Jumat, 18 Maret 2011

Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin Terancam Gulung Tikar

Keberadaan Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin di Taman Ismail Marzuki terancam tutup setelah pemerintah memutuskan untuk mengurangi subsidi. Dana yang dialokasikan selama ini Rp 300 juta pertahun dikurangi sejak tahun yang lalu menjadi Rp 164 juta pertahun. Januari ini keluar SK baru Pemda DKI hanya memberi Rp 50 juta per tahun.


Berikut saya kutip tulisan Sitok Srengenge lewat Twitternya mengenai keberadaan PDS H. B. Jassin.


1. Sejak kemarin saya menerima kabar sedih ini: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin terancam ditutup karena kekurangan dana. #PDS

2. Patut diketahui bahwa #PSD adalah aset nasional yang berharga karena merupakan pengarsipan sastra Indonesia paling lengkap.

3. Dirintis oleh HB Jassin, dengan dana pribadi yang terbatas, sejak tahun 1930-an, #PDS dibuka sebagai sarana publik.

4. Atas bantuan Gubernur DKI Ali Sadikin #PDS bisa menempati sebagian gedung di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta.

5. Pada 1976 dibentuk Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin sebagai penanggung jawab pengelolaan "harta karun" itu. #PDS

6. Selain tergantung pada subsidi Pemda DKI, #PDS berharap mendapat sumbangan dana dari pihak lain.

7. Pada 2006 #PDS telah mengoleksi 48.876 dokumen sastra berupa fiksi, nonfiksi, drama, biografi, foto pengarang, kliping, makalah, dll.

8. Sebagai sarana publik #PDS melayani siapa saja yang membutuhkan informasi seputar dunia sastra.

9. Tersedia ruang baca bagi pengunjung yang ingin membaca di tempat dan mesin foto untuk penggandaan naskah.

10. Para pengelola #PDS yang saya kenal adalah pribadi-pribadi yang ramah, loyal, penuh dedikasi, meski gaji mereka sangat sedikit.

11. Sering kali gaji yang kecil itu telat dibayar dan tumpukan kliping telat dikerjakan karena dana bantuan yang tak lancar. #PDS

12. Yang memprihatinkan: begitu banyak naskah berharga terpaksa dirawat secara sederhana dan manual. #PDS

13. Dokumen penting itu tentu akan lebih aman jika misalnya disimpan dalam mikrofilm, tapi jelas itu butuh biaya besar. #PDS

14. Mei 2006 Kompas pernah menulis: #PDS dibutuhkan dana sekitar Rp 3 miliar. Tidak banyak jika kita menyadari betapa penting kekayaannya.

15. Pusat data dan arsip seperti #PDS jelas tidak mungkin hidup mandiri karena sifatnya yang tak komersial. Ia mutlak perlu subsidi.

16. Mempertahankan #PDS berarti mempertahankan sebagian sejarah dan kebudayaan bangsa. Kandungannya tak terbatas pada sastra & bahasa.

17. Kabar terakhir: subsidi dari pemerintah makin dikurangi. Pemerintah agaknya tak menyadari pentingnya memelihara aset #PDS ini.

18. Akibat kurangnya subsidi itu, yang bahkan tak cukup untuk bayar listrik dan pemeliharaan fasilitas, #PDS hampir tak mungkin bertahan.

19. Jika #PDS tutup, bukan hanya peneliti dan mahasiswa sastra yang kehilangan. Generasi mendatang tak bisa baca sejarah sastra bangsanya.

20. Para pejabat mungkin tak peduli jika aset bangsa #PDS itu lenyap. Tapi, ayolah, cari jalan keluar. Ayo, jangan diam.

21. Relakah kita jika aset intelektual bangsa #PDS ini mati karena pemerintah kurang peduli? Relakah kita jika aset itu dibeli bangsa asing?

22. Beberapa teman menggagas #koinsastra untuk penyelamatan #PDS. Ayo dukung, tunjukkan bahwa kita peduli.

22. Sejumlah teman berniat membantu cari dana. Jika digabung dengan hasil penggalangan #koinsastra yakinlah #PDS bisa kita selamatkan.



