ada yang hilang,
tapi kau tahu apa itu?
sementara matahari telah menunaikan tugas
kita masih sibuk dengan yang hilang
tapi kau tahu apa itu?
Jakarta, 11 Juli 2011 | 09.37
A.A. - dalam sebuah inisial
Minggu, 10 Juli 2011
Sabtu, 09 Juli 2011
Jumat, 08 Juli 2011
Kamis, 07 Juli 2011
Inilah yang Dinamakan Pulang
Dan inilah yang dinamakan pulang
ketika rindu meletup perlahan
menunggu menjadi saat bahagia
bertemu menjadi obat menutup pilu
dan menguap kala memeluk kekasih-kekasih
Bandung, 8 Juli 2011 | 12.33
A.A. - dalam sebuah inisial
A.A. - dalam sebuah inisial
Senin, 04 Juli 2011
Surat Kepada Gerimis
Hai Gerimis,
Bolehkah aku berkenalan denganmu lebih dekat? Aku sering sekali mendengar cerita tentangmu yang menyenangkan dari buku dongeng yang sering dibacakan oleh ibu menjelang aku tidur. Katanya di dalam cerita itu, kamu adalah sosok yang begitu ramah, tidak seperti kilat yang suka menyambar-nyambar ke mana-mana.
Tapi ada rahasia yang ingin kuceritakan kepadamu. Aku tahu kamu adalah karib dari si Kilat. Kilat yang suka menyambar ke mana-mana itu. Selalu bersikap gegabah ketika datang. Berjanjilah kepadaku, wahai Gerimis, cerita ini jangan kamu ceritakan lagi kepada orang lain.
Aku membenci Kilat.
Ha. Ya, aku tahu kamu terhenyak. Seseorang yang baru mengajak berkenalan denganmu tiba-tiba mengatakan ia membenci sahabat yang menerima surat ini. Tapi tolonglah percaya padaku, kamu akan selamat!
Kilat membawa pergi kakakku. Kilat membuat kakakku menjadi tiada untuk bermain bersamaku di tempat ini. Hati-hatilah dengannya, Gerimis. Makhluk yang baik sepertimu jangan mendekati makhluk yang jahat seperti Kilat itu.
Kakakku sedang bersepeda setelah pulang sekolah untuk menuju rumah. Di tengah jalan, awan memang sudah gelap, namun orangtuamu, Pak Hujan belum datang. Ia kebutkan sepedanya untuk lekas pulang. Tiba-tiba Kilat itu datang, menyambar kakakku. Yang kuketahui kakakku tak pernah berbuat salah dengan Kilat, tapi mengapa ia membunuh kakakku?
Gerimis, maukah kamu berjanji padaku? Maukah kamu menjadi temanku dan menjauhi Kilat. Aku percaya kau akan lebih bahagia denganku daripada dengan Kilat. Aku akan mengajakmu bermain karena aku tahu kamu adalah makhluk yang ramah, seperti cerita yang dibacakan oleh ibu.
“Gerimis yang ramah selalu memberi minum kepada tumbuhan yang haus, binatang yang kelelahan, dan manusia yang merasa kepanasan. Gerimis selalu rendah hati meski pun ia kecil. Ia bisa kamu temukan di balik jendela.
Ia selalu menyapamu dengan menempelkan dirinya di kaca-kaca jendela rumah, di kaca-kaca mobil, dan di atas rambutmu. Ia ingin berkenalan denganmu, tapi ia tak tahu caranya.
Gerimis bilang ia ingin menjadi yang menyejukkan. Ia ingin bersahabat dengan rumput di taman, bunga yang sedang bermekaran, kumbang yang mengisap madu, dan kamu.”
Untuk itu, maukah kamu menjadi temanku, Gerimis? Kalau kamu mau, jangan lupa balas suratku ini ya!
Semoga harimu selalu menyenangkan seperti dirimu.
Yang ingin jadi sahabatmu,
Mentari
Jumat, 01 Juli 2011
Vale!
kita, di antara cangkir yang hangat dan gelas yang berkeringat
seperti uap yang menguap dari mulut cangkir
seperti embun yang membasahi tubuh gelas
kupikir kau dan aku seperti uap dan embun: pergi dan kembali
tapi, kapan?
hujan pun menyaksikan pembicaraan intim kita
bukan aku tak suka, tapi aku lebih semakin merasa terperih
kadang kita bisa mencintai hujan
tapi bisa membencinya seperti hari ini, hari ini aku membencinya
ia tak bersalah apapun kepadaku, tapi dengan datangnya
ada seribu kenangan yang mengalir dalam langkah kita
ia mengingatkanku tentang caranya menangis
meski aku selalu bingung bagaimana caranya mengeluarkan air mata
gulana datang ketika gundah pun tiba
kita sanggup melewati waktu, tapi tak sanggup menghentikannya
dan saat itulah,puncak segala puncak aku harus siap
dan kaupun juga, seharusnya siap
pada akhirnya akan ada punggung yang saling berbalik
ada mereka yang berangkat ke negeri timur
ada yang hanya diam di kotanya saja, menunggu pulang
dan ada juga yang hanya mampu menatap cakrawala
ketika kita tahu soal ini, mungkin kita tak akan memilih
biar saja angin membawanya berlari ke mana pun inginnya
dan agar ada waktu yang berjumpa di hari depan
akupun kelu melepas, tapi aku bahagia demi hari depan
Serpong, 1 Juli 2011 | 20.00
A.A. - dalam sebuah inisial
Langganan:
Postingan (Atom)