Sabtu, 31 Desember 2011
Hujan Bulan Januari
di mana pertama kali langit bersua dengan bumi
air menjadi penopang untuk jembatan
saat Tuhan ingin menyentuh manusia
tak akan ada rintik hujan yang tak jatuh
menghapus jejak yang direkam setiap jalan
dan kau akan tahu bagaimana menikmati peluk dingin
pada awal yang baik, yang tak pernah cacat
tak akan ada rintik hujan yang tak jatuh
membasahi tanah yang lupa akan air
duduk di atas dahan-dahan yang hijau
menusuk ke dalam bumi, di titik terjauh
tak akan ada rintik hujan yang tak jatuh
ketika orang bisa mengeluh kedatangannya
atau juga orang bisa jatuh cinta kepada rintik
lalu, keduanya tak bisa abadi karena musim berganti
tak akan ada rintik hujan yang tak jatuh
ketika orang bisa membenci akan basah
ketika orang bisa marah ternodai bercak jalan
ketika orang bisa jatuh cinta di bawahnya
tak akan ada rintik hujan yang tak jatuh
dan masih kau ingat tentang genang hujan
di jalan yang menatap setiap gandeng tangan
pula cinta yang tak sekadar itu-itu saja
Jakarta, 1 Januari 2012 | 09.26
A.A. - dalam sebuah inisial
Prolog Januari
lalu apa yang akan kau tanam di awal ini
kemudian pernah kau berpikir akan sama lagi
situasi ini, suasana ini, dan kembalilah berulang
bersulang bersama waktu, di dalam segelas keadaan
dan hari-hari tak dapat kunafikan
Jakarta, 1 Januari 2012 | 09.14
A.A. - dalam sebuah inisial
Kamis, 22 Desember 2011
Rabu, 21 Desember 2011
Peluk
ingin aku kembali ke dalam peluk kali keduamu, ibu. di dalam dekap itu, aku mendengar tangisku sendiri, kau tersenyum bahagia kala itu. tanda-tanda kehidupan dimulai dari sana. sesederhana itu. lalu aku sandarkan kepalaku di dadamu, membiarkan aku dibelai oleh keping-keping sayang yang ada di sisi-sisi kecil yang membuatku semakin tahu untuk menghadapi masa yang semakin kejam.
sesederhana itu kau mengajarkan aku adalah manusia, dan menjadi manusia itu harus berjuang. bahkan sekadar bernapas. itu harus kujalani sampai nanti, di masa aku akan menjadi letih dan aku pun akan mengajarkan hal serupa kepada generasimu.
Jakarta, 22 Desember 2011 | 04.44
A.A.- dalam sebuah inisial
Minggu, 18 Desember 2011
Puncak di Atas Segala Puncak
Catatan penutup tahun 2011 ini memang saya angkat dari topik yang berbeda. Catatan ini pun ditulis dari tempat yang berbeda dari biasanya dan waktu yang benar-benar singkat karena saya pun diterpa deadline yang bertubi-tubi. Tentunya kawan-kawan yang mengikuti lini masa di Twitter saya pasti tahu kapan saya tidur, kapan saya bangun, berapa jam saya tidur, atau aktivitas lannya dari ceracauan saya itu. Ya, mungkin saya masih menulis blog, tetapi tahun ini cukuplah rajin saya meng-update-nya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Topik yang saya angkat tahun ini adalah puncak di atas segala puncak. Saya rasa pencapaian saya untuk tahun 2011 ini cukup dahsyat. Bagaimana tidak, di dalam waktu setahun saya sudah bisa berproduktif berkarya sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang waktu. Ada rasa kepuasan batin tersendiri ketika seluruh karya kita diapresiasi dengan baik.
Seperti di sebuah pendakian, kita pun dari bawah ingin sekali menuju ke atas. Itulah yang saya lakukan untuk 2011 ini. Diawali dari bulan Januari yang kita tempuh. Pendakian menuju ke puncak pun terasa begitu sulit. Ada terpaan yang selalu menjadi penghadang. Saya pun tidak dapat menafikan terpaan itu, mau tidak mau maka kita harus melawannya. Awal tahun ini cukup sulit bagi saya untuk menemukan pola menulis-membaca-belajar-bekerja. Setidaknya di awal tahun dapat dilihat bahwa saya tidaklah terlalu produktif berkarya.