Sila baca di http://twitter.com/#!/1Srengenge

Selamatkan PDS H. B. Jassin!

(Cerita-Cerita ) Dari Luar Jendela

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Maestaccato
Apa makna jendela bagi seseorang? Mungkin jendela hanyalah sebuah jendela. Celah kecil yang melekat di tembok yang sering terabaikan fungsinya yang sangatlah besar. Bagi saya, jendela memiliki dua fungsi: ventilator dan memandang dunia. Untuk yang pertama, tentu semua orang tahu apa itu ventilator. Yang kedua, bagaimana bisa memandang dunia lewat jendela?
Ini adalah sebuah cerita.

Saya memulainya dengan sebuah cerita dari sebuah jendela. Saat ini saya sedang berada di samping jendela sebuah kedai kopi. Menunggu seseorang. Dengan laptop yang ada di meja, dua buku yang akan menjadi pembahasan bagi kami, dan pandangan di balik sebuah jendela. Ah, ada apa di sana dengan pandangan dunia?

Pernah Anda bayangkan bila saat ini saya duduk di kedai kopi yang hanya bertembokkan beton? Hanya menghadapi laptop saja? Akankah cerita ini ada? Cerita saya menyaksikan seorang anak kecil berlari mengejar orangtuanya dan terjatuh. Cerita saya yang menyaksikan seseorang yang sedang kebingungan menunggu mobil pribadinya yang datang ke lobby. Cerita saya yang menyaksikan kedatangan teman saya yang sudah berada di luar kedai kopi.

13 cerpen Maestaccato yang renyah, sederhana, dan dikemas dengan tata bahasa yang ringan. Seorang penulis muda yang tak perlu menggunakan kata-kata yang rumit, membuat seseorang mengerutkan dahi, dan berpikir sambil berujar ‘maksud lo?’.

Caranya menghargai keberagaman, menghargai dunia mudanya, dan menjadi diri sendiri di zaman globalisasi. Itu yang diangkat Mae lewat cerpen-cerpennya. Bahkan satu cerpen yang sempat menghenyakkan saya yaitu “Mencari Buronan” yang tak segan-segan Mae ucapkan Tuhan sebagai buronan. Di antara ceritanya yang jenaka tersebut, saya langsung berpikir benarkah Tuhan adalah buronan yang kita cari selama ini? Mencari Tuhan.

Cerita “Berani Suci” yang dirawinya dengan sederhana dan ‘ngena’ banget sampai ke ujungnya. Di sana ia menceritakan seorang Ryu kecil yang ingin sesuatu seperti orang-orang mewah pada umumnya, namun ia tak bisa. Di antara idealisme terhadap bangsa dan rasa nasionalis, Mae menuliskan suatu pesan di sana.

Ya, Mae selalu meninggalkan sebuah pesan di sebuah cerpennya. Di kala kita mengakhiri sebuah cerpennya, kita mendapatkan sebuah pesan yang terukir di dalamnya.

Saya merasa Mae terlalu cepat dalam mengakhiri di beberapa cerpennya sehingga pembaca dapat mengetahui epilognya sebelum Mae menghentakkan pola pikir pembaca. Seperti di dalam cerpen “Catatan Mati” di mana Mae bisa lebih meluaskan dan meliarkan kata-kata yang harusnya ada.

Nah Mae, kalau kau tersesat di sini, membaca tulisanku tentang bukumu, aku hanturkan terima kasih atas cerita di balik jendelamu. Semoga di luar jendela tetap menginspirasimu untuk memandang dunia lebih jauh dan menuliskannya di dalam jendela.

Tabik!

