Selasa, 14 Desember 2010

60 Tahun Karl May di Indonesia

Start:     Dec 21, '10
End:     Dec 22, '10
Tidak banyak buku fiksi terjemahan yang bisa bertahan hingga 60 tahun (1950-2010) lamanya. Seusai pengakuan kedaulatan RI pada 1949, industri perbukuan di Indonesia mulai menggeliat, dan penerbit NV Noordhoff-Kolff, Batavia, menerbitkan buku: RAJA MINYAK karangan Karl May (1842-1912), seorang penulis buku petualangan asal Jerman, dalam bahasa Indonesia. Tak lama kemudian, karena animo bagus, buku-buku itu diikuti oleh lebih dari 20 judul lainnya.

Buku-buku itulah yang kemudian menginspirasi para remaja Indonesia pada masanya seperti Emil Salim, Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Daniel Dhakidae, Seno Gumira Ajidarma, Gola Gong, Ayu Utami, dan ribuan orang lainnya untuk mengenal arti kemanusiaan; persahabatan orang-orang yang berbeda suku, bangsa , kepercayaan; cinta alam terbuka dan lingkungan hidup; membangkitkan rasa ingin tahu dan penyelidikan; yang kesemuanya dibungkus dalam karya berbentuk "Kisah Petualangan".

Siapa mengira, siapa menduga, buku-buku itu selama 60 tahun tetap dibaca hingga masa kini, dan kiranya akan berjalan terus dari generasi ke generasi berikutnya.

GOETHE INSTITUT bekerja sama dengan Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) mengundang Anda untuk menghadiri acara: "60 Tahun Karl May di Indonesia" yang diselenggarakan di Goethe Institut, Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat dengan acara sbb:

Selasa, 21 Desember 2010
17.00 - 18.00 Pembukaan dilanjutkan pemutaran film: "100 Tahun Karl May di Indonesia" (40 menit)
18.30 - 19.30 Bedah buku: "Kehidupan dan Upayaku: Suatu Otobiografi dari Karl May", dengan pembahas: Seno Gumira Ajidarma. 19.30 - 21.00 Pemutaran film "Karl May" (bagian pertama) karya Hans Juergen Syberberg (90 menit), subtitel Bahasa Indonesia.

Rabu, 22 Desember 2010
17.00 - 18.00 Pemutaran film biopic: "Si Pengkhayal dari Saksen" (40 menit) subtitel Indonesia
18.30 - 19.30 Diskusi panel "Peran dan Pengaruh Karl May: Masa-kini, Sekarang, Masa-mendatang" dengan pembicara: Franz Magnis-Soeseno, Goenawan Mohamad, dan Akmal Nasery Basral.
19.30 - 21.00 Pemutaran film feature "Karl May" bagian kedua, karya Hans Juergen Syberberg (90 menit), subtitel Bahasa Indonesia.

Minggu, 12 Desember 2010

Berapa Buku yang Anda Baca Tahun 2010?


Sudah berapa buku yang saya baca tahun ini? Ini sebuah pertanyaan yang membuat saya sendiri bingung. Tiba-tiba pertanyaan itu hadir sendiri tanpa saya memintanya. Ya, sudah berapa buku yang saya baca tahun ini. Memang saya bukan orang yang rajin untuk membuat daftar berapa banyak buku yang saya baca setiap bulannya. Yang jelas memang setiap bulan saya pasti menghabiskan buku, entah berapa banyaknya buku itu.

Nah, sambil menjawab pertanyaan itu, saya akan membuat daftar buku-buku yang pernah saya baca tahun ini. Ini masih yang benar-benar saya punya dan yang memang benar saya baca, terlepas dari yang saya pinjam atau saya lupa buku yang pernah saya baca tersebut saya berikan kepada orang lain. (List tidak menunjukkan peringkat)

 

1.       Sejuta Hati untuk Gus Dur, Damien Demantra, Gramedia Pustaka Utama

2.       Perahu Kertas, Dewi “Dee” Lestari, Bentang Pustaka

3.       Epitaph, Daniel Mahendra, Kakilangit Kencana

4.       Memory And Destiny, Yunisa KD, Gramedia Pustaka Utama

5.       100+ Fakta Unik Piala Dunia, Asep Ginanjar dan Agung Harsya, Serambi

6.       Marmut Merah Jambu, Raditya Dika, Bukune

7.       Larasati, Pramoedya Ananta Toer, Lentera Dipantara

8.       Kevin: Belenggu Masa Lalu, Torey Hayden, Qanita

9.       Cinta Mati, Armaya Junior, GagasMedia

10.   Hummingbird, Lavyrle Spencer, GagasMedia

11.   Mendua, Indah Hanaco, GagasMedia

12.   Kisah Langit Merah, Bubin Lantang, GagasMedia

13.   The Edge of Impropriety, Pam Rosenthal, GagasMedia

14.   Cecilia dan Malaikat Ariel, Jostein Gaarder, Mizan

15.   Cinta itu Kamu, Moammar Emka, GagasMedia

16.   Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, Andrea Hirata, Bentang Pustaka

