Sabtu, 16 Januari 2010

Kasih Tak Sampai

meregut pedih koyakan jiwa menikam
aku termanggu sendiri di depan cermin
hendaknya kupecahkan saja di muka jiwaku
biar jemariku terluka ketika kuketik setiap bait
semua tak lagi sama, semua amatlah berbeda
kecuali di dalam satu hal: yaitu cinta

cumbui saja rasa bencimu kalau itu pantas
begitu lamban waktu melangkahi detiknya
aku begitu benci dalam hening tak pasti
tetapi aku tetap akan teguh di dalam hatimu
tertusuk ribuan jarum air mata, aku kalut
aku kalut di dalam pelukanmu
di dalam sebuah kasih

------------ dan itu, tak akan pernah kudapatkan lagi------------


Kalau kau baca sajak ini, janganlah kau putarkan lagu Kasih Tak Sampai - Padi


Selasa, 05 Januari 2010

Kala Hidup Seperti Menyaksikan Monolog

Aku sering bertanya kepada teman-temanku ketika sedang dalam meja diskusi di dalam kedai kopi sambil membahas buku atau soal blog atau malah soal pacar. "Apa definisi hidup menurut Anda, Bung?" Untuk teman-teman diskusiku yang lama mungkin tak asing lagi dengan pertanyaan ini. Nah, kalau yang baru mereka akan merasa tercekat dengan pertanyaan ini. Mengapa? Karena aku akan memberikan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dari jawaban mereka itu.

Sebelum meracau kepada pertanyaan yang lebih jauh, saya pernah mengatakan kepada seorang teman baik saya yang sekarang terdampar di Pekanbaru seperti ini:
"Hidup itu sesingkat ketika kita menyaksikan pentas monolog. Hidup itu prolog dan epilog. Hidup itu sebuah drama. Bisa semuanya terjadi tinggal menunggu respon penonton: diberikan stand applause atau malah harus turun dengan cerca dan lemparan kekecewaan."

Baiklah, tulisan ini saya tujukan sebagai hadiah ulang tahun Mbak Nurina Utami yang berusia 32 tahun. *Eh.... 23 yah? Hihihi...* yang pada akhirnya menyodorkan saya pertanyaan "apa arti hidup menurutmu, Ave?" lewat SMS kala suatu malam di penghujung 2009. Kalau di awal saya bercerita bahwa saya sering membuat orang harus memutar otaknya berkali-kali untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana ini, kali ini saya yang harus berada di posisi itu.

Anggap saja kali ini Anda menjadi saya dan saya menjadi orang-orang yang bernasib mujur terimbas pertanyaan sederhana saya itu. Dua gelas kopi sudah tersaji dan kita akan berdiskusi mengenai hidup sampai tengah malam. Sampai tengah malam, sekali lagi kucatatakan dengan sengaja. (Kalau di kedai kopi sampai diusir kalau bisa)

Baiklah, kita mulai saja. Mengapa aku bisa mengatakan hidup itu sesingkat kita menonton monolog? Seperti ini gambarannya, cobalah kau masuk ke dalam sebuah ruangan teater. kau saksikan monolog. Ketika engkau menikmatinya, kau akan saksikan sampai selesai dan pulang dengan rasa kagum dan puas walau berpaa harga tiket yang kau kucurkan demi itu semua, menikmati monolog itu. Atau malah sebaliknya, ketika harga tiket yang kau genggam itu tidaklah sebanding dengan apa yang harusnya kau terima. Kau memutuskan pulang dan penuh kekesalan dan kekecewaan. Kau harus menegak ludah karena pulang lebih awal. Seperti itulah hidup kalau kuanalogikan: manusia datang seorang diri, pulang juga seorang diri dalam pentas monolog. Hidup manusia adalah sebuah monolog dan improvisasi. Nah, sekarang tinggal memilih mana, menikmati monolog itu sampai selesai atau menyelesaikan monolog itu sebelum waktunya?

Adalah awal dan akhir. Prolog dan epilog. Bagaimana membuka hidup seorang diri dan pulang hendaknya jua seorang diri pula. Pramoedya Ananta Toer pernah menulis demikian di dalam bukunya, Bukan PasarMalam "Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.” Hidup manusia memang membutuhkan prolog dan epilog. Harus menerima keduanya itu. Tinggallah kita sendiri untuk merancang bagaimana membentuk sebuah prolog yang menaarik agar kita tetap bertahan hidup sampai pada epilog yang indah. Ketika kita salah membentuk prolog, maka epilognya pun akan tertebak sebelum drama itu berakhir.

