Jumat, 01 Juli 2011

Vale!



kita, di antara cangkir yang hangat dan gelas yang berkeringat
seperti uap yang menguap dari mulut cangkir
seperti embun yang membasahi tubuh gelas
kupikir kau dan aku seperti uap dan embun: pergi dan kembali
tapi, kapan?


hujan pun menyaksikan pembicaraan intim kita
bukan aku tak suka, tapi aku lebih semakin merasa terperih
kadang kita bisa mencintai hujan
tapi bisa membencinya seperti hari ini, hari ini aku membencinya

ia tak bersalah apapun kepadaku, tapi dengan datangnya
ada seribu kenangan yang mengalir dalam langkah kita
ia mengingatkanku tentang caranya menangis
meski aku selalu bingung bagaimana caranya mengeluarkan air mata

gulana datang ketika gundah pun tiba
kita sanggup melewati waktu, tapi tak sanggup menghentikannya
dan saat itulah,puncak segala puncak aku harus siap
dan kaupun juga, seharusnya siap

pada akhirnya akan ada punggung yang saling berbalik
ada mereka yang berangkat ke negeri timur
ada yang hanya diam di kotanya saja, menunggu pulang
dan ada juga yang hanya mampu menatap cakrawala

ketika kita tahu soal ini, mungkin kita tak akan memilih
biar saja angin membawanya berlari ke mana pun inginnya
dan agar ada waktu yang berjumpa di hari depan
akupun kelu melepas, tapi aku bahagia demi hari depan




Serpong, 1 Juli 2011 | 20.00
A.A. - dalam sebuah inisial


Senin, 27 Juni 2011

The Naked Traveler 3

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Trinity
A wise traveler never despises his own country. - Carlo Goldini



Menurut saya, Trinity seperti itulah. (Mungkin) ia memang seorang pelancong yang bijaksana, yang tak pernah memandang rendah negaranya sendiri. Seperti kata Carlo Goldini, Trinity selalu mengatakan dengan mengitari negara-negara, ia semakin cinta dengan Indonesia dengan segala keruwetannya.



Saya kecewa dengan buku ini. Terus terang, saya dilanda rasa kecewa karena saya gagal mendapatkan edisi nonrevisi yang sebenarnya dipublikasikan juga di blog The Naked. Tapi, setelah saya bandingkan yang saya punya dengan edisi nonrevisi, malah semakin vulgar kalimat yang dituju dan dianggap terlalu ‘menantang’ adrenalin. (Silakan baca keterangan soal revisi ini di blog The Naked – http://naked-traveler.com)



Dibandingkan dengan buku keduanya, buku ini saya rasa jauh lebih sempurna. Puas membacanya, puas ngakaknya, dan puas jalan-jalannya. Meski lebih tebal The Naked Traveler (TNT) 2, tetap saja saya lebih menjagokan TNT3 untuk kali ini. Trinity lebih liar dalam menulis di dalam buku terbarunya. Kita diajak untuk mengangkat ransel, bertualang ke mana saja, dan kembali dengan cerita.



Trinity bukanlah penulis yang canggung dan malu dengan dirinya sendiri. Ia jujur dalam bercerita dan jelas-jelas menulis kalau dirinya tidaklah memiliki postur tubuh yang lebih layak dibilang backpacker. Malah, dengan cara inilah, Trinity mengundang kita bahwa faktor U, postur tubuh, dan segala kekurangan bukanlah hambatan untuk berjalan-jalan.




72 cerita dibagikan oleh Trinity dalam buku ini. Dari 72 cerita

tersebut, saya memilih empat cerita yang terbaik versi saya.



Onsen,Mandi Rame-Rame

Wah, rasanya saya tak perlu bercerita banyak soal bagian ini. Membacanya benar-benar menanatang adrenalin kaum adam. Trinity bercerita blak-blakkan soal Onsen, permandian air panas di Jepang, yang tidak boleh dilewatkan. Anda mesti membacanya sendiri.



Joroknya China

Benar-benar ngakak, membuat mual, dan tiba-tiba ingin membuktikannya sendiri. Itu yang saya rasakan ketika membaca bagian ini. Dari judulnya saja kita sudah dapat menebak isinya sebagai apa. Tapi membacanya benar-benar membuat keringat dingin.



Under The Stars

Romantis benar sang supir. Bisa-bisanya menemukan tempat untuk melampiaskan HIV (hasrat ingin vivis) di tempat yang super romantis: di bawah bintang-bintang. Trinity tidak cablak dalam cerita ini, malah santai dan jujur sekali. Itu tidak mengurangi kelucuan ceritanya.