Kemudian, selepas dari awal tahun, saya mulai menemukan ritme bagaimana mendaki tahun ini untuk semakin menikmati setiap langkahnya. Di punggung pun sudah ada ransel yang berisi tugas-tugas yang cukup berat untuk saya pikul, tetapi dengan menikmati setiap langkahnya saya pun ikut di dalam bahagia. Saya tahu tugas itu dan saya mencintainya. Bagi saya, bekerja yang paling menyenangkan adalah bekerja karena kau mencintai pekerjaanmu, bukan mencintai yang lain. Maka, berbahagialah mereka yang mencintai pekerjaannya.
Totalitas saya untuk berkarya pun selalu menjadi pemicu untuk saya mencintai kehidupan ini. Nyatanya ada satu puisi saya yang tersangkut di dalam buku, serta ada dua buku yang saya bantu untuk proses kelahirannya. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya. Bahkan yang lebih membuat saya bahagia adalah keberhasilan di tahun 2009 pun kembali terulang. Nah, penasaran keberhasilan apa? Silakan dicari sendiri. Hahaha...
Adapun saya merasakan ‘kembali pulang’ setelah cukup lama tidak mampir di tempat yang saya cintai, bertemu dengan sahabat-sahabat yang menyenangkan. Bahkan di kota yang baru pun, saya sempat bertemu dengan teman-teman baru dan teman-teman lama. Ini menjadikan kenyataan bahwa kita pun tidaklah pernah sendiri meski di dalam kesunyian. Lewat blog pula, saya bertemu dengan banyak kawan baru. Untuk itu, terima kasih bagi kalian!
Satu lagi yang membahagiakan bagi saya adalah ketika perpisahan tidak lagi begitu menikam saya di pertengahan Juli. Rasanya memang berat, seperti seorang pendaki yang berjuang mencari jalan ke puncak gunung. Itulah saya. Setidaknya perpisahan yang saya rasakan membuat saya lebih bijaksana untuk menghadapi kehidupan selanjutnya dan merekam setiap kejadian dengan lebih penuh kebajikan.
Suatu masa, seorang pendaki akan merasakan bahagia. Suatu masa pula, seorang pendaki akan merasakan duka. Setidaknya untuk mencapai ke puncak yang paling atas, ada siklus kehidupan yang harus dilewati. Keberhasilan tertinggi seorang pendaki adalah ketika mereka berhasil berdiri di puncak dalam keadaan apa pun. Atau keberhasilan lainnya adalah ketika mereka harus pergi ke puncak yang paling tinggi di dalam masa pendakian. Tak seorang pun tahu dan cukuplah bagi kita untuk tetap mendaki meski di dalam kondisi terburuk sekalipun.
Untuk itu, catatan penutup di tahun ini rasanya sudah mewakili apa yang ada di tahun 2011 bagi saya. Dengan segala kebahagiaan dan kesedihan yang silih berganti, setidaknya itu yang menjadikan perjalanan menuju ke puncak yang paling puncak yang memberikan suasana yang berbeda, meninggalkan kesan yang mengesankan, dan menciptakan bahagia yang paling bahagia.
Nah, kawan, selamat bila kau merasa 2011 adalah puncak tertinggimu sepanjang kau hidup! Selamat Natal bagi kawan-kawan yang merayakan! Selamat tahun baru untuk kalian semua!
Tetap tersenyum,
Bandung, 14 Desember 2011 | 07.59
A.A. – dalam sebuah inisial
Jumat, 16 Desember 2011
Mandalawangi - Pangrango
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti,
tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Soe Hok Gie
17 Desember 1942 - 17 Desember 2011
Minggu, 11 Desember 2011
Berapa Buku yang Anda Baca di Tahun 2011?
Lagi-lagi kendala saya adalah waktu di mana deadline yang tak henti-hentinya menerpa sehingga beberapa buku sempat tertunda atau tidak memiliki catatan tukang baca. Nah, berikut daftar bacaan saya untuk tahun ini. Kalau ada yang pernah membaca buku serupa dengan saya, mari kita berbagi.
