Kata ibunda sebelum aku pergi ke negeri di seberang pulau
ini pun dipesankannya lewat surat karena aku tak pernah pulang
pamit pun hanya lewat telepon yang tak bisa merekam kenang:
kembali nak, kembali kalau memang harus kembali
ada rumah yang bisa kau tinggalkan untuk tidur saat kau kembali
kalau harus menjadi bedinde, jujurlah pada pekerjaanmu
meski berat dan coba serap simbiosis apa yang dikenakan
dalam kehidupanmu di seberang pulau: komensalisme, mutualisme
tapi jangan pernah kau menjadi parasitisme, jangan pernah jahat
meski kau bisa saja benci kepada pekerjaanmu, tapi jangan anti kepada mereka
lengkapilah hatimu dengan hati yang tulus dalam bekerja
bergiatlah agar orang-orang memandangmu anak yang memiliki bara semangat
meski hatimu kelak sepi, tidak ada orang yang bisa kau bagi kedukaan
tak ada orang yang bisa kau ajak untuk tertawa bersama
atau akan kau dendangkan langgam yang menyayat hatimu
tapi hentikan bila kau hanya mampu berurai airmata
biar tirai kemenangan selalu terbuka bagimu
dan kamu menjadi anak yang merdeka
tapi, kau akan pulang 'kan, nak?
Jakarta, 27 Mei 2011 | 06.21
A.A. - dalam sebuah inisial
Kamis, 26 Mei 2011
Selasa, 24 Mei 2011
Di Sebuah Bagian yang Tak Lenyap
Ini adalah sebuah bagian yang tak akan pernah lenyap
jika kau percaya bahwa ia akan abadi sebagai sejarah
dari segala perjuangan tanpa senjata dan darah
kami berjuang dengan kata, kata yang kami kirimkan
kepada sang penguasa yang tak pernah mengerti merdeka
kepada mereka yang tak tahu bagaimana mencintai diri sendiri
untuk mereka belajar arti kejujuran kepada anak-anak kecil
Ini adalah sebuah bagian yang tak akan pernah lenyap
meski waktu menggulingkan keberadaannya sebagai peristiwa
kami hanya berjuang lewat teriak, keringat, dan semangat yang membakar
karena yang kami tuntut hanya satu: perubahan yang benar
benar, bukan berarti harus membenci pemimpin kami
benar karena kami sayang kepada negeri kami
untuk alasan itu, kami lancang menegur saudara
Ini adalah sebuah bagian yang tak akan pernah lenyap
walau orang-orang melupakannya kelak perjuangan ini
mereka tahu bahwa kami pernah membahagiakan mereka dengan cara ini
setidaknya sejarah pernah menggoreskan catatannya mengenai
kami merindukan oasis di tengah gurun perjuangan yang semakin sengat
kami tak ingin diarak sebagai pahlawan, kami ingin menjadi benar
karena merdeka bukan sesuatu yang turun dari langit begitu saja
merdeka adalah berjuang untuk menjadi merdeka
dan itu pun didapatkan bukan secara cuma-cuma
Ini adalah sebuah bagian yang tak akan pernah lenyap
meski hari selalu berganti dan detik sudahlah berlari
tapi ini bukan sekadar kenangan yang biasa kau simpan dalam pandora
cita-cita, air mata, semangat, keringat, sorakan, dan hidup kami di hari itu
tak akan menguap bersama waktu, ia akan tetap ada
entah sebagai apa kelak, itu yang kuaminkan
Jakarta, 25 Mei 2011 | 08.06
A.A.- dalam sebuah inisial
Untuk sebuah manuskrip yang akan diselesaikan....
