mungkin tuhan tahu seberapa engkau menderita karena perih itu
perih yang tak bisa kau bagikan kepada sekitarmu, kepadaku
perih yang hanya boleh kau nikmati seorang diri di dalam waktumu
atau kau memang hanya ingin menjadikannya bagian dari dirimu
tentang sakit itu bisa saja terobati, tetapi sejarah sudah lebih lekas mencatat
boleh kulit hatimu terluka, ditahirkan, tetapi akan meninggalkan bekas
biar kau ingat lagi rasa sakitmu, rasa perih yang tak bisa kau lupakan
biar kau selalu berusaha untuk tidak menggores luka kepada lawan bicaramu
mungkin tuhan tahu seberapa perih luka jiwamu yang meradang
ia hanya butuh tempat untuk beristirah dan memulihkan isi batin
lebih mengenal siapa dirinya dan tahu caranya untuk menjadi pulih
dari sana, ia menghargai perih sebagai bagian dari darah waktunya
Bandung, 12 Oktober 2011 | 07.27
A.A. - dalam sebuah inisial
Selasa, 11 Oktober 2011
Sabtu, 08 Oktober 2011
Ia yang Disebut dengan Cinta
Bukankah kau yang memanggilnya demikian? Adapun aku tidak pernah melarang akan kehadirannya.
Aku hanya membuka pintu agar ia hendak bertamu, menikmati segala suguhan yang ada di rumah hati.
Kau memanggilnya dengan nama itu, aku pun demikian.
Memang mungkin ia yang disebut dengan cinta, ia yang dikenal dengan cinta.
Sehingga bukanlah hal yang tidak indah bila orang-orang bahagia karena ia, pula berlara karena ia.
Ia bisa menjadi sumber bahagia dan sumber nestapa. Ia seperti air yang melegakan, tetapi juga air yang menjadi bah.
Tapi tanpanya, hidup adalah tawar, tak lagi beragi.
Jakarta, 8 Oktober 2011 | 11.18
A.A. - dalam sebuah inisial
Aku hanya membuka pintu agar ia hendak bertamu, menikmati segala suguhan yang ada di rumah hati.
Kau memanggilnya dengan nama itu, aku pun demikian.
Memang mungkin ia yang disebut dengan cinta, ia yang dikenal dengan cinta.
Sehingga bukanlah hal yang tidak indah bila orang-orang bahagia karena ia, pula berlara karena ia.
Ia bisa menjadi sumber bahagia dan sumber nestapa. Ia seperti air yang melegakan, tetapi juga air yang menjadi bah.
Tapi tanpanya, hidup adalah tawar, tak lagi beragi.
Jakarta, 8 Oktober 2011 | 11.18
A.A. - dalam sebuah inisial
Selasa, 04 Oktober 2011
Perihal: Air Mata
bukankah kita pernah mendiskusikan hal ini
di mana kita hanya bisa menderita sakit seorang diri
menyimpan dendam yang tak terbalaskan
mengubur rasa sakit hati yang tak terbuka
dan benar-benar sungguh kesepian
air mata menjadi jawaban untuk memilih langkah
sebagaimana kita pernah pergi kepada waktu
untuk mengemis agar ia tak cepat berlari
agar tak sia-sialah semua hari yang ada
agar tetap ada harapan meski di tengah sepi
meski kau dan aku benar-benar merasa kesepian
air mata menjadi jawaban, untuk kau tahu tentang sebuah kehidupan
yang tak selalu semua orang tahu tentangnya
Bandung, 5 Oktober 2011 |5.01
A.A. - dalam sebuah inisial
di mana kita hanya bisa menderita sakit seorang diri
menyimpan dendam yang tak terbalaskan
mengubur rasa sakit hati yang tak terbuka
dan benar-benar sungguh kesepian
air mata menjadi jawaban untuk memilih langkah
sebagaimana kita pernah pergi kepada waktu
untuk mengemis agar ia tak cepat berlari
agar tak sia-sialah semua hari yang ada
agar tetap ada harapan meski di tengah sepi
meski kau dan aku benar-benar merasa kesepian
air mata menjadi jawaban, untuk kau tahu tentang sebuah kehidupan
yang tak selalu semua orang tahu tentangnya
Bandung, 5 Oktober 2011 |5.01
A.A. - dalam sebuah inisial
Kamis, 29 September 2011
Epilog September
September hanya seperti pagi dan malam
ia datang untuk kemudian pergi lagi tanpa pamit
setidaknya kita tahu sehingga kita siap untuk kehilangannya lagi
mendoakannya di dalam perjalanannya dan membekalinya dengan asa
agar ia tak menjadi lenyap ketika dunia yang terlalu kejam memberangusnya
karena setiap orang berdoa agar September tidak lekas pergi
begitu juga aku dan kau, begitu juga kau dan aku
bukankah pergi memang untuk menemukan jalan pulang?
