Jumat, 13 Maret 2009

Ber Hen Ti

Aku mengeja kata itu
Persuku kata

Ber-hen-ti

Aku mendesah nafas
Aku terdiam

Ber-hen-ti

Kata itu terus membayang
Merasuki dan merasuki

Ber-hen-ti



Jakarta yang tak pernah berhenti,
14 Maret 2009


AA - Dalam sebuah inisial

Lomba Menulis Berhadiah Tiket Nonton Iwan Fals

Start:     Mar 13, '09
End:     Mar 21, '09
Ceritakan Wanita Jagoanmu di KaryaKita periode Maret 2009
Kemarin jam 21:41
Ikuti!
KaryaKita Periode 14-21 Maret 2009
Tema “UNTUK YANG PALING CANTIK”
Siapakah wanita jagoanmu?
Ceritakan mengapa kamu mengidolakannya, dan kirimkan fotonya.

1. Karya harus orisinil.

2. Karya berupa cerita pendek non-fiksi, serta foto wanita yang diceritakan (ukuran 4R atau postcard).

3. Diketik dalam kertas ukuran A4, maksimal 500 kata.

4. Akan dipilih 20 nominasi terbaik dan dipamerkan di Pendopo Iwan Fals pada Konser "Untuk Yang Paling Cantik" tanggal 28 Maret 2009 – 15.45 s/d selesai.

5. Hadiah:
a. 10 Terbaik akan mendapat tiket gratis menonton Konser Bulanan Iwan Fals bulan Maret 2009.
b. Dari 10 Terbaik tersebut, dipilih 3 Terfavorit yang akan mendapatkan Merchandise eksklusif Tiga Rambu yang ditandatangani oleh Iwan Fals!

6. Pengiriman KARYAKITA:
a. Via email: karyakita@hotmail. com.
Terakhir diterima tanggal 21 Maret 2009 jam 23.59.
b. Jika dalam bentuk hardcopy kirim ke sekretariat Tiga Rambu:
Kp. Leuwinanggung No. 19 RT 001/RW 003 Cimanggis, Depok 16956.
Pengiriman cap pos tanggal 21 Maret 2009. Mengingat pengiriman via pos akan memakan waktu cukup lama, disarankan karya dikirimkan via email.

7. Cantumkan data diri:
a. Nama,
b. Alamat tinggal,
c. No. telepon dan handphone,
d. Pendidikan / Pekerjaan.

8. Semua karya yang masuk akan menjadi milik Tiga Rambu, maka dari itu Tiga Rambu berhak merubah komposisi karya sehubungan dengan keperluan display.


SOURCE HERE

Selasa, 10 Maret 2009

Kidung Hujan



Hujan, menarilah dalam titik - titik air, mengangkasalah ketika belum turun sampai ke bumi. Jadilah air yang menyejukkan untuk bumi. Jangan lekas berakhir, bawalah tetes - tetes dingin yang melembutkan hati, mendinginkan tubuh setelah penat bertanding melawan waktu.

Hujan, turunlah dan merontoklah dari kaki - kaki langit, biarlah jadi basah seluruh bumi. Lepaskan dahaga dunia setelah mentari memenangkan pertandingan melawanmu. Biarlah ketika malam menjadi selimut langit, engkau senantiasa menjaga dunia dengan rintikanmu.



Hari yang hujan, 10 Maret 2009 | 7.54 PM
A. A. - dalam sebuah inisial

Minggu, 08 Maret 2009

Rhoma Irama - Begadang




Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya
Begadang boleh saja, kalau ada perlunya

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya
Begadang boleh saja, kalau ada perlunya

Kalau terlalu banyak begadang
Muka pucat karena darah berkurang
Kalau sering kena angin malam
Segala penyakit akan mudah datang
Darilah itu sayangi badan
Jangan begadang setiap malam

Sabtu, 07 Maret 2009

Sahabat Kehidupan

Hari ini tepat aku merayakan panggilanku sebagai seorang pelayan kekasihku yang ke dua puluh lima. Hari ini juga yang memperingatiku atas kejadian sepuluh tahun  silam, tepatnya 30 November 1995.

