Kita berangkat di dalam sunyi
Aku enggan untuk berkata: aku pulang
Karena ini bukanlah lama, bukan sebentar
Tapi bagiku adalah bahagia
Sebuah manifestasi yang tak seorang pun dapat membentuknya
Bandung, 14 September 2011 | 14.59
A.A. - dalam sebuah inisial
Rabu, 14 September 2011
Sabtu, 10 September 2011
Bertamu di Rumah Tuhan
siang ini, aku hanya singgah ke rumah Tuhan
Ia mengajakku untuk makan siang
ternyata sederhana:
hanya nasi, tempe-tahu, ayam goreng, dan sayur bayam
ada sambal terasi sebagai penggodaku
ada es teh manis yang jelas sekali nikmat untuk diseruput
bayam itu diambilnya dari kebun di belakang rumah
ayamnya baru tadi pagi disembelih dari kandang
tempe dan tahu dibelinya dari pasar
dirawinya sebagai makanan yang sederhana
tak ada burger, spagheti, atau pizza
tak pula ada jus atau karbonasi
sekadar es teh manis
Tuhan memasaknya sendiri? ya
enak juga
Bandung, 11 September 2011 | 11.14
A.A. - dalam sebuah inisial
Ia mengajakku untuk makan siang
ternyata sederhana:
hanya nasi, tempe-tahu, ayam goreng, dan sayur bayam
ada sambal terasi sebagai penggodaku
ada es teh manis yang jelas sekali nikmat untuk diseruput
bayam itu diambilnya dari kebun di belakang rumah
ayamnya baru tadi pagi disembelih dari kandang
tempe dan tahu dibelinya dari pasar
dirawinya sebagai makanan yang sederhana
tak ada burger, spagheti, atau pizza
tak pula ada jus atau karbonasi
sekadar es teh manis
Tuhan memasaknya sendiri? ya
enak juga
Bandung, 11 September 2011 | 11.14
A.A. - dalam sebuah inisial
Kamis, 08 September 2011
Melawan Lupa
adalah tugas yang tak ada habisnya
untuk berbicara tentang melawan lupa
di mana seorang pun datang dan pergi
hadir dalam lingkup sebuah kejujuran
ada di dalam sebuah kebenaran
dan berkelindan di antara ranum-ranum
yang tak bisa dihitung dengan manis
melawan lupa adalah tugas
tugas yang tak menemui ujung
agar kenang dan harap
agar cita dan asa
agar kehidupan kita bertalu-talu
selalu dan harus berpilah pada esok
dan kebenaran serta kejujuran ada yang diungkap
hari ini adalah melawan lupa
melawan lupa mereka yang tak pernah mengingat tentang hari yang belum usai
Bandung, 9 September 2011 | 07.14
A.A. - dalam sebuah inisial
untuk berbicara tentang melawan lupa
di mana seorang pun datang dan pergi
hadir dalam lingkup sebuah kejujuran
ada di dalam sebuah kebenaran
dan berkelindan di antara ranum-ranum
yang tak bisa dihitung dengan manis
melawan lupa adalah tugas
tugas yang tak menemui ujung
agar kenang dan harap
agar cita dan asa
agar kehidupan kita bertalu-talu
selalu dan harus berpilah pada esok
dan kebenaran serta kejujuran ada yang diungkap
hari ini adalah melawan lupa
melawan lupa mereka yang tak pernah mengingat tentang hari yang belum usai
Bandung, 9 September 2011 | 07.14
A.A. - dalam sebuah inisial
Rabu, 07 September 2011
Ketika Sastra Itu Lenyap
Dimuat di dalam buku Semua Bergerak untuk Sastra Indonesia
Tak akan pernah terbayang bila suatu ketika kita tidak bisa membaca buku lagi. Ketika sastra tidak lagi dapat menerobos kejujuran yang ada. Hari ini, sejak ratusan hari lalu, bahkan ribuan, sastra bukan lagi sarana hiburan semata. Sastra merupakan sarana untuk membangkitkan semangat kemerdekaan, sarana untuk mengutarakan pikiran, bahkan sastra sanggup untuk mengubah pola pikir banyak orang.