Senin, 23 Mei 2011
Perihal: Kopi
pagi ini
di depan beranda rumah
asap dari cangkir mengepul
menyambut hadirmu
di dalam pekatnya
menyentuh harimu
biar kamu tetap hidup
katanya
biar kamu tetap kuat mengangkat ransel
lagi-lagi katanya
kalau begitu
selamat pagi
di depan beranda rumah
asap dari cangkir mengepul
menyambut hadirmu
di dalam pekatnya
menyentuh harimu
biar kamu tetap hidup
katanya
biar kamu tetap kuat mengangkat ransel
lagi-lagi katanya
kalau begitu
selamat pagi
Jakarta, 24 Mei 2011 | 8.01
A.A. - dalam sebuah inisial
A.A. - dalam sebuah inisial
Minggu, 22 Mei 2011
Pengejawantahan Bahagia
Sudahkah Anda berbahagia?
Sejak kecil, saya memang selalu bertanya-tanya apakah saya sudah bahagia. Namun, dari sejak kecil pula saya tak percaya bahwa saya sudah bahagia. Mengapa? Karena saya sendiri belum bisa merasakan apa itu bahagia menurut saya.
Kalau begitu, pernahkah saya bahagia? Saya sendiri tak yakin bahwa saya tidak pernah tidak bahagia. Mungkin saya sering menciptakan bahagia saya sendiri tanpa saya insafi. Dari sana saya bisa merasakan bahagia yang saya ciptakan tanpa orang-orang tahu. Tanpa berbagi bahagia dengan mereka.
Aveline kecil pernah berpikir kalau bermain sepeda dengan teman sepermainannya adalah bahagia. Lambat laun, pemikiran itu berubah. Ia tanggalkan sepeda tersebut dan berganti dengan bermain bola. Lagi-lagi ia berpikir kalau dengan bermain bola, ia bisa berbahagia. Ternyata pemikiran itu berubah lagi setelah ia menemukan bahagia di antara lapisan kertas yang dijilid. Dengan membaca, ia bahagia?
Ternyata lagi-lagi, ia berubah pikiran. Aveline yang bertumbuh semakin dewasa ternyata tidak berpikir tentang bermain lagi. Ia berpikir dengan mengejar ranking di sekolah, ia akan menjadi orang yang berbahagia. Setelah ranking itu ia dapatkan, nyatanya ia semakin tidak puas. Aveline kecil mengejar target untuk masuk ke kelas unggulan. Wah, pikirnya saat itu, ia akan menjadi bahagia.
Setelah masuk, ia malah mengejar bahagia yang lain. Ia menciptakan mimpi-mimpi lain yang menurutnya akan membuatnya menjadi orang yang berbahagia. Ia berpikir lagi dan berpikir lagi dengan cara dan menjadi apa ia dapatkan bahagia.
Ternyata bahagia itu diciptakan setelah bahagia lain tercipta. Itulah kata Aveline saat ini. Ya, akhirnya saya sadari kalau memang saya memiliki kecenderungan memiliki bahagia yang berbeda dengan orang lain. Atau malah sama tapi saya tak menyadarinya? Bahagia tak akan tercipta bila tak ada bahagia lain yang sudah diciptakan dahulu.
Ini seperti ilmu ekonomi: mengejar segala kehendak yang begitu banyak di dalam lingkup yang terbatas. Semakin banyak bahagia yang ingin saya ciptakan, semakin terbatas dunia yang saya miliki. Bukankah di dunia ini, semua orang menginginkan bahagia? Begitu juga dengan saya. Saya pun ingin bahagia dengan cara yang saya miliki. Meski itu dalam keterbatasan.
Apa wujud bahagia itu?
Ini yang tak pernah bisa saya jawab. Menurut saya, bahagia bukanlah benda mati, tetapi juga bukan kata sifat. Tafsiran bahagia benar-benar subyektif dan sangatlah tak absolut. Tak semua orang bisa berbahagia dengan cara orang lain yang ia miliki.
Ada orang yang mewujudkan bahagia dengan memiliki banyak uang. Ia percaya uang memberikannya bahagia yang tiada tara. Ada juga orang yang percaya dengan bekerja, ia bisa menjadi orang yang sangat bahagia. Maka, ia memutuskan untuk bekerja siang dan malam. Atau ada juga orang yang mengatakan ia bahagia dengan menghabiskan waktunya di atas ranjang dan tidur. Tapi apakah semua orang sama?