Ceriteranya seperti ini, aku adalah seorang anak dari ayah yang pekerjaannya seorang karyawan perusahaan swasta dan ibu seorang dosen di sebuah universitas di Jakarta. Aku mabuk – mabukkan sejak aku ditinggalkan oleh seseorang kekasih yang amat mencintaiku dan begitu juga sebaliknya. Ia bukan menolak cintaku, bukan juga karena usianya yang terlalu muda. Ia meninggal. Tragis. Ia dibunuh oleh seorang sahabat yang amat setia padanya. Bahkan sahabat itu sangat akrab dengan kita.

 Ia mengaku bahwa ia sangat mencintaiku. Dengan sangat terpaksa ia membunuh seseorang kawan yang menurut pengakuannya ia sangat cemburu dengan kekasihku. Setelah aku tahu motif pembunuhan terhadap kekasihku, aku menjadi depresi. Saat pemakaman Eliza, kekasihkupun aku tidak hadir. Selama sebulan di dalam memoriku hanya teringat dia.

Akhirnya, aku menjadi seorang preman jalanan. Aku kebut – kebutan bersama temanku. Aku ngetrek di jalanan Jakarta yang begitu menyesakkan dada akibat polusi udara. Lalu, aku mabuk – mabukan dan menikmati narkotika.

Tiga bulan berlalu, aku memakai barang haram tersebut, lalu aku sangat ketagihan. Sampai saat itu, orang tuaku tidak tahu aku ini seorang pemakai barang haram itu.

Setengah tahun sudah aku memakai barang haram itu, lalu aku mulai merasakan efek sampingnya. Badanku panas dingin. Over dosis akibat barang itu. Saking paniknya, orang tuaku melarikanku ke rumah sakit.

Orang tuaku tahu aku menjadi seorang pecandu narkoba. Hampir tiga bulan aku tidak sadarkan diri. Orang tuaku cemas. Tepat tanggal 6 Oktober 1983, aku kembali bisa melihat dunia. Lalu aku menjalani rehabilitasi narkoba.

Saat aku menjalani rehabilitasi narkoba, aku bertemu dengan sesama pecandu narkoba. Ia telah menjalani rehabilitasi selama tiga bulan. Saat menjalani rehabilitasi, ia bisa melihat seorang sahabat yang sangat menyayanginya. “Aku sudah di sini tiga bulan. Entah berapa juta uang yang telah dikeluarkan orang tuaku. Selama di sini aku sudah membaik,” jawabnya. “Lalu apa saja perubahan yang telah kamu rasakan?” tanyaku. “Aku bisa merasakan Ia ada di sisiku. Di malam hari Ia berkata tobatlah… tobatlah… tobat… Waktumu masih panjang, jangan kau sia – siakan hidupmu,” ,jawabnya. “Siapakah Dia?” tanyaku. “Ialah yang memberikan semangat hidup padaku dan nantinya juga padamu. Kaupun akan tahu siapa Dia nantinya!” jawabnya dengan nada agak meninggi.

Tiga bulan berlalu, sahabatku meninggalkanku setelah ia menjalani rehabilitasi narkoba selama enam bulan. Lambaian tangannya yang mengartikan sampai jumpa bergoyang. Akupun ingin seperti dia, kembali bernafas bebas.

Sebulan setelah sahabatku itu meninggalkanku, aku sudah mulai bisa siapa yang dimaksud dengan Dia yang mengatakan Tobatlah…. Aku tahu Dia adalah Yesus, Kekasihku yang baru, yang menemaniku selama rehabilitasi narkoba ini.

Dua bulan kemudian, aku telah mulai bisa bersahabat dengan Kekasihku yang baru ini sambil menjalani rehabilitasi narkoba yang menyesakkan dada, melelahkan tubuh yang kurus ini, dan yang membosankan selama enam bulan. Tepat tanggal 8 Februari 1984, aku bisa bertemu bersama sahabatku yang mengenalkan aku seorang Kekasih untukku, Yesus.