Ketika kejujuran hari ini diungkapkan lewat puisi dan cerpen yang menjadi sarana bebas pemikiran, sastra sudah diberikan tempat untuk kehidupan. Ia sudah bernapas di dalam kehidupan manusia yang begitu keras dan dominan akan egois. Pemikiran lewat sastra bukan lagi cerita lama. Seorang Chairil Anwar membangkitkan semangat juang di tahun 1945 lewat puisi-puisinya yang sampai hari ini tetap dikenang oleh banyak orang. Seorang Pramoedya Ananta Toer sanggup berbicara dari balik pengasingan di Pulau Buru karena buku-buku yang ia tulis.
Sastra adalah kehidupan di sekitar kita. Ia sudah bernapas sangat lama dan tumbuh sebagai heroik bagi mereka yang ingin memberikan pendapat lewat tulisan dan pola pikir.
Namun, siapa yang pernah terbayang bila suatu hari nanti sastra tidak lagi dapat bicara? Ia tidak lagi dapat lahir di koran-koran, ia tak lagi dicetak sebagai buku, ia hanya mengendap di pikiran-pikiran orang, ia hanya sebagai parasit di dalam imajinasi orang. Saat itu, sastra tidak lagi sanggup memberikan pemikiran yang begitu jernih di tengah kehidupan yang butuh untuk kejujuran, butuh fakta yang diungkap dengan cara yang lebih spesifik dan lurus hati bagi penulisnya sehingga pembaca boleh bebas dalam memerdekakan kejujuran yang lebih bermakna.
Seperti halnya seorang Widji Thukul yang berpuisi di tahun 1998, di tengah kemelut sastra yang tidak lagi secara bebas, ia harus dihilangkan oleh penguasa. Sampai hari ini, ia hilang. Tapi tulisan-tulisannya tetap dikenang orang banyak sebagai tulisan yang pernah membangkitkan semangat kemerdekaan pikiran. Sastra sanggup memberikan kebutuhan bagi mereka yang menginginkan dobrakan yang seolah-olah diam tetapi bersuara dengan halus dan menancap.
Itulah sastra. Kehidupannya bukan sekadar imajinasi. Tetapi sudah menjadi realitas dan berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat tanpa kita sadari. Sastra mengubah kehidupan banyak orang, tidak peduli tua dan muda, kaya dan miskin, perempuan dan laki-laki. Ia hidup meski sang pemikir sudah tak tahu di mana keberadaannya.
Sastra menjadi saluran untuk berbicara, memerdekakan ide pikiran yang ada, melepaskan gagasan secara langsung dengan aksara. Ketika sastra dibungkam, akan ke mana kita menyalurkan pikiran-pikiran kita?
Mari berandai-andai! Ketika tahun 1948, Chairil Anwar hanya menulis puisi di dalam otaknya, akankah ada kata-kata “Ayo! Bung Karno kasih tangan mari kita bikin janji / Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, / dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu” 1 dan akan pernah lahir kemerdekaan?
Mari pula berandai-andai kalau hari ini kita tak mengenal sastra. Tentu pula terlihat betapa bodohnya kita sebagai manusia yang tak pernah melek akan bacaan berkualitas dan menciptakan perubahan yang sangatlah besar. Sastra bukan lagi soal penciptaan tetapi juga menjadi bagian dari sejarah. Demikian pula dengan sejarah, ia tak pernah lupa mencatat sastra yang selalu menceritakan tentang dirinya.
Masyarakat primitif di Benua Afrika saja mengenal sastra. Bahkan mereka mencintai sastra meski hanya sastra lisan. Mereka tak pernah mengenal baca-tulis dan duduk di bangku sekolah. Tetapi dengan mereka mencintai sastra, mereka sudah mengubah kehidupan mereka.
