Minggu, 25 September 2011

Petang Bersama Ayah

adalah petang yang paling mengagumkan
dan tak akan pernah terlupakan.






Bandung, 25 September 2011 | 17.26
A.A. - dalam sebuah inisial

Kamis, 22 September 2011

Lowongan Kerja Admin Kutukutubuku

Start:     Sep 22, '11
End:     Sep 30, '11
Dibutuhkan: Admin

Persyaratan :
Wanita/Pria, usia maksimal 25 tahun
Pendidikan minimal SMA atau sederajat
Terbiasa mengoperasikan Microsoft Word, Excel, dan internet.
Cekatan, teliti, rapih, bersih dan disiplin
Jujur dan berkepribadian baik
Tinggal di wilayah Jakarta Selatan lebih disukai
Bisa bekerja dalam tim
Suka membaca dan tahu dunia perbukuan
Non / Pengalaman
bersedia dikontrak selama 1 tahun

Kirimkan lamaran melalui email ke : taniaedoardo@gmail.com disertai pernyataan gaji yang diharapkan (expected salary)
Lowongan berlaku sampai tanggal 30 September 2011


Source here

Senin, 19 September 2011

LOMBA CERPEN JILFEST 2011

Start:     Sep 20, '11 12:00a
End:     Oct 15, '11
THE 2nd JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL (JILFest) 2011



LOMBA MENULIS CERPEN

“Spirit Persaudaraan dan Multikulturalisme”



Kerja Sama:

Komunitas Sastra Indonesia (KSI)

Komunitas Cerpen Indonesia (KCI)

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud)

Provinsi DKI Jakarta







Dasar Pemikiran



Jakarta sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan, kota internasional, dan berbagai predikat lainnya –yang melekat pada reputasi dan nama baik Jakarta yang merepresentasikan citra Indonesia— memiliki arti penting tidak hanya bagi warga Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia. Artinya, posisi Jakarta sangat strategis bagi usaha mengangkat keharuman Indonesia serta menjalin kerja sama budaya untuk memperkenalkan Indonesia ke pentas dunia.

Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, Jakarta dengan berbagai kekayaan kebudayaannya, keberagaman masyarakatnya, percepatan pembangunannya, serta latar geografik dan latar alamnya yang memancarkan perpaduan modernisme dan eksotisme, telah sejak lama menjadi lahan garapan para sastrawan Indonesia, bahkan juga sastrawan dari mancanegara. Kini, selepas memasuki alaf baru dan zaman ingar-bingar reformasi, sejauh manakah Jakarta masih memancarkan pesonanya, auranya yang menyebarkan daya tarik, dan semangat yang merepresentasikan keindonesiaan.

Dalam kaitan itulah, lomba penulisan cerita pendek berlatar Jakarta dengan tema “spirit persaudaraan dan multikulturalisme”, akan menawarkan catatan estetik yang khas, sekaligus juga universal dalam sebuah kemasan karya sastra. Maka, karya itu hadir sebagai totalitas kreativitas pengarang. Tanpa itu, latar atau tema Jakarta hanya akan menjadi sesuatu yang artifisial, tempelan, dan tidak menyodorkan ruh Jakarta sebagai representasi keindonesiaan.



Tema

“ Sprit persaudaraan dan multikulturalisme “.



Ketentuan Umum

Lomba ini terbuka bagi warga dunia (warga Indonesia dan warga asing)
Biodata dan alamat lengkap (termasuk nomor telepon, ponsel, dan e-mail) disertakan di luar naskah lomba.
Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah lomba.
Naskah lomba belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
Naskah lomba ditulis dalam bahasa Indonesia dan merupakan karya asli.
Naskah lomba dikirim kepada Panitia sebanyak 5 (lima) kopi, disertai CD atau flash disk berisi file naskah, selambat-lambatnya tanggal 15 Oktober 2011 (stempel pos).
Di sebelah kiri amplop hendaknya ditulis “Lomba Menulis Cerpen JILFets 2011”.
Naskah lomba dialamatkan kepada:

Sekretariat Panitia Lomba Menulis Cerpen

Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2011

Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta

Jl.Kuningan Barat No. 2, Gedung B Lt. 3, Kuningan, Jakarta Selatan

Telp. (021) 5263923



Ketentuan Khusus

1. Penjabaran tema dalam cerita dan penggambaran latarnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

2. Panjang karangan antara 8.000-15.000 karakter (with space), atau 4-8 halaman ketik 1,5 spasi, kertas ukuran A4 dengan huruf standar (Times New Roman, 12).

