Selasa, 29 Maret 2011
Andai Aku Tak Dapat Membaca
aku pun tak tahu,
mungkin rasanya seperti seorang buta tanpa tongkat
mungkin rasanya seperti seorang nelayan tak tahu di mana laut
mungkin rasanya seperti seorang penjual tak tahu harga produknya
mungkin rasanya seperti seorang penulis yang kehilangan tangannya
Apa yang akan kau perbuat untuk membaca?
aku pun tak tahu,
mungkin aku akan seperti seorang pengembara yang akan menuju timur
mungkin aku akan seperti seorang murid yang harus banyak belajar
mungkin aku akan seperti seorang pengemis yang mengais-ngais akasara
mungkin aku akan seperti seorang pecinta yang harus lebih mengenalnya
Kalau kau benar-benar tak bisa membaca?
aku pun tak tahu,
mungkin seperti dokter yang gagal menyembuhkan pasien
mungkin seperti guru yang gagal mendidik murid
mungkin seperti presiden yang tak bisa mengayomi rakyat
mungkin seperti orangtua yang tak bisa menafkahi anaknya
Dan, kalau kau tak bisa membaca?
sekali lagi,
aku pun tak tahu,
mungkin aku akan mati
Jakarta, 29 Maret 2011 | 15.53
A.A. - dalam sebuah inisial
Éclair
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Romance |
| Author: | Prisca Primasari |
Sesungguhnya, tak banyak orang yang tahu apa itu eclair. Seperti apa bentuknya dan apa rasanya tak banyak yang menyadari kalau kue tersebut adalah kue yang sangatlah pasaran di masa kini, termasuk Indonesia.
Eclair adalah kue kering yang berbentuk panjang, berisi krim pasta. Kalau kau tahu apa itu kue sus, bisalah kusebut Eclair ini adalah jelmaan versi panjangnya. Namun tak seperti kue sus, Eclair lebih garing untuk tekstur luarnya. Isinya bisa berupa buah kaleng, saus vla, whipped cream, atau es krim.
Eclair berasal dari abad kesembilan-belas yang menjadi salah satu ciri khas dari Prancis. Eclair pertama kali diciptakan oleh Marie-Antonin Careme, seorang koki terkenal dari Prancis, untuk royalti Prancis. ‘Eclair’ dalam bahasa Prancis sendiri berarti ‘petir’. Dinamakan demikian karena eclair selalu terlihat berkilau, terutama pertama kali dijual.
Aku tak mungkin juga hanya menceritakan apa dan sejarah Eclair. Cerita di atas hanya untuk membantumu mengerti kelak kalau kau tergoda untuk membacanya, biar kuungkap dulu rasa penasaranmu yang menggebu dari judulnya, barulah kemudian kau nikmati Eclair dalam bentuk kata-kata.
Prisca Primasari kembali bercerita tentang negeri di luar Indonesia. Aku tak tahu mengapa ia memilih negeri di luar daripada negerinya sendiri. Apakah negerinya sendiri itu tak ada yang bisa ia ceritakan sampai-sampai harus mengambil dari luar? Bagiku, ini sangatlah asing, termasuk meriset fakta-fakta. Meski fiksi, fakta tetap acuan dalam menuliskan cerita.
Bermula dari satu kota di Rusia yang bernama St. Petersburg, Prisca memulai tokoh Ekaterina Fyodorovna dan Sergei Valentinich yang akan melangsungkan pernikahan dua minggu lagi. Permasalahan yang terjadi adalah Stephanych menjadi penghalang pernikahan mereka. Stepanych yang sakit keras ingin berjumpa dengan teman-temannya dahulu. Sergei ingin menunda pernikahan mereka, tetapi Katya memaksa akan melangsungkannya. Katya akan mencari dua teman mereka yang hilang, Kay dan Lhiver.
Singkat cerita, Katya berangkat menuju New York untuk menemui Kay. Masalah runyam karena Kay yang seorang fotografer terlibat di dalam sebuah kasus pembunuhan Tantiana Andreyeva, seorang patissier terkenal. Membawa Kay ke Rusia untuk menemui Stephanych bukanlah hal yang mudah. Ia harus berurusan dengan pihak kepolisian, seluruh pegawai toko pisau garnish di kota itu, dan para pelanggannya.