Tak akan bisa dibayangkan ketika kita tak lagi mengenal sastra. Sastra seperti sudah dikubur dalam-dalam, dihilangkan, dimusnahkan keberadaannya seperti kematian penjahat yang paling berpengaruh di dunia.
Kemerdekaan berpikir tentu akan semakin berkurang. Aspirasi kita hanya bisa sampai tingkat mulut ke mulut. Belum pula ditambah bumbu-bumbu dalam prosesnya. Namun dengan sastra, ia diungkap dengan luas dan lugas. Ia selalu mengungkapkan kejujuran yang ada, yang sebenarnya harus diceritakan tanpa harus dibelokkan.
Kebenaran di dalam sastra dapat dibuktikan selama ia mengatakan hal yang sebenarnya. Sastra dapat dipertanggungjawabkan secara jelas. Maka, ketika sastra tak lagi bernapas, kejujuran pun akan ikut mati. Tentu pula, kita tak punya arah tujuan hendak melangkah ke mana kelak. Walau pun buku-buku dibakar, pelarangan yang ada masih berkeliling, selama sastra sudah lahir dalam berbagai bentuknya, ia tetap hadir. Selama ia tak dibungkam, ia masih dapat bersuara, di saat itu kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan akan segalanya tetap diperjuangkan.
1. Persetujuan dengan Bung Karno - Aku Ini Binatang Jalang
Tak akan pernah terbayang bila suatu ketika kita tidak bisa membaca buku lagi. Ketika sastra tidak lagi dapat menerobos kejujuran yang ada. Hari ini, sejak ratusan hari lalu, bahkan ribuan, sastra bukan lagi sarana hiburan semata. Sastra merupakan sarana untuk membangkitkan semangat kemerdekaan, sarana untuk mengutarakan pikiran, bahkan sastra sanggup untuk mengubah pola pikir banyak orang.
Ketika kejujuran hari ini diungkapkan lewat puisi dan cerpen yang menjadi sarana bebas pemikiran, sastra sudah diberikan tempat untuk kehidupan. Ia sudah bernapas di dalam kehidupan manusia yang begitu keras dan dominan akan egois. Pemikiran lewat sastra bukan lagi cerita lama. Seorang Chairil Anwar membangkitkan semangat juang di tahun 1945 lewat puisi-puisinya yang sampai hari ini tetap dikenang oleh banyak orang. Seorang Pramoedya Ananta Toer sanggup berbicara dari balik pengasingan di Pulau Buru karena buku-buku yang ia tulis.
Sastra adalah kehidupan di sekitar kita. Ia sudah bernapas sangat lama dan tumbuh sebagai heroik bagi mereka yang ingin memberikan pendapat lewat tulisan dan pola pikir.
Namun, siapa yang pernah terbayang bila suatu hari nanti sastra tidak lagi dapat bicara? Ia tidak lagi dapat lahir di koran-koran, ia tak lagi dicetak sebagai buku, ia hanya mengendap di pikiran-pikiran orang, ia hanya sebagai parasit di dalam imajinasi orang. Saat itu, sastra tidak lagi sanggup memberikan pemikiran yang begitu jernih di tengah kehidupan yang butuh untuk kejujuran, butuh fakta yang diungkap dengan cara yang lebih spesifik dan lurus hati bagi penulisnya sehingga pembaca boleh bebas dalam memerdekakan kejujuran yang lebih bermakna.
Seperti halnya seorang Widji Thukul yang berpuisi di tahun 1998, di tengah kemelut sastra yang tidak lagi secara bebas, ia harus dihilangkan oleh penguasa. Sampai hari ini, ia hilang. Tapi tulisan-tulisannya tetap dikenang orang banyak sebagai tulisan yang pernah membangkitkan semangat kemerdekaan pikiran. Sastra sanggup memberikan kebutuhan bagi mereka yang menginginkan dobrakan yang seolah-olah diam tetapi bersuara dengan halus dan menancap.