Kamis, 17 Maret 2011

Titip Tanya Kepada Tuhan

kepada pak pos yang sering kujumpa ketika aku hendak mengirim surat
tolong sampaikan kepada Tuhan, kalau bapak ketemu denganNya di jalan:
apa Tuhan pernah meminta dibela untuk menjadi menang?

kepada pak supir bus kota yang sering kujumpa kala aku berangkat ke luar kota
sampaikan tanyaku kepada Tuhan, kalau bapak berjumpa denganNya di suatu kota:
dengan cara apa aku harus membela Tuhan jika Tuhan meminta dibela?

kepada pak masinis yang sering kujumpa saat aku hendak menghabiskan waktu di kereta
tolong sampaikan tanyaku kepada Tuhan, kalau bapak ketemu denganNya di lorong kereta:
mengapa Tuhan harus dibela dengan cara yang seperti itu?

kepada pak dokter yang sering kujumpa saat aku butuh obat anti rasa sakit
sampaikan tanyaku kepada Tuhan, kalau Tuhan menjadi pasienmu:
apakah Tuhan pernah mengajarkan umatNya untuk membela dengan amunisi?

kepada pak guru yang sering kujumpa kala aku butuh bantuan ilmu
sampaikan tanyaku kepada Tuhan, kalau bapak pergi berguru lagi kepada Tuhan:
kalau Tuhan tak perlu dibela, mengapa mereka membelaMu, Tuhan?

kepada pak loper yang selalu kutemui setiap pagi menyambut koranmu
titip tanyaku kepada Tuhan, kalau pagi ini kamu mengantar koran ke muka rumah Tuhan:
mengapa mereka membelaMu dengan mengorbankan nyawa sesama ciptaanMu?

kepada pak penjual bubur yang kunantikan dengan semangkuk bubur panas mengepul
sampaikan tanyaku kepada Tuhan, kalau pagi ini Tuhan membeli semangkuk buburmu:
lalu mengapa Tuhan cuma bisa menonton saja, apa Tuhan menghargai keragaman seperti itu juga?

kepada pak pelayan kafe yang sering kutemui ketika aku hendak memesan minum
sampaikan tanyaku kepada Tuhan, kalau Tuhan sedang ngopi di sini:
apa Tuhan sudah baca koran pagi kalau lagi-lagi ada bom, pembakaran rumah ibadah, pelarangan untuk berdoa kepadaMu, dan lagi-lagi nama Tuhan digunakan?

ah, untuk yang satu ini, biar aku yang menyampaikan kepada Tuhan sendiri
kalau aku menemuinya di sebuah tempat yang teduh dan ingin bermanja denganNya:

apa Tuhan tahu ada banyak cara untuk menyembah Sang Pencipta dan apa Tuhan pernah menolak doa-doa mereka dari segala macam keragaman tersebut?





Jakarta, 18 Maret 2011 | 04.26
A.A. - dalam sebuah inisial

Senin, 14 Maret 2011

Surat Kepada G

Pro G,



Aku tahu,
Di dalam sebuah pertemuan akan menjumpai sebuah perpisahan. Entah kapan, pasti akan ada saatnya. Seperti bus yang selalu melaju dari kota ke kota, ia akan mencari tempat persinggahannya untuk berhenti dan juga kembali. Hari ini kita kembali seperti setahun lalu lagi 'kan?

Esok,
adalah masa di mana aku tidak lagi menjumpai engkau. Bukan tidak lagi mengenal engkau. Ada satu fase di mana kita memang dipertemukan dengan bahagia, harusnya diceraikan juga dengan bahagia. Tak ada perpisahan yang membahagiakan, katamu. Meski kuinsafi saja bahwa memang aku tidak bisa menjadi orang yang bahagia dengan kehadiran perpisahan.

Berpisah denganmu.

Kehilangan adalah satu cabikan yang begitu perih. Namun tanpa kehadirannya, toh, hidup juga tidak akan berwarna. Ia menjadi salah satu warna pelangi yang berkelindan di kehidupan kita. Apa kau akan merasakan hal yang sama seperti yang kurasa?

Terima kasih untuk kesetiaan yang pernah kau berikan. Terima kasih untuk kesempatan yang tak bisa dan tak sama yang diberikan kepadaku dengan orang lain darimu. Terima kasih karena aku boleh mengenal dan menjadi bagian darimu. Untuk sebuah persahabatan dan totalitas, ribuan terima kasih tak terbayar untukmu.