ketika itu gerimislah aku dengan air mata yang ada di pelupuk
tak hingga untuk melepas segala kenangan dan tak tampak wujud ikhlas
September menyimpan fajar dengan sebungkus ratap yang begitu manis
juga mengepak cinta yang tidak memandang sepi dan ramai
'aku harus pergi, sampai jumpa lagi di dimensi baru,' kata September
bukankah semua awal akan bertemu dengan akhir
bukankah semua pertemuan akan bertemu dengan perpisahan
bukankah kita hanya sekadar bertemu dan bertamu, duduk di beranda
seperti halnya September yang akan pamit, untuk pergi
entah ke negeri mana
Bandung, 29 September 2011 | 17.54
A.A. - dalam sebuah inisial
ia datang untuk kemudian pergi lagi tanpa pamit
setidaknya kita tahu sehingga kita siap untuk kehilangannya lagi
mendoakannya di dalam perjalanannya dan membekalinya dengan asa
agar ia tak menjadi lenyap ketika dunia yang terlalu kejam memberangusnya
karena setiap orang berdoa agar September tidak lekas pergi
begitu juga aku dan kau, begitu juga kau dan aku
bukankah pergi memang untuk menemukan jalan pulang?
ketika itu gerimislah aku dengan air mata yang ada di pelupuk
tak hingga untuk melepas segala kenangan dan tak tampak wujud ikhlas
September menyimpan fajar dengan sebungkus ratap yang begitu manis
juga mengepak cinta yang tidak memandang sepi dan ramai
'aku harus pergi, sampai jumpa lagi di dimensi baru,' kata September
bukankah semua awal akan bertemu dengan akhir
bukankah semua pertemuan akan bertemu dengan perpisahan
bukankah kita hanya sekadar bertemu dan bertamu, duduk di beranda
seperti halnya September yang akan pamit, untuk pergi
entah ke negeri mana
Bandung, 29 September 2011 | 17.54
A.A. - dalam sebuah inisial
Rabu, 28 September 2011
Nasional.Is.Me
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Nonfiction |
| Author: | Pandji Pragiwaksono |
Awal ketika saya melihat Pandji adalah ketika ia tampil di salah satu televisi dengan gayanya yang tidaklah terlihat seperti orang yang mencintai Indonesia. Berpakaian santai dan cara bicaranya yang juga sudah mengikuti tren masa kini. Ya, silakan Anda mengatakan ini adalah hasil dari globalisasi dan memang tidak dapat dipungkiri jawaban tersebut. Saya pun mengaminkannya.
Globalisasi, seperti kata Robert Jackson dan Georg Sorensen, bisa mengubah hal-hal yang ada di dalam sebuah negara. Mau tak mau, kita harus bisa memilih dan memilah hasil dari proses kebudayaan tersebut. Adalah menjadi kewajiban kita untuk menentukan hendak memilih yang mana. Di situlah bukti yang sangat nyata bagaimana kita mencintai negara kita, akan sejauh mana kita akan terseret oleh arus globalisasi yang tentunya saja bisa menanggalkan jati diri bangsa.
Globalisasi juga bisa menciptakan hal yang buruk seperti kemiskinan, perbedaan strata yang semakin jelas terlihat, dan kebudayaan yang lenyap. Indonesia sudah diambang itu semua. Silakan lihat berapa banyak pengamen dan pengemis yang berkeliaran di satu perempatan jalan. Tidak terbayangkan lagi keadaan ini menjadi sebuah perhatian yang harus dipandang serius.
Dengan gayanya tersebut, siapa pernah menyangka seorang Pandji benar-benar jatuh cinta kepada negerinya sendiri. Lewat tulisanlah ia mengapresiasi, mendukung, dan mewujudkan rasa nasionalisnya. Bukankah kita tak perlu mati untuk membuktikan bahwa kita cinta akan tanah air kita? Bukankah kita tak perlu mengangkat senjata dan berperang untuk menunjukkan sejauh apa kita cinta akan tanah air ini?
Pandji mengajak kita untuk mencintai bangsa ini lewat cerita-cerita dan pengalaman hidupnya yang tentu saja tak bisa dimiliki oleh orang lain. Setidaknya, dengan berbagi itu, ia telah mewujudkan apa yang diharapkan banyak orang: cinta akan tanah air.