3. Peserta lomba adalah perseorangan, bukan kelompok.

4. Merupakan karya asli, bukan terjemahan ataupun saduran. Penjiplakan atas karya orang lain dalam bentuk apa pun, tidak dibenarkan, dan panitia berhak membatalkan keikutsertaannya dalam lomba ini.

5. Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak diadakan surat-menyurat.



Ketentuan Lain

1. Pengumuman Lomba dan penyerahan hadiah akan diselenggarakan pada acara khusus dalam rangkaian JILFest 2011, bulan Desember 2011.

2. Juara 1 s.d 3 akan diundang untuk mengikuti JILFest 2011 di Jakarta.

3. Hak Cipta ada pada pengarang.

4. Sebanyak 20 cerpen pilihan berikut karya para pemenang akan diterbitkan dalam bentuk buku, bersama 20 cerpen pilihan dan juara lomba menulis cerpen JILFest 2011. Buku ini diupayakan akan diluncurkan serta didiskusikan dalam JILFest 2011 di Jakarta.

5. Panitia berhak mengedit kesalahan pengetikan dalam cerpen.



Hadiah dan Honorarium

Juara 1 Rp 10.000.000,00

Juara 2 Rp 7.500.000,00

Juara 3 Rp 5.000.000,00

Juara Harapan 1 Rp 3.500.000,00

Juara Harapan 2 Rp 2.500.000,00



Keterangan Lain:

Juara 1 s.d 3 akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti Jilfest 2011 dengan fasilitas (akomodasi, dan konsumsi) ditanggung Panitia. Keterangan lengkap tentang lomba ini dapat dilihat pada laman (web site) www.jilfest.org.



Jakarta, 5 Agustus 2011

PANITIA PELAKSANA JILFest 2011

Menulis Kisah Reflektif “Man Jadda Wajada” bareng A. Fuadi

Start:     Sep 20, '11
End:     Sep 30, '11
Menulis Kisah Reflektif “Man Jadda Wajada” bareng A. Fuadi



Tema: Pengalaman Orangtua Merawat Anak



“Cinta orangtua sepanjang masa, cinta anak sepanjang galah” (Pepatah)

“Dua hal yang tidak bisa ditunda adalah beramal dan berbakti kepada orangtua Anda” (Master Cheng Yen)



Orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan pondasi yang kuat kepada anak. Mereka banyak berjasa dalam kehidupan seorang anak. Terlebih orangtua yang mempunyai anak dalam kondisi yang tidak diharapkan sebelumnya, seperti terkena narkoba, autis, difabel, kecanduan merokok, dan lain sebagainya. Kita salut kepada para orangtua yang mengerahkan upayanya demi masa depan anak-anaknya yang mengalami keadaan seperti itu.



Oleh karena itu, kami mengajak kepada khalayak pembaca untuk berbagi pengalaman dalam merawat anak, baik anak kandung maupun bukan. Anda bisa menggali pengalamannya dari sudut orangtua, anak, dan yang lainnya.

Naskah yang terpilih akan disertakan dengan tulisan A. Fuadi dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka.



Syarat-syarat dan ketentuan:

Panjang tulisan sekitar 10 halaman, Times New Roman spasi 2, Font 12, kertas A4.
Belum pernah dimuat dan dipublikasikan di media mana pun
Kirimkan tulisan Anda dalam bentuk file ke email redaksi: man.jadda2011@gmail.com dengan subjek: Man Jadda Wajada
Tulis biodata Anda dalam bentuk narasi di bawah tulisan Anda beserta alamat lengkap dan nomor telepon.
Tulisan yang terpilih berhak mendapatkan fee sebesar Rp 300.000,- (Tiga Ratus Ribu Rupiah) dan mendapat paket buku dari Bentang Pustaka, termasuk buku Pengalaman Orangtua Merawat Anak : Man Jadda Wajada Series (jika sudah terbit).
Naskah diterima paling lambat 30 September 2011

Terima kasih

Bentang Pustaka

Lowongan Editor di Gradien Mediatama

Start:     Sep 19, '11
End:     Sep 30, '11
Penerbit Gradien Mediatama – Yogyakarta, membutuh seorang EDITOR BUKU TERJEMAHAN (EBT) dengan persyaratan:

1. Perempuan
2. Usia maksimal 25 tahun, belum menikah
3. (Lebih disukai) lulusan S1 Sastra/Pendidikan Bahasa Inggris
4. Mahir berbahasa Inggris baik tulisan maupun lisan
5. Gemar membaca, terutama buku berbahasa Inggris
6. Memiliki pengetahuan bahasa Indonesia yang memadai
7. Berdomisili atau bersedia berdomisili di kota Yogyakarta
8. Sanggup bekerja mengikuti Deadline