Yang kumaksudkan dari respon penonton adalah kala kita harus bersosialisasi dengan lingkungan kita. Diterima atau malah ditolak. Bagaimana kita menerima dan memberi. Itu yang sangat penting. Maka ketika kita menyaksikan drama, penonton adalah yang berperan dominan. Mereka bagaimana merespon sesuatu  yang baik atau malah pemain harus kembali ke belakang panggung dengan kuyu karena dicerca.

Itulah analogi hidupku. Ada gejolak-gejolak hidup yang harus dijalankan, dilepaskan, dan dibiarkan begitu saja. Ada masing-masing cara membentuk kehidupannya sendiri. Atau kita malah tidak mendapatkan peran di dalam dunia Bagaimana kita memiliah dan pandai-pandai memikirkan jalan yang jauh.

Arti hidup untukku sendiri adalah drama. Di mana kita butuh dialog, monolog, prolog, epilog, improvisasi, blocking, bahkan turun dari panggung dengan bangga penuh stand applause dari penonton. Hidup itu bukan semata menggunakan kostum dan melakukan akting di atas panggung, di luar itu semua bagaimana kita memuaskan pentonton sampai akhir pementasan. Itu yang sulit. Itu mengapa kuanalogikan hidup seperti monolog.

Nah, sobat... Sepertinya kopi yang kita pesan sudah habis dan pelayan-pelayanpun sudah bersiap untuk menutup kedainya. Pertanda juga sudah larut dan waktunya kita pulang. Jawabanku rasanya cukup sudah. Semoga melepaskan dahagamu untuk pertanyaanku tadi dan semoga puas dengan analogiku.


How simple life is. It's as simple as this: you're hungry and you eat, you're full and you shit. Between eating and shitting, that's where human life is found - Pramoedya Ananta Toer (Tales From Jakarta)


Sahabatmu selalu,

A.A. - dalam sebuah inisial
Jakarta, 5 Januari 2010| 20.40

Kamis, 31 Desember 2009

Ada yang Berubah Pada Tahun Baru

Bagaimana kalian merayakan tahun baru? Dengan bermain petasan dan kembang api? Dengan berkumpul bersama keluarga karena kalian semakin sadar usia kalian bertambah lagi satu hari? Dengan membuat bara api dan membakar jagung atau camilan tengah malam sambil menunggu jarum pendek pada arloji kalian menunjuk pada arah yang berlawanan dengan gravitasi? Atau nongkrong bersama pacar di suatu tempat sambil mengucapkan "selamat tahun baru, sayang..." (Untuk yang terakhir, di luar ranahku).

Aku sendiri merayakan tahun baru masih tetap seperti tahun lalu. Menuntaskan janji akhir tahun untuk seorang teman sambil chatting dengan temanku di Amerika yang masih 12 jam lagi merayakan tahun barunya. Menyisakan waktu sesekali untuk melihat kembang api yang meledak-ledak di awan. (Dan tanpa mereka sadari mereka telah menghabiskan uang untuk menambah pemanasan bumi).

Aku tak tahu darimanakah tradisi tahun baru itu harus dirayakan dengan penuh keramaian. Aku sendiri lebih memilih merayakan tahun baru dengan sederhana saja. Toh, di pemikiranku semua itu seperti biasa saja. Tak ada yang perlu dikhususkan. Pergantian tahun juga akan terus bergulir. Mungkin kalian telah berencana akan mengurangi dosa kalian di tahun berikutnya. -Mungkin- Atau berencana menambah sesuatu di dalam kehidupan kalian. Who knows?

Satu tahun sudah saya tidak membuat resolusi dan ini akan berlanjut kepada tahun-tahun berikutnya. Apakah tujuan membuat resolusi? Apakah hidup kalian akan lebih berarti dengan resolusi? Atau hanya seperti hiasan pada dinding kamar kalian untuk sebagai pengingat janji? Aku sendiri lebih nyaman hidup tanpa resolusi dan lebih membebaskan diri tanpa adanya ikatan semacam resolusi itu?

Oh ya, mengingat tahun baru. Sudah ada persiapan apakah? Baju baru? Makanan lezat? Sofa baru? Mobil baru? Atau rumah baru? Bahkan pacar baru? (Hehehe... lagi-lagi ini di luar ranahku). Sudah persiapkan kembang api sebanyak-banyaknya? Atau hanya menatap dari balik jendela saja kembang api yang memecah itu?

