Minggu, 15 Mei 2011

Perihal: Kehilangan



tiba-tiba saja
matahari menangis
saat kuselesaikan cerita
tentang sebuah kehilangan
yakni
kehilangan kamu






Jakarta, 15 Mei 2011 | 21.20
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 13 Mei 2011

Semua Bergerak untuk Sastra Indonesia

Category:   Books
Price:   Rp. 35.000,-

Tujuh esai, sepuluh cerpen, dan empat puluh dua puisi dari berbagai kalangan sebagai persembahan terhadap Sastra Indonesia yang mulai pudar keberadaannya. Ini sebagai wujud kepedulian bagi mereka yang tergerak hatinya untuk menjaga, mempertahankan, dan melestarikan Sastra Indonesia sebagai warisan yang abadi dan tak lekang dimakan waktu dengan cara menulis untuk sastra. Ini menjadi kesadaran kalau sastra bukan sekadar bacaan, tetapi bisa mengubah kehidupan banyak orang di hari kemarin, hari ini, dan hari esok.


Pemesanan bisa lewat nulisbuku


*) Harga belum termasuk ongkos kirim.


Rabu, 11 Mei 2011

Hari Ini Tiga Belas Tahun yang Lalu



Hari ini tiga belas tahun lalu:

Sedang apa kau, sayang?

aku bermain senapan di depan DPR
aku bermain orasi di atas mimbar
aku bermain gas air mata di muka MPR

siapakah perduli?

aku yang akan dijerang peluru
aku yang akan berdarah jadikan mati
aku yang tergeletak di tengah Gatot Soebroto

selamatkah engkau?

dari huru hara itu
dari amukan itu
dari atas nama reformasi

engkaukah itu?

yang menjadi jenazah
yang masih berlarian
yang berdiri di mimbar

akankah kau kenang itu?

semua kematian yang jadinya kisah
semua perjuangan kita jadinya angan
semua tragedi hidup jadinya air mata

apa yang akan diwariskan pada mereka?

sebuah cita-cita atas reformasi
sebuah kemenangan untuk demokrasi
sebuah harapan yang jadikan mimpi adanya

Hari ini tiga belas tahun lalu

akankah sejarah mencatatnya?




Jakarta, 13 Mei 1998 - 13 Mei 2009 - 13 Mei 2011

Perihal: Kamu




Musim semi keempat, tidaklah juga sama
pagi sudah datang dan pergi
datang lagi, kemudian pergi lagi
dan datang lagi
tapi kamu tak sama dengan pagi, atau pula musim semi

kamu cuma bisa datang kemudian pergi
dan tak lagi datang

Orang-orang berkata
supaya aku belajar untuk melupakan kamu
melupakan cerita kita, tentang masa depan
melupakan tentang pernikahan, kehamilan, dan anak
melupakan tentang musim gugur di Westminter
melupakan tentang musim dingin di St. Petersburg
melupakan masa tua di depan tungku penghangat
melupakan tentang kedatangan cucu-cucu yang lucu

Aku selalu belajar untuk itu
tapi semakin aku melakukannya, godam semakin keras
ia memukul pedih, menyayat perih, menyobek luka
semakin aku belajar untuk melupakan kamu
semakin itu pula aku tahu kalau aku kehilangan kamu

Kamu bukanlah pagi, musim semi, atau angin lalu
kamu datang meninggalkan manis
dan pergi meninggalkan pahit dan getir

Dan ini musim semi keempat yang datang untuk pergi
tapi kamu tak pula datang lagi



Jakarta, 12 Mei 2011 | 07.34
A.A. - dalam sebuah inisial

The Journeys

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Adhitya Mulya, dll
A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving. - Lao Zi

"Petualang, apa yang kamu cari?" tanya seorang teman saya ketika mengetahui saya sedang berada di Yogyakarta. Itu seminggu setelah ia tahu kalau saya sedang berada di Bandung dan tiga hari sesudah berada di Semarang. Saya sendiri tak tahu sebenarnya apa yang saya cari. Saya pun tak tahu apa sebenarnya yang saya temukan di dalam perjalanan saya. Kalau bertemu dengan teman baru, itu sudah biasa. Saya sering mendapat teman baru kalau pulang dengan TransJakarta. Kalau pengalaman, itu lebih biasa lagi.