17.   The Winner Stands Alone, Paulo Coelho, Gramedia Pustaka Utama

18.   The Naked Traveler 2, Trinity, B First

19.   Gege Mengejar Cinta, Adhitya Mulya, GagasMedia

20.   Pillow Talk, Christian Simamora, GagasMedia

21.   Here, After, Mahir Pradana, GagasMedia

22.   Leaving Microsoft To Change The World, John Wood, Bentang Pustaka

23.   Refrain, Winna Efendi, GagasMedia

24.   Negeri 5 Menara, A. Fuadi, Gramedia Pustaka Utama

25.   Soe Hok-gie... Sekali Lagi, Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan R., Kepustakaan Populer Gramedia

26.   Satin Merah, Brahmanto Anindito dan Rie Yanti, GagasMedia

27.   Bintang Anak Tuhan, Kirana Kejora, Hifest Publishing

28.   The Pilot’s Woman, Dahlian, GagasMedia

29.   Cruise On You, Margareta Astaman, Atria

30.   How to Simplify Your Love, Marion Kustenmacher & Werner Tiki Kustenmacher, GagasMedia

31.   The Wednesday Letters, Jason F. Wright, GagasMedia

32.   42 Trik Manipulasi Foto di Internet, Ali Zaenal, Mediakita

33.   Petals From The Sky, Mingmei Yip, GagasMedia

34.   Forgiven, Morra Quatro, GagasMedia

35.   Around The World in 80 Dinners, Cheryl & Bill Jamison, GagasMedia

36.   Bad Kitty, Michelle Jaffe, GagasMedia

37.   Jawablah Aku, Susanna Tamaro, Gramedia Pustaka Utama

38.   East Wind West Wind, Pearl S. Buck, Gramedia Pustaka Utama

39.   Iluminasi, Lisa Febriyanti, Kakilangit Kencana

40.   The Man Who Loved Books So Much, Allison Hoover Bartlett, Alvabet

41.   Mr. Darcy, Vampyre, Amanda Grange, GagasMedia

42.   You Belong To Me, Johanna Lindsey, GagasMedia

 

Untuk buku terbaik tahun ini versi saya jatuh kepada “Negeri 5 Menara”

Untuk buku dengan gaya bahasa terbaik versi saya jatuh kepada “Kisah Langit Merah”

Untuk desain cover terbaik versi saya jatuh kepada “The Wednesday Letters”

Untuk buku yang pailing tebal yang saya baca tahun ini tentu saja “Soe Hok-gie... Sekali Lagi”

Untuk penulis dengan ide kreatif terbaik versi saya jatuh kepada “Satin Merah”

Untuk penulis dengan tema menarik versi saya jatuh kepada “Epitaph”

Untuk penulis terbaik versi saya pastilah “Pramoedya Ananta Toer”

 

Oh ya, tahun ini juga saya mendapatkan beberapa kiriman buku dan beberapa juga yang tidak sempat saya baca. Hehehe...

Ada dari Ali Zaenal alias Kang Jenk Planet yang (akhirnya) menerbitkan bukunya yang terbaru, “42 Trik Manipulasi Foto di Internet”. Ada hadiah World Book Day dari GagasMedia yaitu “The Wednesday Letters”, “Refrain”, dan “You Belong To Me”. 



Saat berkunjung ke World Book Day di Museum Bank Mandiri juga saya mendapatkan dua buku tetapi saya lupa judulnya. Ada hadiah (iseng-iseng) dari Kick Andy yaitu “Berdamai dengan Kematian”.




Dan karib maya (dan nyata) saya, Tante Rike Jokanan itu, memberikan saya tiga buku sekaligus yaitu “Larasati”, “East Wind West Wind”, dan “Cecilia dan Malaikat Ariel”. Saat bertemu dengannya di Festival Pembaca Indonesia, lagi-lagi buku diberikannya kepada saya, “The Man Who Loved Books So Much”. Ada lagi dari teman Goodreads Indonesia, Om Momo yang memberikan saya “City of Ember”.





Nah, begitulah untuk menjawab pertanyaan saya tadi. Kalau Anda, berapa buku yang sudah Anda baca tahun ini?



Jakarta, 13 Desember 2010 | 1.03
A.A. – Perayap Buku

Selasa, 07 Desember 2010

Here, After

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Mahir Pradana
“Saya bukan orang yang pandai mencerca.”