Aveline yang sudah bertumbuh dewasa tak lagi percaya kalau ranking memberikannya bahagia utuh. Ia mencari bahagia lain. Dengan membaca, menulis, travelling, bahkan duduk ngobrol dengan teman-temannya berjam-jam di kedai kopi itulah yang membuatnya menjadi bahagia. Tak kadang pula, ia tak menemukan bahagianya lewat cara itu.
Saya tak tahu bagaimana wujud bahagia yang sesungguhnya. Apa ia bersembunyi di bawah kasur, duduk manis di meja makan, diam di antara rak buku, atau sudah berada di dalam aliran darah saya. Bahagia itu berwujud maya atau nyata juga tak saya ketahui. Tapi yang saya tahu, bahagia selalu berputar.
Saya pun menyadari kalau bahagia selalu ada bukan karena ia dicari, tetapi karena tercipta yang bukan sesuai kehendaknya. Tapi dengan perwujudan bahagia yang lain.
Bagaimana wujud bahagia itu? Ada yang bisa menjawabnya?
Jakarta, 23 Mei 2011 | 07.16
A.A. - dalam sebuah inisial
Kalau begitu, pernahkah saya bahagia? Saya sendiri tak yakin bahwa saya tidak pernah tidak bahagia. Mungkin saya sering menciptakan bahagia saya sendiri tanpa saya insafi. Dari sana saya bisa merasakan bahagia yang saya ciptakan tanpa orang-orang tahu. Tanpa berbagi bahagia dengan mereka.
Aveline kecil pernah berpikir kalau bermain sepeda dengan teman sepermainannya adalah bahagia. Lambat laun, pemikiran itu berubah. Ia tanggalkan sepeda tersebut dan berganti dengan bermain bola. Lagi-lagi ia berpikir kalau dengan bermain bola, ia bisa berbahagia. Ternyata pemikiran itu berubah lagi setelah ia menemukan bahagia di antara lapisan kertas yang dijilid. Dengan membaca, ia bahagia?
Ternyata lagi-lagi, ia berubah pikiran. Aveline yang bertumbuh semakin dewasa ternyata tidak berpikir tentang bermain lagi. Ia berpikir dengan mengejar ranking di sekolah, ia akan menjadi orang yang berbahagia. Setelah ranking itu ia dapatkan, nyatanya ia semakin tidak puas. Aveline kecil mengejar target untuk masuk ke kelas unggulan. Wah, pikirnya saat itu, ia akan menjadi bahagia.
Setelah masuk, ia malah mengejar bahagia yang lain. Ia menciptakan mimpi-mimpi lain yang menurutnya akan membuatnya menjadi orang yang berbahagia. Ia berpikir lagi dan berpikir lagi dengan cara dan menjadi apa ia dapatkan bahagia.
Ternyata bahagia itu diciptakan setelah bahagia lain tercipta. Itulah kata Aveline saat ini. Ya, akhirnya saya sadari kalau memang saya memiliki kecenderungan memiliki bahagia yang berbeda dengan orang lain. Atau malah sama tapi saya tak menyadarinya? Bahagia tak akan tercipta bila tak ada bahagia lain yang sudah diciptakan dahulu.
Ini seperti ilmu ekonomi: mengejar segala kehendak yang begitu banyak di dalam lingkup yang terbatas. Semakin banyak bahagia yang ingin saya ciptakan, semakin terbatas dunia yang saya miliki. Bukankah di dunia ini, semua orang menginginkan bahagia? Begitu juga dengan saya. Saya pun ingin bahagia dengan cara yang saya miliki. Meski itu dalam keterbatasan.
Apa wujud bahagia itu?
Ini yang tak pernah bisa saya jawab. Menurut saya, bahagia bukanlah benda mati, tetapi juga bukan kata sifat. Tafsiran bahagia benar-benar subyektif dan sangatlah tak absolut. Tak semua orang bisa berbahagia dengan cara orang lain yang ia miliki.