Bukankah setiap hari adalah pengalaman? Menemukan bahagia? Bahagia diciptakan, bukan dicari. Menemukan cerita? Bukankah setiap hari adalah cerita? Bahkan gugur daun musim semi bisa menjadi cerita asal kita mau menceritakannya?

Demikianlah alasan saya mengapa saya kurang setuju dengan kata pembuka yang ditulis oleh Windy Ariestanty: "Hal paling menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan."

Menurut saya, perjalanan adalah sebuah proses menghargai di antara kesulitan, keterbatasan, dan kebahagiaan. Sila percaya atau tidak, tapi setiap kali saya melakukan perjalanan, saya selalu mensyukuri hidup. Perjalanan mengajarkan kepada saya kalau masih banyak orang yang kurang dan lebih dari pada kita yang tak pernah kita temukan di dalam kehidupan kita. Untuk itulah, perjalanan adalah sebuah proses yang sakral. Proses yang sulit digantikan untuk belajar banyak hal tentang hidup.

Perjalanan bermula dari petualangan Gama Harjono dari Roma menuju Andalusia. Perjalanan yang terbatas karena uang tersebut tetap bisa membuat Gama melakukan perjalanan dari Italia menuju ke Spanyol untuk bertemu dengan Alberto, seorang karib lamanya. Saya suka cara penceritaan Gama yang berbeda dari dua bukunya yang sudah terbit dahulu, Ciao, Italia dan Lupakan Palermo. Gama terlihat lebih santai dan bebas bercerita tentang keindahan kota Andalusia, keunikan aksen masyarakat, santapan pagi, kunjungan ke Benteng Alhambra, sampai ke Mezguita di mana Gama merasa dirinya adalah orang yang beruntung karena pernah melihat orang-orang membuka pintu Katedral. Gama menceritakannya secara detail dan pas.

Perjalanan dilanjutkan oleh Winna Effendi yang berkirim e-mail kepada 'you'. Cara bercerita Winna yang beda sendiri dari yang lain. Shuili menjadi tempat Winna bertualang dan memulai ceritanya. Awalnya Winna membawa pembaca dengan renyah dalam bercerita tentang kedatangannya ke Taiwan, menuju ke Shuili, dan saat menuju ke Sitou. Tapi semakin membalik halaman demi halaman dari Winna, saya semakin bosan. Winna seperti hanya bercerita pada dirinya sendiri. Tulisan yang awalnya renyah menjadi tak lagi menarik. Winna hanya terkesan seperti reporter yang memberikan laporan keadaan yang di mana pembaca pun bisa mencarinya lewat Google. Sebenarnya banyak harapan yang saya dambakan dari tulisan Winna karena ia pun bercerita dari sebuah desa yang jarang didengar yang mungkin bisa menjadi tujuan yang menarik untuk dikunjungi.

Windy Ariestanty yang sedang sibuk mencari WiFi di kedai kopi dekat hotel di Lucerne malah mendapatkan morning kiss bye dari seseorang yang puas berdugem di pagi itu. Dari sanalah, cerita petualangan Windy di Lucerne dimulai. Dari ceita-cerita Windy, kita dapat mengenal lebih jauh kota kecil yang berada di Swiss. Windy bercerita tentang kehidupan Lucerne yang begitu sederhana, disiplin, dan benar-benar tertata rapi. Ya, Windy bercerita, bukan memberikan laporan perjalanan. Dia membuka cerita dengan manis. Dan dia pun menutup cerita dengan manis. Ciri khas tulisan seorang Windy Ariestanty: tepat sasaran.