Angka tidak menunjukkan peringkat.
1. Balada Ching-ching, Maggie Tiojakin
2. Leaving Microsoft to Change The World, John Wood
3. The Goddess of The Hunt, Tessa Dare
4. Selepas Bapakku Hilang, Fitri Nganti Wani
5. The Lover's Book, Kate Gribble
6. Surrender of A Siren, Tessa Dare
7. The Magicians, Lev Grossman
8. The Man Who Loved Book So Much, Allison Hoover Bartlett
9. Coming Home, Sefryana Khairil Badariah
10. Ayat-ayat Api, Sapardi Djoko Damono
11. Surat Kecil untuk Tuhan, Agnes Davonar
12. A Lady of Persuasion, Tessa Dare
13. Mati, Bertahun yang Lalu, Soe Tjen Marching
14. Selamat Datang di Pengadilan, Daniel Mahendra
15. (Cerita-cerita) dari Luar Jendela, Maestaccato
16. Eclair, Prisca Primasari
17. The Journeys, Adithya Mulya, dkk
18. Oksimoron, Isman H. Suryaman
19. Dan Saya Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini, Ronny Pattinasarani
20. Matahari yang Mengalir, Dorothea Rosa Herliany
21. Perempuan, Langit ke Timur, Olin Monteiro
22. Tuesday with Morrie, Mitch Albom
23. The Pilgrimage, Paulo Coelho
24. Larasati, Pramoedya Ananta Toer
25. Tales From The Road, Matatita
26. Snow Country: Daerah Salju, Yasunari Kawabata
27. Karena Kita Tidak Kenal, Farida Susanty
28. Cecilia dan Malaikat Ariel, Joestin Gaarder
29. Stanza dan Blues, W.S. Rendra
30. Abad yang Berlari, Afrizal Malna
31. The Naked Traveler 3, Trinity
32. Gelang Giok Naga, Leny Helena
33. Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, Leo Tolstoy
34. Sebelas Patriot, Andrea Hirata
35. Iluminasi, Lisa Febriyanti
36. Perahu Kertas, Dee [baca ulang]
37. Madre, Dee
38. Konde Penyair Han, Hanna Fransisca
39. Kedai 1001 Mimpi, Valiant Budi
40. Love, Aubrey, Suzanne LaFleur
41. That Camden Summer, LaVyrle Spencer
42. Presiden Prawiranegara, Akmal Nasery Basral
43. Kereta Tidur, Avianti Armand
44. Meraba Indonesia, Ahmad Yunus
45. Letters To Sam, Daniel Gotlieb
46. Life Traveler, Windy Ariestanty
47. Nasional.Is.Me, Pandji
48. Poconggg Juga Pocong, @poconggg
49. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Joestin Gaarder
50. Asas-asas Manajemen, Ulber Silalahi
51. Once Upon a Love, Aditia Yudis
52. Jump, Moemoe Rizal
53. Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budiardjo
54. Principles of Economic, N. Georgy Mankiw
55. Pengantar Logika, B. Arief Sidharta
56. The Windflower, Sharon dan Tom Curtis
57. Never Let Me Go, Kazuo Ishiguro
Untuk tahun ini, buku terbaik veri saya jatuh kepada Never Let Me Go dari Kazuo Ishiguro.
Untuk buku dengan gaya bahasa penceritaan menarik jatuh kepada Kedai 1001 Mimpi dari Valiant Budi.
Untuk desain sampul terbaik versi saya jatuh kepada The Journeys dari Adithya Mulya, dkk.
Untuk buku yang paling tebal yang saya baca tahun ini adalah Principles of Economic dari N. Georgy Mankiw.
Untuk penulis dengan ide paling kreatif versi saya jatuh kepada Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken dari Joestin Gaarder.
Untuk penulis dengan tema paling menarik versi saya jatuh kepada Never Let Me Go dari Kazuo Ishiguro.
Untuk penulis terbaik tahun ini versi saya jatuh kepada Akmal Nasery Basral.
Nah, begitulah daftar bacaan saya sepanjang tahun ini. Bagaimana dengan Anda?
Bandung, 12 Desember 2011 | 07.02
A.A. - dalam sebuah inisial