Ada orang yang mewujudkan bahagia dengan memiliki banyak uang. Ia percaya uang memberikannya bahagia yang tiada tara. Ada juga orang yang percaya dengan bekerja, ia bisa menjadi orang yang sangat bahagia. Maka, ia memutuskan untuk bekerja siang dan malam. Atau ada juga orang yang mengatakan ia bahagia dengan menghabiskan waktunya di atas ranjang dan tidur. Tapi apakah semua orang sama?
Aveline yang sudah bertumbuh dewasa tak lagi percaya kalau ranking memberikannya bahagia utuh. Ia mencari bahagia lain. Dengan membaca, menulis, travelling, bahkan duduk ngobrol dengan teman-temannya berjam-jam di kedai kopi itulah yang membuatnya menjadi bahagia. Tak kadang pula, ia tak menemukan bahagianya lewat cara itu.
Saya tak tahu bagaimana wujud bahagia yang sesungguhnya. Apa ia bersembunyi di bawah kasur, duduk manis di meja makan, diam di antara rak buku, atau sudah berada di dalam aliran darah saya. Bahagia itu berwujud maya atau nyata juga tak saya ketahui. Tapi yang saya tahu, bahagia selalu berputar.
Saya pun menyadari kalau bahagia selalu ada bukan karena ia dicari, tetapi karena tercipta yang bukan sesuai kehendaknya. Tapi dengan perwujudan bahagia yang lain.
Bagaimana wujud bahagia itu? Ada yang bisa menjawabnya?
Jakarta, 23 Mei 2011 | 07.16
A.A. - dalam sebuah inisial
Sabtu, 21 Mei 2011
Perihal: Belajar
ternyata,
kasih itu tidak lebih
dari sekadar belajar
belajar untuk memberi dan menerima
belajar untuk mendapatkan dan merelakan
belajar untuk mempertahankan dan melepas
kasih itu tidak lebih
dari sekadar belajar
belajar untuk memberi dan menerima
belajar untuk mendapatkan dan merelakan
belajar untuk mempertahankan dan melepas
Jakarta, 22 Mei 2011 | 09.44
A.A. - dalam sebuah inisial
A.A. - dalam sebuah inisial
Kamis, 19 Mei 2011
Larasati
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Pramoedya Ananta Toer |
Pramoedya. Tentulah hampir semua orang tahu siapa dia. Namanya menjulang di dalam dunia sastra Indonesia setelah Tetralogi Buru lahir dan namanya sempat terdaftar sebagai calon penerima Nobel Sastra. Satu-satunya orang Indonesia yang pernah dinominasikan di dalam penerima Nobel Sastra. Tetralogi Buru sendiri sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.
Kali ini Pram bercerita tentang kehidupan Larasati. Larasati adalah seorang aktris yang hidup di Yogyakarta yang kemudian di dalam perjalanannya menuju Jakarta untuk kembali bermain film dan menemui ibunya yang ditinggalkannya setahun. Profesi Ara bukan hanya sebagai aktris, tetapi juga sebagai pelacur. Namun demikian, Ara bukanlah perempuan yang tidak peduli lagi dengan keberadaan negerinya. Kedatangannya di Jakarta pun disambut sebagai seorang NICA. Ori (Oeang Republik Indonesia) yang menyelamatkan dirinya dari tongkat kakek yang akan melayang kepadanya. Ara adalah seorang perempuan yang ingin berjuang untuk bangsanya meski ia bukan perempuan yang bersih. Itu dikatakannya sendiri:
"Bagaimana pun juga kotornya namaku aku akan tetap dapat berguna. Kotor?"
"Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak! Negara pun tidak! Rakyat apa lagi! Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain."
Bahkan lewat Ara, Pram mengkritik golongan tua yang begitu hina, korupsi, dan mementingkan diri sendiri.
"Hanya angkatan tua yang mengajak korup, angkatan muda membuat revolusi."