Ini dia, Farida Susanty. Dia bercerita sisi lain dari Singapura. Singapura memang tidak jauh dari Indonesia, bila dilihat di peta. Namun, setelah membaca cerita Farida, kita benar-benar merasakan kalau Singapura dan Indonesia seperti langit dan bumi. Tugas Farida di Singapura adalah berkunjung ke rumah sakit jiwa. Pikir saya, ini akan menjadi cerita horor di dalam The Journeys. Nyatanya tidak. Malah Farida bercerita rumah sakit jiwa di Singapura bukanlah rumah sakit yang menyeramkan seperti di Indonesia yang pasiennya dipasung dan kadang dibiarkan bebas. Di Singapura, berdasarkan cerita Farida yang saya tangkap, rumah sakit jiwa adalah rumah sakit yang terbuka, yang benar-benar bisa memperbaiki mental seseorang yang terganggu. Tak ada salahnya kalau bertandang ke Singapura, kunjungilah rumah sakit jiwa, jangan hanya Orchard Road.

Setelah dari Asia Tenggara, penerbangan dilanjutkan ke Timut Tengah. Tepatnya Saudi Arabia. Ciri khas seorang Valiant adalah pandai bermajas. Sejak awal pun, ia sudah menarik saya untuk membacanya. Meski cerita yang ditulisnya sudah tidak begitu asing, tetapi membacanya bukanlah sebuah kesalahan. Valiant memang mengajak pembacanya untuk ikut 'menderita' di Saudi Arabia yang harus diam-diam untuk mengambil foto gedung, ditawari parfum yang digunakan oleh Tom Cruise, sampai dengan pertemuannya dengan Bapak Berjenggot Lebat. Valiant mengajak kita tertawa sekaligus berbagi 'derita' pelarangan di Saudi Arabia.

Kembali lagi ke Asia Tenggara. Di Timor Timur sudah menunggu Okke 'sepatumerah' yang akan memulai perjalanannya. Seperti biasa, Okke memang asyik dalam bercerita tentang keberadaannya di Timor Timur. Kenikmatan di Pantai Kolbano menjadi nilai tersendiri meski harus dag-dig-dug setelah mitos yang sering terjadi. Tulisannya yang 'cablak' dan masih terkesan 'judes' membuat sebuah perjalanan yang berbeda dari yang lain.

Setelah itu, kembalilah ke Indonesia. Di Karimun Jawa, sudah ada Alexander Thian, seorang penulis skenario yang suntuk dikejar deadline yang akhirnya bisa berjalan-jalan. Sebenarnya, Alex lebih ingin bercerita tentang Jepara atau Karimun Jawa? Itu pertanyaan saya setelah ia bercerita cukup panjang tentang Jepara di pagi-pagi buta. Terlepas dari semua itu, setidaknya Alex memberikan gambaran yang pas tentang Karimun Jawa seperti yang sering saya dengar dari teman-teman yang pernah hinggap ke sana. Alex membuat kita berujar, "kalau lo gak mampu keluar negeri seperti 11 penulis lain, Karimun Jawa bisa dong jadi cerita?!"

Lepas dari kampung halaman, mari berangkat ke Amerika untuk menemui seorang dokter mata yang bersama sang mertua sedang bersiap menghadiri konferensi dokter mata sedunia di Boston. Bersama Ferdiriva Hamzah, kita diajak tertawa dan menikmati perjalanan yang 'tidak menyenangkan' bersama sang mertua. Setelah konferensi di Boston selesai, mereka menuju New York untuk menunaikan cerita ini. Menonton The Lion King yang membuat sang mertua tertidur sampai dengan mengusir perampok dengan hentakan yang membuat Riva tidak enak hati dengan sang mertua. Riva mengajarkan satu hal: 'travelling yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri.' (hlm. 157)

Dan perjalanan dihentikan oleh Trinity. Ia ta bercerita tentang kota apa pun dari mana pun. Bukan berarti ia hanya menyajikan halaman kosong di dalam The Journeys. Tetap ada cerita yang ia sajikan. Kali ini tentang profesinya yang seorang tukang jalan-jalan sembari menulis. Saya menjadi paham dengan 'penderitaan' travel writer yang dialami oleh Trinity. Seperti yang ia kisahkan di dalam buku pertamanya, perjalanan tak harus selamanya menyenangkan.