Aku mencari dia, Hendrawan, yang telah memperkenalkan aku dengan Kekasih yang baru selama di rehabilitasi narkoba. Dua bulan kemudian aku bertemu dia di sebuah rumah makan bersama seorang perempuan.

“Hen, aku sudah tahu siapa yang kau maksud Dia! Aku tahu Hen, aku tahu!” teriakku. “Siapa dia?” tanya wanita yang ada di sebelahnya. “Oh… ini Leo, temanku di tempat rehabilitasi.” balasnya.

Sejak pertemuan itu aku sering menelpon Hendra. Suatu hari dalam sebuah percakapan di telepon, “Hen, aku mau mengikuti jejak Dia”. “Kamu tidak salah? Aku menyetujuinya, ini sebagai denda dosa yang kau perbuat sampai saat itu.”

Hendrapun menyetujuinya. Tetapi, orang tuaku tidak menyetujuinya. Dengan bujukan Hendra dan seorang teman yang pernah hidup di pusat rehabilitasi narkotika, orang tuaku akhirnya mengizinkan dengan sangat terpaksa. Kemudian aku masuk ke Sarikat Jesus. Selama di seminari, aku ditemani Kekasihku, Yesus itu.  Lima tahun kemudian aku menjadi pastor dari Sarikat Jesus.

Tiga tahun kemudian, aku pindah tugas di sebuah kota yang amat terpencil dari kejauhan kota yang bising, Merauke. Pada awalnya aku kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Karena keakraban dan keramahan penduduk Merauke, akupun bisa beradaptasi.

Karena di sebuah Gereja di Jakarta kekurangan seorang Imam, akupun dipanggil kembali ke Jakarta. Karena sudah lima tahun tidak bertemu dengan Hendra, akupun menjadi kangen dengannya.

Aku selalu berusaha menghubungi telepon genggamnya, tetapi tidak bisa. Aku menghubungi rumahnya, dan katanya ia sudah pindah.

Di suatu waktu, Kekasihku kembali mempertemukanku dengan Hendra. Tempatnya kini benar – benar sangat indah, di rumah Kekasihku sendiri. Pada waktu itu aku sedang memimpin misa.

Setelah selesai misa, aku bergegas mengejar Hendra. Aku minta nomor telpon dan tempat tinggalnya yang baru. “Hendra, Hendra, apa kabar?” tanyaku. “Baik, kamu ke mana saja? Sudah lama kita tidak bertemu.” “Boleh aku minta nomor telpon dan alamat barumu?”

Ia menyerahkan sebuah kartu nama. Sejak saat itu, hubungan kita yang terputus kembali tersambung. Kita sering telpon, aku pergi ke rumahnya, begitu juga dengan dia, Ia sering sekali main ke pastoran.

Sudah tiga bulan kita tidak lagi berhubungan. Kita terputus dengan kepentingan kita masing – masing.

Suatu malam, berdering telepon untukku. “Selamat malam, apakah saya bisa bicara dengan Romo Leo Wiranata, SJ?” Jawabku, “Ya, saya sendiri. Dari siapa ya?” “Saya istri Hendrawan Gunarto, romo. Saat ini suami saya sedang gawat. Bisakah romo datang sekarang?” Hendrawan Gunarto, seorang yang ku kenal sehat, kini sedang memperjuangkan hidup di ruang ICU. Tanpa pikir panjang ku menjawab,” Saya akan segera ke sana!”

Malam yang diliputi rasa takut, cemas, was – was aku pergi dengan Frater Ricardo dengan diantar oleh Pak Mul, supir gereja menuju ke rumah sakit. Aku langsung menuju ke ruang ICU, terlihat di sana selang – selang tersambung ke tubuh Hendrawan untuk memaksakan agar ia tetap bernafas.

Akupun mendoakan dan memberikan sakramen perminyakan agar Kekasihku masih mau memberinya hidup lagi. Ku berikan sepotong daging dari tubuh Kekasihku. Ku masukkan ke dalam mulutnya.