Esok akan datang, tapi akankah ia sama? Aku yakin sangatlah berbeda. Tak ada aktivitas lagi di antara kita yang benar-benar membuat kita menjadi hidup dengan rasa percaya.

Hari ini kita berpisah.

Itu saja yang aku ketahui. Setahun mengenalmu, menjadi bagian darimu. Semoga kamu tidak pernah menyesal dengan sebuah pertemuan denganku. Aku pun percaya, akan ada orang yang lebih baik daripadaku esok.

Aku tidak memintamu untuk tetap ada, tetap menjadi teman seperjalanan. Hidup adalah improvisasi yang berujung dengan mati. Aku akan mengenal orang lain di dalam hidup ini, tentu juga dengan kamu. Meski semua memerlukan lagi adaptasi, memerlukan waktu untuk bisa saling memahami dan saling belajar. Di dalam perjalanan, kita akan menemukan banyak perbedaan yang pernah kita kenal dari seorang sebelumnya. Untuk itu, perpisahan tentu akan ada. Kehilangan akan datang. Dan aku tidak berharap kamu tetap ada di sini. Kita perlu belajar dari orang lain jua.

Kini, aku dan kamu akan berpisah,
hari ini kita berpisah tanpa syarat apa pun, tak perlu pertanda dan firasat apa pun.

Dan untuk semua yang pernah diberi,
terima kasih untuk semua totalitas dan inilah apologiku bila aku pernah mengoyakkan hatimu.







Jakarta, 15 Maret 2022 | 8.03
A.A. - dalam sebuah inisial



Selasa, 08 Maret 2011

Rela Merelakan

Kadang tak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita. Ada kalanya ia memang harus kita perjuangkan sampai kita dapatkan dan menjadi milik kita sampai mati. Ada kalanya pula ia diperjuangkan dan kita dapatkan, tapi ia pergi. Namun yang paling tragis, ia sudah kita perjuangkan sampai ujung, tapi ia tak pernah bisa menjadi milik kita.

Mencintai seseorang adalah soal keberanian. Kau harus berani menunjukkan totalitas sayangmu kepada ia yang pernah kau puja atau kau hanya cukup berani diam, menyimpannya seorang diri di dalam pikiran dan anganmu. Mungkin kau hanya berani mencintainya dengan diam-diam. Tetapi saat ia telah pergi, kau tahu bahwa semua sudah sangat terlambat. Sudah terlambat untuk kau katakan bahwa kau pernah mencintainya.

Saat kita telah siap mencintai sesuatu, tentu kita harus siap dengan segala kondisi: menerima dan merelakan. Kau tak cukup hanya dengan menerima tapi kau tak pernah menginginkan merelakan apa yang harusnya kau lepaskan. Cabikan karena kau tak sanggup merelakan jauh lebih sakit dan akan membuatmu lebih berdarah-darah.

Bahwa sejatinya cinta adalah soal pembelajaran. Kau akan belajar untuk menjadi setia dengan ketetapan-ketetapan yang diajukan kepadamu. Kau akan belajar untuk tumbuh menjadi seorang yang dewasa karena keberadaannya. Kau akan belajar bagaimana berbagi dan mengenal lebih dekat seseorang. Atau pula kau harus belajar merelakan mereka yang tak bisa menjadi seutuhnya dimiliki olehmu.

Kadang pula, kau akan melihatnya berbahagia. Tapi bukan bersamamu. Ia pergi bersama dengan orang lain yang tak pernah kau sangka. Di saat itu, kau akan mendoakannya dan senyummu akan semakin tersungging lebar bahwa kau tahu kau sudah bisa merelakannya yang bukan menjadi milikmu. Atau mungkin kau menyesali karena kau hanya mampu mencintainya dalam sunyi.

Tapi percuma saja bila kau hanya sanggup mendiamkan ia berbahagia tapi hatimu tercambuk bila kau tak bisa melihatnya berbahagia.

