Kamis, 01 Maret 2012
If I Could Be Where You Are
Only in my dreams
You're missing, but you're always
a heartbeat from me.
I'm lost now without you.
I don't know where you are.
I keep watching,
I keep hoping,
but time keeps us apart.
[chorus]
Is there a way I can find you?
Is there a sign I should know?
Is there a road I could follow,
to bring you back home?
Winter lies before me,
Now you're so far away
In the darkness of my dreaming
The light of you will stay
If I could be close beside you,
If I could be where you are,
If I could reach out and touch you,
And bring you back home.
[chorus]
Is there a way I can find you?
Is there a sign I should know?
Is there a road I could follow,
to bring you back home?
To me...
- Enya
Rabu, 29 Februari 2012
Menggenggam Dunia
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Biographies & Memoirs |
| Author: | Gol A Gong |
Membuka halaman pertama dari buku Gol A Gong ini membuat saya sempat ragu apakah saya akan berpikiran sama dengan apa yang dituliskannya. Ia menuliskan bahwa dirinya sendiri pun ragu apakah Menggenggam Dunia harus diterbitkan sebagai autobiografi dari dirinya. Apa kata orang setelah membaca buku ini? Mengecap dirinya sebagai penulis yang narsis dan angkuh? Mengecap dirinya tak berbeda dengan penulis yang membanggakan hasil kerjanya sendiri.
Nyaris saya tutup buku ini. Sudah dapat dipastikan kalau buku ini akan saya tutup dan enggan saya baca kalau bukan sedang menunggu di depan Ruang Radiologi RS Borromeus nyaris empat jam dan saya sudah membawa buku bacaan lain selain Menggenggam Dunia ini karena Gol A Gong menuliskan tentang kepercaya-diriannya untuk menggenggam dunia lewat Rumah Dunia hanya untuk mewujudkan mimpinya yang dianggap sebagian orang adalah mimpi yang konyol.
Tapi, pada akhirnya, saya habiskan juga buku ini selama enam hari. Tepat di hari terakhir bulan Februari yang kabisat ini, saya menuliskan resensi saya untuk kali pertama di tahun ini. Ha! Silakan ditertawakan betapa malasnya saya untuk menulis resensi.
Membalik halaman demi halaman, hampir habis separuh buku ini saya baca ketika menunggu tersebut. Sisanya, saya baca beberapa halaman sebelum tidur atau pagi sebelum berangkat mengikuti kuliah. Berselingan dengan buku lainnya yang saya baca. Dan saya pun candu. Gol A Gong patut menuliskan buku ini sebagai sebuah peringatan bahwa negeri ini masih butuh bacaan.
Ketidakpedulian pemerintah terhadap keberadaan literasi terungkap jelas dengan rincian yang (seharusnya) bisa dibuktikan. Gol A Gong -secara tidak langsung- menjadikan buku perjalanannya membangun Rumah Dunia dengan kata-kata sebagai pondasi dan dindingnya ini menjadi sebuah laporan betapa 'korupsinya' pemerintahan di mana Rumah Dunia berdiri dan menjadi sebuah petaka apabila pemerintah hanya memperhatikan hal-hal yang sifatnya tidaklah begitu penting bila mereka tidak memperhatikan bahwa Banten bisa menjadi provinsi yang malas membaca. Gol A Gong melakukan pergerakan untuk itu.
Dikisahkan pula mengapa Gol A Gong berani memutuskan untuk menjadi penulis, menghidupi Tias Tatanka, keempat anaknya, dan Rumah Dunia. Siapa bilang menjadi penulis tidak dapat hidup? Penulis serial Balada Si Roy ini telah membuktikannya. ia pun mengisahkan juga bagaimana ia bisa candu untuk berjalan-jalan dan melahirkan Balada Si Roy, nekat menikahi Tias, dan perkembangan Banten dengan keberadaan Rumah Dunia.
Jangan lupa, jadikan alam sahabatmu; pantai, sungai, gunung, fajar, senja, angin, hujan, laut. Dari sana kamu akan menemukan arti kehidupan sesungguhnya." - hal. 62
Kupikir Gol A Gong patut mendapatkan apa yang telah ia lakukan dan perjuangkan selama ini. Ia patut mendapatkan Rumah Dunia, rumah yang selalu diimpikannya sejak kecil. Kini, mimpi itu tergapai. Bangunan di Komplek Hegar Alam, Serang, tersebut sudah terbangun sedikit demi sedikit. Dari berbagai bantuan, dari berbagai kucuran dana, dari setiap tetes darah Gol A Gong dan Tias Tatanka. Gol A Gong dan Tias boleh berbangga di sebelah rumahnya untuk tinggal ada rumah lain untuk membuat Banten lebih bertumbuh besar dan dewasa lewat bacaan dan media lainnya.
Kupikir terlalu berlebihan Gol A Gong itu di dalam kata pengantarnya. Ia bukanlah penulis yang angkuh, yang membangga-banggakan prestasinya dalam membangun Rumah Dunia. Ia hanya bercerita apa adanya. Ia telah berhasil menggenggam dunia dengan caranya sendiri, dengan mimpinya sendiri, dengan perjuangannya sendiri. Ia mengungkapkan apa yang jarang ditulis di dalam media massa. Ia mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya ketika jurnalisme tidak bisa menuliskannya.