Itu yang saya katakan ketika seorang Mahir Pradana hendak mengirimkan sebuah file yang diharapkannya agar saya membaca dan memberikan kesan apa yang tertinggal setelah saya membacanya. Belum naik cetak dan belum melewati proses proofreading. Saya tahu reaksinya setelah saya menuliskan kalimat itu di dalam gadget saya.



Setelah e-mail darinya saya terima, saya hanya mengunduhnya. Mendiamkannya dalam memori komputer dua hari. Setumpuk pekerjaan sudah menanti saya dan saya pikir tak ada salahnya menomorduakan D.I.A.N.A. itu. Ah, apa pula Diana itu? Manalagi sebagai tagline-nya adalah “Depressing Infatuation about a Never-ending Agony”. Maaf, tak ada waktu untuk menikmati bacaan yang membuat orang menjadi berhalusinasi luas.



Rasa berdosa lahir ketika saya teringat bahwa saya masih berhutang. Saya berjanji kepada Mahir bahwa saya akan mengatakan apa kesan saya setelah membacanya. Saya baru membaca dua halaman saya, kemudian berpindah lagi pada file lainnya. Ketika usai saya menyelesaikannya, tak ada salahnya saya membacanya.



Menginjak bab pertama dari novel ini, saya tertawa saja. Adi. Oh, ini dia rupanya Adi yang menjadi tokoh utama. Dan pikiran saya kembali menari bahwa Adi dan Diana pasti akan menjadi tokoh utamanya. Klise! Begitu juga ketika masuk ke bab kedua. Untuk apa Mahir yang sedang menjadi dewa di novel ini seenaknya saja menulis Adi dan Diana sepanjang itu?



“Gila!”



Tanpa sadar saya mengucapkan kata itu ketika saya berada di bab keempat dalam novel ini. Ketika Putra telah usai bercerita. Saya sedang membaca apa saat ini?



Pantas saja, di senja ketiga di bulan April 2010, tim dewasa berusaha untuk menetaskan naskah yang saya pegang ini sebagai sebuah buku. Saya tahu jawabannya. Tahu mengapa tim firstreader memperjuangkan naskah ini. (Bukan karena sang penulisnya ada dalam rapat besar tersebut)



Hendak apa si Mahir ini? Saya bertanya-tanya sendiri. Siapa tokoh utamanya? Saya benar-benar jengkel sekali dengan novel ini. Mana klimaks dan antiklimaksnya? Eh, apakah ini soal cinta? Saya terdiam dengan pertanyaan terakhir. Di tengah rasa jengkel saya yang semakin membuncah setelah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya menari-nari, saya insafi satu hal: dia bermain dengan cinta.



Matilah saya malam itu. Saya semakin gencar menghabiskan bab demi bab novel tersebut. Persetan dengan tengah malam di mana esok hari saya masih ditunggu oleh tugas yang membumbung tinggi. Semakin malam, saya semakin dilarutkan oleh D.I.A.N.A. Egh! Novel macam apa ini? Lancangnya ia menarik saya masuk ke dalam dimensi lain dan mengajak saya bermain-main dengan dongengnya di tengah malam.



“Aku adalah karakter jahat dalam cerita ini dan aku memang pantas untuk dibenci.” – hal. 90



Mana ada penulis yang mengadakan pengakuan dosa kepada pembacanya dengan menulis seperti ini? Benar-benar gila penulis yang satu ini. Mengajak pembacanya untuk lekaslah membenci karakter yang ia ciptakan sendiri. Saya terus menjelajahi setiap karakter, setiap tokoh, dan setiap penceritaan yang lahir. Mahir mampu melarutkan saya dalam ceritera rekaannya sendiri.



Rasa bergidik ngeri, takut, bahagia, marah, dan apapun itu beraduk satu. Seorang Mahir menyeret saya untuk menghabiskan D.I.A.N.A. lebih utuh tengah malam. Seolah-olah semua karakter tersebut menjebak saya dalam dimensi yang berbeda-beda. Saya berada pada karakter demi karakter yang berbeda dan saya sadar: novel ini akan membuat suatu lingkaran terhadap seluruh tokoh yang ada.



Seperti halnya menggambar lingkaran, kita tak boleh berhenti. Jika berhenti, kita belum tentu berada pada titik yang sama. Itulah Here, After. Itulah D.I.A.N.A. Saya tidak diperkenankannya berhenti membaca sebelum menuntaskannya.



Cinta yang klise? Saya tarik lagi ucapan saya sebelumnya. Sampai bab ketujuh pun saya tak tahu misteri apa yang disimpan oleh Mahir bersama dengan kesepuluh tokoh rekaannya itu. Semakin menelusuri, misteri semakin runyam, semakin mengajak saya berpikir dan tak lagi memandang waktu yang sudah menginjak jam dua pagi.