Bukankah masih banyak yang bisa dibanggakan dari Indonesia? Silakan percaya atau tidak, orang-orang di luar negeri begitu mencintai Indonesia. Pernah mendengar nama Alfred Riedl? Apa yang diberitakan oleh media massa tentang dirinya? Ia mengatakan ia sudah terlanjur mencintai Indonesia dan berharap dapat kembali ke negeri ini.
Kita memiliki tanah yang sangat subur, alam yang luas, air yang mengalir, sawah yang bisa ditanami dengan bibit apa pun. Kita bisa berkeliling dan menikmati matahari terbit-terbenam tepat pada waktunya. Kita boleh berbangga dengan semua hal yang negeri lain belum tentu memilikinya.
Pandji boleh memilih untuk mewujudkan cinta akan tanah airnya dengan menulis tanpa harus menanggalkan jati dirinya yang terikat akan proses globalisasi. Demikian pula dengan kita. Tidaklah seharusnya kita hanya bisa mengkritik tanpa berani memberi saran. Dengan demikian, ada timbal balik antara negara dan penduduknya untuk saling mencintai dan saling memberi. Begitu sayang, ketika kita berada di negeri ini, kita hanya bisa mengeluh dan ketika meninggalkan negeri ini, kita hanya mendapatkan balasan: rasa rindu akan negeri sendiri.
Bisa saja benar apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer:
“Karena kau lahir, tumbuh, hidup dan bekerja di sini, dan kelak kau pun mungkin akan mati terbaring di tanah ini – tanah tumpah darahmu, maka itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk mencintai negerimu.”
Bandung, 29 September 2011 | 08.10
A.A. - dalam sebuah inisial
Life Traveler
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Travel |
| Author: | Windy Ariestanty |
Kak Windy,
Tentu kau tahu saya bukanlah seorang pembaca yang baik dan bukanlah seorang penulis resensi yang arif. Saya hanya menulis tentang apa yang ingin saya tulis, saya tidak pernah peduli dengan pembaca yang akan menilai apa dan apakah tulisan saya kelak dipuji atau dicerca. Dengan menyandangi apa yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma, setidaknya tulisan yang sudah dilemparkan ke tengah masyarakat, ia sudah menjadi milik publik dan penulis tidak berhak menghujat sang pembaca.
Demikian pula tentang surat yang saya tulis dan saya publikasikan ini. Tentu orang akan menilainya dengan cara mereka sendiri. Mungkin ada yang tersenyum, mengerutkan dahinya, atau pula langsung menutup laman ini tanpa acuh. Saya pun juga tidak harus memaksa orang lain membacanya. Termasuk seorang Windy Ariestanty.
Ini hanyalah sebuah surat dari seorang pembaca kepada seorang penulis yang jatuh cinta kepada aksara yang ditulisnya. Ya, seorang pembaca yang tanpa rasa malu menuliskan suratnya kepada sang penulis tanpa ia tahu harus dituju ke mana surat itu, atau haruskah dengan cara diam-diam mengirimkannya lewat email sang penulis? Ah, saya bukan tipikal orang yang sanggup mengirim pesan untuk menyatakan langsung dan terang-terangan. Biarkan saja, dengan cara ini, ketika kau tanpa sengaja melintas di dunia maya dan membaca apa yang kutulis ini. Tapi posisikanlah kau sebagai penulis sedangkan saya sebagai pembaca. Itu sangatlah cukup.
Kali pertama saya membaca tulisanmu ketika ada di dalam buku Kepada Cinta. Kali itu juga, saya memberikan penilaian secara pribadi bahwa memang seorang Windy Ariestanty ini bukanlah penulis yang tidak bisa tidak meninggalkan kesan ketika saya mengakhiri apa yang ditulisnya. Sederhana, itu yang saya kecap saat mata melintasi baris-baris aksara yang dirawinya.
Dan saya sebut Life Traveler ini tak lain dan tak bukan adalah catatan perjalanan dari seorang pelancong yang bekerja dan berjalan-jalan, Windy Ariestanty.
Adapun kisah Life Traveler sendiri adalah kisah menatap orang, bertemu dan berpisah, berbicara dan berinteraksi dari kota ke kota, negara ke negara, dan benua ke benua. Tugasmu hanya menceritakannya kembali apa yang kau rasa ketika melintas dan bertemu dengan orang-orang yang tak pernah kau temu sebelumnya. Mungkin dengan cara inilah, Life Traveler lahir dengan proses yang berbeda daripada anak-anak pada umumnya. Karena itu pula, Life Traveler dinanti-nantikan banyak orang sejak di dalam rahim.