Adalah hal yang tepat -kupikir- bila aku mencantumkan kutipan dari Seno Gumira Ajidarma itu sebagai prolog dari resensiku terhadap buku ini. Gol A Gong akan semakin kuat dengan bukti-bukti tersebut bila ia berani memasukkan artikel atau sekadar cuplikan atau kutipan dari apa yang telah dipublikasikan kepada media massa, terutama di bagian-bagian yang berbau dengan ketidakpedulian pemerintah itu.
Kini, Gol A Gong telah menggenggam mimpinya, menggenggam dunianya. Rumah Dunia menjadi bukti bahwa mimpi masa kecil yang dibangun dalam pikirannya bisa berdiri di halaman rumahnya di kota yang selalu dinantikannya untuk bergerak lebih baik.
Bandung, 29 Februari 2012
A.A.- dalam sebuah inisial
PS: Kalau buku ini cetak ulang, berani kusarankan kepada Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) untuk melakukan penyelarasan aksara berkali-kali terhadap buku ini. Maka, penilaian terhadap buku ini pun kuturunkan dari empat menjadi tiga karena untuk penerbit sebesar KPG, aku keberatan menemukan kesalahan eja yang banyak.
Epilog Februari
Di tahun mendatang, di tahun yang istimewa
Untuk sekali lagi perjalanan yang mahamanis
: terima kasih selalu
Bandung, 29 Februari 2012 | 16.19
A.A. - dalam sebuah inisial
Senin, 27 Februari 2012
Secarik Surat yang Tak Ditunggu
Kepada kamu,
Memang benar kalau seseorang yang sudah jatuh cinta, semua terasa indah. Bahkan sampai kopi yang rasanya pahit pun tetap dikecap manis, bunga yang layu pun tetap terlihat segar, dan masakan yang seperti makan garam di lidah tetap gurih di hati. Mereka yang pernah jatuh cinta adalah orang yang gila.
Aku pernah jatuh cinta. Kepada lelaki yang tak pernah menantikan kedatangan surat ini. Lelaki yang pernah menjadi teman seperjalananku. Hei, apa kabarmu kini? Masih suka bermain gitar dengan kunci G? Sudah berapa lagu yang kamu bisa sejak kita tak lagi bersua? Terakhir kuingat ada 23 lagu yang sudah kamu mainkan dalam kunci G.
Sebentar. Aku coba menebak isi kepalamu. Ah, pasti kamu sedang bertanya-tanya untuk apa aku mengirim surat ini kepadamu ‘kan? Aku juga tak tahu harus menjawab apa pertanyaanmu. Surat ini tertulis dengan sendirinya. Dirawi di luar kendaliku. Aku tak bisa menghentikannya, tapi aku menikmatinya. Kuharap juga kamu menikmatinya seperti aku menuliskannya sambil mengenang jutaan detik yang kita lalui bersama yang pada akhirnya kita memang harus tak menjadi satu.
Tak semua harus menjadi satu, aku masih teringat dengan katamu.
Dan kita memang tidak bisa bersatu, masih kamu ingat dengan kataku?
Ya, tak selamanya harus menjadi indah. Kadang juga harus ada air mata.
Kalau mengingat masa-masa dulu, lucu juga. Hujan-hujanan di atas motor tuamu yang mogok. Meski kamu selalu mampu membeli motor yang harganya berkali-kali lipat dari motor yang sering batuk-batuk saat di-starter, tetap kamu memilih motor tua itu. Juga ketika ada di laboratorium fisika, kamu selalu bingung membedakan rangkaian paralel dan rangkaian seri walau sudah berkali-kali kugambarkan di papan tulis.
Semua cerita itu masih ada di album tua yang kutemukan saat aku hendak pindah ke Jakarta. Memang, aku menyimpannya khusus di kotak kado itu. Bersama dengan semua benda pemberianmu. Aku tetap menyimpannya rapi.
Harus kuakui, awal pertama berjumpa denganmu, aku memang berdebar-debar. Seperti debaran yang sama saat aku menuliskan surat ini kepadamu. Kalau aku tahu kamu membuka dan membacanya, mungkin debarannya akan semakin membuncah.
Ini soal rasa rindu. Kamu tahu?
Harus kuakui, kali terakhir bersua denganmu, aku menangis. Mataku sembab. Meski aku tahu bahwa kita memang tidak akan bertahan lama, tetap saja air mata selalu membelah pipiku. Ia selalu melanggar perintahku agar tidak turun membasahi pipiku yang selalu dilapisi bedak. Kamu tak pernah tahu soal ini. Ya... aku memang sengaja menahan semua rasa sakit di depanmu. Seolah-olah tak terjadi apa-apa di antara kita. Aku tak mau terlihat cengeng di hadapanmu. Aku tak mau kamu mengatakanku gadis manja seperti sebelumnya di akhir pertemuan kita.