Seorang yang mencintai dalam sunyi hanya bisa menerima keadaan tanpa bisa mengubahnya. Membiarkannya terus berjalan demikian adanya. Kau hanya bisa berdoa agar ada sesuatu yang akan berubah daripadanya, meski pun itu tak akan bisa terjadi dalam sekedipan mata. Kau hanya bisa berharap dan berharap. Dan pada akhirnya kau akan menyadari bahwa kau pernah memberikan yang paling terbaik kepadanya: harapan untuknya. Tapi itu tak tampak.

Seseorang bisa dengan mudah jatuh cinta, tapi bisa juga dengan mudah melupakannya seperti air yang menguap bila dipanaskan. Atau sebaliknya, seseorang sulit untuk jatuh cinta tapi ketika harus melepaskannya, ia sudah seperti besi yang disatukan dengan las.

Dan semua itu kembali kepada pilihanmu: kau memperjuangkannya atau kau merelakannya karena kau hanya bisa jatuh cinta dengan sunyimu sendiri. Kau cuma mampu berkata cinta kepada dirimu sendiri, bukan kepada yang harusnya kau layangkan suratan cinta itu.

Boleh saja kita bermimpi bahwa ia akan jatuh hati kepada kita. Tapi kau hanya akan mampu mendengar suaranya, tanpa sanggup membalasnya. Melihatnya bergandeng tangan, tapi bukan tanganmu yang ia genggam. Menaruh rasa perhatiannya, tapi bukan kepadamu. Cinta itu pun butuh hal yang realitis dan melogika dengan akal sehat. Bukan hanya dengan soal perasaan.

Dengan menyimpan cerita cintamu rapat-rapat, kau telah mencintainya. Dengan menyembunyikan rahasia cinta kepadanya, kau sudah merelakannya berbahagia. Dengan memeluknya di dalam kehampaan, kau sudah berusaha mencintainya dengan cara yang lain dan memberikannya kebahagiaan. Merelakannya untuk menjadi bahagia.

Dengan merelakannya, kau sudah mencintainya dengan cara yang tak biasa. Dengan cara yang luar biasa yang pernah diberikan seseorang yang pernah dicintainya.

Jakarta, 8 Maret 2011 | 1.14
A.A. – dalam sebuah inisial

Selasa, 01 Maret 2011

Hujan Desember

1 Desember

terkadang desember ingin bercerita
tentang seorang insan yang berjalan
dalam kesendiriannya
diacuhkan, seperti ditiadakan

11 Desember

ia berjalan seorang diri
katanya: saya ingin jatuh cinta
tapi kepada siapa
saya cuma seperti anyaman yang asing


21 Desember

rasa letih memuncak
ia insafi menjadi sendiri
adalah hal yang menyakitkan
meski ia sudah belajar untuk jatuh cinta

31 Desember

langit tidak muak padanya
simpul berjangkar di angkasa menunggunya
teh tak lagi diseruputnya
ia tidak pernah tahu

: hujan desember yang pernah memeluknya





Jakarta, 2 Maret 2011 | 15.40
A.A. - dalam sebuah inisial

Sabtu, 19 Februari 2011

Totalitas Memberi, Totalitas Menerima


Satu-satunya yang membuat saya bahagia adalah kini saya bisa fokus kepada satu hal: belajar untuk lulus. Ada target di sana, ada cita-cita yang saya tanamkan di dalamnya. Tapi semua itu juga tak seirama bila saya tak luput oleh kesedihan bahwa saya pernah bekerja dengan cinta untuknya. Saya melepaskannya kini.

Ya, waktu yang dapat saya gunakan tinggal sejengkal lagi. Menghitung dua ratus jam lagi. Tak banyak lagi. Saya pernah belajar untuk jatuh cinta berproses di dalamnya. Saya tumbuh besar bersamanya dan saya belajar banyak darinya. Saya mengenal dan dikenal oleh banyak kalangan. Saya dituntut untuk tetap fokus dan bisa mengatur waktu meski lebih banyak melanggarnya daripada fokusnya.