Dengan nafas yang tersengal – sengal, ia berkata, “ Selamat ulang tahun! Tapi, hidupku cukup sampai di sini. Aku sudah tidak kuat lagi. Teman kita akan menjemputku. Biarkanlah aku pergi bersama Teman kita. Selama kau masih diberikan nafas hidup, manfaatkanlah! Manusia dihidupkan pasti akan mati. Sampai jumpa Leo Wiranata!”

Ia menutupkan matanya selama – lamanya. Nafasnya telah habis. Degup jantungnya berhenti. Semuanya berakhir. Berakhir sudah!

Ku bisikkan di telinganya yang kecil itu, “Aku merelakanmu pergi! Pergilah dalam damai bersama Kekasihku! Selamat jalan Hendrawan! Terima kasih atas pesan – pesan berhargamu itu! Selamat jalan kawan!” Sambil menahan rasa pedih di hati yang mendalam, air mataku jatuh menetes ke pipiku yang merah padam, dadaku yang sesak, ku pegang tangannya yang telah mendingin. Ku relakan ia pergi, seorang sahabat yang mengajariku betapa indah hidup ini. Seorang sahabat kehidupan telah pergi dijemput seorang Kekasihku, Yesus pada hari ulang tahun Imamatku sepuluh tahun lalu.

 

©Aveline Agrippina Tando

 

Kamis, 05 Maret 2009

30 Mei 2009

Mungkin adalah sebuah tujuanmu untuk bergegas ke dunia sana. Dan saya pun tahu mengenai itu semua. Kamu boleh menyapa dirimu sepanjang harimu yang tersisa di dunia sini. Namun ketika kamu tak lagi di sini, aku selalu yakin kamu akan menemukan tempatmu yang lebih membahagiakan. Tapi tak sebahagia di sini.

Ya, saya akan mengantar teman saya ke belahan dunia lain. 30 Mei 2009. Dia akan menemukan tempat lainnya. Berjumpa dengan kedua orang tuanya yang menantinya di sana. Mungkin dia yang akan berbahagia di sana. Namun saya selalu mengatakan dengan ejekan untuknya. "Suatu hari nanti, dirimu bakal mencariku lagi yang ada di sini."

Saya tak mengerti mengapa di dunia ini harus ada yang namanya perpisahan. Dan perpisahanlah yang selalu menjadi cikal bakal seseorang untuk berduka. Untuk apa ada pertemuan ketika semua harus dipisahkan dengan perpisahan? Bukankah semua itu menjadi sebuah kesia-siaan dengan apa yang kita isap sari-sarinya?

"Hei... lo bakal ke Amrik (Amerika Serikat), kan?" tanyaku suatu hari ketika sedang sibuk mengerjakan majalah dinding.
"Sialan! Tahu dari mana lo?"
"Evander bilang sewaktu SMS lo sampai ke Vini."
"Sialan! Ember banget si Evander."

Saya langsung tertawa. Namun saya langsung bertanya - tanya untuk apa kamu menyimpan semua rahasiamu mengenai kepergianmu? Untuk apa? Toh, pada akhirnya semua orang juga akan tahu kamu akan berlari dari dunia ini dan ke dunia sana.

Sanjaya Pratama
. Saya menuliskan ini untukmu dengan penuh rasa persahabatan sebelum kamu berangkat ke Amerika. Berjumpa dengan keluargamu di bumi yang baru. Menjumpai nuansa baru. Menjumpai segalanya yang baru. Termasuk teman - teman yang baru. Termasuk guru - guru yang baru. Termasuk apapun yang baru. Adanya yang tak ada di dunia ini akan kau temui di duniamu yang baru.

Mungkin ketika kamu membaca tulisanku ini, kamu akan tertawa. Untuk apa aku menuliskan kepergianmu? Sebelum tawa itu menjadi tangis perpisahan, ada kala baiknya kita menerima kehilangan dulu sebelum kehilangan yang nyata datang kepada kita sehingga semua yang kita jalani sebelumnya akan menjadi keringanan di masa mendatang.

Untuk suaramu yang belum mengadahkan kehilangan, memang terlalu dini untuk menuliskan semua ini. Masih dua bulan lagi kamu berangkat. Ya, aku tahu semua itu. Tapi tidakkah kamu tahu bahwa menyembuhkan luka kepergianmu lebih dini semakin baik dibanding ketika kamu mengucapkan "selamat tinggal" semenit sebelum keberangkatanmu? Itu menyakitkan!

