Jumat, 04 November 2011
Tentang Hujan
Rabu, 02 November 2011
Menjunjung Pagi
di dalam hatinya, ia mendekap luka
orang-orang berujar ia kesepian
disandera oleh segala bilur-bilur
dan tentang cerita pedih tiada akhirnya
pagi menuju kepada hilir sungai
dibungkamnya sunyi, biar orang bergidik
karena sunyi itu tentang kefanaan yang arif
segala tentang yang arif harus dibunuh
untuk itu ia melakukannya
pagi membunuh sunyi, mengundang keramaian
biar esok sunyi datang diundang malam
dan pagi akan membunuhnya lagi
sementara di ujung sana, matahari menunggu
siapa yang akan menang dalam pertarungan itu
Bandung, 3 November 2011 | 05.42
A.A. - dalam sebuah inisial
Selasa, 01 November 2011
Nulis Yuk
Selamat membaca, selamat menulis. Semoga terinspirasi.
Oleh : Windy Ariestanty*)
Kenapa menulis
Sudah seharusnya semua orang bisa menulis. Loh, kok bisa. Iya, semua orang pasti bisa menulis karena :
1. hampir semua pekerjaan di dunia ini butuh komunikasi tertulis,
2. menulis itu menguji pengetahuan kita sendiri. Lewat menulis kamu juga mengembangkan pengetahuan kamu,
3. menulis melatih cara kita berpikir. Tulisan yang bagus mencerminkan cara berpikir yang bagus,
4. profesi menulis itu menjanjikan. Jadi penulis professional bisa memberikan penghasilan yang asyik. Contohnya, J.K Rowling, Raditya Dika, Moammar Emka, Aditya Mulya, Icha Rahmanti, Ninit Yunita, Christian Simamora, dll. Tanyakan pada mereka, berapa penghasilan yang mereka peroleh dari menjadi penulis. Kamu pasti melongo!
Bukan bakat, bukan bacot
Pernah ada yang bilang kalau kamu berbakat menulis? Kalau pernah, pasti ada alasannya kenapa temanmu itu bilang kamu berbakat. Pasti karena kamu pernah nunjukin hasil tulisan kamu kan? Atau karena dia pernah lihat tulisanmu.
Kamu bisa disebut berbakat menulis kalau kamu menulis. Ini ibarat ramalan bintang yang kita bilang jitu kalau udah kejadian. Kamu nggak bisa bilang kamu berbakat menulis kalau kamu cuma ngobral bacot kanan-kiri tentang ide sebuah buku. Itu nggak bisa menjadi indikasi kalau kamu berbakat menulis.
Kenapa saya bilang begini? Karena redaksi GagasMedia kerap kali menerima surat yang isinya :
Dear redaksi Gagas,
Saya adalah orang sangat suka sekali mebaca dan memiliki bakat menulis. Saya punya banyak ide cerita yang bisa Gagas jadikan novel.
Apakah redaksi ada waktu untuk bertemu? Kita bisa bicarakan ide-ide menarik untuk novel saya. O,ya, saya membutuhkan orang yang bisa menuliskan ide-ide itu menjadi novel. Redaksi bisa melakukannya kan?
Terima kasih,
XXX
Kali lain, saya menerima telepon yang cukup menyenangkan. Setidaknya, membuat saya menahan tawa setelah menerima telepon. Begini ceritanya,
Si penelepon: Hallo, Mba Windy?
Windy: Iya. Ada yang bisa dibantu?
Si penelepon: Begini, Mba. Saya ingin banget jadi penulis. Pengen banget punya novel.
Windy: Wah, bagus banget.
Si penelepon: Nah, saya tuh punya kisah cinta yang kalau dijadikan novel tuh bisa bagus banget. …..(lalu dia bercerita tentang kisahnya)…Bisa nggak ya diterbitkan Gagas?
Windy: Kirimin aja dulu naskahnya ke saya. Nanti kita pelajari.
Si penelepon: Loh, bukannya Mba Windy nanti yang akan menuliskan novel saya itu?
Menurut kalian, apa yang harus dilakukan redaksi menghadapi orang berbakat ini?
