saya memang sudah menjadi hal yang selayaknya atas apa yang ia perjuangkan. Saya percaya akan keberadaan semesta yang akan memberikan hal-hal baik bagi mereka yang mau memperjuangkan mimpi-mimpinya. Bahkan, memang sudah selayaknya bagi seluruh manusia yang bertumbuh dewasa untuk memiliki mimpi. Memiliki cita-cita.

Bagi saya, sesungguhnya tidak ada yang spesial dengan apa yang ditulis oleh Alanda setelah saya mengetahui seperti apa konsep buku Dream Catcher ini. Saya lebih berharap bahwa Alanda menerbitkan novel atau kumpulan cerpen terbarunya. Hal ini terjadi karena memang saya tidak pernah menyukai buku yang berbau motivasi. Jujur saja, saya anti akan Mario Teguh dan kawan-kawannya. Saya hanya percaya satu hal: motivasi lahir dari diri sendiri, bukan dari (kata-kata mutiara) seorang motivator.

Selepas menemaninya wawancara di sebuah radio di Bandung, saya diberikan sebuah buku Dream Catcher beserta tanda tangannya. Ampun! Begitulah pekerjaan pemburu tanda tangan ini. Buku gratis saja dimintai tanda tangan. "Jangan lupa review ya!" pesannya sebelum kami berpisah. Saya tersenyum simpul. Pesan yang membuat saya harus berteori apa lagi untuk menjawabnya (dan untuk menghindarinya karena genre buku ini yang menjadi masalah bagi saya).

Setiap orang memang harus memiliki mimpi. Itu bukan hak, melainkan kewajiban. Mimpi akan menjadikan seseorang memiliki tujuan. Mimpi harus dibangun sejak muda. Tak mengherankan apabila orang tua kita dengan sigap membangun pondasi untuk mewujudkan mimpi kita lewat apa saja yang dapat mereka berikan. Mimpi akan menjadikan seseorang memiliki target apa yang harus dicapainya. Kalau kata teman saya, mimpi itu seperti utang yang harus dibayar kepada diri sendiri.


Tapi, ada mimpi yang tinggal mimpi. Ada pula mimpi yang bisa terwujudkan. Menurut saya, itu kembali lagi kepada diri masing-masing: apakah ia menginginkan mimpi hanya sekadar mimpi atau diejawantahkan. Seseorang harus memilih untuk berjuang untuk mimpi-mimpinya atau duduk manis menunggu mimpi itu terwujud sendiri. Keberhasilan untuk mengejawantahkan mimpi tidaklah jatuh dari langit.

Mungkin, dengan maksud yang mulia itu, Alanda mengajak kaum muda untuk mengejawantahkan mimpinya. Menyadarkan satu hal: mimpi tidak akan pernah terwujud apabila mimpi hanya ditunggu untuk menjadi nyata. Pengalaman hidupnya yang sudah menuai banyak pujian itulah yang menjadi landasan bagaimana ia berani untuk menuliskan buku ini.

Saya percaya, di dunia ini ada pilihan-pilihan yang tidaklah kita kehendaki, tetapi kita dipaksa untuk memilih. Demikian pula dengan Alanda. Ia pernah diharuskan memilih, menghadapi mimpi yang mana yang harus diejawantahkan. Pengalamannya itu yang membuatnya lebih berada. Kini, ia tidak pernah menyesali dengan keputusan yang sempat membuatnya bimbang.

Dengan konsep yang sedikit berbeda dari buku motivasi lainnya yang pernah saya baca, ditambah dengan pengalaman dan halaman di mana kita diajak untuk lebih berusaha mewujudkan mimpi-mimpi kita, Alanda mengundang kita untuk masuk ke dalam dunia mimpi. Dunia mimpi yang harus diwujudkan, bukan hanya ditunggu begitu saja.

Ya, berbagi justru bisa membuat kita lebih kaya.


Ya, dengan berbagi, kita bisa lebih kaya, Alanda. Jangan pernah lelah untuk berbagi pengalamanmu. Mimpi yang telah kau harapkan dulu setidaknya sudah banyak yang diraih dengan apa yang dinamakan dengan 'berjuang'. Dan lewat karya terbarumu, kau berbagi untuk mengundang kaum muda untuk mengejawantahkan mimpi.

Selamat berbagi!

Malam ini, kulunasi utangku kepadamu untuk meresensi karyamu.




Jakarta, 17 Mei 2012 | 18.17
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 17 April 2012

Perjalanan ke Atap Dunia

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Daniel Mahendra
Hai Om Daniel,

Entah mengapa baru kusadari aku memanggilmu dengan sebutan 'om' setelah beberapa kawanku bertanya,"kok lo manggilnya 'om'?" Kujawab saja pertanyaan itu dengan seloroh asal,"lupa ceritanya" untuk menghindari jawaban yang harus kubuat-buat. Sesungguhnya memang aku tidak tahu jawabannya. Tapi, izinkanlah aku memanggilmu dengan sebutan itu.

Akhirnya, setelah sekian lama ditunggu, Perjalanan ke Atap Dunia ini pun terbit. Kuhabiskan dalam waktu tiga hari di mana saja. Di kamar, di kampus, di kedai kopi, sampai di tempatmu meresmikan kelahiran anakmu ini. Lantas, ketika aku menutup buku ini di sebuah kedai kopi, aku tetiba teringat dengan pernah kulakukan dan ingin kulakukan.

Menjelang akhir tahun 2009, selepas turun dari Gunung Bundar, aku dan beberapa kawan seperjalanan lain langsung disambut hujan lebat. Memang benar, Desember begitu kelabu dan sendu sendiri. Alhasil pakaian kami basah kuyup ditangisi oleh langit. Tetapi aku tidak pernah bisa memungkiri rasa gembira yang selalu ada di dalam hatiku ketika bisa naik pula bisa kembali turun dari gunung. Di bawah kaki gunung tersebut, basecamp kami berada. Lekaslah aku dan kawan seperjalananku memasuki tenda.

"Gunung Bundar sudah! What's next?" tanya seorang kawanku.
"Gunung Semeru! Cartenz Pyramid! Atau kita langsung berangkat ke Everest?" jawabku asal.
"Hueh! Ongkosin sih boleh."
"Kalau ke Cartenz, gue gak mau pulang," ujarku sembari tertawa.

Beberapa kawanku tahu apa yang selalu kucita-citakan. Aku ingin ke Papua. Ingin kudaki seluruh puncak yang ada di Pegunungan Jaya. Ingin kudaki Puncak Sudirman, Puncak Sukarno, Puncak Cartenz Pyramid.

Siapa nyana, sampai kini, Gunung Bundar itulah pendakian terakhirku. Kesibukan yang melanda di daratan lebih mendominasi. Bahkan di waktu liburku, aku harus mengerjakan apa yang tertunda. Tak ada lagi waktu yang cukup bagiku untuk mendaki gunung. Kerinduan itu selalu menggebu ketika aku melihat foto-foto pendakian atau tetiba teringat dengan deru tronton atau bertemu dengan backpack-ku yang selalu menanti di rumah untuk kuajak berkelana.

Tapi percayalah, mimpiku untuk menginjakkan kaki ke Cartenz masih begitu liar. Buas! Aku masih ingin ke sana. Kalau perlu menghabiskan sisa hidup di sana pun, bukanlah masalah besar bagiku. Sebuah kebahagiaan adalah ketika apa yang kita inginkan tercapai.

Om Daniel,

Perjalanan ke Tibet tentu pernah pula menjadi impianku dan sampai kini masih menjadi harapanku. Suatu ketika, aku pun akan menginjakkan kakiku ke sana. Meninggalkan bekas sepatuku di setiap jalannya. Mungkin pula ketika aku pulang, aku sudah membawa setumpuk rekaman perjalananku untuk didokumentasikan dalam bentuk apa. Bisa sama sepertimu, bisa juga tidak.

Petualangan adalah candu, begitu kata Bubin Lantang. Sesungguhnya aku sangat bahagia menjadi insan muda yang pernah berkeliling Pulau Jawa sampai Bali. Aku pernah merasakan bagaimana duduk di kursi pesawat, menghabiskan malam di dalam bus, merasakan getar gerbong kereta yang membawaku, digoncang ombak ketika menaiki perahu. Aveline muda pernah merasakan itu.

Maka, dari banyaknya orang yang pernah menginjakkan kakinya di Tibet, mereka semua pun tentu pasti pernah bermimpi suatu ketika akan berada di Potala, hinggap di kaki Gunung Everest, atau pula akan mendaratkan dirinya sampai ke puncak yang akan membuatnya menjadi manusia tertinggi di dunia. Kau pernah memimpikannya bukan? Aku pun demikian. Mungkin, di luar sana akan ada seribu atau sejuta atau lebih umat manusia yang menginginkannya mendaratkan di Tibet. Kau adalah salah satu yang beruntung.

Perjalanan dimulai ketika mendarat di Thailand, kemudian sampai ke Chengdu, dan pada akhirnya Rooftop of The World. Mengelilingi Nepal sebagai bonusnya dan bertemu dengan teman-teman seperjalanan tanpa pernah diduga.

Ah, aku pernah merasakannya seperti itu meski di tempat yang berbeda, Om. Bertemu dengan orang-orang yang tak pernah kuduga, apa yang akan terjadi di perjalanan, sampai kepada kehabisan uang di tengah jalan. Ha! Kehidupan sesungguhnya memang ada ketika kita berani keluar dari rumah dan mengeksplorasi diri kita seluas-luasnya.

Om Daniel,

Perjalanan adalah sebuah skenario film yang bisa berubah kapan saja tanpa pernah kita kehendaki. Tapi di sanalah letak serunya untuk menjalani hidup seluas-luasnya. Akanlah sangat memalukan bila aku hanya pandai secara intelektual semata, tetapi kepekaanku terhadap dunia sekitar sungguh mati. Perjalanan adalah sekolah yang paling dekat kepada kenyataan hidup. Di sana, kita diajarkan menjadi manusia sejati. Manusia yang tidak manja, manusia yang tidak cengeng, dan manusia yang bisa tersentuh dengan panasnya aspal, dinginnya malam, atau penuh tamparan debu di sepanjang perjalanan.

Ketika keinginan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. - hal 114

Setiap orang harus berani bermimpi karena mimpi itulah yang akan membawanya kepada hari-hari yang lebih diharapkan pada masa lalu. Aku selalu berani untuk tetap bermimpi dan selalu berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpiku dengan berbagai macam caranya tersebut. Benar apa yang dikatakan oleh kakekku, orang-orang muda harus berani bermimpi dan berani juga untuk merealisasikannya. Modal kehidupan nomor wahid adalah bermimpi sebagai tujuan ke mana kelak kita akan melangkah ke depannya.

Om Daniel,

Jangan pernah berhenti bermimpi. Jangan pernah berhenti berbagi. Jangan pernah merasa lelah untuk tetap mengejawantahkan segala mimpi-mimpimu. Dari sanalah, kehidupan selalu bermuara dengan caranya yang dahsyat dan tidak pernah terduga.



Jabat erat selalu,


Bandung, 17 April 2012 | 20.59
A.A. - dalam sebuah inisial




PS: Kalau bukunya cetak ulang, mau ah melamar jadi penyelaras aksaranya. :p

Sabtu, 10 Maret 2012

Filosofi Kopi

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Dewi Lestari
Kali pertama saya membaca Filosofi Kopi ketika tahun 2007. Setahun setelah buku ini dianugerahkan sebagai Karya Sastra Terbaik 2006 oleh Majalah Tempo. Setahun setelah buku ini terbit dan dicetak ulang berkali-kali. Dan beberapa menit sebelum teman saya yang akan berangkat untuk berpisah datang menjumpai saya untuk berdiskusi kecil.

Kali kedua saya membaca Filosofi Kopi ketika lima tahun yang lalu kali pertama saya membacanya. Enam tahun buku itu dianugerahkan sebagai Karya Sastra Terbaik 2006 oleh Majalah Tempo. Enam tahun setelah buku ini terbit dan dicetak ulang berkali-kali dan akhirnya berganti penerbit. Dan enam tahun sebelum teman saya yang akan berangkat untuk berpisah datang menjumpai saya untuk berdiskusi kecil.

Dan ini adalah kali kedua saya harus meresensi buku ini. Ada kewajiban yang tersisa setiap kali mengakhirinya. Ada tugas yang sesungguhnya ditinggalkan pada lembaran terakhir dari buku ini: menuliskan kisahnya lagi. Tentu saja, akan ada sesuatu yang bisa saya bagikan dari hasil saya membaca buku ini untuk kali kedua.

Nyatanya, rasa tidak pernah bisa berbohong. Itu frase yang digunakan oleh salah satu iklan kecap di televisi. Dan saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri bahwa saya telah jatuh hati kepada buku ini. Sejak 2007, sejak 2012.