Saat ini kamu boleh tertawa. Tertawa bahwa dunia yang sampai saat ini kita pijaki (dan yang akan kamu tinggalkan) adalah sebuah dunia yang penuh humor. Humor yang sama sekali tak bisa dilogikakan. Banyak yang miskin. Banyak yang kaya. Banyak yang tampan. Banyak yang jelek. Apapun ada di dunia yang ini.

Dan dua bulan kemudian, ketika kamu menginjakkan kaki di duniamu yang baru, menghirup oksigen di dunia yang baru, tak akan ada yang benar - benar sama seperti di dunia ini.

Setidaknya kita pernah bertemu. Berjabat tangan. Bertegur sapa. Bertatap muka. Berdiskusi. Bercanda. Lalu melambaikan tangan melambangkan perpisahan.

Sebelum kamu bertanya untuk apa saya menuliskan semua ini, ada baiknya saya menjawab dulu sebelum pertanyaan diluncurkan. Saya menulis ini sebagai rasa pertemanan saya. Rasa persahabatan saya denganmu, dengan teman - teman di kelas saya yang baru. Saya menemukan sesuatu yang baru di tahun yang baru. Saya menemukan sukacita yang baru di tahun yang baru. Saya menemukan dukacita yang baru di tahun yang baru.

Setidaknya tulisan ini menjadi pengingat saya bahwa saya pernah menemui orang yang mau berteman dengan saya. Menjadikan sebuah benih pertemanan menjadi pohon persahabatan. Dan pada akhirnya kita jua yang akan memetik buah hasil panen pohon itu. Kita juga yang akan mencicipi rasa buahnya. Entah manis atau asam.

Tulisan ini dibentuk dengan jutaan rasa yang tak bisa saya katakan. Semua yang telah kita lakoni dan apresiasikan pada bumi ini akan berbaur menjadi satu, kenangan. Simpan semua tawa, canda, ejek, iseng, marah, egois, dan semuanya yang pernah bumi ini tahu dan disaksikannya.

Sekarang silahkan kamu tertawa sepuasmu, namun ketika kamu berada di belahan dunia yang baru, kamu akan memetik hasilnya.

Nah, Sanjaya, aku sebagai temanmu mengucapkan selamat jalan. Mengucapkan terima kasih untuk semua kebaikan yang pernah kamu berikan. Juga aku mengucapkan kata maaf ketika aku khilaf untuk berbuat sesuatu yang tak seharusnya menurutmu.

Selamat datang di duniamu yang baru! Selamat mengenang bumimu yang ini dari kejauhan sana!

Kita akan berjumpa lagi di mana dan kapan, aku tak pernah tahu.



A.A. - dalam sebuah inisial
Jumat, 6 Maret 2009

Senin, 02 Maret 2009

Apa yang Kalian Tujukan pada Hidup Ini?


"Kehidupan menjadi sangat sulit dan rumit kalau kita membiarkan diri kita berlari terus ke tempat tujuan. Lupa bahwa hari ini, di tempat ini, dengan badan yang ini, plus jumlah rejeki hari ini, juga menghadirkan 'tujuan-tujuan' besar yang tidak kalah menariknya." - Gede Prama

Orang bilang kalau hidup itu harus punya arah, punya tujuan yang baik. Lantas, apa semuanya harus diraih dengan mudah? Saya selalu bertanya pada hidup tentang apa yang hendak saya gapai pada waktu berikutnya. Entah satu menit lagi, satu hari lagi, atau satu tahun lagi.

Saya tak pernah lupa dengan apa yang dikatakan oleh teman saya,"cita-citamu adalah tujuan hidupmu, maka gapailah!" Sejak kecil, saya sudah memiliki beberapa cita-cita, namun beranjak tua, saya semakin sadar bahwa saya adalah orang yang egois. Egois untuk memperebutkan cita-cita itu semua. Saya berjuang mati-matian.

