Kamis, 30 Desember 2010

Fragmentaris



satu cerita,
ia memiliki kisahnya sendiri
meski di dalam sunyi, berderu sakit
meski di dalam hening, ia butuh sendiri
entah pagi, siang, atau malam
: butuh berlindung, sebelum lekas pergi

satu cerita
ia memiliki waktunya sendiri
kalau memang masih ada peluang kecil
yang masam atau manis
dan ada kalanya ia tak perlu dikecap
dan dibiarkan pergi

satu cerita
ia memiliki tafsir sendiri
kadang ia memang harus dikenang
kadang pula ia dibiarkan pergi
kadang juga dilepas
dan diamkan saja
sampai angin yang membawanya menghilang




Jakarta, 30 Desember 2010 | 20.23
A.A. - dalam sebuah inisial

Rabu, 29 Desember 2010

Gol

"goool"
teriak mereka
bola bersarang di gawang
aku memungutnya
kami memang tidak juara
tapi kami menang
kami menang di hati kami



Jakarta, 29 Desember 2010 | 23.24
A.A. - setelah menyaksikan siaran bola

Empat Ceritera Musim denganmu

Satu...

 

Mari buat kesepakatan tentang musim semi yang akan meninggalkan kita. Musim semi akan datang tahun esok, maka biarkanlah ia pergi dengan membawa seribu kenangan di antara keping-keping mozaik yang telah kita susun rapi. Menyimpannya dalam kotak kenangan dan membiarkannya menjadi misteri di hari esok. Karena kita masih memiliki jalan dan kisah yang harus dijalankan sebagaimana mestinya. Hari memang harus silih berganti, pagi memang harus selalu datang, dan kita siap dan tidak siap harus menghadapinya. Kembali menyusun ceritera dan soal itu, nanti sajalah...

 

Dua...

 

Mari lagi-lagi kita buat kesepakatan tentang rahasia di musim gugur yang tetap setia untuk datang. Walau sudah kita kisahkan beribu macam tentang cinta dan asa, tetapi masih jutaan episode yang harus disusun agar terancang dengan rapi. Kita mesti berkelana untuk meneruskan ceritera-ceritera yang belum tersusun dengan apik, masih terus berkisah agar berbuah dengan manis sebelum hari yang jahat menggulingkan kita dan meninggalkan airmata dan rasa kehilangan yang kejam. Hidup memang soal menemukan tujuan akhir yang indah walau pun kita sudah tahu ke mana hidup akan bermuara pada akhirnya.

 

Tiga...

 

Menjelang musim panas, apakah kita pernah berpikir bahwa kita telah memetik buah-buah yang begitu manis dan indah sepanjang dua musim kemarin? Ada waktunya kita merentaskan kehidupan yang manis dan pula harus kembali menjadi gersang, panas, dan melawannya dengan perlahan. Semua orang memiliki kesempatan, asa untuk melawan atau bertahan untuk memiliki kehidupan yang manis. Tapi tidak untuk selamanya menjadi manis. Ada kalanya mereka harus turun dari babak pertandingan dan merenungi diri.

 

Empat...

 

Kita telah menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Sebenar-benarnya. Dengan segala macam ceritera dan sisi humanisme yang menghiasi seluruh jalan yang harus memang dijalani. Dengan terjatuh dan bangkit lagi, kita menemukan satu mozaik. Dengan berdiri dan berjalan lagi, kita menuliskan sebuah ceritera. Dengan berjalan dan menikmati, kita sudah menemukan sisi bagaimana kita harus menjalani kehidupan ini sampai pada akhirnya kita akan berkata: inilah saat untuk pergi dan semua tugas sudah dilaksanakan dengan baik.

 

 

Jakarta, 29 Desember 2010 | 16.53
A.A. - dalam sebuah inisial

Minggu, 26 Desember 2010

Kisah Langit Merah

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Bubin Lantang
Petualangan adalah pergi tanpa titik tujuan, membiarkan dirimu tersesat, mencari, dan memilih; dan kamu tak tahu kapan harus pulang.

Mungkin kalimat ini yang membuat tangan saya bergerak menuju almari toko buku dan menaruhnya ke dalam daftar list untuk membacanya. Namun apa daya, saya lagi-lagi mengendapkannya di rak buku dan membuka antrian buku lain yang sudah sekian lama menunggu untuk dibaca.

Jujur, saya bukanlah pengikut setia Bubin Lantang. Saya belum pernah sekali pun menyentuh bukunya, tak pernah membaca cerpennya, apalagi esainya. Tak pernah mengenal seperti apa karakter tulisan dari seorang Bubin Lantang.

Membaca blurb dari Kisah Langit Merah ini, membuat saya tertarik dengan jalan ceritanya. Saya mulai berpikir bahwa ini adalah soal perjalanan seorang Langit Merah. (Nama karakternya pun sangat unik.)Dan blurb yang disajikan pada cover belakang, membuat saya ingin menarik buku ini dan membacanya.

