Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juni 2008

Soe Hok Gie - The Biograph

SOE HOK GIE – THE BIOGRAPH

 

Data Pribadi

 

Nama lengkap              : Soe Hok Gie
Lahir                            : Jakarta 17 Desember 1942
Meninggal                     : Puncak Semeru 16 Desember 1969
Anak dari                     : Soe Lie Pit (Salam Sutrawan), Penulis
Adik dari                      : Soe Hok Djien (Arief Budiman), Dosen Universitas Kristen Satya Wacana
Hobi                             : Naik gunung, menulis, berpetualang, berdiskusi
Anak ke                       : Empat dari lima bersaudara

 

Pendidikan

 

SMP Strada Jakarta
SMA Kanisius Jakarta
Universitas Indonesia Fakultas Sastra

Peran

 

Pendiri MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) Universitas Indonesia
GMSOS (Gerakan Mahasiswa Sosialis)
Grup Diskusi Universitas Indonesia
Penulis produktif pada surat kabar
Staf redaksi Mahasiswa Indonesia (Surat Kabar)
Anggota KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia)

 

Buku

 

Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan (Skripsi Sarjana) - 1997
Di Bawah Lentera Merah (Dilarang beredar oleh orba) - 1917-1920 Download di sini
Zaman Peralihan (Kumpulan essay) -
Catatan Seorang Demonstran (Buku Harian, LP3ES) - 1983
30 Tahun mengenang Soe Hok Gie (Iluni FSUI & Mapala UI)
Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani (John Maxwell) - 1997
Jejak Kampus di Jalan Alam (Badan Penerbit Mapala UI). Terdapat kisah petualangan Soe Hok Gie di alam bebas.

 

Quotes yang diambil dari buku Gie

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

(Dari sini)

 

Ungkapan – ungkapan Gie

“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”

“Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia”.

“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.”

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.”

“Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?”

“Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…”

baju-kebesaran.JPG"Kita seolahmerayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.”

“Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.”

“Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.”

“To be a human is to be destroyed.”

“Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.”

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”

“I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.”

“Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.”

“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.”

“Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.”

“Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. “

Penulis Media Massa

 

Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, Indonesia Raya

 

You Must Know

 

  1. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari nama Su Fu Yi
  2. Kisah hidup Gie telah ditayangkan dalam bentuk film oleh Riri Riza dan Mira Lesmana dan diperankan oleh Nicholas Saputra.
  3. Kakak Gie – Arief Budiman – telah merasakan hal yang ganjil menjelang kematian adiknya (baca di sini)
  4. Tulang belulang Gie yang dikremasi telah disebarkan di Puncak Semeru.
  5. Piringan hitam Joan Baez miliknya disita di Bandara Sydney karena dianggap anti war dan komunis ketika Gie mengunjungi Australia.
  6. Kekecewaannya ditumpahkan dalam catatan berwarna merah dan dibukukan dengan judul Catatan Seorang Demonstran
  7. Gie pernah mendapat surat kaleng yang bertuliskan "Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja"
  8. Gie pernah jatuh cinta pada seorang gadis namun ayah sang gadis tak menyetujui hubungan mereka walaupun ayah sang gadis sangat senang dengan keberanian Gie di koran – koran.
  9. Gie meninggal tercekik oleh gas kawah beracun di Puncak Semeru.
  10. Gie selalu menulis aritkelnya ketika malam di sebuah ruangan dengan penerangan seadanya.

 

Aveline Agrippina Tando

Dari berbagai sumber 

Jumat, 23 Mei 2008

Nobertus Riantiarno

Rating:★★★★★
Category:Other
Norbertus Riantiarno (lahir Cirebon, 6 Juni 1949), atau biasa dipanggil Nano, adalah seorang aktor, penulis, sutradara dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma (1977). Dia adalah suami dari aktris Ratna Riantiarno.
Latar belakang

Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta.

Kiprah di dunia teater

Ia bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia dan ikut mendirikan Teater populer pada 1968.

Pada 1 Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok teater yang paling produktif di Indonesia saat ini. Hingga 2006, kelompok ini telah menggelar sekitar 111 produksi panggung dan televisi.