Membaca cerpen Dee adalah membaca dongeng. Itu yang selalu saya rasakan. Seakan-akan yang ia ceritakan adalah hal yang sepele, tetapi dengan duga-duga yang bisa saja mengejutkan pada akhirnya. Ada pula prosa-prosanya yang terasa dekat dan lekat di dalam pembendaharaan katanya yang cukup dahsyat.

Saya tidak berubah dengan pikiran saya. Membaca buku ini terasa deja vu. Sangat! Tersibak kembali soal menunggu dan menghabiskan buku ini, terasa sekali kedekatan saya dan sahabat yang ditunggu itu di dalam zona jarak. Sahabat saya itu pun berangkat dengan bekal buku ini di perjalanannya. Buku yang saya beli bersamaan dengan buku yang saya berikan kepada sahabat saya itu telah berpindah tangan kepada yang lain. Maka, buku penggantinya pun sudah ada meski dengan sampul yang berbeda dan nyatanya kemasan tetap sama yang semakin membuat saya pernah berada di suatu masa.

Bagi saya, Filosofi Kopi memberikan kesan yang baik untuk pembacanya bahwa di dunia ini hanyalah mencari dan menemukan, mencipta dan mempertahankan. Semanis apa pun kopi, ia akan selalu meninggalkan sisi pahit. Seperti itulah manusia yang sebenarnya. Segembira apa pun seseorang, ia akan mengecap kenestapaan.

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkan ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Membaca Dee untuk saya tidak perlu berpikir dua-tiga kali untuk memahami inti kalimatnya. Meskipun bersajak-bermajas, saya bisa menikmatinya dengan cara saya sendiri. Baik dengan sudut pandang manusia sampai sudut pandang seekor kecoak. Membacanya selalu membuat saya tersenyum atau bersimpati dengan tokoh-tokohnya.

Adalah hal yang menyenangkan bila Dee menerbitkan salah satu karya agungnya ini. Dan terima kasih untuk membuat saya kembali teringat kepada sahabat saya itu.



Jakarta, 10 Maret 2012 | 21.28
A.A. - dalam sebuah inisial

Rabu, 29 Februari 2012

Menggenggam Dunia

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Gol A Gong
Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara, karena bila jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran. ... Kebenaran bisa sampai apapun bentuknya. Bagi saya, dalam bentuk fakta maupun fiksi, kebenaran adalah kebenaran - yang getarannya bisa dirasakan setiap orang. - Seno Gumira Ajidarma

Membuka halaman pertama dari buku Gol A Gong ini membuat saya sempat ragu apakah saya akan berpikiran sama dengan apa yang dituliskannya. Ia menuliskan bahwa dirinya sendiri pun ragu apakah Menggenggam Dunia harus diterbitkan sebagai autobiografi dari dirinya. Apa kata orang setelah membaca buku ini? Mengecap dirinya sebagai penulis yang narsis dan angkuh? Mengecap dirinya tak berbeda dengan penulis yang membanggakan hasil kerjanya sendiri.

Nyaris saya tutup buku ini. Sudah dapat dipastikan kalau buku ini akan saya tutup dan enggan saya baca kalau bukan sedang menunggu di depan Ruang Radiologi RS Borromeus nyaris empat jam dan saya sudah membawa buku bacaan lain selain Menggenggam Dunia ini karena Gol A Gong menuliskan tentang kepercaya-diriannya untuk menggenggam dunia lewat Rumah Dunia hanya untuk mewujudkan mimpinya yang dianggap sebagian orang adalah mimpi yang konyol.

Tapi, pada akhirnya, saya habiskan juga buku ini selama enam hari. Tepat di hari terakhir bulan Februari yang kabisat ini, saya menuliskan resensi saya untuk kali pertama di tahun ini. Ha! Silakan ditertawakan betapa malasnya saya untuk menulis resensi.

Membalik halaman demi halaman, hampir habis separuh buku ini saya baca ketika menunggu tersebut. Sisanya, saya baca beberapa halaman sebelum tidur atau pagi sebelum berangkat mengikuti kuliah. Berselingan dengan buku lainnya yang saya baca. Dan saya pun candu. Gol A Gong patut menuliskan buku ini sebagai sebuah peringatan bahwa negeri ini masih butuh bacaan.

Ketidakpedulian pemerintah terhadap keberadaan literasi terungkap jelas dengan rincian yang (seharusnya) bisa dibuktikan. Gol A Gong -secara tidak langsung- menjadikan buku perjalanannya membangun Rumah Dunia dengan kata-kata sebagai pondasi dan dindingnya ini menjadi sebuah laporan betapa 'korupsinya' pemerintahan di mana Rumah Dunia berdiri dan menjadi sebuah petaka apabila pemerintah hanya memperhatikan hal-hal yang sifatnya tidaklah begitu penting bila mereka tidak memperhatikan bahwa Banten bisa menjadi provinsi yang malas membaca. Gol A Gong melakukan pergerakan untuk itu.

Dikisahkan pula mengapa Gol A Gong berani memutuskan untuk menjadi penulis, menghidupi Tias Tatanka, keempat anaknya, dan Rumah Dunia. Siapa bilang menjadi penulis tidak dapat hidup? Penulis serial Balada Si Roy ini telah membuktikannya. ia pun mengisahkan juga bagaimana ia bisa candu untuk berjalan-jalan dan melahirkan Balada Si Roy, nekat menikahi Tias, dan perkembangan Banten dengan keberadaan Rumah Dunia.

Jangan lupa, jadikan alam sahabatmu; pantai, sungai, gunung, fajar, senja, angin, hujan, laut. Dari sana kamu akan menemukan arti kehidupan sesungguhnya." - hal. 62

Kupikir Gol A Gong patut mendapatkan apa yang telah ia lakukan dan perjuangkan selama ini. Ia patut mendapatkan Rumah Dunia, rumah yang selalu diimpikannya sejak kecil. Kini, mimpi itu tergapai. Bangunan di Komplek Hegar Alam, Serang, tersebut sudah terbangun sedikit demi sedikit. Dari berbagai bantuan, dari berbagai kucuran dana, dari setiap tetes darah Gol A Gong dan Tias Tatanka. Gol A Gong dan Tias boleh berbangga di sebelah rumahnya untuk tinggal ada rumah lain untuk membuat Banten lebih bertumbuh besar dan dewasa lewat bacaan dan media lainnya.

Kupikir terlalu berlebihan Gol A Gong itu di dalam kata pengantarnya. Ia bukanlah penulis yang angkuh, yang membangga-banggakan prestasinya dalam membangun Rumah Dunia. Ia hanya bercerita apa adanya. Ia telah berhasil menggenggam dunia dengan caranya sendiri, dengan mimpinya sendiri, dengan perjuangannya sendiri. Ia mengungkapkan apa yang jarang ditulis di dalam media massa. Ia mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya ketika jurnalisme tidak bisa menuliskannya.

Adalah hal yang tepat -kupikir- bila aku mencantumkan kutipan dari Seno Gumira Ajidarma itu sebagai prolog dari resensiku terhadap buku ini. Gol A Gong akan semakin kuat dengan bukti-bukti tersebut bila ia berani memasukkan artikel atau sekadar cuplikan atau kutipan dari apa yang telah dipublikasikan kepada media massa, terutama di bagian-bagian yang berbau dengan ketidakpedulian pemerintah itu.

Kini, Gol A Gong telah menggenggam mimpinya, menggenggam dunianya. Rumah Dunia menjadi bukti bahwa mimpi masa kecil yang dibangun dalam pikirannya bisa berdiri di halaman rumahnya di kota yang selalu dinantikannya untuk bergerak lebih baik.


Bandung, 29 Februari 2012
A.A.- dalam sebuah inisial



PS: Kalau buku ini cetak ulang, berani kusarankan kepada Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) untuk melakukan penyelarasan aksara berkali-kali terhadap buku ini. Maka, penilaian terhadap buku ini pun kuturunkan dari empat menjadi tiga karena untuk penerbit sebesar KPG, aku keberatan menemukan kesalahan eja yang banyak.

Sabtu, 10 Desember 2011

Never Let Me Go

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Kazuo Ishiguro
Cinta dan Persahabatan Manusia-manusia Kloning

Kerap kali saya berpikir tentang dunia dengan teknologi yang berkembang semakin maju dan perubahan yang ada akan selalu mengejutkan dan menakjubkan. Setelah saya membaca banyak hal tentang Domba Dolly -domba betina pertama yang berhasil dikloning- untuk studi saya, saya akan percaya bahwa kloning terhadap manusia pun akan selalu dilakukan dan sangatlah memungkinkan bila di tahun-tahun mendatang kita akan berinteraksi langsung dengan mereka, manusia-manusia hasil kloningan. Memikirkan hal tersebut, bergidiklah saya dengan kemampuan manusia yang ingin menciptakan segala sesuatu serupa dengan Tuhan.

Buku ini kali pertama saya lihat ketika sedang browsing untuk mencari bacaan baru dan sekalian merekomendasikan kepada teman saya yang ingin belajar menerjemahkan buku. Melihat rating yang didapat dan komentar-komentar yang terlihat cerdas untuk buku ini, langsung saja saya katakan kepada teman saya tersebut untuk menjadikan buku ini sebagai contoh terjemahannya saja. Saat itu, saya tidak tahu kalau Gramedia sedang melakukan proses penerjemahan juga. Sampai ketika, di Twitter @Gramedia menuliskan bahwa buku ini telah diterjemahkan oleh mereka pada bulan September 2011. Memang saya mengharapkan buku ini diterjemahkan lekas-lekas karena ketertarikan saya terhadap makhluk-makhluk kloning tersebut.

Cukup sulit saya mendapatkan buku ini. Di beberapa toko buku yang saya sambangi di Jakarta dan Bandung menyatakan hal yang sama: buku kosong atau buku belum masuk. Ha! Permainan macam apa pula ini? Sampai ketika saya sudah melupakan buku ini dan lebih menginginkan membelinya di Kinokuniya atau Times Bookstore saja untuk edisi berbahasa Inggris atau menitip teman saya yang ada di Singapura, saya melihat buku ini tergeletak di tumpukan buku lain. Alang-kepalang bahagianya saya malam itu. Lekas-lekaslah saya membawa buku itu ke kasir, memberinya uang sebagai ganti, dan jadilah buku itu untuk saya.

Di balik tembok Hailsham-lah, Kathy, Ruth, Tommy, dan anak-anak lainnya yang seusia dengan mereka diajarkan seni, olahraga, dan ilmu pengetahuan. Segala kelengkapan dan kecukupan mereka dapatkan di sana, tetapi mereka tidak pernah tahu dunia yang seperti apa yang ada di luar Hailsham. Mereka dilindungi sedemikian rupa karena mereka adalah manusia kloning yang akan mendonorkan organ-organ bagi penduduk dunia.

Hailsham, sebuah asrama yang lebih mendekatkan Kathy dan Ruth sebagai sahabat dan Tommy yang membentuk mereka saling berhubungan cinta segitiga. Kathy dan Tommy saling mencintai, tetapi sampai selepas meninggalkan Hailsham, mereka tak sekalipun berani mengungkapkan perasaan mereka. Ruth pun yang pada akhirnya begitu erat dengan Tommy.

Tentu saja, selepasnya mereka dari Hailsham, mereka telah melihat banyak kejadian yang begitu menyesakkan. Manusia dikloning dan disiapkan sedemikian rupa untuk mendonorkan organ-organnya kepada pemilik mereka yang membutuhkannya. Ada tujuan yang mulia akan hal tersebut, tetapi manusia-manusia kloningan tidak pernah memiliki pilihan lain selain daripada itu. Ruth pada akhirnya meninggal pada donornya yang ketiga, serta Tommy dirawat oleh Kathy yang tentunya akan pula menjadi donor dan mereka harus siap berhadapan dengan apa yang dialami oleh Ruth.

Sisi kemanusiaan yang egois begitu terlihat di dalam novel ini. Bagaimana Kazuo Ishiguro berupaya menciptakan sudut pandang manusia-manusia kloning tersebut dengan menceritakan keegoisan manusia dengan kemajuan ilmu pengetahuan membuat dunia bisa terlihat lebih baik dan pula tidak. Entah memang diciptakan oleh Ishiguro yang demikian atau memang alurnya yang membuat keadaan demikian, tokoh-tokoh yang ada di dalamnya hanya bisa mengelola pilihan yang tak ingin mereka pilih. Mereka hanya menjalani keberadaan apa adanya, tanpa mau atau bisa memperjuangkannya.

Bagiku novel ini sangatlah mengharukan. Ketika waktu begitu sempit bagi manusia-manusia kloning, setidaknya mereka masih bisa membagikan kepada kita tentang cinta, persahabatan, dan pengorbanan. Begitu sederhana konflik-konflik yang disajikan, begitu bernilai makna yang dicurahkan selepas membacanya.