RW & B1

Speechless. Speechless. Speechless. Yeah, I’m speechless. Silakan Anda menganggap saya berlebihan. Tapi sudah dua orang yang saya sodorkan cerita ini, mereka tak beda dengan saya, berhenti di salah satu segmen yang paling tragis yang tidak berkeprianjingan. Meski saya sudah sering mendengar cerita seperti ini, bahkan saya pernah ditawarkan menikmati sang B1 oleh guru agama saya sendiri, tetap saja membacanya membuat saya diam dan terbayang-bayang hal yang tak bisa dibayangkan.



Yang masih saya anggap sebagai kekurangan dalam buku ini adalah kertasnya yang tidak berwarna untuk foto. Dengan harga buku seperti itu, tentu tidaklah setara dengan tampilan yang harusnya ada. Buku perjalanan harusnya berwarna, setidaknya hanya untuk di bagian yang terdapat foto. Ini malah sudah menjadi penyakit B First yang banyak menerbitkan buku traveling tetapi kertas tak berwarna.



Karena yang saya dapat adalah edisi revisi, saya malah menganggap kalimat yang (katanya) direvisi itu semakin vulgar. Nah lho, apanya yang direvisi?



Di antara segala kelebihan dan kekurangan, toh, tujuan Trinity adalah mengajak kita untuk mencintai negeri sendiri setelah merasakan ‘derita’ di negeri orang dan jangan pernah kapok dengan nikmatnya traveling.





Jakarta, 27 Juni 2011 | 23.59


A.A. – dalam sebuah inisial


Sebelum Berangkat



Kapal itu akan segera berangkat, kau tatih perihmu di antara luasnya samudra raya. Kau terlalu tangguh sebagai manusia. Pula kau terlalu siap untuk dijadikan manusia dan bermain-main di wahana yang begitu keras untuk menghardik mereka yang lemah. Aku hanya ingin mengantarmu.

Aku hanya ingin mengantar pedihmu, biar karang tahu kau bukanlah manusia biasa.

"Jangan antar aku dengan air mata, kita belumlah mati."

Baiklah, kuturuti permintaanmu, kukabulkan seakan aku tuhan yang tahu kebutuhanmu, tahu segala keluh kesahmu, tahu dan juga merasakan godam yang menghunjam dinding hati yang bisa saja remuk setiap saat. Hati manusia akan remuk meski ia dibuat dari baja sehebat apapun, sekuat apapun, ketika hati itu tak lagi bisa membuka tabir rahasianya.

Tubuh kita bersatu, sesaat saja. Langit hanya menyaksikan tingkah kita yang begitu lancang di muka umum. Toh, bagi mereka, ini hal yang lumrah ketika kapal hendak berangkat untuk melepaskan kekasih. Karena mereka pun berbuat hal yang demikian sama dengan kita. Tak ada yang perlu dipertentangkan dengan perpisahan.

Kubisik doa di dalam jamah-jamah setiap langkahmu. Bendung air mata memang kuat ketika dipaksa untuk bertahan. Biar di antara kekuatan bendungan dan doa yang dianyam dalam jejakmu yang menyisakan bekas di setiap langkah, kau tetap ada.

Dan... semoga kaupun kekal di antara dunia yang fana. Di antara keberangkatan yang tak seorangpun tahu harus berada sampai kapan dalam ziarahnya ini.





Jakarta, 27 Juni 2011 | 21.30
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 24 Juni 2011

Gone Too Soon



Like a comet
Blazing 'cross the evening sky
Gone too soon

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night

Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon

Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon

Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon


Michael Jackson
June 25, 2009 - June 25, 2011


Dua Pertanyaan Sederhana

ada dua pertanyaan sederhana yang kuyakin kau tak mampu untuk menjawabnya:

pertama: mengapa harus pergi?

dan yang kedua: apakah kita akan berjumpa lagi?






Jakarta, 24 Juni 2011 | 21.07
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 21 Juni 2011

Aku Pulang

Janjinya sebelum berangkat adalah ia akan pulang. Sebenarnya aku tidak menghendakinya untuk pergi. Tapi aku tak pernah memiliki kuasa untuk melarangnya meski aku ibunya. Begitu pula dengan suami dan anak-anaknya yang memang harus melepas kepergian ibunya.

"Aku akan rajin berkirim surat, Bu. Semua akan baik-baik saja."

Baiklah, aku percaya semua akan baik-baik saja. Tapi hati ibu mana yang tidak akan pilu bila harus berpisah dengan anaknya sangat jauh? Akupun demikian sebagai ibu. Ada banyak untaian doa yang kukirimkan kepada Tuhan sebagaimana seharusnya orang percaya kekuatan doa adalah kekuatan yang dahsyat. Biar kekuatan itu melindungi anakku sampai ke negeri yang akan dia tuju kelak.