Entahlah, ini sebuah novel atau kumpulan cerpen yang saling bertautan, atau juga seperti Dan Brown yang mengajak saya terus berpikir apa yang dewa-dewa kehendaki dalam karyanya ini. Seorang Mahir di dalam 197 halaman mampu mencampurkan semua rasa: pahit, ngeri, takut, marah, sedih, pilu, dan bahagia.



Menginjak bab kesepuluh, saya tahu apa yang hendak Mahir ceritakan. Tapi, bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan saya tadi? Mana jawabannya?



“Bagaimana dengan ‘cinta’?

Aah, itu bisa menyusul!”




Kekuatan-kekuatan yang lahir sendiri dari novel ini memberikan satu pelajaran bagaimana kita menikmati hidup dan cinta. Here, After bukan hanya mengajak berpikir bagaimana berfilosifi mengenai hidup tetapi juga caranya untuk bercinta dan terjebak di antara segmentasi cerita. Bagaimana merasakan perjumpaan dan kehilangan dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana untuk berusaha memberikan rasa sayang dalam konflik-konflik benci yang timbul dari antara keduanya. Ini menjadi satu prestise untuk proses bercerita yang memberikan misteri dan menjebak.



Nah, Bung Mahir, benar bukan apa kata saya? Saya bukanlah orang yang pandai dalam meresensi, tak pandai dalam mencerca. Rasakan sendiri bukan kalau saya malah menulis cerpen di sini?! Jadi, jangan salahkan saya bila saya memang bukan menulis resensi. Dan syukurlah kalau memang ini masih bisa dianggap sebagai resensi.



Oh ya, satu lagi, ini yang ingin saya katakan pada saat saya membaca Here, After. Novel ini memberikan .... *Ah, sial! Tulisannya terputus!*









Jakarta, 7 Desember 2010 | 14.35
A.A. – dalam sebuah inisial




Senin, 06 Desember 2010

Konklusi

Mari berbisnis,
buka lapakmu dengan setia
dari kaki tanah sampai ke ubun-ubun langit
dan tolehkan kepalamu di muka toko
bernas padimu mulai berbumbung
tak perlu serau, kan? - untuk melihat jauhnya radius padimu

ah bagaimana aku bercanda
memang dulu kau berjualan emas
bahkan gaun istrimu dari emas
dan di dompetmu melautlah uang
bukankah horizon selalu menciptakan keajaiban tak terduga

hiperbola aku?
kau katakan ini eulogi?
dari emas menjadi pendulang padi?

ah, mari berbisnis!




Jakarta, 7 Desember 2010 | 9.06
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 03 Desember 2010

Festival Pembaca Indonesia

Start:     Dec 5, '10 10:00a
End:     Dec 5, '10 6:00p
Minggu, 5 Desember 2010
Pukul 10.00-18.00 WIB
di Plaza Area GOR Soemantri Brojonegoro
Pasar Festival, Kuningan Jakarta

Jumat, 26 November 2010

Satu Sudut, Tiga Pandang

pandang pertama...

 

semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. genggaman telepon, jemari yang menari di catatan digital, diskusi dengan kawannya, dan hanya duduk diam sembari mengetuk meja dengan jemari. ada kebutuhan dan kesibukan orang-orang dari sini. tak ada yang saling peduli, hendak apa di sebelahnya. juga aku, mungkin aku tak peduli dengan apa yang orang di sebelahku melakukan apa. meski aku tahu mereka sedang sibuk dengan makalahnya dan aku sibuk merawi catatan ini.

 

ya, aku tahu, aku sedang sibuk menunggu sebenarnya.

 

pandang kedua...

 

meski tak saling peduli, tapi semua orang di tempat ini saling memperhatikan apa yang terjadi. mereka melirik, mendelik, atau menontoni aktivitas sesama yang duduk di tempat ini. kemudian mereka kembali sibuk dengan aktivitasnya yang tadi sembari menunggu. ah, semua orang di sini pasti menunggu - pikirku. sebagaimana juga aku menunggu. mungkin yang ditunggu adalah hal yang berbeda.

 

ya aku tahu, aku sedang sibuk menunggu sebenarnya.

 

pandang ketiga...

 

orang yang kutunggu tak jua datang. hubungan komunikasi masih lewat jaringan seluler. ah, kamu takut sendirian? - sindir nurani. aku hanya tertawa kecil, meledeknya saja. toh aku juga tak peduli kapan yang kutunggu itu datang. semua orang di sini menunggu, bukan? hanya kami sibuk menunggu siapa dan siapa.

 

ya aku tahu, aku sedang sibuk menunggu sebenarnya.

 

menunggu waktu agar menjadi malam.

dan catatan ini menjadi tiga pandang dari satu sudut, di mana aku duduk di sini.

 

 

 

starbucks cp, 27 November 2010 | 12.40
A.A. - menanti gerombolan siberat :-)