Banyak yang berubah dalam hidupku. Ketika kecil, aku memaksa orang tuaku untuk membelikan kembang api sebatang-sebatang itu. Kunyalakan depan rumah karena pesan mereka:" bermainlah di luar rumah, di dalam nanti terbakar". Kemudian begadang sampai larut malam dan bangun di siang bolong ketika waktunya untuk makan siang. Sekarang? Masihkah itu kujalani? Tidak! Aku menghindar dari keramaian. Aku menikmati kesendirian sambil berpikir hendak apa aku di tahun ini. Sesekali melongo ke depan, melihat kembang api yang meledak (dan tanpa mereka sadari mereka sudah mengganggu orang banyak). Aku tak lagi harus menunggu tahun baru untuk begadang. Nyaris setiap malam di akhir pekan atau libur, waktu tidurku hanyalah 3-4 jam.

Seperti dulu juga aku berebut untuk minta dibelikan terompet. Ketika kemarin melewati penjual terompet aku ditawari untuk dibelikan. Aku malah menolak mentah-mentah. Ada yang berubah setiap tahunnya. Entah tahun depan apalagi yang akan berubah? Mungkin menyalakan kembang api dengan telepon genggam?! Siapa tahu?

Lalu, apa makna tahun baru untukku? Sebuah taraf pendewasaan. Untuk itulah aku selalu menjauh dari hiruk - pikuk keramaian di perubahan tahun. Tak lagi meniup terompet atau bermain kembang api. Kuinsafi hidup semata bukan hanya penuh keramaian tetapi juga penuh kesendirian, kesepian, sesekali kebahagiaan.

Nah, sobat, selamat tahun baru untuk kalian yang menikmatinya...



Jakarta, 1 Januari 2010 | 00.01
A.A - dalam sebuah inisial


Pesan Sponsor: Catatan ini semata untuk penyadaran dari diriku pada tahun baru apa yang harus kulakukan *wink!*

Minggu, 27 Desember 2009

Lomba Karya Tulis dan Film Pendek Pelajar 2010

Start:     Dec 27, '09
End:     Mar 2, '10
Dalam Rangka Hari Anak Nasional 2010

Pena Ananda Club

Didukung oleh :
Kalang Enterprise
Java Creative Production
Fath Film
MGMP Bahasa Indonesia SMP – Tulungagung


DASAR PEMIKIRAN
1. Hari Anak Nasional merupakan momentum apresiasi negara dan dunia terhadap hak-hak anak, dimana salah satunya adalah hak tumbuh kembang dan hak partisipasi dan untuk didengarkan pendapatnya.
2. Menulis adalah salah satu cara untuk menyampaikan gagasan, impian, harapan dan imajinasi seseorang dengan cara yang bebas, merdeka dan kreatif.
3. Menulis yang bebas merdeka dengan ruang kategori yang luas, adalah menulis sesuai dengan hati nurani dan kemurnian gagasan – imajinasi, kekayaan eksplorasi, akan berpengaruh terhadap kreativitas penulisan dan rasa percaya diri anak.

TUJUAN
1. Memberi ruang seluas mungkin untuk kreativitas penulisan pada pelajar dengan memberikan alternatif berbagai jenis penulisan.
2. Memberikan ruang yang merdeka bagi anak untuk berpendapat, menuangkan gagasan, pendapat, imajinasi, harapan dan impian melalui penulisan secara kreatif.
3. Menemukan anak-anak yang memiliki kemauan dan potensi dalam bidang penulisan dan film untuk dibimbing lebih lanjut melalui aktivitas-aktivitas kreatif di tingkat lokal.

TEMA
Bebas seputar kehidupanmu sebagai anak, remaja dan pelajar; serta apa saja yang kamu amati di sekelilingmu.

JENIS & SYARAT PENULISAN

PUISI & APRESIASI
1. Tidak dibatasi jumlah baris, bait, dan halaman.
2. Setiap 1 (satu) puisi harus disertai apresiasi atau terjemahan atau penjelasan maksud dari puisi tersebut.
3. Diketik pada: kertas A4, font Times New Roman 12, spasi ganda (2), diberi nomor halaman.

CERITA PENDEK (CERPEN) / CERITA GOKIL (LUCU) / CERITA MISTERI / DONGENG / OPINI (ARTIKEL)
1. Diketik pada: kertas A4, font Times New Roman 12, spasi ganda (2 spasi), diberi nomor halaman.
2. Jumlah halaman: 6 – 12 halaman.
3. Dibendel dan bercover.
4. Lampiran diletakkan di bagian belakang, disatukan dalam bendel naskah.