Ve Handojo yang lebih dikenal sebagai penulis skenario akhirnya bisa ke Israel setelah dibiayai oleh 'kuntilanak'. Bukan soal ziarah yang ia inginkan selama di Israel, tetapi bebas berjalan-jalan di Tel Aviv. Lucunya, banyak ciri yang asing ia dapatkan selama di Israel seperti soal ketepatan waktu untuk tiba di suatu lokasi. Tulisannya bebas, membiarkan kita berkelana sendiri dengan keberadaannya di Tel Aviv.

Berkelanalah kita ke tempat Adhitya Mulya: Afrika. Di sini, seperti biasa, liarnya tulisan Adhit dalam menceritakan sesuatu seperti juga di dalam novel-novelnya masih tersisip dan menjadi karakter yang tak dapat lepas. Nilai plus yang diberikan untuk Adhit adalah dia menyisipkan lampiran tips perjalanan bila ke Afrika dan negara-negara yang bisa dikunjungi atau tidak. Tapi, mengapa peta Afrika diletakkan di belakang setelah tips?

Dan, kita pun diakhiri ke bangsa penjajah Indonesia bersama Raditya Dika. Di Belanda, Radith yang berkesempatan mendapat beasiswa untuk belajar selama dua minggu. Mamanya yang sering bersikap berlebihan membuatnya merasa tidak berada pada zona nyaman. Tapi di dalam perjalanannya tersebutlah, ia paham arti keberadaan seseorang meski dalam taraf penilaiannya selalu bersikap berlebihan. Ya, tulisan Radith memang sudah berubah banyak sejak Marmut Merah Jambu terbit. Taste-nya dalam bercerita juga lebih tepat sasaran di awal dan di akhir. Perubahan tulisan Radith memang menjadi warna tersendiri meski leluconnya masih bernilai sarkas.

Ya, seperti itulah petualangan bersama The Journeys. Mungkin Windy boleh berkata, "perjalanan mempertemukan dua belas orang penulis yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan pada akhirnya menemukan sesuatu yang baru: sebuah cerita." Kita boleh memiliki persepsi sendiri tentang sebuah perjalanan; tetapi perjalanan adalah perjalanan, tempat di mana kita akan menghargai hidup agar lebih bermakna di setiap langkahnya.



Jakarta, 12 Mei 2011 | 6.15
A.A. - dalam sebuah inisial

Balada Restoran

di meja nomor sebelas
tersaji nasi yang mengepul-ngepul
ikan gurame bakar lengkap dengan sambal kecap
tahu goreng yang baru matang
petai yang berlumur cabai
segelas es kelapa
dan rasa lapar yang menggebu-gebu

pelayan mondar-mandir
membawa nampan
membawa menu
membawa piring dan gelas kotor

jari kasir yang manis itu
menari di atas angka-angka

haduh...
wangi ayam bakar
wangi ikan bakar

di luar sana
seorang anak kecil di dalam gerobak
menghirup wangi tersebut

'pak, lapar'
'sebentar ya, nak. kalau botol kecap ini laku, kita makan bubur'




Jakarta, 11 Mei 2011 | 19.57
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 10 Mei 2011

Tuesday with Morrie

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Mitch Albom
Perihal: Memento Mori

Seorang kerabat pernah menyuruh saya membuka telapak tangan kiri dan kanan. Kemudian katanya,"lihat garis tangan kiri dan kananmu, keduanya melambangkan huruf M. Tahu artinya?" Saya menggeleng. "Memento mori. Ingatlah kau akan kematian," jawabnya.