Benar! Saya berjuang mati-matian. Sewaktu SMP, di sekolah saya ada kelas unggulan. Nah, orang lain mungkin tak pernah tertuju untuk masuk ke dalamnya. Tetapi dari ratusan siswa di sana, ada seseorang yang berjuang untuk masuk ke sana. Berjuang agar tak tersingkir dari mereka yang tak sepenuhnya berjuang.

Akhir cerita, sayalah orang itu. Dan saya yang menembus sebuah tiket untuk saya sendiri. Tiket kursi di kelas itu. Kelas eksklusif. Masuk di sana juga saya berjuang mati-matian. Saya mempertahankan semua yang telah saya miliki.

Namun kelamaan, saya disadari oleh lingkungan hidup saya. Saya memang orang egois! Saya ingin merebut semua yang di mata saya dianggap baik. Saya orang yang tak pernah puas. Saya orang otoriter. Saya orang... Saya orang... Saya orang... Masih banyak lain yang membuat saya diam bahwa semua yang ada di mata saya yang baik itu tak perlu direngkuh semua.

Sebagai manusia yang normal dan ingin baik di masa depan, saya pun punya cita-cita. Puluhan cita-cita di otak. Sampai ketika seseorang bertanya pada saya, "Apa cita-citamu kelak di masa depan?" Saya sampai berpikir yang mana yang akan saya utamakan. Semua cita-cita itu adalah tujuan hidup saya. Dan semua saya utamakan.

Semakin bertambah hari, cita-cita itupun semakin berkurang. Saya ingin menjadi seorang ini. Saya ingin menjadi seorang itu. Lalu diikuti kelak saya akan membuat ini. Saya akan membuat itu. Semua adalah tujuan hidup saya nantinya.

Apakah ketika tujuan itu yang saya ambil tergapai, akankah saya menjadi seorang yang bahagia dan puas dengan semua yang telah saya peroleh? Kembali lagi ke cerita saya. Ternyata sampai di kereta, saya malah berjuang mati-matian mempertahankan kursi saya.

"Av, bagaimana tahunmu saat ini?" tanya seorang sahabat.
"Masih merealisasikan proyek-proyek."
"Hah? Masih?"
"Iya. Proyek saya terlalu banyak. Terpaksa saya kayuh satu-satu."

"Apa tujuan hidupmu, Av?"
"Hmmm... apa ya?"
"Lho kok malah balik nanya?"
"Tujuan hidup saya masih terlalu banyak."
"Banyak pijimana toh?"
"Saya ingin ini... Saya ingin itu..."

Sejak saat itu, saya mulai menekan tombol delete untuk tujuan hidup saya yang sama sekali saya tak dapat tempuh atau saya merasa menjadi beban untuk hidup saya. Perlahan, saya mulai menyadari bahwa tujuan hidup saya hanya tersisa lima. Bukan lagi puluhan. Apalagi sampai ratusan. Dan semua yang di mata saya bukan seluruhnya untuk saya ambil menjadi tujuan dan cita-cita di masa depan, melainkan hanya sepercik godaan yang baik bak seekor kutu menari di atas badan kerbau.

"Apa tujuan hidupmu, Av?"
"Sekedar menjadi seorang yang baik. Tetap menjadi seorang yang anti rokok, narkoba, dan global warming. Masih menjadikan kata-kata sebuah perlawanan untuk mereka. Membahagiakan keluarga. Dan karir yang baik."
"Bukan lagi seratus?"
"Hahaha... seratus, Mas? Itu dulu!"
"Yang sembilan puluh lima ke mana?"
"Dihapus dari daftar hidup."

Dengan demikian, tujuan hidup saya bukan menjadikan beban untuk saya melainkan sebuah motivasi pribadi bahwa itulah yang hendak saya gapai ke depannya bukan dengan mati-matian namun dengan benar. Setidaknya di perjalanan ini, ada kebahagiaan yang bisa diambil sebelum semua tujuan tercapai.

Nah, apa yang kalian tujukan pada hidup ini?



Jakarta dalam paginya, 2 Maret 2009

A A - dalam sebuah inisial