Dan kupikir, inilah karya terbaik yang pernah kubaca: Never Let Me Go.




Bandung, 11 Desember 2011 - 07.50
A.A. - dalam sebuah inisial

Rabu, 28 September 2011

Nasional.Is.Me

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Pandji Pragiwaksono
Nasional.Is.Pandji

Awal ketika saya melihat Pandji adalah ketika ia tampil di salah satu televisi dengan gayanya yang tidaklah terlihat seperti orang yang mencintai Indonesia. Berpakaian santai dan cara bicaranya yang juga sudah mengikuti tren masa kini. Ya, silakan Anda mengatakan ini adalah hasil dari globalisasi dan memang tidak dapat dipungkiri jawaban tersebut. Saya pun mengaminkannya.

Globalisasi, seperti kata Robert Jackson dan Georg Sorensen, bisa mengubah hal-hal yang ada di dalam sebuah negara. Mau tak mau, kita harus bisa memilih dan memilah hasil dari proses kebudayaan tersebut. Adalah menjadi kewajiban kita untuk menentukan hendak memilih yang mana. Di situlah bukti yang sangat nyata bagaimana kita mencintai negara kita, akan sejauh mana kita akan terseret oleh arus globalisasi yang tentunya saja bisa menanggalkan jati diri bangsa.

Globalisasi juga bisa menciptakan hal yang buruk seperti kemiskinan, perbedaan strata yang semakin jelas terlihat, dan kebudayaan yang lenyap. Indonesia sudah diambang itu semua. Silakan lihat berapa banyak pengamen dan pengemis yang berkeliaran di satu perempatan jalan. Tidak terbayangkan lagi keadaan ini menjadi sebuah perhatian yang harus dipandang serius.

Dengan gayanya tersebut, siapa pernah menyangka seorang Pandji benar-benar jatuh cinta kepada negerinya sendiri. Lewat tulisanlah ia mengapresiasi, mendukung, dan mewujudkan rasa nasionalisnya. Bukankah kita tak perlu mati untuk membuktikan bahwa kita cinta akan tanah air kita? Bukankah kita tak perlu mengangkat senjata dan berperang untuk menunjukkan sejauh apa kita cinta akan tanah air ini?

Pandji mengajak kita untuk mencintai bangsa ini lewat cerita-cerita dan pengalaman hidupnya yang tentu saja tak bisa dimiliki oleh orang lain. Setidaknya, dengan berbagi itu, ia telah mewujudkan apa yang diharapkan banyak orang: cinta akan tanah air.

Bukankah masih banyak yang bisa dibanggakan dari Indonesia? Silakan percaya atau tidak, orang-orang di luar negeri begitu mencintai Indonesia. Pernah mendengar nama Alfred Riedl? Apa yang diberitakan oleh media massa tentang dirinya? Ia mengatakan ia sudah terlanjur mencintai Indonesia dan berharap dapat kembali ke negeri ini.

Kita memiliki tanah yang sangat subur, alam yang luas, air yang mengalir, sawah yang bisa ditanami dengan bibit apa pun. Kita bisa berkeliling dan menikmati matahari terbit-terbenam tepat pada waktunya. Kita boleh berbangga dengan semua hal yang negeri lain belum tentu memilikinya.

Pandji boleh memilih untuk mewujudkan cinta akan tanah airnya dengan menulis tanpa harus menanggalkan jati dirinya yang terikat akan proses globalisasi. Demikian pula dengan kita. Tidaklah seharusnya kita hanya bisa mengkritik tanpa berani memberi saran. Dengan demikian, ada timbal balik antara negara dan penduduknya untuk saling mencintai dan saling memberi. Begitu sayang, ketika kita berada di negeri ini, kita hanya bisa mengeluh dan ketika meninggalkan negeri ini, kita hanya mendapatkan balasan: rasa rindu akan negeri sendiri.

Bisa saja benar apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer:

“Karena kau lahir, tumbuh, hidup dan bekerja di sini, dan kelak kau pun mungkin akan mati terbaring di tanah ini – tanah tumpah darahmu, maka itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk mencintai negerimu.”





Bandung, 29 September 2011 | 08.10
A.A. - dalam sebuah inisial

Life Traveler

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Windy Ariestanty
Perihal: Surat untuk Seorang Penulis


Kak Windy,


Tentu kau tahu saya bukanlah seorang pembaca yang baik dan bukanlah seorang penulis resensi yang arif. Saya hanya menulis tentang apa yang ingin saya tulis, saya tidak pernah peduli dengan pembaca yang akan menilai apa dan apakah tulisan saya kelak dipuji atau dicerca. Dengan menyandangi apa yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma, setidaknya tulisan yang sudah dilemparkan ke tengah masyarakat, ia sudah menjadi milik publik dan penulis tidak berhak menghujat sang pembaca.

Demikian pula tentang surat yang saya tulis dan saya publikasikan ini. Tentu orang akan menilainya dengan cara mereka sendiri. Mungkin ada yang tersenyum, mengerutkan dahinya, atau pula langsung menutup laman ini tanpa acuh. Saya pun juga tidak harus memaksa orang lain membacanya. Termasuk seorang Windy Ariestanty.

Ini hanyalah sebuah surat dari seorang pembaca kepada seorang penulis yang jatuh cinta kepada aksara yang ditulisnya. Ya, seorang pembaca yang tanpa rasa malu menuliskan suratnya kepada sang penulis tanpa ia tahu harus dituju ke mana surat itu, atau haruskah dengan cara diam-diam mengirimkannya lewat email sang penulis? Ah, saya bukan tipikal orang yang sanggup mengirim pesan untuk menyatakan langsung dan terang-terangan. Biarkan saja, dengan cara ini, ketika kau tanpa sengaja melintas di dunia maya dan membaca apa yang kutulis ini. Tapi posisikanlah kau sebagai penulis sedangkan saya sebagai pembaca. Itu sangatlah cukup.

Kali pertama saya membaca tulisanmu ketika ada di dalam buku Kepada Cinta. Kali itu juga, saya memberikan penilaian secara pribadi bahwa memang seorang Windy Ariestanty ini bukanlah penulis yang tidak bisa tidak meninggalkan kesan ketika saya mengakhiri apa yang ditulisnya. Sederhana, itu yang saya kecap saat mata melintasi baris-baris aksara yang dirawinya.

Dan saya sebut Life Traveler ini tak lain dan tak bukan adalah catatan perjalanan dari seorang pelancong yang bekerja dan berjalan-jalan, Windy Ariestanty.

Adapun kisah Life Traveler sendiri adalah kisah menatap orang, bertemu dan berpisah, berbicara dan berinteraksi dari kota ke kota, negara ke negara, dan benua ke benua. Tugasmu hanya menceritakannya kembali apa yang kau rasa ketika melintas dan bertemu dengan orang-orang yang tak pernah kau temu sebelumnya. Mungkin dengan cara inilah, Life Traveler lahir dengan proses yang berbeda daripada anak-anak pada umumnya. Karena itu pula, Life Traveler dinanti-nantikan banyak orang sejak di dalam rahim.

Awalnya, biasa saja menurutku di bab-bab awal, seperti cerita-cerita yang kau celotehkan di Twitter, seperti ketika kau beranjak dari kota ke kota dan mengunduh foto di Twitter dan bercerita sedikit banyak mengenai perjalananmu. Sampai pada akhirnya, aku terantuk di dalam surat teruntuk Pak Mula yang ternyata telah memimpikanmu untuk pergi ke Eropa, menghadiri Frankfurt Book Fair. Sayang seribu sayang, Pak Mula sudah mendahuluimu untuk berangkat ke Eropa yang sangat abadi, entah di mana. Yang tersisa adalah Eropa di dalam kefanaan yang sungguh dapat kau tapaiki jejakmu dan surat yang tak akan pernah sampai itu setidaknya dibaca Pak Mula. Itu yang kuaminkan.

Lagi, yang berkesan bagiku adalah sosok Marjolein yang mencintai Indonesia meski ia taklah berdarah bumi ini dan untuk pandai berbahasa Indonesia pun ia harus jauh-jauh belajar. Kadang, untuk menjadi seorang yang nasionalis, kita harus diperingatkan dahulu oleh orang yang berada jauh jaraknya dari tanah Indonesia. Itulah Marjolein yang kurasa sesungguhnya ia adalah orang yang rindu pulang. Tak akan ada petualang yang tak rindu pulang seperti halnya tak ada merpati yang lupa akan kediamannya. Setidaknya bagi Marjolein, Indonesia adalah 'rumah' baginya untuk melepas rindu.

Beberapa bulan yang lalu, di dalam sebuah perjalanan pulang, saya menemukan ke mana memang seharusnya kita berada. A home is a house, but a house is not always a home. Itu yang saya katakan kepada teman saya. Ia hanya mengerutkan dahinya sembari berujar dan berpikir bagaimana menerjemahkan arti 'rumah' sesungguhnya. Dan memanglah esensi pulang adalah esensi yang menakjubkan. Jarak yang membuat perpisahan begitu nyata dan menjadikan perjalanan lebih menemukan eksistensinya. Makna di dalam perjalanan pun tak akan hilang begitu saja.

Kerap kali, saya menemukan hati saya bukanlah berada di rumah, tetapi di dalam perjalanan. Entah sedang di pelosok desa, di puncak gunung, di tepi danau, atau di tengah jalan. Juga kebahagiaan yang ditemukan tak melulu ada di rumah. Saya sering menemukan apa yang dinamakan dengan cinta di tempat yang begitu jauh dari rumah. Saya pun bersepakat dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu,"Home is a place where you can find your love."



Kak Windy,

Mungkin perjalanan sederhana bisa menciptakan pelajaran yang tidaklah sederhana untuk kita cerna. Tetapi perjalanan sendiri membuat kita lebih banyak belajar tentang apa yang tak pernah diajarkan oleh bangku sekolah, mungkin guru-guru pun tak tahu ketika mereka harus mendefinisikan hidup seperti apa. Di dalam perjalanan, dunia lebih mendidik kita untuk lebih berani menantang kehidupan itu sendiri.

Di dalam kata-katamu, selalu ada kekuatan yang meninggalkan jejak yang membekas ketika saya mengakhiri dari keping-keping ceritamu. Inilah dari kepiawaianmu merawi dan berangkat dari sesuatu yang terlihat sepele dan bernilai nihil dijadikan olehmu lebih berisi dan tak lagi bernilai kosong begitu saja. Adalah perjalanan yang menjadikan itu semua menjadi ada. Tentang hidup yang tak akan pernah habis untuk dieksplorasikan dan catatan perjalanan ini yang merupakan dokumentasi dari langkah demi langkah sudah memuatnya dari ribuan bahkan jutaan cerita yang ada di dunia ini setiap harinya.

Kurasa perjalanan yang kulintasi bersama anak rohanimu sudah lebih dari cukup.

Terima kasih untuk sebuah sajian di mana kau ternyata masih bersedia untuk selalu berbagi tentang pengalaman di dalam perjalanan, di mana tak semua orang pernah seberuntung engkau yang menikmati perjalanan dan berinteraksi dengan masyarakat. Doaku, jangan pernah lelah untuk tetap berbagi dan tetap menulis.

Tabik!



Bandung, 28 September 2011 |
A.A. - dalam sebuah inisial


Kamis, 04 Agustus 2011

Kereta Tidur

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Avianti Armand
Avianti Armand,

Ini kali pertama aku membaca tulisanmu. Aku tak pernah tahu seperti apa isi dari lembaran-lembaran yang teranyam di Negeri Para Peri,jua aku tak tahu apa yang kautulis di setiap halaman yang ada dalam Perempuan yang Dihapus Namanya, dan aku tak pernah menyentuh buku Dari Datuk ke Sakura Emas, apalagi cerpenmu.

Aku hanya tahu Perempuan Pertama memang bergelut dengan dosa karena ular, karena rayuan budak setan yang mengajak laki-laki untuk lekas meninggalkan Taman Eden dan harus mengenal apa yang disebut dengan rasa malu. Tapi, aku tidak tahu ketika itu juga, setan sedang mengenalkan mereka kepada kematian dan di baris ketujuh sebelah kiti, empat kursi dari ujung, Tuhan sedang duduk sambil menangis. Aku tidak tahu. Kejadian tidak menuliskannya. Ia hanya menulis Tuhan mengusir mereka dari Taman Eden. Itu saja.

Mungkin peta di tubuh setiap orang yang bercinta selalu ada, seperti Matahari yang sedang berselonjor di tubuh langit. Aku pun mengerti mengapa bahasa mereka yang terlanjur jatuh cinta begitu puitis atau mereka yang sangat mesra dalam kata-kata. Aih! Dicumbulah aku dalam tulisanmu yang ini. Seperti aku dibacakan cerita menjelang tidur oleh Ibunda dan ia berbagi pengalaman soal cinta, pelajaran yang harus dirasakan sendiri.