Awalnya, biasa saja menurutku di bab-bab awal, seperti cerita-cerita yang kau celotehkan di Twitter, seperti ketika kau beranjak dari kota ke kota dan mengunduh foto di Twitter dan bercerita sedikit banyak mengenai perjalananmu. Sampai pada akhirnya, aku terantuk di dalam surat teruntuk Pak Mula yang ternyata telah memimpikanmu untuk pergi ke Eropa, menghadiri Frankfurt Book Fair. Sayang seribu sayang, Pak Mula sudah mendahuluimu untuk berangkat ke Eropa yang sangat abadi, entah di mana. Yang tersisa adalah Eropa di dalam kefanaan yang sungguh dapat kau tapaiki jejakmu dan surat yang tak akan pernah sampai itu setidaknya dibaca Pak Mula. Itu yang kuaminkan.
Lagi, yang berkesan bagiku adalah sosok Marjolein yang mencintai Indonesia meski ia taklah berdarah bumi ini dan untuk pandai berbahasa Indonesia pun ia harus jauh-jauh belajar. Kadang, untuk menjadi seorang yang nasionalis, kita harus diperingatkan dahulu oleh orang yang berada jauh jaraknya dari tanah Indonesia. Itulah Marjolein yang kurasa sesungguhnya ia adalah orang yang rindu pulang. Tak akan ada petualang yang tak rindu pulang seperti halnya tak ada merpati yang lupa akan kediamannya. Setidaknya bagi Marjolein, Indonesia adalah 'rumah' baginya untuk melepas rindu.
Beberapa bulan yang lalu, di dalam sebuah perjalanan pulang, saya menemukan ke mana memang seharusnya kita berada. A home is a house, but a house is not always a home. Itu yang saya katakan kepada teman saya. Ia hanya mengerutkan dahinya sembari berujar dan berpikir bagaimana menerjemahkan arti 'rumah' sesungguhnya. Dan memanglah esensi pulang adalah esensi yang menakjubkan. Jarak yang membuat perpisahan begitu nyata dan menjadikan perjalanan lebih menemukan eksistensinya. Makna di dalam perjalanan pun tak akan hilang begitu saja.
Kerap kali, saya menemukan hati saya bukanlah berada di rumah, tetapi di dalam perjalanan. Entah sedang di pelosok desa, di puncak gunung, di tepi danau, atau di tengah jalan. Juga kebahagiaan yang ditemukan tak melulu ada di rumah. Saya sering menemukan apa yang dinamakan dengan cinta di tempat yang begitu jauh dari rumah. Saya pun bersepakat dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu,"Home is a place where you can find your love."
Kak Windy,
Mungkin perjalanan sederhana bisa menciptakan pelajaran yang tidaklah sederhana untuk kita cerna. Tetapi perjalanan sendiri membuat kita lebih banyak belajar tentang apa yang tak pernah diajarkan oleh bangku sekolah, mungkin guru-guru pun tak tahu ketika mereka harus mendefinisikan hidup seperti apa. Di dalam perjalanan, dunia lebih mendidik kita untuk lebih berani menantang kehidupan itu sendiri.
Di dalam kata-katamu, selalu ada kekuatan yang meninggalkan jejak yang membekas ketika saya mengakhiri dari keping-keping ceritamu. Inilah dari kepiawaianmu merawi dan berangkat dari sesuatu yang terlihat sepele dan bernilai nihil dijadikan olehmu lebih berisi dan tak lagi bernilai kosong begitu saja. Adalah perjalanan yang menjadikan itu semua menjadi ada. Tentang hidup yang tak akan pernah habis untuk dieksplorasikan dan catatan perjalanan ini yang merupakan dokumentasi dari langkah demi langkah sudah memuatnya dari ribuan bahkan jutaan cerita yang ada di dunia ini setiap harinya.
Kurasa perjalanan yang kulintasi bersama anak rohanimu sudah lebih dari cukup.
Terima kasih untuk sebuah sajian di mana kau ternyata masih bersedia untuk selalu berbagi tentang pengalaman di dalam perjalanan, di mana tak semua orang pernah seberuntung engkau yang menikmati perjalanan dan berinteraksi dengan masyarakat. Doaku, jangan pernah lelah untuk tetap berbagi dan tetap menulis.
Tabik!
Bandung, 28 September 2011 |
A.A. - dalam sebuah inisial
Langganan:
Postingan (Atom)