Demikianlah yang diajarkan oleh Prof. Morrie Schwartz dalam 14 minggu kepada seorang mahasiswanya, Mitch Albom. Di dalam kuliah 14 minggu, tanpa buku, dengan ujian setiap Selasa, dan tak perlu mempelajari apa pun untuk menyelesaikan mata kuliah ini. Kata Mitch, ini adalah mata kuliah yang paling praktis sekaligus paling sulit. Materinya adalah tentang kehidupan sehari-hari. Selama empat-belas minggu, bersama Morrie, Mitch merawi skripsinya. Skripsi yang tak akan mengenal ujung.

Berawal dari seorang Morrie yang adalah mantan dosen Mitch yang menderita ALS. Penyakit saraf yang perlahan membuat penderitanya kehilangan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena melemahnya sel-sel motorik. Morrie yang semakin terpuruk hari demi hari semakin menyadari kalau kematian akan mengancam hidupnya kapan pun. Ketika bangun kembali, itu seperti bonus hidup dari Tuhan. Di saat itu, Morrie mengenal hidupnya. Menghargai lebih di ujung hidupnya.

Dalam kuliahnya di setiap hari Selasa bersama Mitch, Morrie selalu mengajarkan banyak makna tentang hidup, cinta, keluarga, budaya, dan kematian.

Saya mencatat beberapa kata dari Morrie yang benar-benar bisa menginspirasi kehidupan:

1. "Yang paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang." - hlm. 55
2. "Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar tentang bagaimana kita harus hidup." - hlm. 87
3. "Kita semua mempunyai awal yang sama-kelahiran- dan kita semua mempunyai akhir yang sama-kematian. Jadi, apanya yang berbeda?" - hlm. 166

Dalam skripsi ini, Mitch mencatat banyak hal yang akan membuat kita bukan bersimpati-empati kepada Morrie, tetapi sebaliknya, Morrie mengajarkan kepada kita bagaimana menikmati hidup dengan berbagai persoalannya. Ini bukan menjadi hal yang sulit sebenarnya bila kita mau dan menyadarinya. Demikianlah Morrie memberikan kuliahnya selama empat-belas minggu bersama Mitch. Meski menangis, Morrie tidak butuh belas kasihan. Itu yang selalu ia tanamkan.

Morrie yang sudah berduka sejak kecil karena ditinggal mati oleh ibunya, kemudian mengalami hal yang menyedihkan bersama ayahnya. Morrie kecil menceritakan kepada Mitch tentang hal tersebut sebagai sebuah pelajaran bila ia sudah siap menghadapi kematian apa pun bentuknya. Ia tak lagi bisa berdansa, mengajar, bahkan kemampuannya untuk cebok setelah buang air pun sudah tidak ada. Ia kembali seperti anak kecil yang butuh bantuan. Penderitaannya amatlah menyakitkan. Dari sana, Mitch yang setiap Selasa datang ke rumah Morrie untuk mendapatkan kuliah sosiolosi yang bermakna. Yang tidak pernah Morrie ajarkan di dalam kelas selama di universitas.

Saya mengaminkan bahwa ini bukanlah skripsi yang membosankan untuk dibaca. Saya menyukainya dan lebih dari itu, skripsi ini adalah skripsi yang memacu emosional, haru, dan sebagai alarm bagi kita kalau hidup bisa saja berhenti kapan pun. Kematian bisa datang, tapi tidak bisa ditolak. Sebagai manusia, kita pun bagian dari alam yang tidak dapat melawan kematian meski kita merasa diri kita lebih dahsyat dari alam.

Dan percayalah, meski tak ditulis secara puitis dan menggunakan majas yang beraneka ragam itu, Mitch sudah mendapatkan summa cum laude dari sang profesor. Andai kalau Morrie masih hidup. Namun, kalau Morrie tidak di ujung kematiannya, apakah akan ada skripsi ini?

Malam ini, mendadak saya terngiang dua kata: memento mori.




Jakarta, 10 Mei 2011 | 23.21
A.A. - dalam sebuah inisial