Saya bekerja di belakang layar. Di belakang layar salah satu penerbitan. Tak banyak yang tahu kalau orang di belakang layar itu adalah saya. Ratusan macam pertanyaan hadir siapa sebenarnya orang yang berada di belakang layar itu. Saya cuma bisa tertawa ketika salah seorang pengikut berkomentar, “sesekali admin-nya (administrator) nongol dong.” Banyak pertanyaan dan pernyataan serupa yang keluar selama saya menangani.

Tapi dari sana, saya menemukan esensi. Saya mengakrabi diri dengan satu dan lainnya tanpa harus mereka ketahui siapa saya dan saya tak perlu cemas siapa mereka. Toh, akrab tak perlu tahu siapa seseorang itu bukan?! Selama kita merasa kita bisa dekat dan merasa nyaman, kita tak peduli siapa dia.

Rasa bahagia, sedih, jengkel, kesal, dan lucu selalu mewarnai hari-hari saya selama bekerja di dalamnya. Bahagia bila saya mengadakan suatu “acara” online diwarnai keberhasilan. Bahagia bila apa yang saya lakukan demi satu buku menuai keberhasilan: cetak ulang (meski saya insafi kebahagiaan saya tak sebesar kebahagiaan penulis yang mendapat kabar cetak ulang itu, haks!) Bahagia bila saya bisa dekat, hadir, dan masuk ke dunia “teman-teman” maya yang tak mereka kenali. Itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk saya.

Sedih apabila mendapat kabar buku yang pernah saya perjuangkan tak berdaya di pasaran meski saya sudah berupaya semampu saya untuk menggempurkannya. Sedih apabila mendapat teguran karena saya salah, saya lengah, dan saya salah mendapat informasi. Sedih apabila saya merasa hilang dan waktu saya tersita untuk hal yang lain. Itu adalah kesedihan sendiri untuk saya.

Jengkel bila e-mail yang saya tunggu-tunggu tak masuk pula. Jengkel bila saya sudah memberikan deadline kepada penulis, mereka seakan-akan mengabaikannya (dan pikir saya, mentang-mentang buku sampeyan sudah terbit, deadline bocah ini dilupakan). Jengkel bila di saat saya yang harus turun tangan, terpaksa orang lain yang turun. Itu adalah kejengkelan sendiri untuk diri saya.

Kesal jika media online tidak bekerja secara optimal untuk saya. Kesal jika tulisan yang harusnya saya publikasikan malah lenyap sendiri karena lupa disimpan. Kesal jika internet dalam kondisi naik-turun, sementara interaksi harus dikejar. Itu adalah kekesalan sendiri untuk saya.

Lucu karena komentar-komentar yang masuk di antara berharap dan bercerita. Lucu karena saya membaca balasan-balasan e-mail dari penulis yang dingin ternyata memiliki selera humor. Lucu karena saya pun bisa bercanda di dalamnya sambil bekerja. Ini adalah kelucuan sendiri untuk diri saya.

Ya, kebahagiaan, kesedihan, kejengkelan, kekesalan, dan kelucuan tersebut akan menguap tak lama lagi. Lagi-lagi saya akan kehilangan mozaik-mozaik yang pernah bersatu bersama saya. Betapa bernilainya sesuatu bukan kala ia ada, tetapi kala ia tiada dan mau tak mau kita harus melepasnya. Kini saya tahu betapa bernilainya semua itu, semua yang pernah saya lakukan, semua yang pernah saya terima.

Saya memberi sesuatu, saya mendapatkan sesuatu. Ada cermin kebahagiaan yang terpantul di dalamnya. Saya pernah menjadi bagian darinya. Saya pernah ada untuknya, untuk satu totalitas: totalitas bekerja. Saya bekerja dalam kondisi apa pun. Di kala bahagia dan tidak. Di kala sedih dan tidak. Di kala marah dan tidak. Semua itu mempengaruhi meski tak begitu tampak. Di antara keterbatasan waktu, saya bisa menyempatkan diri untuk bercanda di dalam dunia maya. Di antara sela-sela deadline, saya bisa mendapatkan bahagia. Saya terhibur di dalamnya walaupun sesungguhnya saya sedang bekerja.