Surat lamaran dengan kode (EBT) diterima paling lambat 30 September 2011, dikirimkan ke:

HRD Kelompok Agromedia
Divisi Rekrutmen
Jl. H. Montong No. 57, Ciganjur – Jagkarsa
Jakarta Selatan

ATAU

rekrutmen.agromedia@gmail.com



Source here

Dicari: Penerjemah Novel Korea

Start:     Sep 19, '11
End:     Sep 20, '11
Penerbit Gradien Mediatama membutuhkan Penerjemah Freelance andal untuk menerjemahkan novel-novel berbahasa Korea ke bahasa Indonesia.

Lowongan ini terbuka bagi Anda di mana saja (dalam maupun luar negeri), tanpa batasan latar belakang pendidikan, asalkan memenuhi prasyarat utama:

Menguasai bahasa Korea dengan baik dan mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia yang luwes.

Apabila Anda berminat, silakan mengirimkan aplikasi ke email gradienmediatama(at)gmail



Source here

Mendengar Cita-cita

Sebuah malam Juli di Senayan, Jakarta, saya mencegat taksi untuk menumpang setelah hampir seharian berkelana di kota ini. Tepatnya bukan berkelana, tetapi menyerahkan hasil kerja dan hendak pulang. Jakarta sudah memperlihatkan langitnya yang pekat dalam gelap dan saya sudah enggan untuk berdesak-desak di dalam busway yang semakin hari semakin tidak bisa membuat puas para penumpangnya karena armada bus yang tak pernah sesuai dengan jumlah penumpang.

Masuklah saya ke dalam sebuah taksi. Seorang bapak, sebutlah namanya Pak Amir. Tak ada ucapan selamat malam, tak ada sapa hendak ke mana arah kita. Tiba-tiba ia langsung bercerita sendiri. Tapi saya membiarkannya saja apa yang hendak dikatakannya sembari mengatakan ke mana saya akan beranjak.

Langit Jakarta sudah terisi oleh kerlap-kerlip dari lampu-lampu. Jalanan ibukota tetap padat, apalagi saya pulang di jam orang-orang pulang ke rumah. Klakson, umpat, dan suara knalpot menjadi hal yang tak asing lagi ketika hidup di Jakarta. Rasanya hampir tak ada orang yang hidup di jalanan Jakarta yang tidak ingin mengumpat dengan sikap dan perilaku sesama pengguna jalan. Bahkan sampai pengemis dan pengamen pun bisa menjadi sasaran ketika seorang pengguna jalan sudah naik darah di jalanan ini.

Saya tahu, malam-malam itu adalah malam-malam terakhir saya menikmati kemacetan Jakarta secara utuh. Setelahnya, mungkin saya hanya menikmati udara dingin dan angkot-angkot yang tahu sopan santun dalam mencari penumpang. Jakarta keras, dan itu benar-benar keras. Dari jalanan saja kita bisa melihatnya.

Pembicaraan saya dan sopir taksi tadi belum usai. Tiba-tiba ia bertanya tentang hal yang tak biasa saya bicarakan dengan supir taksi lainnya.

"Dik, kerja di mana?"
"Kerja sambil kuliah, Pak. Kerja serabutan. Hahaha..."
"Kuliahnya di mana?"
"Bandung."
"Lho? Kok?"
"Kuliah belum mulai, saya di sini bekerja iseng-iseng saja. Isi waktu liburan."
"Kuliahnya apa, Dik?"
"Ilmu Politik, Pak. Kenapa?"
"Tahu dong kasusnya Nazaruddin?"
"Tahu, Pak."
"Menurut Adik, Nazar salah atau tidak?"
"Salah dong, Pak. Tapi masih ada kepalanya lagi yang lebih salah."
"Pernah bercita-cita dengan Indonesia yang bebas dari korupsi, Dik?"

Glek! Seorang sopir taksi menanyakan hal seperti ini kepada saya. Cukup mengejutkan sekaligus membuat sebuah hal yang tak pernah saya duga-duga sebelumnya. Selama ini, saya tahu kasus Nazaruddin seperti apa dan saya mengikutinya. Tetapi saya tidak pernah bertanya kepada diri saya apakah saya pernah berpikir dan bercita-cita memiliki negara yang bebas dari korupsi.

