Minggu, 31 Juli 2011
Ada Satu Kisah di Kota Itu
tak peduli dengan baju baru atau uang yang melimpah
tak peduli dengan makan dan minum yang sangat lezat
tapi berbuka bersama adalah hal yang dinanti
pulang, adalah rindu yang terpecah
tak peduli seberapa maaf yang diberikan
tak peduli seberapa doa yang dihanturkan
tapi maaf dan doa menjadi ibadah yang hakiki
pulang, adalah cerita yang ditunggu
tak peduli berapa lama engkau pergi
tak peduli berapa banyak yang kau raih di kota lain
tapi kebersamaan selalu menjadi hal yang begitu indah
Jakarta, 31 Juli 2011 | 18.18
A.A. - dalam sebuah inisial
Jumat, 29 Juli 2011
Kapan 'di' Diberikan Spasi?
'di' memiliki dua fungsi yaitu sebagai imbuhan dan sebagai kata depan (preposisi).
1. 'Di' sebagai kata depan
Contoh: di kamar → artinya berada di kamar
di waktu senggang → artinya saat waktu senggang
di mana – mana → artinya berada pada berbagai tempat
Kesimpulan: Jika 'di' berfungsi sebagai kata depan, maka 'di' harus dipisah. (Artinya 'di' menjadi suatu kata di depan kata keterangan berikutnya). 'Mana' adalah kata yang menyatakan suatu tempat atau waktu, jadi harus dipisah.
2. 'Di' sebagai imbuhan
Contoh: dimakan → artinya melakukan makan
diperlihatkan → artinya memberi lihat
dipercantik → artinya membuat cantik
Kesimpulan: Jika 'di' berfungsi sebagai imbuhan, maka 'di' harus digabung. (Artinya 'di' menjadi suatu imbuhan untuk suatu kata dasar). 'Di' digabung ketika akan digunakan sebagai penyambung kata kerja atau kata sifat.
Bagaimana kalau saya tidak tahu kapan harus diberikan spasi?
Caranya mudah: tentukan saja kata yang akan Anda gunakan tersebut, termasuk kata kerja atau tempat. Bila kata kerja, maka 'di' berfungsi sebagai imbuhan. Bila tempat atau nominal, maka 'di' berfungsi sebagai imbuhan.
Bagaimana dalam penulisan judul?
Bila dalam penulisan judul, akan ada dua perbedaan, tergantung fungsi 'di' tersebut sebagai imbuhan atau kata depan.
1. 'di' dalam judul sebagai imbuhan
Contoh:
a. Diberi Waktu → 'di' tetap kapital karena ada di awal kalimat.
b. Ia Disayang Tuhan → 'di' tetap kapital karena berfungsi sebagai imbuhan pembantu kalimat.
2. 'di' dalam judul sebagai kata depan
Contoh:
a. Di Mana Cempaka? → 'di' tetap kapital karena ada di awal kalimat.
b. Pada Surat di Kotak Posmu → 'di' tidak lagi kapital karena kata depan tidak pernah kapital kecuali ada di awal kalimat atau awal judul.
Aveline Agrippina
Sekadar belajar sekaligus berbagi
Perihal: Pamit
: Berlianevie Harjan
Ini sudah kuinsafi sejak lama bahwa suatu hari nanti kita memang akan memilih, menempuh, dan menikmati jalan kita sendiri-sendiri. Bahwa yang hanya bisa kita kenang adalah kenangan yang masih tersimpan rapi di dalam mozaik pikiran kita. Ada jalan di mana kita harus berpisah untuk bertemu lagi di suatu ketika. Mungkin di Puncak Everest, di Pegunungan Alpen, di Samudra Atlantik, di Laut Baltik, atau di jalur Gaza. Mungkin. Atau kemungkinan yang bisa terjadi adalah kita tidak pernah bertemu lagi.
Aku tahu, ini adalah soal melepas yang memang harus dilepas. Kehilangan memang sudah tidak bisa dipungkiri dan tak seorang pun mampu untuk menolaknya. Sejak kecil, kita sudah dididik untuk menerima kehilangan itu menjadi suatu hal yang lumrah, tetapi semakin bertumbuh dewasa, kita semakin mengerti bahwa kehilangan adalah hal yang begitu menyakitkan. Kita tidak bisa menerima lagi kehilangan itu sebagai hal yang biasa, tetapi juga bukan hal yang spesial. Justru itu, kita lebih memilih membenci apa yang dinamakan dengan kehilangan.
Waktu pun tidak memiliki hak apa pun untuk mengubah yang telah ada. Kehilangan adalah kehilangan, apa pun namanya, bagaimana bentuknya, seperti apa caranya, di mana, kapan, atau mengapa harus ada, ia akan tetap berwujud kehilangan. Itulah yang pernah dan akan kita rasakan: kesepian dan saling rindu di dunia yang beribu-ribu jarak yang memisahkan.