Kini aku menjadi perempuan yang mandiri sejak kita berpisah tiga tahun lalu. Tapi yang tetap sama adalah rambut yang panjang sebahu tak kupotong. Seperti katamu, aku terlihat manis kalau dengan rambut yang digerai dan berkibas di bahu. Kalung yang kamu berikan kepadaku juga masih kusimpan. Iya, kini leherku sudah berhias kalung yang lain. Pemberian laki-laki lain. Tapi bukan berarti aku lupa dengan pemberianmu.
Sekali lagi, apa kabarmu? Malam ini aku mengenang semua cerita kita. Canda kita, tawa kita, air mata kita, duka kita, dan cinta kita.
Aku, perempuan yang pernah mengisi relung hatimu yang kosong. Kemudian meninggalkannya setelah negosiasi di antara kita yang sebenarnya tak bisa kukatakan indah. Selalu mengganjal di hatiku sampai hari ini. Aku lupa mengucapkan tiga kata ajaib: maaf, tolong, terima kasih.
Sepele? Tentu. Tapi maknanya luar biasa.
Tak percaya? Ya ini buktinya. Surat yang sedang kamu hadapi ini.
Aku selalu kesulitan mengucapkan kata itu, terutama kepada kamu. Maka sampai saat kita berjumpa untuk yang terakhir, aku tetap tak bisa mengucapkannya.
Mungkin lewat ini, aku hanya mampu.
Maaf. Jika aku mencintai laki-laki lain selain daripadamu. Kemudian kamu merelakan aku untuk bahagia dengannya. “Dan memang aku tidak bisa membahagiakanmu selain daripada melepaskanmu untuk pergi dengannya, menjalankan kehidupan yang lebih realistis. Ini adalah cara untuk membuatmu merasa cukup.” Setiap kuingat katamu, bendungan air di mataku pecah. Di mana pun keberadaanku, aku pasti menangis. Bahkan aku pernah menangis di depan laki-laki lain yang tak lama lagi akan menjadi milikku seutuhnya.
Tolong. Bila memang kita tidak dapat bersatu, tolong maafkan aku. Untuk semua kesalahanku. Tak bisa kukatakan itu adalah sebuah khilaf. Cinta membuat seseorang menjadi buta, bukan hanya gila. Membuat kita bisa tertawa, menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Membuat kita bisa menangis, menjadi orang yang paling malang di dunia ini. “Tolong lupakan aku dan bahagialah dengan dia. Ini menjadi bahagiaku juga yang berasal darimu.” Kata-katamu masih ada di dalam catatan harianku. Kutulis beberapa menit kemudian setelah kita tak pernah bertemu lagi.
Terima kasih. Terima kasih untuk jalan yang pernah kita jalani bersama, waktu yang pernah kita putar bersama, langkah yang pernah kita tapaki bersama, kata yang pernah kita ucap bersama, cerita yang pernah kita dongengkan bersama, cita yang pernah kita mimpikan bersama, lagu yang pernah kita lantunkan bersama, dan samua yang pernah kita semuakan bersama. “Terima kasih untuk kebersamaan yang indah.” Kata-kata itu, ia memang berlalu dibawa angin, tapi tidak untukku.
Ini hanya soal rindu, rindu aku kepadamu. Apakah kamu merasakan hal serupa?
Seorang yang pernah mencintaimu,
A, pemujamu sampai kini.
*) untuk sebuah proyek yang selalu ditunggu dengan senyum :-)
SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2012
| Start: | Feb 27, '12 |
| End: | Aug 30, '12 |
Ketentuan Umum
Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
Tema bebas.
Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).
Ketentuan Khusus
Panjang naskah minimal 150 halaman A4, spasi 1,5, Times New Roman ukuran 12.
Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap pada lembar tersendiri, di luar naskah.
Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2012
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330
Batas akhir pengiriman naskah: 30 Agustus 2012 (cap pos atau diantar langsung).
Lain-lain
Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2012 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada bulan Desember 2012.
Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
Pajak ditanggung pemenang.
Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2009-2012 dan keluarga inti Dewan Juri.
Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id.
Dewan Juri terdiri dari kalangan sastrawan dan akademisi sastra.
Hadiah
Pemenang utama
Rp. 20.000.000
Empat unggulan
@Rp.4.000.000
Jadwal
Publikasi Maklumat : Maret 2012
Pengumpulan karya : April—Agustus 2012
Penjurian : September—November 2012
Pengumuman pemenang : Akhir Desember 2012
Sumber sini
Senja
dan itulah yang kusebut dengan namamu
sebuah keabadian dari hari-hari yang datang
kemudian pergi
kemudian berlalu
mengikuti keberadaan angin
Bandung, 27 Februari 2012 | 18.12
A.A. - dalam sebuah inisial
Senin, 20 Februari 2012
Sebuah Suratan Pagi
kuketahui hari ini
usia itu sangatlah siingkat
lebih singkat dari kata-kata
lebih singkat dari waktu
Jakarta, 21 Februari 2012 | 06.22
A.A. - dalam sebuah inisial