Itulah sastra. Kehidupannya bukan sekadar imajinasi. Tetapi sudah menjadi realitas dan berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat tanpa kita sadari. Sastra mengubah kehidupan banyak orang, tidak peduli tua dan muda, kaya dan miskin, perempuan dan laki-laki. Ia hidup meski sang pemikir sudah tak tahu di mana keberadaannya.
Sastra menjadi saluran untuk berbicara, memerdekakan ide pikiran yang ada, melepaskan gagasan secara langsung dengan aksara. Ketika sastra dibungkam, akan ke mana kita menyalurkan pikiran-pikiran kita?
Mari berandai-andai! Ketika tahun 1948, Chairil Anwar hanya menulis puisi di dalam otaknya, akankah ada kata-kata “Ayo! Bung Karno kasih tangan mari kita bikin janji / Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, / dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu” 1 dan akan pernah lahir kemerdekaan?
Mari pula berandai-andai kalau hari ini kita tak mengenal sastra. Tentu pula terlihat betapa bodohnya kita sebagai manusia yang tak pernah melek akan bacaan berkualitas dan menciptakan perubahan yang sangatlah besar. Sastra bukan lagi soal penciptaan tetapi juga menjadi bagian dari sejarah. Demikian pula dengan sejarah, ia tak pernah lupa mencatat sastra yang selalu menceritakan tentang dirinya.
Masyarakat primitif di Benua Afrika saja mengenal sastra. Bahkan mereka mencintai sastra meski hanya sastra lisan. Mereka tak pernah mengenal baca-tulis dan duduk di bangku sekolah. Tetapi dengan mereka mencintai sastra, mereka sudah mengubah kehidupan mereka.
Tak akan bisa dibayangkan ketika kita tak lagi mengenal sastra. Sastra seperti sudah dikubur dalam-dalam, dihilangkan, dimusnahkan keberadaannya seperti kematian penjahat yang paling berpengaruh di dunia.
Kemerdekaan berpikir tentu akan semakin berkurang. Aspirasi kita hanya bisa sampai tingkat mulut ke mulut. Belum pula ditambah bumbu-bumbu dalam prosesnya. Namun dengan sastra, ia diungkap dengan luas dan lugas. Ia selalu mengungkapkan kejujuran yang ada, yang sebenarnya harus diceritakan tanpa harus dibelokkan.
Kebenaran di dalam sastra dapat dibuktikan selama ia mengatakan hal yang sebenarnya. Sastra dapat dipertanggungjawabkan secara jelas. Maka, ketika sastra tak lagi bernapas, kejujuran pun akan ikut mati. Tentu pula, kita tak punya arah tujuan hendak melangkah ke mana kelak. Walau pun buku-buku dibakar, pelarangan yang ada masih berkeliling, selama sastra sudah lahir dalam berbagai bentuknya, ia tetap hadir. Selama ia tak dibungkam, ia masih dapat bersuara, di saat itu kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan akan segalanya tetap diperjuangkan.
Senin, 05 September 2011
Bagaimana Kita Memandang Keragaman
Pro Rike Anggraeni,
Bagiku, semua hari adalah sama. Yang berbeda hanyalah kita yang membuat pola-pola yang menjadikannya warna-warni. Seperti halnya kembang di taman, tentu tak semuanya sama. Atau pula sebagaimana kita memandang kehidupan. Silakan tanya kepada sahabat-sahabatmu, apa arti hidup bagi mereka. Tentu jawabannya sangatlah beragam.
Sebuah diskusi
Aku tak memungkiri aku menyukai apa yang disebut diskusi. Aku suka berbicara apa saja, berdebat tentang apa saja. Bagiku, itu hal yang sangat menantang isi otakku dan isi otak lawan bicaraku. Aku sering menggali lebih dalam apa yang dipandang lawan bicaraku dan aku bisa menggila untuk membicarakan apa saja. Termasuk hal yang begitu intim dengan bahasaku sendiri.