Aku bermain di taman dekat Gibraltar. Bermainlah aku oleh Dongeng dari Gibraltar yang begitu membuatku merasa kembali menjadi kanak-kanak. Semakin aku membalik halaman, ini bukan lagi soal cinta semata. Bukankah penantian akan menemukan ujung dan untuk mendapatkan sesuatu kita harus berkorban lebih? Aku merasa tidak adil dalam dongengmu ini, Avianti. Harusnya dongeng itu berakhir dengan bahagia, tetapi ini sungguh menjadi sesuatu yang begitu pilu.

Atau pula ini kelanjutan dari Hawa yang diusir dan tahu perihal kematian. Mungkin pula di dunia anak-cucunya sudah mengenal bagaimana cara merokok. Apa merek rokok dengan rasa yang paling nikmat dan bagaimana mulutnya bisa bersanding dengan asap kereta? Ah, tubuh adalah Bait Allah. Tapi kaurusak tubuh si dia dan harus bermain dengan lagu Requiem. Kejinya kau. Tapi kauhapus dosanya dengan pisau yang disayat perempuan bergaun putih itu? Andai semudah itu Tuhan menghapus dosa dan semua umat tahu, di tubuh ini tentu sudah ada salib yang berdarah.

Aku tahu betapa menyebalkannya bila disanding-sandingkan dengan mereka yang pandai. Aku juga ingin mem-PHK ibuku, tapi ia yang wajib memberikanku pesangon. Ia tak mau ku-PHK, tetapi tetap saja ibuku sering melakukan hal yang serupa dengan menyandingkan aku seperti orang-orang yang bernasib naas dengan Lara. Ih, betapa laranya hidupku bila harus berlara hati seperti Lara. Biar aku lebih mengaminkan saja bahwa kehidupan ini memang tidak akan bisa Sempurna meski kita bisa menjadi lebih baik dari orang lain. Terlalu ambisius!

Pula berapa banyak Kupu-kupu di negeri ini? Bukankah itu pertanyaanmu di halaman 69? Bukankah proses metamorfosis begitu melelahkan kupu-kupu sampai pada akhirnya ia akan menjadi indah? Bahwa kehidupan akan begitu indah ketika berada di ujung penantian. Hanya aku bertanya-tanya: mengapa harus Tudung Merah? Ke mana si Kerudung Merah? Mungkin Kerudung Merah hanya perempuan yang baik-baik. Kupikir itu.

Andai saja ada Perempuan Tua dalam Kepala yang sedang hinggap dalam kepalaku, aku akan menjerit sejadi-jadinya. Tapi cinta seperti itu membuatku hanya ingin membunuh diriku. Kau tahu apa aku tahu soal cinta seperti itu? Orang-orang mengatakan itu sangat menjijikkan bahkan najis. Buatku biasa saja, bila soal cinta. Toh, kau tak pernah menuntut untuk menjadi perempuan atau laki-laki ketika lahir, begitu pula aku. Tapi kalau dicumbu dengan begitu arogan, aku lebih memilih mencekik leherku sendiri.

Tentang Tak Ada. Ya, tak ada yang harus kukatakan selain klise!

Bahwa ketika hendak berangkat, aku dan kau pun butuh dengan yang dinamakan tiket. Tapi ke mana Tiket ke Tangier itu akan membawaku? Di mana Tangier? Aku tak pernah mendengar tempat itu, tak pernah membaca tempat itu di peta. Kalaupun memang di Maroko, di mana letaknya dan seperti apa isi perut kotanya itu? Apa benar ada cinta di sana? Tapi aku bisa saja telah memiliki tiket itu, dan aku memang tak pernah memakainya. Tapi, benarkah di sana selalu ada cinta? semoga lampu kota tak lekas mati karena aku belajar untuk jatuh cinta.

Di tanganku, pasir tak menetes sebutir pun, meski kamu selalu kembali untuk menemuiku. Tahun demi tahun. Tiket itu tak pernah terpakai. tapi aku selalu datang ke Tangier untuk menemuimu.- hlm. 115

Demikianlah dengan aku yang menziarahi lorong Kereta Tidur-mu. Di balik semua kehidupan, tentu ada kematian. Bahwa kita hanya memilih apa kita harus kembali menjadi abu di dalam tanah atau menjadi abu di dalam kereta tidur dan dilarungkan di laut lepas. Dan betapa fananya hidup ini, kuinsafi.

Avianti Armand,

Begitulah kisahku menyetubuhi Kereta Tidur-mu. Meski di dalam lirih aku hendak menjadi siapa dan mengapa aku memilih itu, kau sudah memiliki kisahmu sendiri. Dalam perjalanan, kutelusuri setiap spasi dalam tubuh bukumu. Kau adalah Tuhan yang baik, membunuh setiap umatmu dengan caramu sendiri. Aku hanyalah pengawas pintu surga yang mengabsen siapa yang harus masuk ke dalam otakku.

Kuharap kau tak lupa untuk tak lupa cara menulis dan tetap menulis.



Jabat erat selalu,


Jakarta, 4 Agustus 2011 | 21.57
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 02 Agustus 2011

Presiden Prawiranegara

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Akmal Nasery Basral
Pahlawan yang Terhapus Namanya

Dalam sejarah Indonesia, ada dua orang pemimpin negara ini yang tidak tercatat sebagai presiden, yaitu Mr. Assaat dan Mr. Syafruddin Prawiranegara. Sementara itu, kita hanya mengenal Indonesia hanya memiliki enam presiden, yakni Sukarno, Suharto, B. J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Mr. Assaat merupakan Presiden Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia saat Indonesia masih berstatus Republik Indonesia Serikat. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang merupakan lembaga pembantu presiden.

Sementara, Mr. Syafruddin Prawiranegara merupakan Menteri Kemakmuran setelah Surachman Tjokrodisurjo di zaman Sukarno. Ketika terjadi Agresi Militer II, Sukarno dan Moh. Hatta memberikan kepercayaan kepada Syafruddin untuk membentuk sebuah pemerintahan darurat agar keberadaan Indonesia tetap diakui dunia dan tidak ditenggelamkan oleh bom-bom Belanda.

Lewat kacamata Kamil Koto, seorang pencopet yang terkenal di Pasar Pariaman yang menjadi pengikut Residen Rasyid setelah diselamatkan olehnya dalam sebuah peristiwa, Akmal Nasery Basral berkisah tentang perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara yang sering disebut Kuding di dalam novel ini.
Kedatangan Bung Hatta ke rumah Kuding di sore itu membuatnya harus meninggalkan rumah. Janji Bung Hatta kepada keluarganya hanyalah beberapa hari membawa Kuding keluar dan menuju Bukittinggi. Ternyata janji Bung Hatta tidak bisa ditepati karena bom sudah menghujani Yogyakarta di saat KTN yang juga diliput oleh wartawan internasional. Belanda semakin menjadi. Sukarno dan Hatta sudah memprediksi bahwa mereka akan terkena tahanan rumah, mereka lekas-lekas mengirimkan kabar kepada Syafruddin, Sudarsono, dan A. A. Maramis. Sudarsono adalah dubes RI untuk India dan A. A. Maramis adalah Menteri Keuangan yang sedang berada di New Delhi.

Benar saja, Sukarno dan Hatta beserta beberapa pejabat tinggi lainnya terkena status tahanan rumah dari Belanda. Jendral Sudirman melakukan pergerakan militer di Yogyakarta meski dalam kondisi ia bernapas dengan satu paru-paru. Kuding melakukan pergerakan sipil di Bukittinggi setelah mendapat kabar Sukarno dan Hatta sudah dipenjarakan oleh Belanda.

Rapat digelar oleh Teuku Hasan, Syafruddin, dan beberapa pejabat tinggi lainnya untuk menentukan sikap ke depannya yang akan dilakukan oleh pemerintah agar keberadaan Indonesia tidak semakin dirusak oleh Belanda. Akhirnya sebuah rapat berhasil menunjuk Syafruddin Prawiranegara sebagai Ketua PDRI dan Teuku Mohammad Hasan sebagai wakilnya.

Mungkin hal ini yang membuat Kuding tidak dianggap sebagai presiden: kerendah-hatiannya. Ketika orang-orang telah memanggil dirinya sebagai Presiden PDRI, dengan tegas ia menegur,”Saya Ketua PDRI, bukan Presiden.” Untuk itu, ia tidak dianggap sebagai presiden karena atas kehendaknya sendiri.

Kuding adalah menteri yang jujur, terbukti dengan ketidakmampuannya membeli gurita untuk anaknya, ia tidak menggunakan uang negara untuk itu. Kuding adalah pribadi yang bersahaja, terbukti dengan kata-katanya selalu terpikirkan dengan matang, bertindak dengan hati nurani, dan tidak sekadar asal-asalan. Kuding adalah pendengar yang bijaksana dan penasihat ulung, terbukti dengan ia mengajarkan Kamil untuk lebih menghargai ayahnya dengan baik meski rasa sakit hati tidak bisa tidak datang begitu saja.

“Ayahmu menteri keuangan, Icah,” Lily menyeka matanya yang basah. “Ayah mengurusi banyak sekali uang negara, tetapi dia tak punya uang untuk membeli kain gurita bagi anaknya, adikmu Khalid, yang baru lahir. Kalau Ibu tidak mengalaminya sendiri, Ibu sendiri pasti tidak percaya. Tapi itu nyata. Ayahmu sama sekali tidak tergoda memakai uang negara, meski hanya untuk membeli sepotong kain gurita.” - Presiden Prawiranegara, hlm. 25

Gaya penceritaan Akmal lewat Kamil Koto yang jatuh cinta kepada Zahara, perempuan yang berayahkan Ajo Sidi, orang yang hampir membunuh Kamil, membuat suasana cerita menjadi berwarna dan tidak membosankan. Kamil Koto, tokoh yang seolah-olah ada dan hidup, membuat novel ini menjadi kisah yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Penuturan lugu seorang Kamil bisa mengundang tawa sekaligus pilu. Kita juga diajak bersimpati dan ‘ikut berjuang’ dalam keluar-masuk belantara bersama Kuding untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Pertengkaran mulut antara Sutan Syahrir dan Sukarno yang menganggap Sukarno adalah presiden tolol dan menghina martabat seorang petinggi negara karena mengemis juga memberi warna tersendiri yang menghibur pembaca. Saya pun tak memungkiri sejak kali pertama membaca bab novel ini, saya langsung berpikir Sukarno adalah presiden tolol dan pengecut.

Syafruddin pun memiliki catatan hitam dalam lembaran sejarah Indonesia. Ia dianggap membangkang dengan mendirikan PRRI dan melakukan pemberontakan karena kekecewaannya terhadap pimpinan Sukarno. Di masa tuanya, ia menjadi pendakwah dan berkotbah tentang politik. Isinya selalu membangkitkan emosional rakyat sehingga isi pidatonya harus diperiksa sebelum dikotbahkan. Posisinya pun pernah digantikan khatib lain karena ia menolak isi kotbahnya diganti.

Meski hanya 207 hari, Kuding sudah berjuang untuk Indonesia. Ia pernah ada sebagai pemimpin yang bijaksana untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia meski ia harus mengorbankan keluarganya dan dirinya sendiri. Syafruddin Prawiranegara, seorang presiden yang terhapus namanya.

Bandung, 2 Agustus 2011 | 21.02
A.A. – dalam sebuah inisial

Kamis, 14 Juli 2011

Sebelas Patriot

Rating:★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andrea Hirata
Kata Vince Lombardi, football is like life - it requires perseverance, self-denial, hard work, sacrifice, dedication and respect for authority. Setidaknya Ikal mengamini apa kata-katanya dalam cerita Sebelas Patriot ini.

Saya percaya, Andrea Hirata adalah penulis yang sangat narsis!

Sejak Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan, Cinta dalam Gelas, dan Sebelas Patriot (serta Ayah -yang akan terbit), semuanya (hampir) bercerita tentang dirinya. Adakah kawan-kawan yang tahu penulis yang lebih narsis dari dirinya?

Nada-nada bercerita ketujuh novelnya serupa: puitis, dirangkai dengan majas yang berirama, dan diksi yang seolah-olah bernapas dalam setiap untaian ceritanya.

Saya bukanlah pemuja dirinya, setidaknya saya menyukai tulisannya. Itu saja.

Diawali cerita tentang ayahnya yang seorang penambang timah yang jago bermain bola yang harus pupus karena tempurung lututnya hancur diremukkan oleh Belanda. Ikal percaya kalau lututnya tidak hancur, ayahnya itu sudah menjadi pemain bola yang handal. Pemain berseragam PSSI.

