Minggu, 05 Juni 2011

Selamat Pagi Indonesia

selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu




Sapardi Djoko Damono

Sabtu, 04 Juni 2011

Cara terbaik mencintai pagi adalah menerima kehadirannya. Selamat pagi!

Soal Perih



Buat kamu,


Ternyata saya tahu bagaimana rasanya berbagi sakit. Tapi saya lebih tahu untuk mempersiapkan kehilangan yang teramat sangat. Sesungguhnya, saya sangatlah tidak siap untuk menghadapinya. Ini benar-benar godam yang harus saya pikul dengan sangat berat. Saya siap akan pertemuan tetapi saya tidak sanggup menghadapi apa yang dinamakan dengan kehilangan. Saya memang manusia biasa, seperti insan pada umumnya yang tak sanggup menghadapi kehilangan.

Saya pikir saya seorang yang kuat, siap menghadapi semua ini. Saya pikir ini adalah hal yang biasa, ternyata lebih dari itu. Saya pikir saya bisa berjalan seperti biasa dalam kondisi seperti ini. Saya pikir saya akan tenang-tenang saja untuk meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini.

Ternyata keterikatan batin kita terlalu kuat. Sangat kuat.

Arwah kita satu, darah kita satu. Yang terluka padamu, berdarah padaku. - Sutardji Calzoum Bachri

Saya menuliskan untuk kamu dengan terpaksa, dengan mata yang sembab menahan bendungan air mata. Semua kata mengalir begitu saja. Tak ada lagi yang bisa saya pendam. Saya benar-benar dalam ketakutan saat ini. Saya bukan takut akan kematian yang akan menghadang di depan, tetapi terlebih dari itu, saya takut dengan kehilangan yang menyakitkan.

Saya benci air mata. Saya benci menangis. Saya hanya suka dengan kebersamaan. Ya, terserah dengan kata orang-orang bila saya orang yang egois karena mereka belum tentu mengerti seberapa dekat antara kita. Mereka mengatakan perpisahan adalah hal yang lumrah karena mereka belum pernah menghadapinya. Bila mereka mengerti, mereka akan tahu ini pedih yang begitu perih.

Seberapa jauh surga dari kita? Itu yang selalu ingin kutanyakan. Biar aku bisa menghentikan waktu. Aku tahu Tuhan tidak bisa menghentikan kehilangan, menghentikan perpisahan. Aku juga tak ingin menyalahkan Tuhan. Ia tak bersalah atas apa pun. Aku hanya ingin menghentikan waktu. Biar ia menunda kehilangan yang akan kita hadapi sampai aku puas. Puas untuk mencumbumu dengan bahagia sehingga bila saatnya telah tiba, aku tak perlu mengantar perpisahan dengan air mata. Biar kamu tak perlu merasa perihnya air yang menetes di antara luka.

Saya banyak belajar setelah berita yang (sebenarnya tidak terlalu) menyentak saya ketika mendengarnya. Saya tahu kita akan pergi ke mana orang-orang akan pergi. Tapi lagi-lagi saya tidak bisa menghadapi apa yang dinamakan kehilangan.

Bila memang harusnya pergi, tolong katakan dahulu agar saya punya waktu untuk mengucapkan sampai jumpa. Saya masih mematri apa yang dinamakan selamat tinggal dan sampai jumpa itu sangatlah berbeda. Saya membenci ucapan 'selamat tinggal' karena saya percaya orang-orang masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi, entah di mana, entah di dimensi mana, dan entah di gurun yang mana. Tapi, apa kau tahu bagaimana caraku menyayangimu dengan diam-diam seperti ini?

Mungkin kurasa, kehilangan yang akan memberikan makna seberapa besar arti seseorang ketika ia tiada, bukan ia ada.


Jangan lekas pergi, tapi lekaslah sembuh! Masih banyak cerita yang belum kita rawikan di halaman rumah sebelum rumah ini kita tinggalkan.




Lebih dari sekadar benang merahmu,




Jakarta, 4 Juni 2011 | 20.38
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 03 Juni 2011

Dari Kamu, Senja


agar kami punya harap di dalam setiap kedatangan

karena aku mengerti
mengapa matahari harus datang
dan juga pergi

karena aku mengerti
arti kehilangan
adalah untuk menemukan
kehilangan lain



Jakarta, 3 Juni 2011 | 18.52
A.A. - dalam sebuah inisial

Rabu, 01 Juni 2011

Soal Waktu



dia yang tak dapat kembali
tapi juga tak dapat berlari

dia yang dapat pergi
tapi tak dapat bersembunyi

hari ini adalah tentang hari ini
tak perlu diungkap tentang esok
karena ia sudah punya rawian sendiri

hari ini adalah tentang hari ini
tak perlu diceritakan tentang kemarin
karena ia sudah menjadi kenangan dan sejarah

dia boleh saja pergi dan tak kembali
tapi hari ini adalah tentang hari ini

tak ada yang perlu kamu khawatirkan

semua akan baik-baik saja, percayalah untuk ini





Jakarta, 2 Juni 2011 | 08.47

A.A. - dalam sebuah kultimasi dahsyat

Perih


Di depan pintu rumahmu, aku hanya mampu terdiam. Di depan itu pula, kau menatapku lirih seolah kau mengerti alasan yang tak sempat aku ucapkan untuk pergi di tempat yang kusendiri tak mengerti mengapa harus ke sana. Kita berbicara lewat tatap mata.

'Untuk apa di sini?'

Kau turun mendatangiku. Aku tahu ini akan terjadi. Kau tak akan pernah rela meninggalkan aku sendiri, mendiamiku dalam waktu yang cukup lama.

'Hanya untuk mencari jalan pulang.'

'Jalan pulang?'

'Jalan pulang ke hatimu.'

Sembab matamu. Aku menunduk di hadapan wajahmu. Ternyata semudah itu membuatmu menangis. Tapi kehadiranku bukanlah untuk membuatmu menangis. Ada yang ingin kukatakan sebelum pergi:

'Perih ini hendak kubagi denganmu, maukah kau menerimanya?'






Jakarta, 1 Juni 2011 | 21.24
A.A. - dalam sebuah inisial