Lewat Ara pula, Pram menyatakan bahwa golongan muda adalah golongan yang seharusnya membuat pergerakan baru. Yang akan membentuk diri bangsa dengan lebih baik untuk masa depan. Pram ingin melihat Revolusi terjadi. Lewat Ara, Pram mengajarkan kita menjadi pejuang yang berani. Berani kalah ketika menang dan berani berbesar hati ketika sudah merasakan pahitnya kekalahan.
"Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah, terima kekalahan itu dengan hati besar, dan rebutlah kemenangan."
Dan menurut Pram, "Revolusi-dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun harapan."
Ciri khas Pram yang tak akan lepas adalah ceritanya selalu berputar soal perjuangan. Semangat nasionalisme yang selalu dikumandangkan lewat romannya membuat orang menjadi tergugah. Cinta akan tanah air tanpa harus menjadi seorang Belanda yang ia lapiskan dalam tokoh yang bernama Larasati, seorang pelacur, aktris, bahkan seorang istri yang membangkang kepada sang suami yang menjadi seorang idealis dan berusaha lahir sebagai seorang revolusioner.
Membaca Larasati hampir tak beda dengan membaca roman yang berasal dari Melayu Klasik. Meski dikemas dengan bahasa yang lebih sederhana, itu tidak bisa menghindari harus membaca berulang kali untuk dapat memahami kalimatnya. Untuk yang baru kali pertama membaca Pram atau lebih menyukai roman dengan kalimat yang lebih mudah dimengerti, mungkin akan terhenyak dengan kalimat yang berputar-putar dan mengerutkan dahi.
Poin yang saya anggap kurang adalah di dalam cerita Larasati ini, Pram hampir tidak pernah 'mementaskan' sang Ara sebagai seorang aktris. Malah lebih cenderung sebagai seorang pejuang wanita. Kurang tampak di dalam penokohan Ara sebagai aktris dan pelacur. Lebih banyak kata-kata yang menjelaskan kalau Ara adalah seorang aktris, bukan mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana lakon Ara.
Tapi Ara yang keras kepala dan berjiwa pemberontak yang membuat cerita ini menjadi menarik. Ara yang rela untuk tidak bermain di dalam pementasan Belanda membuat keputusan yang berani. Namun, di dalam beberapa bagian, Ara seperti kehilangan jati dirinya. Ia menjadi perempuan yang lemah, yang putus asa dan rela membiarkan Revolusi perlahan lenyap. Sepertinya Pram memang tak menginginkan Ara sebagai perempuan yang benar-benar utuh menjadi pejuang seperti Cut Nyak Dhien yang sampai mati untuk mendapatkan kemerdekaan. Ia lebih menginginkan Ara menjadi perempuan yang kembali seharusnya menjadi perempuan. Bahkan sempat terpikir olehku kalau Ara hanya besar mulut saja, tapi tidak untuk berjuang.
Di bagian tengah cerita, sepertinya Pram memaksa cerita agar tetap mengalir. Dan itu terlihat dengan beberapa adegan yang lebih terkesan memaksa untuk masuk dibandingkan pada bagian awal yang benar-benar menggigit. Saya yang sebagai pembaca sempat merasa penat dengan beberapa bagian yang seperti itu. Kemudian pada epilognya juga masih terasa 'gantung'. Entah apa maksud Pram membuat ceritanya seperti itu.
Jalan pikiran Pram yang sulit diprediksi bermain di dalamnya. Roman ini sudah berkisah enam puluh tahun yang lalu, tetapi masih tak jauh dari keberadaan bangsa ini. Cerita yang hampir serupa dengan keadaan yang ada saat ini. Cerita yang sederhana ini mengalir di antara cita-cita dan asa yang ingin menjulang tinggi. Mungkin kita memang selalu butuh Ara yang memang menginginkan kehidupan merdeka dengan caranya sendiri.