Nano sendiri menulis sebagian besar karya panggungnya, antara lain:

* Rumah Kertas
* J.J Atawa Jian Juhro
* Maaf. Maaf. Maaf
* Kontes 1980
* Trilogi Opera Kecoa (Bom Waktu, Opera Kecoa
* Opera Julini)
* Konglomerat Burisrawa
* Pialang Segitiga Emas
* Suksesi
* Opera Primadona



* Sampek Engtay
* Banci Gugat
* Opera Ular Putih
* RSJ atau Rumah Sakit Jiwa
* Cinta Yang Serakah
* Semar Gugat
* Opera Sembelit
* Presiden Burung-Burung
* Republik Bagong
* Tanda Cinta

Selain drama-drama di atas, Teater Koma di bawah pimpinan Nano juga pernah memanggungkan karya-karya penulis kelas dunia, antara lain;

* Woyzeck karya Georg Buchner
* The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht
* The Good Person of Shechzwan karya Bertolt Brecht
* The Comedy of Errors karya William Shakespeare
* Romeo Juliet karya William Shakespeare
* Women in Parliament karya Aristophanes
* Animal Farm karya George Orwell
* The Crucible karya Arthur Miller
* Orang Kaya Baru dan Tartuffe atau Republik Togog karya Moliere
* The Marriage of Figaro karya Beaumarchaise

Penulis skenario

Nano banyak menulis skenario film dan televisi. Karya skenarionya, Jakarta Jakarta, meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia di Ujung Pandang, 1978. Karya sinetronnya, Karina meraih Piala Vidia pada Festival Film Indonesia di Jakarta, 1987.

Menulis novel Cermin Merah, Cermin Bening dan Cermin Cinta, diterbitkan oleh Grasindo, 2004, 2005 dan 2006. Ranjang Bayi dan 18 Fiksi, kumpulan cerita pendek, diterbitkan Kompas, 2005. Roman Primadona, diterbitkan Gramedia 2006.

Aktivitas di tingkat nasional dan internasional

Pada tahun 1975, ia berkeliling Indonesia mengamati teater rakyat dan kesenian tradisi.

Pada 1978, Nano mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS, selama 6 bulan. Pada 1987 ia diundang sebagai peserta pada International Word Festival, 1987 di Autralia National University, Canberra, Australia. Di tahun berikutnya ia diundang ke New Order Seminar, 1988, di tempat yang sama di Australia.

Membacakan makalah Teater Modern Indonesia di Universitas Cornell, Ithaca, AS, 1990. Berbicara mengenai Teater Modern Indonesia di kampus-kampus universitas di Sydney, Monash-Melbourne, Adelaide, dan Perth, 1992. Dan di tahun 1996, menjadi partisipan aktif pada Session 340, Salzburg Seminar di Austria.

Juga berkeliling Jepang atas undangan Japan Foundation pada 1987 dan 1997. Pernah pula mengunjungi negara-negara Skandinavia, Inggris, Prancis, Belanda, Italia, Afrika Utara, Turki, Yunani, Spanyol, Jerman dan Tiongkok, 1986-1999.

Pernah menjabat sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1985-1990). Anggota Komite Artistik Seni Pentas untuk Kias (Kesenian Indonesia di Amerika Serikat), 1991-1992. Dan anggota Board of Artistic Art Summit Indonesia, 2004. Juga konseptor dari Jakarta Performing Art Market/Pastojak (Pasar Tontonan Jakarta I), 1997, yang diselenggarakan selama satu bulan penuh di Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Menulis dan menyutradarai 4 pentas multi media kolosal, yaitu: Rama-Shinta 1994, Opera Mahabharata 1996, Opera Anoman 1998 dan Bende Ancol 1999.
Larangan pentas

Beberapa karyanya bersama Teater Koma, batal pentas karena masalah perizinan dengan pihak yang berwajib. Antara lain: Maaf.Maaf.Maaf. (1978), Sampek Engtay (1989) di Medan, Sumatera Utara, Suksesi, dan Opera Kecoa (1990), keduanya di Jakarta. Akibat pelarangan itu, rencana pementasan Opera Kecoa di empat kota di Jepang (Tokyo, Osaka, Fukuoka, Hiroshima), 1991, urung digelar pula karena alasan yang serupa. Tapi Opera Kecoa, pada Juli-Agustus 1992, dipanggungkan oleh Belvoir Theatre, salah satu grup teater garda depan di Sydney, Australia.