Di musim panas dan hujan, aku pun tahu, kita pernah mencipta kenangan dan bahagia pernah teranyam di setiap segmennya. Untuk itu, kenangan selalu berwujud meski tak sanggup kita sentuh. Dengan cara itu, di masa depan, kita bisa kembali ke hari-hari kemarin meski tak akan lagi sama.
Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik, sahabat dalam suka dan duka, dan penasihat yang ulung. Terima kasih sudah pernah mengisi waktu dengan bahagia dan air mata. Terima kasih sudah menjadi bahagiaku dan sedihku karena tiada itu semua betapa tawarnya hidup ini.
Aku selalu membenci sebuah pertemuan, karena kuyakin akhirnya adalah sebuah perpisahan.
Jakarta, 29 Juli 2011 | 23.09
A.A. - dalam sebuah inisial
Menunggu
Tidak. Aku memang tidak pernah berniat untuk bekerja sebagai perempuan yang hina dina ini. Tapi alasanku untuk menjadi perempuan seperti ini adalah alasan yang mahaklise. Aku pun tahu kamu juga mengatakan alasan ini bak nasi yang benar-benar telah membasi, sudah bertumbuhan dengan jamur, diselimuti cendawan.
“Malam, Mas...” kataku sembari membuka jaketku.
“Aku mau kamu memberikan pelayanan spesial.”
“Spesial seperti apa?”
“Spesial tanpa harus membuka pakaianmu.”
Aku terbelalak! Bagaimana bisa kali ini aku melayani pelanggan tanpa harus membuka pakaian? Di mana letak kenikmatan yang ada itu? Tapi seperti kata pepatah: “pelanggan adalah raja”, maka kulakukan kehendaknya demikian. Aku tak bertanya apa pun, toh dia sudah mengatakan maksudnya:
“Aku mau kamu menjadi teman curhat sepanjang malam ini. Dua jam saja. Hari ini hari terakhir aku bersama kamu.”
Oh, rupanya ia sudah ketahuan istrinya. Aku pun duduk di meja dekat ranjang tersebut. Kembali mengenakan jaketku. Di hadapanku, sudah ada wajahnya yang sudah menungguku untuk berbicara. Entahlah, ini hari yang tak biasa yang akan kuhadapi dengannya. Mengapa ia memintaku untuk menjadi sekadar teman curhat?
“Ternyata perilakuku jauh lebih hina daripada pekerjaanmu memuaskan hasrat laki-laki seperti aku. Kamu pun tahu apa saja yang aku lakukan setiap harinya. Ternyata mimpi kemarin malam benar-benar membuatku takut.
Aku dikejar oleh orang yang membenciku. Aku hendak dikuburnya hidup-hidup. ‘Kau memang lebih layak untuk mati,’ katanya. Saat itu, aku hendak berlari. Namun, kakiku tak ingin bergerak. Aku hanya bisa diam dan pasrah. Tubuhku pun diangkatnya dan dimasukkan ke tanah kubur. Di sana benar-benar menjijikkan.
‘Kamu jauh lebih menjijikkan daripada semua ini. Kamu adalah manusia yang paling menjijikkan di dunia ini. Kamu tidak boleh mati begitu saja. Kamu harus disiksa dengan hukum neraka yang paling berat.’
Tanah pun ditimbunkan ke dalam kuburku. Aku benar-benar merasakan panas di tubuh. Mendadak aku menjerit sakit. Punggungku dipecut setiap kali tanah ditimbunkan ke dalam kuburku. Kurasakan darah mengalir dari punggung. Tapi darah itu mengalir seperti pancaran air. Di kubur itu, aku terjebak banjir oleh darahku. Aku ingin bergerak, ingin memberontak. Semakin aku berusaha melawan, semakin pula aku tak bisa bergerak, dan semakin pula sakit karena luka di tubuhku itu. Saat kusadari tanah itu dipadatkan dengan diinjak. Benar-benar punggungku yang terluka itu seperti ditaburi garam. Perihnya luar biasa.
Aku sudah disiksa di dalam mimpiku sendiri. Benar-benar semalaman aku tak dapat tidur. Ketika aku berusaha tidur kembali, aku malah melanjutkan penderitaan itu di dalam mimpi. Tapi setelah mimpi itu, telingaku seperti mendengar suara,”kamu busuk. Kamu manusia busuk. Kamu pantas disiksa di mana pun. Kamu sudah menyiksa orang lain dengan bahagia kamu. Kamu busuk.”
Benar-benar. Aku ingin mati.”
“Mungkin itu bayangan kamu saja.”
“Aku tahu mungkin setan memperingatkanku kalau aku sudah ada dalam lingkarannya. Sudah kotor, najis, dan busuk. Aku penipu, penyelinap, dan juga laki-laki yang tak tahu diuntung.”
“Itu hanya mimpi dan halusinasi, jangan terlalu dipikirkan.”