Saya adaah salah satu orang yang termasuk dalam golongan tidak percaya bakat. Saya nggak pernah percaya ada bakat. Menulis buat saya bukan masalah bakat. Apalagi cuma banyak bacot. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan berbakat menulis, sementara belum pernah ada satu tulisan pun kamu hasilkan.
Ide yang brilian, tema yang menarik nggak akan membuat kamu dicap berbakat menulis tanpa menuliskannya.
Jadi, menulis itu masalah apa?
Menulis masalah latihan
Suka menulis? Yup, cukup. Alasan itu sudah cukup buat kamu ada di sini dan belajar bareng bagaimana membuat tulisan yang seru dan tentunya bagus. Lupakan bakat. Lupakan kalau kamu punya banyak ide cerita menarik. Ambil kertas dan pena, yuuuk, bareng-bareng kita coba menuliskan ide cerita yang ada di kepalamu!
Kalau saya ditanya apa dasar dari menulis, jawaban saya cuma satu : Latihan. Teori menulis sehebat apa pun nggak akan bisa bikin kamu lebih jago menulis kalo nggak menulis. Yang akan bikin kamu semakin jago menulis cuman satu : Latihan. Menulis itu adalah tindakan!
1.bisa baca dan tulis
2. latihan
Nggak ada langkah standar untuk menulis!
Nggak ada tuh langkah standar atau resep untuk menghasilkan tulisan. Proses menulis bisa dimulai dari mana saja, dan berakhir di mana aja. Kata Yayasn Sopyan, pengajar kelas menulis Gagas, menulis itu pekerjaan non linear, nggak mengenal langkah pertama apa dulu sebelum masuk ke langkah kedua, ketiga, dan seterusnya.
Kadang, kamu bertemu dengan penulis, yang belum mau memulai menulis kalau dia belum tahu ending novelnya. Jadi, hal pertama yang ia lakukan adalah menentukan ending terlebih dahulu. Satu ketika, kamu bisa bertemu penulis, yang baru memulai menulis kalau outline tulisannya sudah jadi. So, nggak ada hal standar untuk menulis. Kamu bisa memulainya dengan cara yang paling membuat kamu nyaman dan asyik untuk menulis.
Faktor penting dalam menulis adalah diri kita sendiri :
1. seberapa kita menguasai hal-hal yang akan kita tulis,
2. seberapa kita percaya diri bahwa yang kita tulis itu penting dan otentik.
Jenis-jenis kegiatan dalam menulis
Memang nggak ada urutan baku dalam menulis. Namun, aktivitas menulis umumnya terbagi dalam tiga jenis kegiatan.
1. perencanaan. Ini adalah kegiatan menggali berbagai kemungkinan untuk menemukan dan mengorganisasikan ide.
2. Drafting. Di sinilah kita menuangkan ide. Ada 3 jenis draft yang biasa dikenal di kalangan penulis :
1. exploratory draft : memastikan bahwa kita tahu apa yang ingin ditulis; lebih mencerminkan tulisan yang dilihat dari sudut pandang si penulis,
2. working draft : menganalisis, membaca ulang apa yang kita tulisa; tulisan kita harus dilihat dari sisi pembaca. Proses ini bisa berulang-ulang.
3. final draft : memastikan kelengkapan bukti dan argumentasi (non fiksi) detail kejadian (fiksi), menilik kata yang dipilih dan struktur kalimat, dsb.
3. Perbaikan (revisi). Kegiatan ini berlangsung sejak dan hanya mulai setelah sebuah draft selesai dikerjakan.
Pengendali proses menulis
Karena proses menulis itu nggak mengenal urutan atau langkah, seorang penulis butuh alat untuk mengendalikan kegiatannya. Tanpa alat pengendali itu, tulisan yang dihasilkan bisa nggak karuan.
Menurut Frank O’Hare dan Dean Memering, ada lima komponen yang mengendalikan dan membuat proses menulis menjadi lebih beraturan :
1. Tujuan (Purpose). Tentukanlah tujuan tulisn kita: untuk menghibur? Kasih inspirasi? Memberikan sudut pandang baru tentang sebuah topik? Memandu?