Saya menikmati pekerjaan ini. Di belakang layar, tak banyak orang yang tahu, saya dikenal seperti apa diri saya. Dengan banyaknya sebutan untuk diri saya dari mereka. Membalas pesan dan komentar mereka satu per satu. Mewujudkan harapan mereka satu per satu. Dan antara saya dan mereka, kami dapatkan bahagia tanpa sengaja.

Di sini juga saya mengenal banyak orang dari berbagai macam karakter dan kepentingan. Mulai dari redaksi yang berdiri di belakang saya, menuntun saya, mendidik saya harus seperti apa, dan memberikan totalitas dengan berbagai kemudahan kepada saya. Sudi saya telepon meski sudah bukan lagi jam kantor. Sudi membalas pesan saya meski bukan di hari kerja. Sudi mengirimkan e-mail yang saya minta di tengah malam. (Ah, ya, begitulah saya. Aktifnya baru tengah malam, haks!)

Juga kepada penulis yang sudah menopang saya, membantu saya, dan (tak langsung) men-support saya. Rela menunggu jawaban dari saya untuk jadwal yang telah saya tetapkan. Rela menjawab pertanyaan saya meski saya beri waktu begitu minim. Rela saya ‘kejar-kejar’ agar simbiosis mutualisme di antara saya, penulis, dan redaksi bekerja dengan baik.

Sampai kepada pembaca. Tak ada nilainya harga sebuah buku bila tak ada pembacanya. Saya menjaga hubungan mereka dengan saya dengan berbagai macam cara. Seperti menanam bibit, mereka akan tumbuh subur, berbunga, dan berbuah bila kita merawat dengan baik. Saya merawat mereka dengan berbagai macam ide yang tumpah di kepala saya dengan satu tujuan: memetik buah setelah itu. Tanpa mereka, saya, redaksi, dan penulis pun tak akan bernilai apa-apa.

Dengan kepenuhan hati saya memberikan sesuatu, totalitas bekerja. Dan dengan kepenuhan hati saya menerima sesuatu, totalitas hasil. Selalu ada hal yang bertautan meski tak tampak jelas. Selalu ada hal yang bisa dibagikan meski dalam waktu yang minim.

Saya bahagia karena saya pernah menjadi bagian di dalam kebahagiaan mereka. Menjadi kebahagiaan di antara penulis, redaksi, dan pembaca. Saya pernah merasakan menjadi ketiganya. Saya pernah menjadi penulis, pernah menjadi redaksi, dan pernah menjadi pembaca. Saya tahu merasakan ketiganya dan tahu apa yang dialami oleh ketiganya. Dan setelah saya pernah memberi, saya pernah menerima, kini saya harus merelakannya. Itu menjadi kesedihan hari ini bagi saya.

Saya akan merindukan hal itu, pasti. Ah, mungkin sesekali saya akan mampir dengan status yang berbeda. Tapi nuansanya tentu akan berbeda. Ada kalanya memberi, ada kalanya menerima. Ada kalanya mendapatkan, ada kalanya merelakan. Bukankah hidup memang sudah dijodohkan untuk saling berpasangan demikian?

Ini adalah persembahan saya kepada mereka yang pernah berada di dalam lingkup kehidupan belakang layar ini. Tangkup sembah untuk kalian semua. Saya tak tahu harus dengan cara apa saya berterima kasih kepada kalian selain melalui ini. Terima kasih untuk totalitas memberi dan totalitas menerima dari kalian. Itu semua tak pernah bisa kubalaskan.

Dan saya tahu, esok tak akan lagi sama. Saya akan merasa kehilangan. Dan biarkan saya berada dalam lingkup kerinduan yang sangat mendalam.

Tabik!

 

Jakarta, 16 Februari 2011| 2.00
A.A. -  dalam sebuah inisial

 

Pro GM, sekali lagi, terima kasih untuk tawa, canda, dan kebahagiaan yang pernah kita beri dan terima.