Rasanya tak etis kalau aku cuma berbicara tapi aku urung mendengar. Nah, untukku diskusi yang menyenangkan adalah kalau terbuka bila aku boleh berbicara, maka aku harus sudi untuk mendengar. Betapa egoisnya aku bila aku hanya ingin didengar tanpa mau mendengar.
Tentang Kematian dan Kelahiran
Aku dan kamu hanya lahir sebagai manusia, bukan Tuhan. Untuk itu, kita tidak pernah bisa mengetahui atau menghendaki kapan usia ini harus diakhiri. Sebagaimana pula kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan, bukan? Sebagaimana aku dan kamu menjalani kehidupan bukan atas kehendak kita sendiri, bukan?
Agak riskan aku berbicara tentang ini.
Tentang Tuhan
Dalam sebuah diskusi panjang tiga jam, aku berbicara lebih banyak tentang tuhan dan Tuhan. Aku tidak tahu bagaimana keningmu saat aku berbicara hal ini. Mengkerut, bisa jadi.
Tuhan itu cuma satu, hanya kita yang berbeda-beda cara menyapa dan menyembah. Agama hanya sebagai motivator. Untukku, menjadi agama apa saja bukanlah masalah. Silakan percaya Tuhan sebagai tuhan yang bagaimana. Toh, kita semua sesungguhnya tak ada yang tahu seperti apa wujud Tuhan? Kita semua hanya percaya di dalam lingkup keagamaan kita ini.
Tentang Menulis
Satu-satunya cara untuk menjadi penulis adalah menulis, tidak ada cara lain dari itu. Tiap kali mereka yang ingin belajar menulis datang kepadaku. Menggelikan. Menulis buku pun aku belum usai sampai kini, tetapi mereka memintaku untuk diajarkan menulis. Maka, mengkerutlah dahiku ini. Bagaimana caranya? Aku sendiri tak tahu.
Mengapa kita tidak sama-sama belajar? Ah, bolehlah mereka menulis karena ingin menjadi penulis. Setidaknya bagiku, menulis menjadi napas dan sering menyambung napasku. Tapi tak kupungkiri juga, aku sering belajar dari tulisan teman-temanku yang belum menerbitkan buku.
Mari, kita beriringan untuk belajar. Untuk menjadi lebih baik dalam merawi aksara.
Tentang Usia yang Bertambah
Usiaku dan usiamu adalah jarak yang terpisah begitu jauh. Tapi keragaman di antara kita terasa lenyap saat diskusi bergulir. Ada benang merah yang didapatkan dari setiap kata yang terucap, dari setiap kalimat yang mengalir, dan dari setiap makna yang teruntai manis.
Dan bagaimana kita memandang ulang tahun? Ini yang belum sempat kita bicarakan.
Aku sering melupakan ulang tahun karibku sendiri, bahkan ulang tahunku. Karena bagiku, semua hari adalah sama untuk dijalani. Usia yang bertambah sepatutnya tidak dibawa dengan kegembiraan, malah sebaliknya. Tugas kita sebagai manusia akan semakin banyak, runyam. Semakin banyak pula tuntutan yang hadir di dalam lingkup kehidupan kita.
Ah, percayalah satu hal ini: aku tidak menyukai ulang tahun.
Tetapi dari ulang tahun itu sendiri, aku menyukainya ketika aku mengucapkan ulang tahun kepada para sahabatku. Seorang pastor belajar dari seorang motivator tentang bagaimana cara mengucapkan ulang tahun itu. Setiap pagi, ia menelpon umatnya yang dikenal dan mengucapkan selamat ulang tahun. Ketika bertemu denganku, ia berkata 'umat melupakan ulang tahun saya, tetapi saya mengingatnya.' Langsung saja kami tertawa.