Setelah masalah selesai, Katya menuju ke Surabaya. Tugasnya belum selesai. Ia harus meluluhkan hati Lhiver. Sayang, lagi-lagi bukanlah perkara yang mudah. Sergei, Katya, Kay, Lhiver, dan Stephancy memiliki tragedi yang tidak bisa terlupakan. Lhiver sudah menganggap persahabatan mereka berakhir sejak Aoife, anak angkat Lhiver, dan kedua orangtua Lhiver dan Kay meninggal.
Mungkin kau akan tercengang dengan gambaran cerita yang kuberikan. Apa urusannya eclair dengan hubungan kelima orang tersebut?
Aku tak punya hak untuk banyak bercerita untuk menjawab pertanyaan tersebut. Itu adalah hakmu untuk menemukan jawabannya bila hatimu penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Bila aku menjawabnya, itu sudah di luar teritorialku lagi.
Aku suka dengan cara Prisca mendeskripsikan keadaan, mengelola cerita yang asing di tempat yang asing. Aku suka dengan cara Prisca memberikan kejutan-kejutan sederhana, memainkan watak-watak tokohnya. Aku suka dengan cara Prisca menggabungkan dua tema yang sederhana di dalam cerita yang sederhana dengan nuansa yang tak bisa dikatakan sederhana. Ia cukuplah spektakuler untuk berperan sebagai tuhan di dalam ceritanya, mengeksekusi tokoh-tokohnya, dan menentukan kehidupan para tokoh selanjutnya.
Aku suka bagaimana Katya membongkar siapa pembunuh dari Tantiana Andreyeva dengan berbagai macam motif yang tak lazim. Kupikir aku sedang menonton sebuah film detektif di dalam kata-kata. Aku suka bagaimana Katya berjuang meluluhkan hati Kay dan Lhiver agar mau kembali bersatu dengan cara yang unik. Kupikir lagi aku sedang menonton opera sabun yang luar biasa. Aku suka dengan misteri-misteri yang harus diungkapkan oleh Katya dan Sergei untuk menyelamatkan diri dari cengkraman musuh yang hendak membunuh mereka.
Eclair adalah latar belakang dari cerita ini. Kau akan tahu bagaimana caranya menyatukan sahabat-sahabatmu yang ada di mana, bagaimana cara mencintai di dalam kesejatian, dan mengelabui musuh yang paling keji sekali pun lewat eclair yang tersaji di dalamnya. Eclair seperti membuat sesuatu yang terlihat mustahil menjadi nyata. Mungkin Prisca sudah berhasil ‘menyatukan kembali beling yang pecah menjadi gelas yang utuh’.
Prisca juga sudah merawi sebuah cerita di mana persahabatan, kasih sayang, dan pesaudaraan terlihat begitu bernilai di antara segalanya. Itu yang diwujudkannya lewat Eclair.
Itulah gambaran Eclair bagiku. Entahlah bagimu seperti apa. Kuharap hatimu tergoda untuk membacanya, menyantap eclair dalam bentuk kata-kata, dan menikmatinya sampai kau merasa kenyang. Kemudian menutupnya dan ketika kau merasa lapar, sila nikmati lagi!
Tabik!
Jakarta, 27 Maret 2011 | 20.50
A.A. – dalam sebuah inisial
Kamis, 24 Maret 2011
Semua Bergerak untuk Sastra Indonesia
| Start: | Mar 25, '11 |
| End: | Apr 24, '11 |
Kalau pernah membaca esai Seno Gumira Ajidarma yang berjudul "Kehidupan Sastra dalam Pikiran", tentu kita akan disambut dengan satu kata pengantar yang mengena sekali.
"Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila Jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran."
Akhir-akhir ini, kita sering mendengar pemboman dengan buku yang secara tidak langsung melecehkan Sastra Indonesia. Kemudian kabar yang lebih tidak mengenakan lagi adalah Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin terancam ditutup karena kekurangan biaya. Belum lagi adanya pembakaran buku, pelarangan yang diam-diam masih terjadi, pembajakan yang marak, dan juga ada kabar yang lain yang mengancam Sastra Indonesia semakin lenyap.
Berangkat dari sana, bekerjasama dengan www.nulisbuku.com, proyek ini didedikasikan penuh untuk menyelamatkan Sastra Indonesia. Melalui proyek ini, kamu bebas mengungkapkan apa saja mulai dari cerpen, puisi, prosa, dan esai tentang simpati dan empati kamu untuk Sastra Indonesia.