"Mungkin, Pak. Kalau Bapak sendiri?"
"Selalu. Saya sering sedih, tapi saya kan cuma sopir taksi."
"Lalu, mengapa dengan sopir taksi, Pak? Apa saya yang mahasiswa dan Bapak yang seorang sopir taksi tidak boleh bercita-cita?"
"Ya, boleh. Tapi cita-cita cuma cita-cita saja."
"Cita-cita bisa terwujud kalau mimpi kita tidak ketinggian dan kita mampu menggapainya, Pak. Kalau negara tanpa korupsi itu pasti tidak pernah ada di dunia ini."

Malam itu pula, telinga saya seperti mendengar lagu dari John Lennon, Imagine. "
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as on"

"Saya dulunya kerja di Telkom, Dik. 15 tahun di sana. Semua tunjangan kesehatan dan sekolah anak ditanggung."
"Kok berhenti?"
"Gaji tak naik. Meski tunjangan ada, sering tidak cukup karena mereka tidak pernah menaikkan tunjangan sampai penuh. Tapi, sampai sekarang saya tetap ditanggung karena saya mengundurkan diri."

Di kursi belakang saya mengangguk. Kemudian mendengarkan lagi Bapak itu bercerita.

"Anak saya sudah selesai SMK. Syukur, saya bisa menyekolahkannya dari taksi. Kadang juga saya sedih, anak saya sebenarnya ingin kuliah. Tapi saya belum mampu. Untung dia mau masuk SMK. Sekarang dia bisa bantu bapaknya. Desain gelas, spanduk, dan baju."

Saya selalu percaya, semua orang memiliki cita-cita. Semua orang pasti akan bercita-cita. Seorang sopir taksi atau seorang mahasiswa yang duduk bersama di dalam satu mobil, melintasi jalan yang sama pun pasti memiliki cita-cita. Bukankah kita sedari kecil memang sudah ditanamkan cita-cita? Cita-cita membuat kita supaya bertahan hidup untuk memperjuangkannya dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada, membuat seseorang untuk menilai dirinya lebih berarti di dalam setiap kesempatan yang ada.

"Cita-cita itu ada batasnya, Pak. Kalau ketinggian, kita tak bisa menggapainya. Kalau kerendahan, mudah menggapainya, tetapi mudah juga untuk dilupakan oleh kita sendiri."
"Iya, Dik. Tapi orang miskin dilarang bercita-cita juga?"
"Cita-cita itu gratis, Pak. Semua orang bebas bercita-cita. Setinggi apa pun, serendah apa pun. Tapi kita harus sadar akan keterbatasan kita, Pak. Manusia pun ada batas dalam bermimpi. Bisa saja kita tidak sanggup menggapai cita-cita karena ketinggian."
"Jadi Adik tidak setuju dengan Sukarno?"
"Ya, tentu tidak. Memang bisa kita ke langit untuk menggapai cita-cita? Naik pesawat saja belum sampai ke langit paling atas. Hahaha..."

Perjalanan hampir usai. Saya hampir tiba sampai tujuan. Ada kesimpulan dalam hati bahwa Bapak Amir ini memang sudah bercita-cita. Orang kaya dan orang miskin boleh bercita-cita, perempuan dan laki-laki bebas bercita-cita. Cita-cita hanya berbeda dalam tinggi-rendah, besar-kecil, diperjuangkan-tidak, dan berhasil-belum berhasil. Tak ada cita-cita yang gagal.

Ada benarnya pula kata Andrea Hirata, berhenti bercita-cita adalah tragedi kehidupan manusia. Pak Amir bukannya ia tak mau memperjuangkannya, mungkin saja baginya dua cita-cita yang terdengar sederhana itu terlalu tinggi untuk digapainya seorang diri. Setidaknya, Beliau tidak berhenti untuk tetap bercita-cita.

Langit Jakarta hanya berhias lampu. Tibalah saya di destinasi berikutnya di mana teman saya sudah menunggu untuk obrolan malam sebelum saya pindah ke luar kota. Saya mengakhiri obrolan yang menarik dengan seorang sopir taksi yang memiliki cita-cita. Saya turun setelah membayar lebih sedikit sebagai bonus untuk mengisi kekosongan perjalanan saya yang terlalu membosankan hanya dengan diam.

Taksi itu melaju. Mungkin hanya saya dan Tuhan yang tahu, seorang sopir taksi pun memiliki cita-cita yang selalu ingin digapainya.




Bandung, 20 September 2011 | 07.19
A.A. - dalam sebuah inisial