Sampul buku untuk edisi terbitan "Lentera Dipantara" kurasa tidak sesuai dengan Larasati yang adalah seorang Yogyakarta. Bukan karena terlalu cantik, tetapi raut wajah Jawa tidak tampak pada gadis tersebut.
Jakarta, 19 Mei 2011 | 18.38
A.A. - dalam sebuah inisial
Rabu, 18 Mei 2011
Pesta Buku Jakarta 2011
| Start: | Jul 1, '11 |
| End: | Jul 10, '11 |
| Location: | Istora Gelora Bung Karno - Senayan, Jakarta |
Sabtu, 2 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 10.00 - 13.00 | Panggung Utama | Pembukaan PBJ 2011 | Panitia | |
| 10.00 - 15.00 | Halaman Istora | Lomba Konser Drum Band | Panitia & Expanda | |
| 13.30 - 15.30 | Panggung utama | Bedah Buku "Nasional-Is-Me" | Pandji Pragiwaksono | Bentang |
| 15.30 - 16.00 | Panggung utama | Pengumuman Pemenang Lomba Drum Band | Panitia & Expanda | |
| 16.00 - 18.00 | Panggung utama | Seminar & Workshop 'Quantum Touch' | Reva Syarif Benjamin | Ufuk Publishing House |
| 19.00 - 21.00 | Panggung utama | Bedah Buku Srimulat I "Aneh yang Lucu" | Team Srimulat & Sony Set | Tiga Serangkai |
Minggu, 3 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 07.00 - 09.00 | Halaman Istora | Fun Bike with Book | Panitia | |
| 10.30 - 12.30 | Panggung Utama | Bedah Buku "Bukti Kedahsyatan Sirsak Menumpas Kanker" | dr. Erfizal | Agromedia Pustaka |
| 12.30 - 14.00 | Halaman Istora | Talkshow Interaktif dan Demo "Pijat Untuk Mencerdaskan otak dan Meningkatkan Daya Ingat" | M. Ferry Wong (Pemegang Rekor MURI Meningkatkan Daya Ingat" Jaripunktur 2010 | Penebar Swadaya |
| 13.00 - 14.00 | Panggung Utama | Seminar Motivasi EQ for Youth Sukses Mengoptimalkan Potensi Remaja dan Anak Muda | Anthony Dio Martin (The Best EQ Trainer Indonesia) | Penebar Swadaya |
| 14.00 - 15.00 | Panggung Utama | Demo Fashion "Muslimah in style" | Indriya R. Dhani, Tety Murniati, Tata Lukmanint | Penebar Swadaya |
| 15.00 - 16.00 | Panggung utama | Talkshow 'Satu Cinta Sebait Syair Kebenaran' | Connie Constantia | Diksi |
| 16.00 - 18.00 | Pangung Utama | Launching Buku 'Yang Galau.. Yang Meracau Curhat Tuan Setan' | Fahd Djibran | Kurnia Esa (Serambi) |
| 19.00 - 21.00 | Panggung Utama | Bedah Buku 'Kedai 1001 Mimpi' | Valiant Budi | Gagas Media (Agromedia Group) |
Senin, 4 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 10.30 - 12.30 | Panggung Utama | |||
| 13.00 - 15.00 | Panggung utama | Talkshow 'Buku Mengubah Hidupku' Perspektif Pebisnis | Panitia | |
| 16.00 - 18.00 | Pangung Utama | Launching Penulisan First Novel & The Story Explorer | Dewi Utama Faizah | Tiga Serangkai |
| 19.00 - 21.00 | Panggung Utama | Hiburan Musik | Panitia |
Selasa, 5 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 10.30 - 12.30 | Panggung Utama | Hiburan Musik | Panitia | |
| 16.00 - 18.00 | Panggung Utama | Bedah Buku "The Becak Way" | Hary Van Jogja | Tiga Serangkai |
| 19.00 - 21.00 | Panggung Utama | Hiburan Musik | Panitia |