FOTONOVELA
1. Peserta: kelompok (5 – 10 anak). Tuliskan peran anggota kelompok: penulis skenario, sutradara, fotografer, pemain, editor foto, editor cerita, dll.
2. Dicetak bebas: hitam-putih atau berwarna. Cover: berwarna.
3. Jumlah halaman: 30 – 60 halaman. Tiap halaman sebaiknya lebih dari 1 (satu) gambar.
4. Dibendel dan bercover.
5. Lampiran khusus:
– Sinopsis
– CD berisi fotonovela dalam bentuk PDF atau JPEG.

FILM PENDEK
1. Peserta: kelompok (5 – 15 anak). Tuliskan peran anggota kelompok: penulis skenario, sutradara, juru kamera, juru rias dan busana, pemain, editor film, editor cerita, dll.
2. Skenario diketik di kertas A4, Times New Roman 12pt, spasi ganda, dibendel dengan cover.
3. Durasi film: 15 menit dalam bentuk VCD dan bisa diputar di VCD player.
4. Lampiran khusus berupa:
– Sinopsis
– Penjelasan teknis pembuatan film (seperti jenis kamera, program untung editing film, dll).
– VCD Film Indie

PERSYARATAN (UMUM) PENGIRIMAN
1. DEADLINE : 2 MARET 2010
2. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) naskah dari tiap kategori; atau mengirimkan lebih dari 1 (satu) jenis kategori.
3. Dikirim “Rangkap 2” langsung ke Pena Ananda Club:
Perumahan Bangau Putih L-9 T.Agung
CP : Bunda Zakyzahra (08986362436)
4. Disertai: Biodata, Fotokopi Kartu Pelajar atau surat keterangan dari sekolah, pasfoto 2 lbr ukuran 3x4, 1 lbr foto satu badan penuh ukuran 3R pose bebas-sopan.
5. Setiap 1 naskah dilengkapi dengan lembar “Pernyataan Orisinalitas Karya” (POK) yang bisa diperoleh di tiap CP dan Pena Ananda Klub dengan membayar Rp.10.000,-/POK. Bagi “kelompok”, setiap anggota kelompok wajib mengisi POK.
6. Di bagian sudut kanan atas amplop diberi kode sesuai jenis tulisan yang dikirim: [CERPEN] untuk “Cerpen”; [NOVELET] untuk “Novelet”; dan seterusnya.

APRESIASI DAN HADIAH
1. PENA ANANDA CLUB BERSAMA MITRA MENGADAKAN ROADSHOW KE SEKOLAH-SEKOLAH DENGAN TUJUAN SOSIALISASI DAN PEMBERIAN MOTIVASI BAGI PARA SISWA. JADWAL SESUAI DENGAN YANG DIAJUKAN PIHAK SEKOLAH. PELAKSANAAN: SENIN – JUMAT PUKUL 08.00 – 12.00.
2. SELURUH PESERTA MENDAPAT “SERTIFIKAT PARTISIPASI”
3. PENILAIAN TIAP KATEGORI DI TIAP TINGKATAN “HANYA’ DILAKSANAKAN JIKA MEMENUHI BATAS MINIMAL JUMLAH PESERTA SEBAGAI BERIKUT:
a. Puisi dan Apresiasinya : 100 peserta
b. Cerita Pendek : 50 peserta
c. Cerita Gokil (Lucu) : 50 peserta
d. Cerita Misteri : 50 peserta
e. Dongeng : 50 peserta
f. Opini (Artikel) : 50 peserta
g. Novelet : 10 peserta
h. Fotonovela : 15 peserta
i. Film Pendek : 15 peserta
4. PENGUMUMAN PEMENANG : 2 MEI 2010 (Hari Pendidikan Nasional)
5. LAUNCHING BUKU & FILM : 23 JULI 2010 (Hari Anak Nasional)
6. Pemenang diambil Juara I, II, III untuk masing-masing kategori (puisi, cerpen, dongeng, dll) dan tingkatan (SD – SMP – SMA).
7. Hadiah berupa: “Sertifikat JUARA”, paket khusus, dan diterbitkan dalam Buku Antologi (hak cipta pada penulis, hak penerbitan selama 1 tahun penerbitan pada Pena Ananda Club)
8. Setiap peserta “yang karyanya masuk dalam buku antologi” akan menerima masing-masing 1 buah Buku Antologi “setelah diterbitkan”.