Ikal mewarisi bakat itu. Ia bermain bola dan berharap dapat menjadi pemain PSSI. Pupus sudah harapannya karena ia gagal dalam seleksi tingkat nasional. (Kok tak pernah ada ya cerita ini dalam tetralogi Laskar Pelangi atau setidaknya disindirlah sedikit).

Kurasa cerita ini ditulis oleh Andrea Hirata karena kemelut yang dialami oleh PSSI saat ini dan lewat novelnya, ia berusaha mengembalikan kepercayaan masyarakat kalau Indonesia bisa berjaya dalam sepakbola.

Tapi, perasaan saya berubah ketika Ikal lebih banyak bercerita tentang perjuangannya untuk mendapatkan kaos Real Madrid yang bertanda tangan Luis Figo yang didapatkannya dengan susah payah.

Nah, Ikal narsis kan?!

Lalu di mana hubungan antara 11 pemain bola yang patriot itu dengan kaos Luis Figo? Mungkin Ikal itu yang dimaksudnya patriot karena telah menyenangkan hati ayahnya yang di Belitong, yang pemuja Real Madrid dan Luis Figo? Saya pun tak tahu.

Untuk lagunya, saya pun ditumbuhi rasa kecewa. Ternyata lebih banyak pengulangan dan ritmenya pun hampir serupa. Hanya syair-syairnya saja yang diganti. Malah kesan saya terhadap Andrea Hirata yang malas menulis lagu muncul ketika lagu 'Sorak Indonesia' cuma berisi enam kata! Semprul!

Oh ya, katanya sebelas patriot, kok tangan di covernya hanya sembilan? Katanya sbeelas patriot, kok kepala pemainnya hanya enam? Tapi terserah sang penulislah.

Tabik!



Jakarta, 14 Juli 2011 | 18.51
A.A. - dalam sebuah inisial

Senin, 27 Juni 2011

The Naked Traveler 3

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Trinity
A wise traveler never despises his own country. - Carlo Goldini



Menurut saya, Trinity seperti itulah. (Mungkin) ia memang seorang pelancong yang bijaksana, yang tak pernah memandang rendah negaranya sendiri. Seperti kata Carlo Goldini, Trinity selalu mengatakan dengan mengitari negara-negara, ia semakin cinta dengan Indonesia dengan segala keruwetannya.



Saya kecewa dengan buku ini. Terus terang, saya dilanda rasa kecewa karena saya gagal mendapatkan edisi nonrevisi yang sebenarnya dipublikasikan juga di blog The Naked. Tapi, setelah saya bandingkan yang saya punya dengan edisi nonrevisi, malah semakin vulgar kalimat yang dituju dan dianggap terlalu ‘menantang’ adrenalin. (Silakan baca keterangan soal revisi ini di blog The Naked – http://naked-traveler.com)



Dibandingkan dengan buku keduanya, buku ini saya rasa jauh lebih sempurna. Puas membacanya, puas ngakaknya, dan puas jalan-jalannya. Meski lebih tebal The Naked Traveler (TNT) 2, tetap saja saya lebih menjagokan TNT3 untuk kali ini. Trinity lebih liar dalam menulis di dalam buku terbarunya. Kita diajak untuk mengangkat ransel, bertualang ke mana saja, dan kembali dengan cerita.



Trinity bukanlah penulis yang canggung dan malu dengan dirinya sendiri. Ia jujur dalam bercerita dan jelas-jelas menulis kalau dirinya tidaklah memiliki postur tubuh yang lebih layak dibilang backpacker. Malah, dengan cara inilah, Trinity mengundang kita bahwa faktor U, postur tubuh, dan segala kekurangan bukanlah hambatan untuk berjalan-jalan.




72 cerita dibagikan oleh Trinity dalam buku ini. Dari 72 cerita

tersebut, saya memilih empat cerita yang terbaik versi saya.



Onsen,Mandi Rame-Rame

Wah, rasanya saya tak perlu bercerita banyak soal bagian ini. Membacanya benar-benar menanatang adrenalin kaum adam. Trinity bercerita blak-blakkan soal Onsen, permandian air panas di Jepang, yang tidak boleh dilewatkan. Anda mesti membacanya sendiri.



Joroknya China

Benar-benar ngakak, membuat mual, dan tiba-tiba ingin membuktikannya sendiri. Itu yang saya rasakan ketika membaca bagian ini. Dari judulnya saja kita sudah dapat menebak isinya sebagai apa. Tapi membacanya benar-benar membuat keringat dingin.



Under The Stars

Romantis benar sang supir. Bisa-bisanya menemukan tempat untuk melampiaskan HIV (hasrat ingin vivis) di tempat yang super romantis: di bawah bintang-bintang. Trinity tidak cablak dalam cerita ini, malah santai dan jujur sekali. Itu tidak mengurangi kelucuan ceritanya.




RW & B1

Speechless. Speechless. Speechless. Yeah, I’m speechless. Silakan Anda menganggap saya berlebihan. Tapi sudah dua orang yang saya sodorkan cerita ini, mereka tak beda dengan saya, berhenti di salah satu segmen yang paling tragis yang tidak berkeprianjingan. Meski saya sudah sering mendengar cerita seperti ini, bahkan saya pernah ditawarkan menikmati sang B1 oleh guru agama saya sendiri, tetap saja membacanya membuat saya diam dan terbayang-bayang hal yang tak bisa dibayangkan.



Yang masih saya anggap sebagai kekurangan dalam buku ini adalah kertasnya yang tidak berwarna untuk foto. Dengan harga buku seperti itu, tentu tidaklah setara dengan tampilan yang harusnya ada. Buku perjalanan harusnya berwarna, setidaknya hanya untuk di bagian yang terdapat foto. Ini malah sudah menjadi penyakit B First yang banyak menerbitkan buku traveling tetapi kertas tak berwarna.



Karena yang saya dapat adalah edisi revisi, saya malah menganggap kalimat yang (katanya) direvisi itu semakin vulgar. Nah lho, apanya yang direvisi?



Di antara segala kelebihan dan kekurangan, toh, tujuan Trinity adalah mengajak kita untuk mencintai negeri sendiri setelah merasakan ‘derita’ di negeri orang dan jangan pernah kapok dengan nikmatnya traveling.





Jakarta, 27 Juni 2011 | 23.59


A.A. – dalam sebuah inisial


Kamis, 19 Mei 2011

Larasati

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Pramoedya Ananta Toer
Revolusioner Larasati

Pramoedya. Tentulah hampir semua orang tahu siapa dia. Namanya menjulang di dalam dunia sastra Indonesia setelah Tetralogi Buru lahir dan namanya sempat terdaftar sebagai calon penerima Nobel Sastra. Satu-satunya orang Indonesia yang pernah dinominasikan di dalam penerima Nobel Sastra. Tetralogi Buru sendiri sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.

Kali ini Pram bercerita tentang kehidupan Larasati. Larasati adalah seorang aktris yang hidup di Yogyakarta yang kemudian di dalam perjalanannya menuju Jakarta untuk kembali bermain film dan menemui ibunya yang ditinggalkannya setahun. Profesi Ara bukan hanya sebagai aktris, tetapi juga sebagai pelacur. Namun demikian, Ara bukanlah perempuan yang tidak peduli lagi dengan keberadaan negerinya. Kedatangannya di Jakarta pun disambut sebagai seorang NICA. Ori (Oeang Republik Indonesia) yang menyelamatkan dirinya dari tongkat kakek yang akan melayang kepadanya. Ara adalah seorang perempuan yang ingin berjuang untuk bangsanya meski ia bukan perempuan yang bersih. Itu dikatakannya sendiri:

"Bagaimana pun juga kotornya namaku aku akan tetap dapat berguna. Kotor?"

"Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak! Negara pun tidak! Rakyat apa lagi! Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain."

Bahkan lewat Ara, Pram mengkritik golongan tua yang begitu hina, korupsi, dan mementingkan diri sendiri.

"Hanya angkatan tua yang mengajak korup, angkatan muda membuat revolusi."

Lewat Ara pula, Pram menyatakan bahwa golongan muda adalah golongan yang seharusnya membuat pergerakan baru. Yang akan membentuk diri bangsa dengan lebih baik untuk masa depan. Pram ingin melihat Revolusi terjadi. Lewat Ara, Pram mengajarkan kita menjadi pejuang yang berani. Berani kalah ketika menang dan berani berbesar hati ketika sudah merasakan pahitnya kekalahan.

"Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah, terima kekalahan itu dengan hati besar, dan rebutlah kemenangan."

Dan menurut Pram, "Revolusi-dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun harapan."

Ciri khas Pram yang tak akan lepas adalah ceritanya selalu berputar soal perjuangan. Semangat nasionalisme yang selalu dikumandangkan lewat romannya membuat orang menjadi tergugah. Cinta akan tanah air tanpa harus menjadi seorang Belanda yang ia lapiskan dalam tokoh yang bernama Larasati, seorang pelacur, aktris, bahkan seorang istri yang membangkang kepada sang suami yang menjadi seorang idealis dan berusaha lahir sebagai seorang revolusioner.

Membaca Larasati hampir tak beda dengan membaca roman yang berasal dari Melayu Klasik. Meski dikemas dengan bahasa yang lebih sederhana, itu tidak bisa menghindari harus membaca berulang kali untuk dapat memahami kalimatnya. Untuk yang baru kali pertama membaca Pram atau lebih menyukai roman dengan kalimat yang lebih mudah dimengerti, mungkin akan terhenyak dengan kalimat yang berputar-putar dan mengerutkan dahi.

Poin yang saya anggap kurang adalah di dalam cerita Larasati ini, Pram hampir tidak pernah 'mementaskan' sang Ara sebagai seorang aktris. Malah lebih cenderung sebagai seorang pejuang wanita. Kurang tampak di dalam penokohan Ara sebagai aktris dan pelacur. Lebih banyak kata-kata yang menjelaskan kalau Ara adalah seorang aktris, bukan mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana lakon Ara.

Tapi Ara yang keras kepala dan berjiwa pemberontak yang membuat cerita ini menjadi menarik. Ara yang rela untuk tidak bermain di dalam pementasan Belanda membuat keputusan yang berani. Namun, di dalam beberapa bagian, Ara seperti kehilangan jati dirinya. Ia menjadi perempuan yang lemah, yang putus asa dan rela membiarkan Revolusi perlahan lenyap. Sepertinya Pram memang tak menginginkan Ara sebagai perempuan yang benar-benar utuh menjadi pejuang seperti Cut Nyak Dhien yang sampai mati untuk mendapatkan kemerdekaan. Ia lebih menginginkan Ara menjadi perempuan yang kembali seharusnya menjadi perempuan. Bahkan sempat terpikir olehku kalau Ara hanya besar mulut saja, tapi tidak untuk berjuang.

Di bagian tengah cerita, sepertinya Pram memaksa cerita agar tetap mengalir. Dan itu terlihat dengan beberapa adegan yang lebih terkesan memaksa untuk masuk dibandingkan pada bagian awal yang benar-benar menggigit. Saya yang sebagai pembaca sempat merasa penat dengan beberapa bagian yang seperti itu. Kemudian pada epilognya juga masih terasa 'gantung'. Entah apa maksud Pram membuat ceritanya seperti itu.

Jalan pikiran Pram yang sulit diprediksi bermain di dalamnya. Roman ini sudah berkisah enam puluh tahun yang lalu, tetapi masih tak jauh dari keberadaan bangsa ini. Cerita yang hampir serupa dengan keadaan yang ada saat ini. Cerita yang sederhana ini mengalir di antara cita-cita dan asa yang ingin menjulang tinggi. Mungkin kita memang selalu butuh Ara yang memang menginginkan kehidupan merdeka dengan caranya sendiri.

Sampul buku untuk edisi terbitan "Lentera Dipantara" kurasa tidak sesuai dengan Larasati yang adalah seorang Yogyakarta. Bukan karena terlalu cantik, tetapi raut wajah Jawa tidak tampak pada gadis tersebut.

Jakarta, 19 Mei 2011 | 18.38
A.A. - dalam sebuah inisial

Rabu, 11 Mei 2011

The Journeys

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Adhitya Mulya, dll
A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving. - Lao Zi

"Petualang, apa yang kamu cari?" tanya seorang teman saya ketika mengetahui saya sedang berada di Yogyakarta. Itu seminggu setelah ia tahu kalau saya sedang berada di Bandung dan tiga hari sesudah berada di Semarang. Saya sendiri tak tahu sebenarnya apa yang saya cari. Saya pun tak tahu apa sebenarnya yang saya temukan di dalam perjalanan saya. Kalau bertemu dengan teman baru, itu sudah biasa. Saya sering mendapat teman baru kalau pulang dengan TransJakarta. Kalau pengalaman, itu lebih biasa lagi.