Tapi usia yang bertambah itu tak perlu dibawa menjadi hal yang sulit. Putar saja rol kehidupan ini dan biarkan ia bermain sebagaimana mestinya. Tak perlu hal yang dikhawatirkan tentang usia dan hidup atau mati itu sendiri. Ia akan berjalan dan bermuara entah ke mana dan kapan. Biarkan itu menjadi misteri agar kita bisa tetap tertawa dan tersenyum memandang kehidupan ini.
Nah, untuk itu... Dirgahayu bagimu. Selamat bertambah usia. Ini kado sederhana yang kuracik bagimu.
Bandung, 6 September 2011 | 07.47
A.A. - dalam sebuah inisial
Bagiku, semua hari adalah sama. Yang berbeda hanyalah kita yang membuat pola-pola yang menjadikannya warna-warni. Seperti halnya kembang di taman, tentu tak semuanya sama. Atau pula sebagaimana kita memandang kehidupan. Silakan tanya kepada sahabat-sahabatmu, apa arti hidup bagi mereka. Tentu jawabannya sangatlah beragam.
Sebuah diskusi
Aku tak memungkiri aku menyukai apa yang disebut diskusi. Aku suka berbicara apa saja, berdebat tentang apa saja. Bagiku, itu hal yang sangat menantang isi otakku dan isi otak lawan bicaraku. Aku sering menggali lebih dalam apa yang dipandang lawan bicaraku dan aku bisa menggila untuk membicarakan apa saja. Termasuk hal yang begitu intim dengan bahasaku sendiri.
Rasanya tak etis kalau aku cuma berbicara tapi aku urung mendengar. Nah, untukku diskusi yang menyenangkan adalah kalau terbuka bila aku boleh berbicara, maka aku harus sudi untuk mendengar. Betapa egoisnya aku bila aku hanya ingin didengar tanpa mau mendengar.
Tentang Kematian dan Kelahiran
Aku dan kamu hanya lahir sebagai manusia, bukan Tuhan. Untuk itu, kita tidak pernah bisa mengetahui atau menghendaki kapan usia ini harus diakhiri. Sebagaimana pula kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan, bukan? Sebagaimana aku dan kamu menjalani kehidupan bukan atas kehendak kita sendiri, bukan?
Agak riskan aku berbicara tentang ini.
Tentang Tuhan
Dalam sebuah diskusi panjang tiga jam, aku berbicara lebih banyak tentang tuhan dan Tuhan. Aku tidak tahu bagaimana keningmu saat aku berbicara hal ini. Mengkerut, bisa jadi.
Tuhan itu cuma satu, hanya kita yang berbeda-beda cara menyapa dan menyembah. Agama hanya sebagai motivator. Untukku, menjadi agama apa saja bukanlah masalah. Silakan percaya Tuhan sebagai tuhan yang bagaimana. Toh, kita semua sesungguhnya tak ada yang tahu seperti apa wujud Tuhan? Kita semua hanya percaya di dalam lingkup keagamaan kita ini.
Tentang Menulis
Satu-satunya cara untuk menjadi penulis adalah menulis, tidak ada cara lain dari itu. Tiap kali mereka yang ingin belajar menulis datang kepadaku. Menggelikan. Menulis buku pun aku belum usai sampai kini, tetapi mereka memintaku untuk diajarkan menulis. Maka, mengkerutlah dahiku ini. Bagaimana caranya? Aku sendiri tak tahu.
Mengapa kita tidak sama-sama belajar? Ah, bolehlah mereka menulis karena ingin menjadi penulis. Setidaknya bagiku, menulis menjadi napas dan sering menyambung napasku. Tapi tak kupungkiri juga, aku sering belajar dari tulisan teman-temanku yang belum menerbitkan buku.
Mari, kita beriringan untuk belajar. Untuk menjadi lebih baik dalam merawi aksara.
Tentang Usia yang Bertambah
Usiaku dan usiamu adalah jarak yang terpisah begitu jauh. Tapi keragaman di antara kita terasa lenyap saat diskusi bergulir. Ada benang merah yang didapatkan dari setiap kata yang terucap, dari setiap kalimat yang mengalir, dan dari setiap makna yang teruntai manis.