Penghargaan

Meraih lima hadiah sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta (1972-1973-1974-1975 dan 1998). Juga merebut hadiah Sayembara Naskah Drama Anak-anak dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978, judul "Jujur Itu ..."

Dua novelnya, Ranjang Bayi dan Percintaan Senja, meraih hadiah Sayembara Novelet Majalah Femina dan Sayembara Novel Majalah Kartini. Pada 1993, dianugerahi Hadiah Seni, Piagam Kesenian dan Kebudayaan dari Departemen P&K, atas nama Pemerintah Republik Indonesia. Film layar lebar perdana karyanya, CEMENG 2005 (The Last Primadona), 1995, diproduksi oleh Dewan Film Nasional Indonesia. Pada 1999 meraih penghargaan dari Forum Film Bandung untuk serial film televisi berjudul Kupu-kupu Ungu sebagai Penulis Skenario Terpuji 1999. Forum yang sama mematok film televisi karyanya (berkisah tentang pembauran), Cinta Terhalang Tembok, sebagai Film Miniseri Televisi Terbaik, 2002.

Pada 1998, menerima Penghargaan Sastra 1998 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Dan sekaligus meraih Sea Write Award 1998 dari Raja Thailand, di Bangkok, untuk karyanya Semar Gugat. Sejak 1997, menjabat Wakil Presiden PEN Indonesia.

Pada 1999, menerima Piagam Penghargaan dari Menteri Pariwisata Seni & Budaya, sebagai Seniman dan Budayawan Berprestasi.

Karya pentasnya Sampek Engtay, 2004, masuk MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai karya pentas yang telah digelar selama 80 kali selama 16 tahun dan dengan 8 pemain serta 4 pemusik yang sama.

Kerja seni di luar negeri

Menyutradarai Sampek Engtay di Singapura, 2001, dengan pekerja dan para pemain dari Singapura. Salah satu pendiri Asia Art Net, AAN, 1998, sebuah organisasi seni pertunjukan yang beranggotakan sutradara-sutradara Asia. Menjabat sebagai artistic founder dan evaluator dari Lembaga Pendidikan Seni Pertunjukan PPAS, Practice Performing Arts School di Singapura.

Aktivitas lain

Nano ikut mendirikan majalah Zaman, 1979, dan bekerja sebagai redaktur (1979-1985). Ia ikut pula mendirikan majalah Matra, 1986, dan bekerja sebagai Pemimpin Redaksi. Pada tahun 2001, pensiun sebagai wartawan. Kini berkiprah hanya sebagai seniman dan pekerja teater, serta pengajar di program pasca-sarjana pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Surakarta.

Bibliografi

* Trilogi Opera Kecoa: Bom Waktu, Opera Kecoa, Opera Julini, (drama) - Maha Tari, Yogyakarta
* Percintaan Senjat, novel. - Majalah Kartini
* Cermin Merah, novel - Grasindo (2004)
* Opera Primadona, drama - Pustaka Kartini
* Semar Gugat, drama - Pustaka Bentang
* Cinta Yang Serakah, drama - Pustaka Bentang
* Opera Ikan Asin, drama - Pustaka Jaya
* Teguh Karya dan Teater Populer - Sinar Harapan
* Menyentuh Teater: Tanya Jawab Seputar Teater Kita, panduan teater bagi para pekerja seni pertunjukan - Sampurna (2003)
* Konglomerat Burisrawa, drama - Teater Koma
* Sampek Engtay, drama - Pustaka Jaya
* Suksesi, drama - Teater Koma
* Republik Bagong, drama - Galang Press
* Time Bomb and Cockroach Opera, drama, Bahasa Inggris - Lontar
* Opera Sembelit, drama - Balai Pustaka
* Cermin Bening, novel – Grasindo (2005)
* Maaf. Maaf. Maaf. Politik Cinta Dasamuka, drama - Gramedia (2005)
* Fiksi di Ranjang Bayi, kumpulan cerpen dan novelet - Kompas (2005)
* Primadona, roman - Gramedia (2005)
* Cermin Cinta, novel - Grasindo (2006)