“Kamu sudah boleh pergi, saya sudah selesai bercerita.”
Laki-laki itu memberiku satu amplop cokelat berisi uang. Entah berapa isinya, tapi kurasa bukan lagi puluhan juta, mungkin sudah seratus juta yang berarti aku sudah melayani 20 laki-laki dalam semalam. Benar-benar persetan!
***
Koran pagi dipegang anak di pinggir jalan ketika aku hendak berangkat ke pusat perbelanjaan. Di halaman awal tercetak wajah laki-laki kemarin. Ia telah mati. Bunuh diri dengan racun serangga setelah berkencan denganku.
Ia buronan polisi selama ini. koruptor, pembunuh, dan juga laki-laki tak tahu diuntung. Seperti kata dirinya sendiri.
Jakarta, 12 Juni 2011 | 0.34
A.A. - dalam sebuah inisial
Kamis, 28 Juli 2011
Suatu Cerita Tentang Masa
:G
Aku telah bercerita banyak tentang kamu
meski kita tidak bisa kembali seperti kemarin
tetapi datang ke rumahmu, berdiam di dalamnya
berbincang dengan banyak kawan
itu telah membuatku kembali pulang
kepada kenang yang ternyata tidak hilang
Tahukah mau aku berbicara tentang bintang
terkadang menjadi sendiri menjadi lebih nikmat
seperti bintang yang di angkasa
bintang yang sendiri lebih terlihat
daripada bintang yang bertebar di gelap langit
mereka tertawa, aku tak pernah bersikap untuk menghibur
Aku merasa kembali pulang kemarin
kedatanganku yang seperti pencuri membuatmu bahagia
ternyata setelah kehilangan, datang kembali memang dikatakan pulang
aku suka dengan tubuhmu yang bersemayam dengan kata-kata
meski kini kita tidak lagi bisa merengkuh dan mereguk
kita pun berbagi banyak perjalanan sepanjang kita pergi sendiri
G, ternyata banyak yang berubah setelah lama kutak sambangi kau
jalan-jalan menuju rumahmu kini sudah bertumbuh dengan ruko-ruko
semakin banyak kemacetan yang kulihat karena truk yang hilir mudik
bunga di taman itu sudah semakin banyak dan semakin bermekar
kata ibumu, bunga itu sempat layu karena aku tak lagi kemari
dia pun merasa kehilangan, seperti aku yang kehilangan kamu
G, ketika kita tak mampu kembali ke masa kemarin dan tidak lagi bisa menjadi kemarin, ada yang membuat kita kerasan dan tetap betah dalam mengingat masa kemarin yang begitu manis dan terlalu sayang untuk dilupakan, ada cerita yang harus terus terawi dengan bahagia dan membuat kita semakin cinta untuk pulang, yakni kenangan.
Jakarta, 28 Juli 2011 | 17.05
A.A. - dalam sebuah inisial
Sabtu, 23 Juli 2011
Belajar Menulis Bersama Naning Pranoto
| Start: | Jul 23, '11 |
1.Cermin (cerita mini/flash), cerpen (cerita pendek) dan cerpan (cerita panjang masih kategori cerpen)
2. Novel pendek (novelet) dan novel panjang
3. Catatan Harian dijadkan Cerita (From Diary To Be Story)
4. Artikel dan profil
5. Mini Biografi
6. Kisah Nyata
7. Tulisan akademis/ilmiah populer
Kirimkan contoh karya Anda panjang tulisan 1 (satu) halaman dengan spasi 1,5 - kertas kuarto, huruf New Roman Times - e-mail: rayakultura@gmail.com .
Saya hanya melayani yang SERIUS BELAJAR MENULIS dengan sistem TEORI, PRAKTIK dan DIALOG/DISKUSI. Syarat lainnya; MAU MEMBACA...tanpa mau membaca sulit untuk mewujudkan tulisan. Belajar dimulai bulan SEPTEMBER 2011. Syarat dan ketentuan lainnya akan saya kirimkan setelah saya membaca karya Anda.
Silakan kontak Ibu Naning Pranoto di Facebooknya untuk info lebih lanjut.
Kamis, 21 Juli 2011
Tentang Rumah Penuh Kenangan
Rumah adalah kotak pandora yang tak bisa berdebu, selalu mengingat tentang kelahiranmu sampai saat kau harus dilepas orang tuamu.
Rumah adalah harapan di masa mendatang yang selalu rajin dipupuk agar bertumbuh subur.
Rumah adalah pabrik yang memproduksi kehangatan tiada henti dan tak pernah mengenal berhenti produksi.
Rumah adalah tempat untuk belajar terbang hingga pada waktunya kita pun akan meninggalkannya untuk mengangkasa.
Rumah adalah rumah dengan definisi yang tak bisa dijangkau oleh aksara.
Akupun akan rindu pulang, suatu hari nanti.
Jakarta, 21 Juli 2011 | 22.52
A.A. - dalam sebuah inisial