Dan bagaimana kita memandang ulang tahun? Ini yang belum sempat kita bicarakan.
Aku sering melupakan ulang tahun karibku sendiri, bahkan ulang tahunku. Karena bagiku, semua hari adalah sama untuk dijalani. Usia yang bertambah sepatutnya tidak dibawa dengan kegembiraan, malah sebaliknya. Tugas kita sebagai manusia akan semakin banyak, runyam. Semakin banyak pula tuntutan yang hadir di dalam lingkup kehidupan kita.
Ah, percayalah satu hal ini: aku tidak menyukai ulang tahun.
Tetapi dari ulang tahun itu sendiri, aku menyukainya ketika aku mengucapkan ulang tahun kepada para sahabatku. Seorang pastor belajar dari seorang motivator tentang bagaimana cara mengucapkan ulang tahun itu. Setiap pagi, ia menelpon umatnya yang dikenal dan mengucapkan selamat ulang tahun. Ketika bertemu denganku, ia berkata 'umat melupakan ulang tahun saya, tetapi saya mengingatnya.' Langsung saja kami tertawa.
Tapi usia yang bertambah itu tak perlu dibawa menjadi hal yang sulit. Putar saja rol kehidupan ini dan biarkan ia bermain sebagaimana mestinya. Tak perlu hal yang dikhawatirkan tentang usia dan hidup atau mati itu sendiri. Ia akan berjalan dan bermuara entah ke mana dan kapan. Biarkan itu menjadi misteri agar kita bisa tetap tertawa dan tersenyum memandang kehidupan ini.
Nah, untuk itu... Dirgahayu bagimu. Selamat bertambah usia. Ini kado sederhana yang kuracik bagimu.
Bandung, 6 September 2011 | 07.47
A.A. - dalam sebuah inisial
Minggu, 04 September 2011
Pengukir Bahagia
sore bisa membuat kita lebih menghadap kepada sedih
setelah pagi dan siang kita menghadap kepada ramai
dan kita selalu bahagia saat bergelut dengan hal tersebut
ada mereka yang lebih bahagia di dalam ramai
mungkin pula aku bagian dari keramaian itu
yang membuatku ada dan kutahu aku cinta pada ramai
ternyata ada hal yang tak bisa kita temukan dalam ramai
ada kalanya sepi lebih bisa mendamaikan manusia dengan dirinya
menemukan akal yang lebih sehat, pekerti yang lebih dimengerti
agar manusia bisa mencapai apa yang dikatakan dengan bahagia
orang bisa merasakan bahagia karena ia pernah merasa sedih
seperti juga orang bisa merasakan sehat karena ia pernah merasa sakit
dengan begitu, aku dan kamu tahu bagaimana mempertahankan
apa yang harus kita pertahankan dan apa yang harus kita lepas
Bandung, 4 September 2011 | 16.12
A.A. - dalam sebuah inisial
setelah pagi dan siang kita menghadap kepada ramai
dan kita selalu bahagia saat bergelut dengan hal tersebut
ada mereka yang lebih bahagia di dalam ramai
mungkin pula aku bagian dari keramaian itu
yang membuatku ada dan kutahu aku cinta pada ramai
ternyata ada hal yang tak bisa kita temukan dalam ramai
ada kalanya sepi lebih bisa mendamaikan manusia dengan dirinya
menemukan akal yang lebih sehat, pekerti yang lebih dimengerti
agar manusia bisa mencapai apa yang dikatakan dengan bahagia
orang bisa merasakan bahagia karena ia pernah merasa sedih
seperti juga orang bisa merasakan sehat karena ia pernah merasa sakit
dengan begitu, aku dan kamu tahu bagaimana mempertahankan
apa yang harus kita pertahankan dan apa yang harus kita lepas
Bandung, 4 September 2011 | 16.12
A.A. - dalam sebuah inisial
Langganan:
Postingan (Atom)