2. Pembaca (Audience). Tentukanlah pembaca kita. Nggak ada buku untuk semua orang. Sebuah buku pasti cocok untuk sekelompok orang tertentu saja.
3. Kode (Code). Tentukan cara kita menyampaikan ide kita. Di sinilah penulis akan menentukan gaya bahasa, strategi komunikasi, maupun pilihan kata yang akan dipakainya.
4. Pengalaman (Experience). Tentukan pengalaman jenis apa yang akan kita bagi kepada pembaca. Tanpa pengalaman nggak ada yang bisa dibaca oleh pembaca.
5. Diri penulis (Self). Tulisan yang bagus juga harus memunculkan diri penulis. Nah, diri macam apa yang akan kita munculkan di depan pembaca. Apakah kita akan hadir sebagai orang cerdas yang ngocol? Apakah kita akan hadir sebagai badur? Apakah kita kan hadir Sebagai orang yang cool and smart?
Kelima komponen tersebut bisa kamu jadikan pegangan untuk mengendalikan proses menulis.
Tentukan topik tulisan
Orang yang merasa punya banyak topik untuk ditulis dan orang yang mengaku sama sekali nggak punya topik untuk ditulis sebenarnya menghadapi masalah yang sama: topik apa yang sebaiknya ditulis?
Kita sering banget kebingungan menentukan topik. Nggak masalah. Itu wajar banget. Tapi, sebaiknya kamu harus bisa segera merumuskan. Karena kalau kamu biarkan, kamu nggak bakal bisa memulai menulis.
Ada beberapa patokan yang bisa digunakan untuk membantumu menentukan topik apa yang akan ditulis :
1. kompetensi. Tulislah hal-hal yang kita kuasai saja,
2. pertimbangkan pembaca. Jangan egois. Kita menulis agar tulisan kita dibaca oleh orang lain. Jadi, pertimbangkanlah untuk memilih topik yang cocok sama kebutuhan dan pengalaman pembaca.
3. fokus dan spesifik. Biasakanlah untuk memilih topik yang spesifik. Topik yang isinya berisi gagasan besar saja nggak akan menarik. Gagasan-gagasan besar cenderung mengarah kepada menyatakan (telling), bukan memperlihatkan (showing). Fokus dan spesifiklah! Sebagai alat Bantu untuk menguji, gunakan pertanyaan, “So what?”
4. Pinjam alat bantu jurnalis. Para jurnalis punya kriteria untuk menentukan apakah sebuah kejadian layak diberitakan. Nah, criteria itu bisa kita pinjam juga untuk menilai sebuah topik. Beberapa kriteria layak berita itu adalah :
1. yang terjadi sekarang,
2. yang berdampak,
3. yang terkenal,
4. yang dekat,
5. konflik,
6. yang aneh,
7. yang aktual.
Melawan kekosongan
Menulis itu adalah proses melawan kekosongan. Jadi, ketika kamu berkilah nggak punya ide atau mampet, saya curiga, itu cuman alasan kamu aja untuk menutupi kenyataan bahwa kamu nggak cukup mampu dan terampil dalam menulis.
Idea can hit you in everywhere. All what you have to do is just picking your paper and pen! Let’s start to write since now on.
Sumber bacaan : materi pelatihan menulis GagasMedia, Creative Writing karya A.S Laksana, The Complete Guide to Editing Your Fiction karya Michael Seidman, Berani Berekspresi karya Susan Shaughnessy
*) Windy Ariestanty adalah seorang editor di GagasMedia dan Bukune, penulis Studying Abroad, Tiara Lestari: Uncut Stories, Shit Happens (ditulis bersama Christian Simamora), dan Life Traveler. Tulisannya juga ada di dalam Kepada Cinta dan The Journeys. Penerjemah Letters To Sam.