Semua Bergerak untuk Sastra Indonesia
Karena kami sadar yang peduli bukan hanya kaum penyair, sastrawan, dan penulis dengan keberadaan Sastra Indonesia ini, pembaca sastra pun pasti peduli dan prihatin dengan keadaan ini. untuk itu semua orang bebas mengungkapkan apa pun. Didasari dengan cinta kepada Sastra Indonesia, kami berangkat untuk bergerak memulai semua ini dari tulisan yang akan diterbitkan oleh www.nulisbuku.com
Sastra Indonesia juga menjadi bagian dari seni Indonesia. Nah, kamu, tidak peduli yang muda dan yang tua, mari bergerak! Kami mengundang kamu untuk ambil bagian di dalam "Semua Bergerak untuk Sastra Indonesia".
Bagaimana caranya? Silakan baca di sini.
Dengan berkontribusi dalam proyek ini, kamu sudah menjadi bagian di dalam Solidaritas untuk PDS H.B. Jassin karena seluruh royalti penulis dari hasil penjualanan buku ini akan diberikan kepada Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Selain itu, kamu juga masuk ke dalam bagian Sastra Indonesia.
Kalau ada pertanyaan, silakan kunjungi di sini.
Selamat menulis! Satu naskahmu yang masuk, kamu sudah menjadi satu bagian di dalam Sastra Indonesia.
======================================================================================
Bagaimana bergabung di dalam proyek ini?
1. Tentukan apa yang ingin kamu tulis. Boleh puisi, cerpen, prosa, dan esai. Tema yang diangkat adalah "Semua Bergerak untuk Sastra Indonesia".
2. Download template dari nulisbuku.com di sini dan mulailah menulis. Times New Roman 12pts, spasi 1. Batas yang ditentukan adalah:
a. Puisi: maksimal 4 halaman template.
b. Cerpen: maksimal 8 halaman template.
c. Prosa: maksimal 5 halaman template.
d. Esai: maksimal 8 halaman template.
Kalau kamu tidak bisa mendownload-nya, sila kirim email ke untuk.sastra.indonesia@gmail.com dan akan kami kirimkan untuk kamu.
3. Kirim karya kamu ke untuk.sastra.indonesia@gmail.com paling lambat hari Minggu, 24 April 2011, pukul 23.59. Subjeknya: [jenis yang kamu kirim]-judul naskahmu-nama kamu. Contoh: "[Puisi]-Demi Sastra, Demi Indonesia-Rita Lestari". Semua naskah harus di-attachment. Sertakan juga nama kamu, e-mail, blog dan akun Twitter dan Facebook-mu.
4. Ajak teman-temanmu yang peduli dengan Sastra Indonesia untuk berpartisipasi dalam proyek ini!
5. Naskah yang masuk akan di-update perminggunya di blog ini. Oh ya, kalau kamu juga ingin membuatkan desain kaver, silakan kontak kami di untuk.sastra.indonesia@gmail.com dengan subjek "Cover". Kami akan membalas suratmu secepatnya!
6. Semua naskah yang masuk akan dibukukan dan tentunya juga akan diedit dahulu.
7. Tidak ada batasan untuk mengirimkan naskah di dalam proyek ini. Semakin banyak, semakin jelas kalau kamu terlibat di dalamnya!
Nah, tunggu apa lagi! Buka Word-mu, menulislah! Senantiasa kami tunggu tulisanmu!
=====================================================================================
Kalau ada hal yang kurang jelas, kamu bisa menghubungi:
Twitter: @bergeraksastra
E-mail: untuk.sastra.indonesia@gmail.com dengan subjek "Tanya"
Rabu, 23 Maret 2011
Jadilah Lautan, Jadilah Kobaran Api
bukanlah sebuah cita-cita
tapi kewajiban
kau harus lakukan itu
bakar gudang itu
lekas ledakan mesiu itu
bakar
ledak
bumi hanguskan semua!
biar NICA pun ikut hangus
meski Toha dan Ramdan harus mati
tetapi ia pahlawan sejati
:::: 24 maret '46-'11, Bandoeng Djadi Laoetan Api
Jayakarta, 24 Maret 2011 | 7.42
A.A. - dalam sebuah inisial
Semua Bergerak untuk Sastra Indonesia
Mari dukung terus literasi Indonesia dengan menulis di "Semua Bergerak untuk Sastra Indonesia"!