Bukankah setiap hari adalah pengalaman? Menemukan bahagia? Bahagia diciptakan, bukan dicari. Menemukan cerita? Bukankah setiap hari adalah cerita? Bahkan gugur daun musim semi bisa menjadi cerita asal kita mau menceritakannya?

Demikianlah alasan saya mengapa saya kurang setuju dengan kata pembuka yang ditulis oleh Windy Ariestanty: "Hal paling menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan."

Menurut saya, perjalanan adalah sebuah proses menghargai di antara kesulitan, keterbatasan, dan kebahagiaan. Sila percaya atau tidak, tapi setiap kali saya melakukan perjalanan, saya selalu mensyukuri hidup. Perjalanan mengajarkan kepada saya kalau masih banyak orang yang kurang dan lebih dari pada kita yang tak pernah kita temukan di dalam kehidupan kita. Untuk itulah, perjalanan adalah sebuah proses yang sakral. Proses yang sulit digantikan untuk belajar banyak hal tentang hidup.

Perjalanan bermula dari petualangan Gama Harjono dari Roma menuju Andalusia. Perjalanan yang terbatas karena uang tersebut tetap bisa membuat Gama melakukan perjalanan dari Italia menuju ke Spanyol untuk bertemu dengan Alberto, seorang karib lamanya. Saya suka cara penceritaan Gama yang berbeda dari dua bukunya yang sudah terbit dahulu, Ciao, Italia dan Lupakan Palermo. Gama terlihat lebih santai dan bebas bercerita tentang keindahan kota Andalusia, keunikan aksen masyarakat, santapan pagi, kunjungan ke Benteng Alhambra, sampai ke Mezguita di mana Gama merasa dirinya adalah orang yang beruntung karena pernah melihat orang-orang membuka pintu Katedral. Gama menceritakannya secara detail dan pas.

Perjalanan dilanjutkan oleh Winna Effendi yang berkirim e-mail kepada 'you'. Cara bercerita Winna yang beda sendiri dari yang lain. Shuili menjadi tempat Winna bertualang dan memulai ceritanya. Awalnya Winna membawa pembaca dengan renyah dalam bercerita tentang kedatangannya ke Taiwan, menuju ke Shuili, dan saat menuju ke Sitou. Tapi semakin membalik halaman demi halaman dari Winna, saya semakin bosan. Winna seperti hanya bercerita pada dirinya sendiri. Tulisan yang awalnya renyah menjadi tak lagi menarik. Winna hanya terkesan seperti reporter yang memberikan laporan keadaan yang di mana pembaca pun bisa mencarinya lewat Google. Sebenarnya banyak harapan yang saya dambakan dari tulisan Winna karena ia pun bercerita dari sebuah desa yang jarang didengar yang mungkin bisa menjadi tujuan yang menarik untuk dikunjungi.

Windy Ariestanty yang sedang sibuk mencari WiFi di kedai kopi dekat hotel di Lucerne malah mendapatkan morning kiss bye dari seseorang yang puas berdugem di pagi itu. Dari sanalah, cerita petualangan Windy di Lucerne dimulai. Dari ceita-cerita Windy, kita dapat mengenal lebih jauh kota kecil yang berada di Swiss. Windy bercerita tentang kehidupan Lucerne yang begitu sederhana, disiplin, dan benar-benar tertata rapi. Ya, Windy bercerita, bukan memberikan laporan perjalanan. Dia membuka cerita dengan manis. Dan dia pun menutup cerita dengan manis. Ciri khas tulisan seorang Windy Ariestanty: tepat sasaran.

Ini dia, Farida Susanty. Dia bercerita sisi lain dari Singapura. Singapura memang tidak jauh dari Indonesia, bila dilihat di peta. Namun, setelah membaca cerita Farida, kita benar-benar merasakan kalau Singapura dan Indonesia seperti langit dan bumi. Tugas Farida di Singapura adalah berkunjung ke rumah sakit jiwa. Pikir saya, ini akan menjadi cerita horor di dalam The Journeys. Nyatanya tidak. Malah Farida bercerita rumah sakit jiwa di Singapura bukanlah rumah sakit yang menyeramkan seperti di Indonesia yang pasiennya dipasung dan kadang dibiarkan bebas. Di Singapura, berdasarkan cerita Farida yang saya tangkap, rumah sakit jiwa adalah rumah sakit yang terbuka, yang benar-benar bisa memperbaiki mental seseorang yang terganggu. Tak ada salahnya kalau bertandang ke Singapura, kunjungilah rumah sakit jiwa, jangan hanya Orchard Road.

Setelah dari Asia Tenggara, penerbangan dilanjutkan ke Timut Tengah. Tepatnya Saudi Arabia. Ciri khas seorang Valiant adalah pandai bermajas. Sejak awal pun, ia sudah menarik saya untuk membacanya. Meski cerita yang ditulisnya sudah tidak begitu asing, tetapi membacanya bukanlah sebuah kesalahan. Valiant memang mengajak pembacanya untuk ikut 'menderita' di Saudi Arabia yang harus diam-diam untuk mengambil foto gedung, ditawari parfum yang digunakan oleh Tom Cruise, sampai dengan pertemuannya dengan Bapak Berjenggot Lebat. Valiant mengajak kita tertawa sekaligus berbagi 'derita' pelarangan di Saudi Arabia.

Kembali lagi ke Asia Tenggara. Di Timor Timur sudah menunggu Okke 'sepatumerah' yang akan memulai perjalanannya. Seperti biasa, Okke memang asyik dalam bercerita tentang keberadaannya di Timor Timur. Kenikmatan di Pantai Kolbano menjadi nilai tersendiri meski harus dag-dig-dug setelah mitos yang sering terjadi. Tulisannya yang 'cablak' dan masih terkesan 'judes' membuat sebuah perjalanan yang berbeda dari yang lain.

Setelah itu, kembalilah ke Indonesia. Di Karimun Jawa, sudah ada Alexander Thian, seorang penulis skenario yang suntuk dikejar deadline yang akhirnya bisa berjalan-jalan. Sebenarnya, Alex lebih ingin bercerita tentang Jepara atau Karimun Jawa? Itu pertanyaan saya setelah ia bercerita cukup panjang tentang Jepara di pagi-pagi buta. Terlepas dari semua itu, setidaknya Alex memberikan gambaran yang pas tentang Karimun Jawa seperti yang sering saya dengar dari teman-teman yang pernah hinggap ke sana. Alex membuat kita berujar, "kalau lo gak mampu keluar negeri seperti 11 penulis lain, Karimun Jawa bisa dong jadi cerita?!"

Lepas dari kampung halaman, mari berangkat ke Amerika untuk menemui seorang dokter mata yang bersama sang mertua sedang bersiap menghadiri konferensi dokter mata sedunia di Boston. Bersama Ferdiriva Hamzah, kita diajak tertawa dan menikmati perjalanan yang 'tidak menyenangkan' bersama sang mertua. Setelah konferensi di Boston selesai, mereka menuju New York untuk menunaikan cerita ini. Menonton The Lion King yang membuat sang mertua tertidur sampai dengan mengusir perampok dengan hentakan yang membuat Riva tidak enak hati dengan sang mertua. Riva mengajarkan satu hal: 'travelling yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri.' (hlm. 157)

Dan perjalanan dihentikan oleh Trinity. Ia ta bercerita tentang kota apa pun dari mana pun. Bukan berarti ia hanya menyajikan halaman kosong di dalam The Journeys. Tetap ada cerita yang ia sajikan. Kali ini tentang profesinya yang seorang tukang jalan-jalan sembari menulis. Saya menjadi paham dengan 'penderitaan' travel writer yang dialami oleh Trinity. Seperti yang ia kisahkan di dalam buku pertamanya, perjalanan tak harus selamanya menyenangkan.

Ve Handojo yang lebih dikenal sebagai penulis skenario akhirnya bisa ke Israel setelah dibiayai oleh 'kuntilanak'. Bukan soal ziarah yang ia inginkan selama di Israel, tetapi bebas berjalan-jalan di Tel Aviv. Lucunya, banyak ciri yang asing ia dapatkan selama di Israel seperti soal ketepatan waktu untuk tiba di suatu lokasi. Tulisannya bebas, membiarkan kita berkelana sendiri dengan keberadaannya di Tel Aviv.

Berkelanalah kita ke tempat Adhitya Mulya: Afrika. Di sini, seperti biasa, liarnya tulisan Adhit dalam menceritakan sesuatu seperti juga di dalam novel-novelnya masih tersisip dan menjadi karakter yang tak dapat lepas. Nilai plus yang diberikan untuk Adhit adalah dia menyisipkan lampiran tips perjalanan bila ke Afrika dan negara-negara yang bisa dikunjungi atau tidak. Tapi, mengapa peta Afrika diletakkan di belakang setelah tips?

Dan, kita pun diakhiri ke bangsa penjajah Indonesia bersama Raditya Dika. Di Belanda, Radith yang berkesempatan mendapat beasiswa untuk belajar selama dua minggu. Mamanya yang sering bersikap berlebihan membuatnya merasa tidak berada pada zona nyaman. Tapi di dalam perjalanannya tersebutlah, ia paham arti keberadaan seseorang meski dalam taraf penilaiannya selalu bersikap berlebihan. Ya, tulisan Radith memang sudah berubah banyak sejak Marmut Merah Jambu terbit. Taste-nya dalam bercerita juga lebih tepat sasaran di awal dan di akhir. Perubahan tulisan Radith memang menjadi warna tersendiri meski leluconnya masih bernilai sarkas.

Ya, seperti itulah petualangan bersama The Journeys. Mungkin Windy boleh berkata, "perjalanan mempertemukan dua belas orang penulis yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan pada akhirnya menemukan sesuatu yang baru: sebuah cerita." Kita boleh memiliki persepsi sendiri tentang sebuah perjalanan; tetapi perjalanan adalah perjalanan, tempat di mana kita akan menghargai hidup agar lebih bermakna di setiap langkahnya.



Jakarta, 12 Mei 2011 | 6.15
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 10 Mei 2011

Tuesday with Morrie

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Mitch Albom
Perihal: Memento Mori

Seorang kerabat pernah menyuruh saya membuka telapak tangan kiri dan kanan. Kemudian katanya,"lihat garis tangan kiri dan kananmu, keduanya melambangkan huruf M. Tahu artinya?" Saya menggeleng. "Memento mori. Ingatlah kau akan kematian," jawabnya.

Demikianlah yang diajarkan oleh Prof. Morrie Schwartz dalam 14 minggu kepada seorang mahasiswanya, Mitch Albom. Di dalam kuliah 14 minggu, tanpa buku, dengan ujian setiap Selasa, dan tak perlu mempelajari apa pun untuk menyelesaikan mata kuliah ini. Kata Mitch, ini adalah mata kuliah yang paling praktis sekaligus paling sulit. Materinya adalah tentang kehidupan sehari-hari. Selama empat-belas minggu, bersama Morrie, Mitch merawi skripsinya. Skripsi yang tak akan mengenal ujung.

Berawal dari seorang Morrie yang adalah mantan dosen Mitch yang menderita ALS. Penyakit saraf yang perlahan membuat penderitanya kehilangan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena melemahnya sel-sel motorik. Morrie yang semakin terpuruk hari demi hari semakin menyadari kalau kematian akan mengancam hidupnya kapan pun. Ketika bangun kembali, itu seperti bonus hidup dari Tuhan. Di saat itu, Morrie mengenal hidupnya. Menghargai lebih di ujung hidupnya.

Dalam kuliahnya di setiap hari Selasa bersama Mitch, Morrie selalu mengajarkan banyak makna tentang hidup, cinta, keluarga, budaya, dan kematian.

Saya mencatat beberapa kata dari Morrie yang benar-benar bisa menginspirasi kehidupan:

1. "Yang paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang." - hlm. 55
2. "Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar tentang bagaimana kita harus hidup." - hlm. 87
3. "Kita semua mempunyai awal yang sama-kelahiran- dan kita semua mempunyai akhir yang sama-kematian. Jadi, apanya yang berbeda?" - hlm. 166

Dalam skripsi ini, Mitch mencatat banyak hal yang akan membuat kita bukan bersimpati-empati kepada Morrie, tetapi sebaliknya, Morrie mengajarkan kepada kita bagaimana menikmati hidup dengan berbagai persoalannya. Ini bukan menjadi hal yang sulit sebenarnya bila kita mau dan menyadarinya. Demikianlah Morrie memberikan kuliahnya selama empat-belas minggu bersama Mitch. Meski menangis, Morrie tidak butuh belas kasihan. Itu yang selalu ia tanamkan.