Jumat, 28 Oktober 2011
Sebuah Pagi
seperti kemarau yang disapu hujan
pelangi adalah senyum
hujan adalah air mata
pagi ini langit sedang tersenyum
ditampiknya air mata
dan jadilah hari ini
A.A. - dalam sebuah inisial
Rabu, 19 Oktober 2011
Tentang Sepi yang Meraja
Rasanya tidak begitu lama kita tidak bersua meski telah berapa bulan kita terbentang jarak. Apa kabarmu, itu yang hendak kutanyakan. Berkali-kali kutanya lewat angin, hujan, matahari, dan bulan, mungkin aku tahu jawabmu adalah sama. Tetapi lewat pertanyaan berbasa-basi itu, aku setidaknya ingin membuat sebuah persetujuan denganmu bahwa kita memang baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kalau kau bertanya tentang apa yang saat ini paling kunikmati, tentu akan kujawab adalah kesendirianku. Ternyata kesendirian itu lebih nikmat daripada hura-hura. Lewat kesendirian itu, aku lebih bebas dengan segala hal yang akan kulewati dan ingin kutempuh. Bahkan tulisan untukmu kali ini, kutulis dengan kesendirianku.
Semakin dewasa, aku semakin sadar ternyata kita akan semakin bergelut dengan kepentingan saja. Aku semakin mengerti bahwa keutuhan yang ada di dunia ini bersifat sementara. Ia akan melebur sendiri dengan keadaan, keberadaan, dan keberadaban. Dan semakin dewasa pula, kita pelan-pelan telah dilepas untuk sanggup berdiri sendiri dan melintasi segala hal yang ingin kita raih.
Sekarang aku cenderung memilih jauh dari hiruk-pikuk dan lebih memilih pulang, membuka laptop, membaca buku, atau mencari teman satu-dua orang untuk berdiskusi. Entah orang-orang mengatakan aku memang ingin mengasingkan diri atau tidak, tetapi dengan cara ini aku mendapatkan apa yang aku inginkan.
Dan aku pun sesekali rindu tentang rumah. Dengan cara ini, aku belajar berkawan, bukan melawan sepi. Aku mencintai sepi seperti aku mencintai diriku, seperti aku mencintai segala kenangan tentang kamu dan yang kutangkap dari segala medan perih ternyata tidak pernah menjadi nyata. Ia hanya lembaran yang begitu klise. Dengan mencintai sepi itu, selalu ada rasaku yang pulang meski jasmaniku masih berada di sini. Masih ada kehangatan tentang rumah yang tak pernah hilang dan kuketahui bahwa yang dinamakan rumah adalah ketika kita mampu menempatkan hati di mana saja kita bisa merasakan zona nyaman.
Di sini sangatlah sepi. Awan berarak ke timur, kata orang-orang dan aku percaya saja. Tidak ada suara kereta, mobil, atau kebisingan lain. Aku pun bisa memutar Enya dengan jelas meski volume suara yang sangat kecil. Cenderung pula aku menghabiskan waktuku dengan tidur meski tak pernah merasa nyenyak. Seringkali aku terbangun di tengah malam atau waktu tidurku tidak pernah sama dengan ketika aku berada di rumah. Tapi bagiku cukup.
G, aku akan pulang. Entah di hari apa, tetapi kurasa kita tidak akan sempat bertemu. Namun aku selalu mendapatkan bahagia ketika aku sanggup menuliskan surat kepadamu dan dengan cara ini kuketahui bahwa kekayaan kata-kata bisa membuatku lebih bernyawa. Lewat cara inilah, kita bertemu.
Bandung, 20 Oktober 2011 | 10.32
A.A. - dalam sebuah inisial
Selasa, 18 Oktober 2011
Suka, Duka, Murka
A.A. - dalam sebuah inisial
Penyair
Penyair
Jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang.
Jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah
Sarang Jagat Teater
19 Januari 1988.
Widji Thukul adalah seorang penyair dan aktivis yang lahir pada tanggal 26 Agustus 1963. Terlahir dari ayah yang seorang tukang becak. Rajin menulis puisi sejak SD dan bergabung dengan kelompok Sarang Jagat Teater. Sejak peristiwa 27 Juli 1996, Widji Thukul hilang dan diduga dilenyapkan oleh pemerintah orde baru karena kegiatan aktivisnya. Beberapa orang menyatakan masih melihatnya di tahun 1998. Sejak tahun 2000, ia dinyatakan hilang sampai kini. Salah satu buku kumpulan puisinya yang terkenal adalah 'Aku Ingin Jadi Peluru'.