Dengan sudut pandang orang ketiga dan Langit Merah yang menjadi tokoh sentral dari cerita ini, Bubin Lantang bercerita. Dengan alur maju-mundur dan cara bercerita yang dibawa oleh Bubin Lantang secara santai. Ceritanya pun bukanlah cerita yang membuat kita terheran-heran bahkan cenderung terjadi setiap hari di sekeliling kita.

Langit atau Merah adalah seorang yang idealis. Seorang jurnalis yang gelisah, yang tetap kepada pendiriannya untuk selalu jujur dan bersih meski ia berada di sekeliling yang tidak bersih. Jurnalis adalah cita-citanya yang selalu dijunjung tinggi sejak kecil dan berada di dalam redaksi yang kini ia duduki adalah tujuannya. Namun, semua itu berbeda dengan bayangannya di masa kecil. Kotornya dunia jurnalistik membuatnya bagaimana tetap bertahan atau mundur dari pertarungan.

Ditempatkan di desk kriminal sampai dengan dipindahkan ke desk ekonomi, idealismenya tetap bertahan. Kokoh, tak digoyahkan meski dengan rayuan uang dua ratus juta sekali pun. Bahkan ia pun akhirnya memilih mundur ketika atasannya tahu bahwa Langit adalah seorang yang cukup berbahaya, yang bisa mengancam keselamatannya karena Langit bukanlah orang yang bodoh, bahkan sangatlah pandai dalam melakukan penyidikan.

Cerita yang tak asing pula seperti percintaan Daria dan Langit yang berpacaran 12 tahun harus putus karena perbedaan kepercayaan, kasus penjodohan -yang tentu saja tidak asing-, dan tuntutan orangtua yang mendominasi.

Bubin Lantang bercerita apa adanya. Ia bercerita tanpa bermaksud menggurui, mengenal seluruh karakter tokohnya secara utuh, merancangnya dengan baik, merawinya dengan bijak. Ia tahu seorang Langit yang adalah lulusan luar negeri harus bersikap seperti apa dan bagaimana cara berbicaranya. Ia pula tahu bagaimana Langit harus bersikap terhadap wanita yang tak bisa ia miliki.

Bubin tak pula harus memaksa pembacanya untuk terus membaca. Ia memberi jeda bagaimana pembaca harus dimainkan emosinya sedemikian rupa atau membiarkan pembacanya berekplorasi terhadap imajinasinya sendiri. Ia memunculkan pertanyaan-pertanyaan semu dan itulah tugas pembaca Kisah Langit Merah untuk menemukan bagaimana seorang Langit yang gelisah untuk memilih kehidupannya.

Dan hidup memang tidak punya buku petunjuk, kitalah yang harus menjadi petunjuk atas diri kita sendiri. Bubin Lantang mengajak kita pada satu hal: pilihan di tangan kita dan caranya kita memilih, itu yang menjadi persoalan.

Belajar jadi manusia jujur selalu lebih menantang buatku. - hal. 29



Jakarta, 27 Desember 2010 | 13.48
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 21 Desember 2010

Ode Untuk Bunda

Sepasang kupu-kupu terbang
Hinggap di ubun-ubun, katamu aku manis
Maka ia menaruh dirinya di atas kepalaku

Aku tersipu manis, memanja diri

Ah, bunda... Bunda...
Pandai saja kau memuji anandamu, bukan kemarin sore kita baru berbelanja?

Kau butuh ini untuk pesta temanmu, katamu memberiku pakaian baru
Tak butuh, masih bisa kukenakan baju pesta kemarin

Makanlah sebelum dingin
Dan aku mengabaikan kata dingin
Membiarkannya begitu saja

Dan senja telah datang
Di ujung sana
Aku tahu betapa bahagianya
Aku pernah memiliki kamu
Aku pernah dimiliki kamu
Aku pernah belajar dan diajar untuk jatuh cinta
Aku pernah berbagi dan menerima kasih sayang

Aku pernah menjadi milikmu
Dan akan menjadi kamu





Jakarta, 22 Desember 2010 | 00.16
A.A. - dalam sebuah inisial

Senin, 20 Desember 2010

Akhir Petualangan


"Tiap orang harus berani mengembara, mematangkan diri, memetik tiap pengalaman menjadi guru, yang akan memberi makna hidup lebih dalam, dan boleh pulang kelak, bila ia sudah cukup paham akan apa arti hidup. Dan itu semua hanya akan diperoleh di tempat yang jauh dari kampung halaman, yang tak pernah punya janji masa depan."  — Mohamad Sobary (Sang Musafir)

 

Edisi catatan akhir tahun saya memang selalu berbeda. Tahun 2008, ketika saya memindahkan laman blog saya dari Blogger ke Multiply, saya mengangkat tema catatan akhir tahun mengenai beresolusi di mana semua orang seakan-akan diwajibkan untuk menentukan tujuan hidupnya pada tahun berikutnya. Seakan-akan, bila kita tidak membuat resolusi, kita tak akan memiliki tujuan yang kita capai. Intinya adalah saya tidak membuat resolusi pada tahun 2009. Sampai kapan? Sampai sekarang juga saya tidak membuat resolusi.