Morrie yang sudah berduka sejak kecil karena ditinggal mati oleh ibunya, kemudian mengalami hal yang menyedihkan bersama ayahnya. Morrie kecil menceritakan kepada Mitch tentang hal tersebut sebagai sebuah pelajaran bila ia sudah siap menghadapi kematian apa pun bentuknya. Ia tak lagi bisa berdansa, mengajar, bahkan kemampuannya untuk cebok setelah buang air pun sudah tidak ada. Ia kembali seperti anak kecil yang butuh bantuan. Penderitaannya amatlah menyakitkan. Dari sana, Mitch yang setiap Selasa datang ke rumah Morrie untuk mendapatkan kuliah sosiolosi yang bermakna. Yang tidak pernah Morrie ajarkan di dalam kelas selama di universitas.

Saya mengaminkan bahwa ini bukanlah skripsi yang membosankan untuk dibaca. Saya menyukainya dan lebih dari itu, skripsi ini adalah skripsi yang memacu emosional, haru, dan sebagai alarm bagi kita kalau hidup bisa saja berhenti kapan pun. Kematian bisa datang, tapi tidak bisa ditolak. Sebagai manusia, kita pun bagian dari alam yang tidak dapat melawan kematian meski kita merasa diri kita lebih dahsyat dari alam.

Dan percayalah, meski tak ditulis secara puitis dan menggunakan majas yang beraneka ragam itu, Mitch sudah mendapatkan summa cum laude dari sang profesor. Andai kalau Morrie masih hidup. Namun, kalau Morrie tidak di ujung kematiannya, apakah akan ada skripsi ini?

Malam ini, mendadak saya terngiang dua kata: memento mori.




Jakarta, 10 Mei 2011 | 23.21
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 29 Maret 2011

Éclair

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:Prisca Primasari
Lima Orang, Empat Kota, Satu Kenikmatan: Éclair

Sesungguhnya, tak banyak orang yang tahu apa itu eclair. Seperti apa bentuknya dan apa rasanya tak banyak yang menyadari kalau kue tersebut adalah kue yang sangatlah pasaran di masa kini, termasuk Indonesia.
Eclair adalah kue kering yang berbentuk panjang, berisi krim pasta. Kalau kau tahu apa itu kue sus, bisalah kusebut Eclair ini adalah jelmaan versi panjangnya. Namun tak seperti kue sus, Eclair lebih garing untuk tekstur luarnya. Isinya bisa berupa buah kaleng, saus vla, whipped cream, atau es krim.

Eclair berasal dari abad kesembilan-belas yang menjadi salah satu ciri khas dari Prancis. Eclair pertama kali diciptakan oleh Marie-Antonin Careme, seorang koki terkenal dari Prancis, untuk royalti Prancis. ‘Eclair’ dalam bahasa Prancis sendiri berarti ‘petir’. Dinamakan demikian karena eclair selalu terlihat berkilau, terutama pertama kali dijual.

Aku tak mungkin juga hanya menceritakan apa dan sejarah Eclair. Cerita di atas hanya untuk membantumu mengerti kelak kalau kau tergoda untuk membacanya, biar kuungkap dulu rasa penasaranmu yang menggebu dari judulnya, barulah kemudian kau nikmati Eclair dalam bentuk kata-kata.
Prisca Primasari kembali bercerita tentang negeri di luar Indonesia. Aku tak tahu mengapa ia memilih negeri di luar daripada negerinya sendiri. Apakah negerinya sendiri itu tak ada yang bisa ia ceritakan sampai-sampai harus mengambil dari luar? Bagiku, ini sangatlah asing, termasuk meriset fakta-fakta. Meski fiksi, fakta tetap acuan dalam menuliskan cerita.

Bermula dari satu kota di Rusia yang bernama St. Petersburg, Prisca memulai tokoh Ekaterina Fyodorovna dan Sergei Valentinich yang akan melangsungkan pernikahan dua minggu lagi. Permasalahan yang terjadi adalah Stephanych menjadi penghalang pernikahan mereka. Stepanych yang sakit keras ingin berjumpa dengan teman-temannya dahulu. Sergei ingin menunda pernikahan mereka, tetapi Katya memaksa akan melangsungkannya. Katya akan mencari dua teman mereka yang hilang, Kay dan Lhiver.

Singkat cerita, Katya berangkat menuju New York untuk menemui Kay. Masalah runyam karena Kay yang seorang fotografer terlibat di dalam sebuah kasus pembunuhan Tantiana Andreyeva, seorang patissier terkenal. Membawa Kay ke Rusia untuk menemui Stephanych bukanlah hal yang mudah. Ia harus berurusan dengan pihak kepolisian, seluruh pegawai toko pisau garnish di kota itu, dan para pelanggannya.
Setelah masalah selesai, Katya menuju ke Surabaya. Tugasnya belum selesai. Ia harus meluluhkan hati Lhiver. Sayang, lagi-lagi bukanlah perkara yang mudah. Sergei, Katya, Kay, Lhiver, dan Stephancy memiliki tragedi yang tidak bisa terlupakan. Lhiver sudah menganggap persahabatan mereka berakhir sejak Aoife, anak angkat Lhiver, dan kedua orangtua Lhiver dan Kay meninggal.

Mungkin kau akan tercengang dengan gambaran cerita yang kuberikan. Apa urusannya eclair dengan hubungan kelima orang tersebut?
Aku tak punya hak untuk banyak bercerita untuk menjawab pertanyaan tersebut. Itu adalah hakmu untuk menemukan jawabannya bila hatimu penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Bila aku menjawabnya, itu sudah di luar teritorialku lagi.

Aku suka dengan cara Prisca mendeskripsikan keadaan, mengelola cerita yang asing di tempat yang asing. Aku suka dengan cara Prisca memberikan kejutan-kejutan sederhana, memainkan watak-watak tokohnya. Aku suka dengan cara Prisca menggabungkan dua tema yang sederhana di dalam cerita yang sederhana dengan nuansa yang tak bisa dikatakan sederhana. Ia cukuplah spektakuler untuk berperan sebagai tuhan di dalam ceritanya, mengeksekusi tokoh-tokohnya, dan menentukan kehidupan para tokoh selanjutnya.

Aku suka bagaimana Katya membongkar siapa pembunuh dari Tantiana Andreyeva dengan berbagai macam motif yang tak lazim. Kupikir aku sedang menonton sebuah film detektif di dalam kata-kata. Aku suka bagaimana Katya berjuang meluluhkan hati Kay dan Lhiver agar mau kembali bersatu dengan cara yang unik. Kupikir lagi aku sedang menonton opera sabun yang luar biasa. Aku suka dengan misteri-misteri yang harus diungkapkan oleh Katya dan Sergei untuk menyelamatkan diri dari cengkraman musuh yang hendak membunuh mereka.

Eclair adalah latar belakang dari cerita ini. Kau akan tahu bagaimana caranya menyatukan sahabat-sahabatmu yang ada di mana, bagaimana cara mencintai di dalam kesejatian, dan mengelabui musuh yang paling keji sekali pun lewat eclair yang tersaji di dalamnya. Eclair seperti membuat sesuatu yang terlihat mustahil menjadi nyata. Mungkin Prisca sudah berhasil ‘menyatukan kembali beling yang pecah menjadi gelas yang utuh’.

Prisca juga sudah merawi sebuah cerita di mana persahabatan, kasih sayang, dan pesaudaraan terlihat begitu bernilai di antara segalanya. Itu yang diwujudkannya lewat Eclair.

Itulah gambaran Eclair bagiku. Entahlah bagimu seperti apa. Kuharap hatimu tergoda untuk membacanya, menyantap eclair dalam bentuk kata-kata, dan menikmatinya sampai kau merasa kenyang. Kemudian menutupnya dan ketika kau merasa lapar, sila nikmati lagi!

Tabik!




Jakarta, 27 Maret 2011 | 20.50
A.A. – dalam sebuah inisial

Jumat, 18 Maret 2011

(Cerita-Cerita ) Dari Luar Jendela

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Maestaccato
Apa makna jendela bagi seseorang? Mungkin jendela hanyalah sebuah jendela. Celah kecil yang melekat di tembok yang sering terabaikan fungsinya yang sangatlah besar. Bagi saya, jendela memiliki dua fungsi: ventilator dan memandang dunia. Untuk yang pertama, tentu semua orang tahu apa itu ventilator. Yang kedua, bagaimana bisa memandang dunia lewat jendela?
Ini adalah sebuah cerita.

Saya memulainya dengan sebuah cerita dari sebuah jendela. Saat ini saya sedang berada di samping jendela sebuah kedai kopi. Menunggu seseorang. Dengan laptop yang ada di meja, dua buku yang akan menjadi pembahasan bagi kami, dan pandangan di balik sebuah jendela. Ah, ada apa di sana dengan pandangan dunia?

Pernah Anda bayangkan bila saat ini saya duduk di kedai kopi yang hanya bertembokkan beton? Hanya menghadapi laptop saja? Akankah cerita ini ada? Cerita saya menyaksikan seorang anak kecil berlari mengejar orangtuanya dan terjatuh. Cerita saya yang menyaksikan seseorang yang sedang kebingungan menunggu mobil pribadinya yang datang ke lobby. Cerita saya yang menyaksikan kedatangan teman saya yang sudah berada di luar kedai kopi.

13 cerpen Maestaccato yang renyah, sederhana, dan dikemas dengan tata bahasa yang ringan. Seorang penulis muda yang tak perlu menggunakan kata-kata yang rumit, membuat seseorang mengerutkan dahi, dan berpikir sambil berujar ‘maksud lo?’.

Caranya menghargai keberagaman, menghargai dunia mudanya, dan menjadi diri sendiri di zaman globalisasi. Itu yang diangkat Mae lewat cerpen-cerpennya. Bahkan satu cerpen yang sempat menghenyakkan saya yaitu “Mencari Buronan” yang tak segan-segan Mae ucapkan Tuhan sebagai buronan. Di antara ceritanya yang jenaka tersebut, saya langsung berpikir benarkah Tuhan adalah buronan yang kita cari selama ini? Mencari Tuhan.

Cerita “Berani Suci” yang dirawinya dengan sederhana dan ‘ngena’ banget sampai ke ujungnya. Di sana ia menceritakan seorang Ryu kecil yang ingin sesuatu seperti orang-orang mewah pada umumnya, namun ia tak bisa. Di antara idealisme terhadap bangsa dan rasa nasionalis, Mae menuliskan suatu pesan di sana.

Ya, Mae selalu meninggalkan sebuah pesan di sebuah cerpennya. Di kala kita mengakhiri sebuah cerpennya, kita mendapatkan sebuah pesan yang terukir di dalamnya.

Saya merasa Mae terlalu cepat dalam mengakhiri di beberapa cerpennya sehingga pembaca dapat mengetahui epilognya sebelum Mae menghentakkan pola pikir pembaca. Seperti di dalam cerpen “Catatan Mati” di mana Mae bisa lebih meluaskan dan meliarkan kata-kata yang harusnya ada.

Nah Mae, kalau kau tersesat di sini, membaca tulisanku tentang bukumu, aku hanturkan terima kasih atas cerita di balik jendelamu. Semoga di luar jendela tetap menginspirasimu untuk memandang dunia lebih jauh dan menuliskannya di dalam jendela.

Tabik!

Selasa, 07 Desember 2010

Here, After

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Mahir Pradana
“Saya bukan orang yang pandai mencerca.”



Itu yang saya katakan ketika seorang Mahir Pradana hendak mengirimkan sebuah file yang diharapkannya agar saya membaca dan memberikan kesan apa yang tertinggal setelah saya membacanya. Belum naik cetak dan belum melewati proses proofreading. Saya tahu reaksinya setelah saya menuliskan kalimat itu di dalam gadget saya.



Setelah e-mail darinya saya terima, saya hanya mengunduhnya. Mendiamkannya dalam memori komputer dua hari. Setumpuk pekerjaan sudah menanti saya dan saya pikir tak ada salahnya menomorduakan D.I.A.N.A. itu. Ah, apa pula Diana itu? Manalagi sebagai tagline-nya adalah “Depressing Infatuation about a Never-ending Agony”. Maaf, tak ada waktu untuk menikmati bacaan yang membuat orang menjadi berhalusinasi luas.



Rasa berdosa lahir ketika saya teringat bahwa saya masih berhutang. Saya berjanji kepada Mahir bahwa saya akan mengatakan apa kesan saya setelah membacanya. Saya baru membaca dua halaman saya, kemudian berpindah lagi pada file lainnya. Ketika usai saya menyelesaikannya, tak ada salahnya saya membacanya.



Menginjak bab pertama dari novel ini, saya tertawa saja. Adi. Oh, ini dia rupanya Adi yang menjadi tokoh utama. Dan pikiran saya kembali menari bahwa Adi dan Diana pasti akan menjadi tokoh utamanya. Klise! Begitu juga ketika masuk ke bab kedua. Untuk apa Mahir yang sedang menjadi dewa di novel ini seenaknya saja menulis Adi dan Diana sepanjang itu?



“Gila!”