"Aku akan pulang, Bu. Biar kita bisa merenovasi atap rumah kita, Bu."

Lagi-lagi aku percaya kepada janjinya kalau ia akan pulang. Hari sudah beranjak menjadi sore, akupun berdoa kepada sang pencipta agar hari esok jangan lekas datang. Aku masih menginginkannya untuk berada di sini. Biar aku puas memeluk anakku yang tega meninggalkan aku, suami, dan anak-anaknya. Tapi, aku tak kuasa untuk menahannya.

Pagi pun tiba, tas pun telah dikemasnya sedari malam kemarin. Waktunya ia untuk berangkat. Aku memeluknya dengan air mata, dengan doa, dan dengan harapan agar ia lekaslah kembali.

"Berkirimlah surat biar aku tetap tahu kabarmu meski jauh di sana."

Punggungnya tak lagi terlihat. Ia sudah pergi. Diantar oleh suami dan anak-anaknya. Mataku tak lagi sanggup membendung air mata yang seketika hancur saat ia pergi. Ya, ia sudah pergi dan yang bisa kutunggu kini hanyalah surat yang berisi kabar-kabar darinya.

Tak pernah ada telepon. Tapi surat pertama telah datang. Ia hanya mengabari kalau ia sudah tiba di negeri yang ia nantikan. Ia akan memulai bekerja dengan keluarga yang baik. Hatiku lega luar biasa atas berita itu. Berita yang sangat baik.

Di bulan kedua, bulan ketiga, bahkan sampai bulan keenam, rutin surat datang ke rumah. Setelah itu tak ada kabar. Isi suratnya tetaplah sama: aku baik-baik saja dan akan lekas pulang.

Tak ada kabar lagi yang menyatakan ia baik-baik saja. Akupun khawatir terjadi apa-apa dengannya. Nurani ibuku berbicara. Televisi terus memancarkan siaran, tapi bukan kabar anakku. Ingin aku pergi ke sana, mengetahui keberadaannya. Tapi bagaimana caranya?

Gerimis air mata. Aku terbangun dari mimpi yang sangatlah buruk. Anak itu tidak sebahagia yang ditulis dalam suratnya. Ia menyembunyikan segala deritanya. Ia berdusta kepada kami. Mimpi sudah mengabarkan apa yang terjadi kepadanya. Segala pekik jeritnya terdengar olehku. Segala perih luka kurasakan. Segala sakit pilu membuatku berurai air mata. Begitu sesak.

Tapi, sekali lagi, kepada siapa aku harus mengaduh? Kepada siapa aku harus mengeluh?

Cuma doa yang bisa kukirimkan kepadanya. Surat-surat kupeluk yang selalu kuletakkan di samping fotonya. Selalu terdengar suaranya yang akan pulang. Benar-benar aku rindu. Ini rindu ibu kepada anaknya yang menderita. Kenapa pula ia tak jujur kepadaku sebagai ibunya?

Lagi-lagi aku bermimpi. Ia datang, bukan pulang ke rumah. Ia datang di sebuah ruang yang gelap. Setelah itu, aku mendekapnya. Ia telah tak bernyawa. Aku menjerit sejadi-jadinya. Membangunkan seisi rumah. Aku menangis karenanya.

Pagi itu, benar saja, kabar disampaikan kepadaku. Anakku telah tak bernyawa di negeri orang. Ia sudah membunuh orang dan balasannya adalah membunuh anakku. Anakku pembunuh. Dendamnya yang membatu dibalaskan dengan pisau yang menancap di tubuh orang lain. Siksaan yang diterimanya dianggap pantas terbayar bila nyawa orang itu melayang.

Sekarang aku tak bisa lagi menangis. Aku hanya bisa bertanya di mana aku harus mengaduh?

Kudengar suaranya yang memanggilku. Ia pulang hari ini. Ia pulang tanpa raga dan jiwa. Kudengar suaranya memanggilku. Akupun merasa sesak. Sesak sejadi-jadinya.

"Inikah yang dimaksudnya 'pulang'?" tanyaku kepada matahari.



Jakarta, 21 Juni 2011 | 18.14
A.A. - dalam sebuah inisial

Senin, 20 Juni 2011

Melepas Hari

ketika masa itu sudah harus dilewati
dan harapan seperti hampir putus
lepaskan saja
dan biar waktu meleburnya menjadi baru



Jakarta, 21 Juni 2011 | 6.28
A.A. - dalam sebuah inisial