Tahun 2009, saya mengangkat tema pesta kebun. Entah mengapa saya ingin mengangkat tema itu. Saya merasa setahun penuh pada tahun tersebut adalah tahun yang penuh dengan pesta; entah itu pesta yang bahagia atau pun pesta yang mengundang rasa duka. Tahun 2009 saya diisi dengan berbagai macam rasa tersebut. Antara pahit dan manis datang selang-seling.

Nah, tahun ini, tahun 2010, saya mengisinya dengan petualang. Mengapa harus petualang? Mungkin salah satunya saya sering jalan-jalan pada tahun ini. Hahaha...

Sebagaimana sebuah petualangan, kita tak akan menemukan hal yang biasa-biasa saja ketika mengangkat ransel, memutuskan untuk meninggalkan rumah, dan berangkat dari satu kota ke kota yang lain, merasakan keajaiban-keajaiban yang tentunya tak semua orang bisa rasakan. Jatuh-bangun, panas-dingin, bahagia-duka, atau pula hidup-mati menjadi suatu pilihan dalam menentukan keputusan kita bertualang.

Tahun ini pula, saya merasakan hal-hal yang tak pernah saya capai sebelumnya. Kalau ditanya apakah ini tahun yang cukup besar bagi saya, mungkin jawabannya ‘ya’ dalam pancawarsa ini. Saya menemukan esensi-esensi yang menjadi pengalaman seru, haru, menegangkan, bahkan menjadi pencapaian yang cukup besar bagi saya.

Itulah mengapa saya ingin mengangkat tahun ini sebagai tahun yang membawa saya bertualang. Saya menemukan dimensi-dimensi baru, saya menikmati tahun 2010 di mana tak semua orang bisa menikmatinya seperti saya. Saya melewatinya hampir tanpa rasa duka. Saya menjalaninya cukup dengan sukacita.

Pada tahun ini, saya berani menanggalkan satu mimpi saya. Saya merelakannya demi sebuah pencapaian yang jauh lebih besar. Saya tahu bahwa suatu hari saya akan meraihnya, dan kini saya sudah memilikinya. Saya sudah merasakannya. Saya sudah mendapatkan kebahagiaan dari semua itu.

Tahun ini juga tak lepas dari kepergian orang-orang yang pernah saya kasihi, yang pernah mengasihi saya. Bukankah hidup memang datang untuk pergi dan kembali datang? Maka saya tak begitu meratapi karena saya tahu tujuan kehidupan bukan ada di dunia ini, tetapi adalah cara kita untuk kembali, untuk pulang.

Suatu hari pasti petualang akan merasa gelisah. Begitu pula dengan saya, saya selalu merasa gelisah. Saya selalu menginginkan pencapaian-pencapaian yang lebih besar. Saya membebaskan diri saya berkelana, membiarkannya terjebak dalam dunia yang tak pula saya kenal. Menghadapinya sebagaimana saya memang harus menjalaninya. Keluar dari kesesatan entah dalam kondisi hidup dengan tubuh yang terluka atau tidak.

Itulah saya. Sayalah petualang itu. 2010 adalah kota di mana saya memulai. 2010 adalah kota di mana saya mengakhiri.

Petualang memang akan selalu memiliki satu jalan: berangkat.

Dan pula memiliki satu jalan yang lain: kembali.

Saya sudah menjalaninya. Saya berangkat dari kota 2010 dan kini saya kembali pula kepada kota 2010. Saya akan memulai petualangan-petualangan baru di tahun 2011. Seperti apa? Saya sendiri tak pula tahu akan seperti apa tahun-tahun yang akan saya jalankan.

Maka, petualang pun akan kembali, meski ia merasa sendiri dalam pilunya. Saya pun pulang dalam kerinduannya sendiri.

 

Jakarta, 21 Desember 2010 | 1.51
A.A. – dalam sebuah inisial

Pada Pelabuhan yang Senja



Kemarin...
Hanya ada sekelumit kisah
menanti kepulangan
melepas kepergian
melambaikan tangan
memanggil
merelakan
cuma bagaimana kita menerima
sekelumit kisah itu
menjadi suatu sejarah
yang hanya aku dan kamu tahu
bagaimana menyimpannya dalam kotak kenangan

Hari ini...
aku tahu harus menjadi apa
mungkin memang tak lagi sama
memang tak akan sama
karena hari pun selalu berganti
sebagaimana kita mengurai cerita
meski perih
meski bahagia
meski haru
meski pedih
ini hanyalah soal kita menyimpan kotak kenangan

Esok...
ya, kita tak lagi sama
kita pergi dengan jalannya sendiri
kita melepas langkah kita
kita melepas setapak demi setapak
memilih jalan pergi sendiri
mencari rute pulang masing-masing
karena di ujung penantian
masih akan ada penantian
dan penantian tak bisa berakhir
bila kita masih belum bisa
menerima kehilangan dan mendapatinya
lebih dekat, lebih nyata

Lusa...
kotak kenangan akan berdebu
tapi yang tersimpan akan tetap selalu manis
meski ia terasa pahit





Jakarta, 20 Desember 2010 | 16.27
A.A. - dalam sebuah inisial


PS: Mas Dhave, numpang culik fotomu, kalau kau membuka catatanku ini. Matur tengkyuh :-)