Tanpa sadar saya mengucapkan kata itu ketika saya berada di bab keempat dalam novel ini. Ketika Putra telah usai bercerita. Saya sedang membaca apa saat ini?



Pantas saja, di senja ketiga di bulan April 2010, tim dewasa berusaha untuk menetaskan naskah yang saya pegang ini sebagai sebuah buku. Saya tahu jawabannya. Tahu mengapa tim firstreader memperjuangkan naskah ini. (Bukan karena sang penulisnya ada dalam rapat besar tersebut)



Hendak apa si Mahir ini? Saya bertanya-tanya sendiri. Siapa tokoh utamanya? Saya benar-benar jengkel sekali dengan novel ini. Mana klimaks dan antiklimaksnya? Eh, apakah ini soal cinta? Saya terdiam dengan pertanyaan terakhir. Di tengah rasa jengkel saya yang semakin membuncah setelah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya menari-nari, saya insafi satu hal: dia bermain dengan cinta.



Matilah saya malam itu. Saya semakin gencar menghabiskan bab demi bab novel tersebut. Persetan dengan tengah malam di mana esok hari saya masih ditunggu oleh tugas yang membumbung tinggi. Semakin malam, saya semakin dilarutkan oleh D.I.A.N.A. Egh! Novel macam apa ini? Lancangnya ia menarik saya masuk ke dalam dimensi lain dan mengajak saya bermain-main dengan dongengnya di tengah malam.



“Aku adalah karakter jahat dalam cerita ini dan aku memang pantas untuk dibenci.” – hal. 90



Mana ada penulis yang mengadakan pengakuan dosa kepada pembacanya dengan menulis seperti ini? Benar-benar gila penulis yang satu ini. Mengajak pembacanya untuk lekaslah membenci karakter yang ia ciptakan sendiri. Saya terus menjelajahi setiap karakter, setiap tokoh, dan setiap penceritaan yang lahir. Mahir mampu melarutkan saya dalam ceritera rekaannya sendiri.



Rasa bergidik ngeri, takut, bahagia, marah, dan apapun itu beraduk satu. Seorang Mahir menyeret saya untuk menghabiskan D.I.A.N.A. lebih utuh tengah malam. Seolah-olah semua karakter tersebut menjebak saya dalam dimensi yang berbeda-beda. Saya berada pada karakter demi karakter yang berbeda dan saya sadar: novel ini akan membuat suatu lingkaran terhadap seluruh tokoh yang ada.



Seperti halnya menggambar lingkaran, kita tak boleh berhenti. Jika berhenti, kita belum tentu berada pada titik yang sama. Itulah Here, After. Itulah D.I.A.N.A. Saya tidak diperkenankannya berhenti membaca sebelum menuntaskannya.



Cinta yang klise? Saya tarik lagi ucapan saya sebelumnya. Sampai bab ketujuh pun saya tak tahu misteri apa yang disimpan oleh Mahir bersama dengan kesepuluh tokoh rekaannya itu. Semakin menelusuri, misteri semakin runyam, semakin mengajak saya berpikir dan tak lagi memandang waktu yang sudah menginjak jam dua pagi.



Entahlah, ini sebuah novel atau kumpulan cerpen yang saling bertautan, atau juga seperti Dan Brown yang mengajak saya terus berpikir apa yang dewa-dewa kehendaki dalam karyanya ini. Seorang Mahir di dalam 197 halaman mampu mencampurkan semua rasa: pahit, ngeri, takut, marah, sedih, pilu, dan bahagia.



Menginjak bab kesepuluh, saya tahu apa yang hendak Mahir ceritakan. Tapi, bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan saya tadi? Mana jawabannya?



“Bagaimana dengan ‘cinta’?

Aah, itu bisa menyusul!”




Kekuatan-kekuatan yang lahir sendiri dari novel ini memberikan satu pelajaran bagaimana kita menikmati hidup dan cinta. Here, After bukan hanya mengajak berpikir bagaimana berfilosifi mengenai hidup tetapi juga caranya untuk bercinta dan terjebak di antara segmentasi cerita. Bagaimana merasakan perjumpaan dan kehilangan dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana untuk berusaha memberikan rasa sayang dalam konflik-konflik benci yang timbul dari antara keduanya. Ini menjadi satu prestise untuk proses bercerita yang memberikan misteri dan menjebak.



Nah, Bung Mahir, benar bukan apa kata saya? Saya bukanlah orang yang pandai dalam meresensi, tak pandai dalam mencerca. Rasakan sendiri bukan kalau saya malah menulis cerpen di sini?! Jadi, jangan salahkan saya bila saya memang bukan menulis resensi. Dan syukurlah kalau memang ini masih bisa dianggap sebagai resensi.



Oh ya, satu lagi, ini yang ingin saya katakan pada saat saya membaca Here, After. Novel ini memberikan .... *Ah, sial! Tulisannya terputus!*









Jakarta, 7 Desember 2010 | 14.35
A.A. – dalam sebuah inisial




Sabtu, 04 September 2010

Forgiven

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:Morra Quatro

 

 

 

Hai Morra,

 

Aminkan saja bahwa kita pernah bertemu, tetapi antara siapa yang paling sombong mungkin ada dari sisiku karena aku sudah diberitahukan oleh seseorang itulah Morra Bandoputih alias Morra Quatro yang pernah kubaca tulisannya kali pertama dan hebatnya pula kau membuatku jatuh cinta pada diksimu, pada caramu bercerita.

 

Jadi kau pikir ini adalah sapaan seorang pembaca kepada sang penulisnya? Ya, bisa jadi. Seorang pembaca yang diam-diam jatuh cinta kepada rangkaian kalimat seorang penulis dan ketika mereka bertemu, aku malah memilih menyapa penulis lain dalam pertemuan itu. Ah, kalau kau tahu aku adalah orang yang duduk tepat di sampingmu pada saat diskusi terbuka itu. (Aku tak pernah absen dalam kunjungan di pameran itu setiap tahunnya).

 

“Itu Morra Bandoputih,” kata seseorang yang kalau kau tahu dia juga ambil bagian dalam bukumu.

“Yang mana?” tanyaku lagi.

“Itu, di sebelah lo!”

“Oh...”

 

Sekali lagi, jadi kau pikir ini adalah sapaan seorang pembaca kepada sang penulisnya? Dan kujawab, ya. Pastinya. Lalu untuk apa?

 

Satu dari lima naskah datang ke tanganku. Salah satunya berkaver merah dan di halaman wajahnya bertuliskan “Champagne Supernova dan Morra Bandoputih”. Arlan  -pembaca sebelumnya- mengatakan ini yang cukup apik dari seluruh naskah yang kupegang.

 

Aku tidak berpikir bahwa ini naskah yang cukup apik sampai aku sendiri yang melarutkan diri dalam kosakatanya. Pulang dari Jl. H. Montong 57, ranselku yang penuh dengan naskah langsung kubuka. Di antara buku-buku fisika dan kimia, tumpukan soal-soal trigonometri, limit, dan deferensial, tentang fotokopian anatomi tubuh manusia yang membuatku muak karena aku bukanlah anak yang menginginkan duduk di kelas IPA, buku-buku yang masih menungguku untuk kubaca dan kertas coret-coretan, naskahmu bersatu di atas mejaku bersama antrian naskah lain. Ah, harus kubaca yang mana? Dan tangan meraih satu-satunya naskah berkaver merah darah.

 

Champagne Supernova.

 

Kupikir kau hendak bercerita kepadaku tentang Oasis. Jauh sebelum membaca novelmu, aku sudah menjadi pendengar Oasis, White Lion, sampai pada yang paling membuatku jatuh cinta, Michael Jackson.

 

Karla-mu bercerita tentang masa-masa SMA-nya yang begitu gila bersama Will. Langsung kupegang kepalaku dan berkata: “Hei Aveline, kau terjebak dalam ilmu-ilmu eksak di mana berapa lilitan kumparan dalam besi saja patut dinyatakan penting.” Sial!

 

Lantas, aku menutup naskahmu dan meninggalkannya? Nyatanya tidak. Aku tetap melanjutkan Karla memulai ceritanya di laboratorium Fisika dalam proyek sederhana William Hakim yang melakukan pembuatan listrik statis. Kemudian muncul lagi dengan kata-kata nuklir, nobel, laboratorium, dan masih banyak lainnya berkaitan dengan eksak. Aku suka dengan caramu bercerita. Jujur saja, aku suka kau bermain dengan berbagai macam majas yang ada di mana semakin sering kutemukan di novel sastra dibandingkan dengan novel remaja lainnya.

 

Aku mulai tak percaya kalau ini adalah novel pertamamu, mungkin kau sudah pernah menulis cerpen di surat kabar, menerbitkan buku antologi cerpen atau puisi, bahkan pernah ambil bagian dalam penulisan keroyokan di suatu buku. Mana mungkin seorang yang dikatakan baru belajar menulis dan menerbitkan novel sudah bermain diksi dengan begitu manis, sangat manis?!

 

Karla melanjutkan cerita lagi. Sampai pada ide membuat malu Pak Juandi dengan seekor tikus yang meregang nyawa dengan leher setengah putus setelah Laut-mu menghajarnya dengan sekop. Aha, suatu perencanaan sempurna sebelum Will berangkat ke MIT untuk membuat nuklir yang bukan hanya dapat menghancurkan rumah Pak Juandi, tetapi juga dapat menghancurkan Pulau Jawa menyeluruh.

 

Aku jatuh cinta pada William Hakim, kepada Karla, dan kepada lelaki kecil yang kau namakan Troy. Aku suka kepada William Hakim yang lepas dari sosok yang dingin dan malah sebaliknya, sosok yang periang dan iseng. Aku suka kepada Karla yang perhatian dan peduli. Dan bisa jadi Troy adalah gabungan dari William dan Karla.

 

Suatu rancangan sempurnamu adalah membuat Will bukan hanya menjadi bayangan yang menggetarkan hati Karla, tetapi juga membuat Nicholas menjadi marah dan memutuskan untuk mendepak Will dari proyek nuklir di mana otak Will hampir keseluruhannya digunakan dalam proyek itu. Almost, Mr. William Hakim! Tetapi tuhanmu itu tidak ingin kau melanjutkan proyek itu, William.

 

“Some mistakes need to be punished. Some need to be forgiven – and that’s what we’re doing.”  Ya, aku percaya penuh kepada kata-katamu, Morra. Tak semua dapat dimaafkan, tak semua dapat diadili. Terlalu mutlak sebagai acuan jika hukum itu adalah hukum manusia. Ukuran apa yang dapat menyetarakan kesalahan dengan hukuman dari pikiran insan?

 

Selepas dari itu, kejutan-kejutan kecil masuk ke dalam naskahmu. Malam itu juga, kuhabiskan membaca seluruh isi naskahmu, kubalik halaman demi halaman, mataku melintasi seluruh barisan kata bagai bumi mengorbit kepada matahari. Kulahap semalaman dan paginya akan kutulis resensi yang meyakinkanku bahwa naskah ini memang harus terbit. Aku percaya kepada kata Arlan jika ini adalah novel yang akan menjadi menarik jika berhasil menjadi sebuah buku.

 

Pada saat rapat besar, aku dan keempat pembaca sebelumnya terus mencari cara untuk menggugah hati para editor. Percayalah akan satu hal ini, Morra! Aku tahu bahwa novel ini bukan hanya sekadar bercerita seperti kebanyakan novel lainnya. Novelmu akan memberikan suatu pencerahan kepada mereka yang tahu dan berharap jika Indonesia bukan hanya akan berhasil di berbagai macam olimpiade, tetapi suatu hari nanti Indonesia akan memiliki seorang yang berhasil menyabet nobel.

 

Beberapa bulan tak ada kabar tentang naskahmu, datanglah pesan bahwa naskahmu akan dijilid menjadi buku. Berwarna biru dengan sayap terbentang di wajahnya.Forgiven.  Ya, suatu penantian akan berujung. Entah itu kabar suka atau duka, entah kita akan menjadi Will, Karla, atau Nicholas. Entah apa yang akan kita lakukan untuk terus melanjutkan suatu babak kehidupan di berbagai macam permasalahannya. Will dan Karla adalah dua karakter berlawanan namun memberikan perpaduan yang manis, sangat manis.

 

Ah Morra, aku tak tahu bagaimana aku harus terus bercerita kepadamu. Rasanya cukup aku berterus terang atas pernyataan ini saja. Ini suguhan yang cantik di mana tak semua orang memiliki ide yang gemilang sepertimu.

 

Never stop to write, Miss Morra!

 

 

 

 

Jakarta, 5 September 2010 | 7.07

A.A. – dalam sebuah inisial

 



 

 

Detail buku:

Judul : Forgiven

Penulis: Morra Quatro

Harga: Rp. 36.000,-

Jumlah halaman: 266 halaman