Rabu, 6 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 10.30 - 12.30 | Panggung Utama | Pancasila Banget Penting | Yudi Latif, Lukman Hakim Saefudin | Majalah Gontor |
| 13.00 - 15.00 | Panggung utama | Talkshow dan Demo Cerdas Mengemas Produk Makanan dan Minuman Untuk UKM | Yuyun A. Delli Gunarsa | Agromedia Group |
| 16.00 - 18.00 | Pangung Utama | Talkshow 'Buku Mengubah Hidupku' Perspektif Idola Remaja | Panitia | |
| 19.00 - 21.00 | Panggung Utama | Talkshow & Temu Penulis "Mengeruk Untung Dari Bisnis Kopi Luwak" | Ir. Edy Panggabean | Agromedia |
Kamis, 7 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 10.30 - 12.30 | Panggung Utama | |||
| 13.00 - 15.00 | Panggung utama | Talkshow Pendidikan | Prof. Dr. Arief Rahman | Panitia |
| 16.00 - 18.00 | Pangung Utama | Talkshow 'Buku mengubah Hidupku' Perspekftif Budayawan | JJ Rizal, Radhar Panca Dahana | Panitia |
| 19.00 - 21.00 | Pangung Utama | Hiburan Musik |
Jum'at, 8 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 10.30 - 11.30 | Panggung Utama | |||
| 13.00 - 14.00 | Panggung utama | Bedah Buku "Semburat Senyum Sore" | Vinca Callista | Serambi |
| 14.00 - 15.00 | Panggung utama | Talkshow "Solusi Jitu Arsitektur Untuk Bumiku" Menghadirkan Nuansa Alam di Rumah | Raul Renanda, Wijoyo Hendromartono (The Best Arsitek Indonesia) | Penebar Swadaya |
| 15.00 - 16.00 | Panggung utama | Demo Keterampilan "Yubiyami" Merajut Dengan Jari | Linda Nicegreen | Penebar Swadaya |
| 16.00 - 18.00 | Pangung Utama | Mizan Goes Digital | Tim Ahli Mizan | Mizan Digital |
| 19.00 - 21.00 | Panggung Utama | 7 Step to Reach Your Dream | Budi Isman | Tiga Serangkai |
Sabtu, 9 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 10.30 - 12.30 | Panggung Utama | Launching Buku MENKES | Menkes Ibu Endang Rahayu, dr. Lula Kamal | Mizan Pustaka |
| 12.30 - 14.30 | Panggung utama | Jumpa Penulis "Ranah 3 Warna" | A. Fuadi, Udjo Project Pop Moderator : Andrei (Mustang FM) | Gramedia |
| 14.30 - 16.00 | Panggung utama | Seminar Dahsyat 'Tips Sales Sukses dan Launching Buku Malu Bertanya Tidak Dapat Orderan | Dedy Budiman (The Champion Sales Trainer Indonesia) | Penebar Swadaya |
| 16.00 - 18.00 | Pangung Utama | Talkshow bersama Boim Lebon dan Parade 'Penulis Cilik Punya Karya (PCPK) | Boim Lebon & Penulis Cilik | Lingkar Pena Publishing House |
| 19.00 - 21.00 | Panggung Utama | Bedah Buku "Nibiru dan Ksatria Atlantis" | Tasaro GK | Tiga Serangkai |
Minggu, 10 Juli 2011
| Waktu | Tempat | Acara | Narasumber | Penanggung Jawab |
| 10.30 - 12.30 | Panggung Utama | Talkshow Travelling | Pemenang ACI detik.com, Penulis Trevelicious | Bentang |
| 12.30 - 14.00 | Panggung Utama | Talkshow & Workshop Buku Anak-Anak Cara Gampang Bikin Kartun' | Ary Vhras | Meida Kita (Agromedia Group) |
| 14.00 - 16.00 | Pangung Utama | Launching Buku "EURACLE" | Andi Azril (Bintang KCB) | Progressio (Sygma) |
| 16.00 - 18.00 | Panggung Utama | Penutupan PBJ 2011 | Panitia |
Langganan:
Postingan (Atom)