Anton Chekhov

Rating:★★★★★
Category:Other
Anton Pavlovich Chekhov (Анто́н Па́влович Че́хов) (29 Januari 1860 – 15 Juli 1904) (Kalender Julian: 17 Januari 1860 – 2 Juli 1904) adalah seorang penulis besar Rusia yang terkenal terutama karena cerpen-cerpen dan dramanya. Banyak dari cerpennya dianggap sebagai apotheosis dari bentuk sementara dramanya, meskipun hanya sedikit - dan hanya empat yang dianggap besar - mempunyai dampak yang besar dalam literatur dan pertunjukan drama.

Chekhov lebih dikenal di Rusia modern karena ratusan cerpennya, dan banyak di antaranya dianggap merupakan adikarya dalam bentuk karangan tersebut. Namun demikian drama-dramanya juga memberikan pengaruh yang mendalam terhadap drama abad ke-20. Dari Chekhov, banyak pengarang drama kontemporer belajar bagaimana memanfaatkan suasana hati, hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi (berdiam diri) untuk menyoroti psikologi batin para tokohnya. Keempat drama utama Chekhov - Burung Camar, Paman Vanya, Tiga Saudari, dan Kebun Ceri—seringkali ditampilkan kembali dalam pementasan-pementasan modern.

Kehidupan
Masa muda

Anton Chekhov dilahirkan di Taganrog, sebuah pelabuhan kecil di desa kecil di Laut Azov, di Rusia selatan pada 29 Januari 1860. Ayahnya seorang pedagang kebutuhan sehari-hari, yang mempunyai kedudukan resmi sebagai Pedagang dari Gilda Ketiga - купeц 3й гильдии) dan kakeknya seorang petani dalam sistem feodal yang berhasil membeli kebebasannya. Anton adalah anak ketiga dari enam bersaudara.
Katedral Kenaikan di Taganrog, Rusia, tempat Anton Chekhov dibaptiskan pada 10 Februari 1860.
Katedral Kenaikan di Taganrog, Rusia, tempat Anton Chekhov dibaptiskan pada 10 Februari 1860.

Anton belajar di sekolah untuk anak-anak Yunani di Taganrog (1866-1868), dan pada usia delapan tahun ia dikirim ke Gimnasium untuk anak-anak lelaki di Taganrog. Anton adalah seorang murid yang rata-rata. Ia agak pemalu dan tidak suka menonjolkan diri, namun ia terkenal karena sering memberikan komentar-komentar satir, karena sering berulah, dan membuat nama-nama julukan yang lucu-lucu untuk guru-gurunya. Ia senang tampil dalam teater-teater amatir dan sering pula menghadiri pertunjukan-pertunjukan di teater desa. Di masa remajanya ia mencoba mengarang berbagai "anekdot" singkat, cerita-cerita lucu ataupun yang menggoda, meskipun ketika itu ia juga dikenal pernah menulis drama panjang yang serius, "Anak piatu", yang kemudian dihancurkannya.

Anton Chekhov jatuh cinta dengan teater dan sastra sejak masa kanak-kanak. Pertunjukan pertama yang ia tonton adalah opereta Elena si Cantik karya Jacques Offenbach di panggung Teater Kota Taganrog pada 4 Oktober 1873. Anton saat itu seorang murid Gimnasium yang berusia 13 tahun, dan sejak saat itu ia menjadi pencinta besar teater. Ia menghabiskan praktis semua tabungannya untuk teater. Kursi favoritnya di teater itu adalah barisan belakang karena murah (40 kopek perak), dan karena murid-murid Gimnasium membutuhkan izin khusus untuk masuk ke teater. Seringkali izin tidak diberikan dan kebanyakan hanya untuk hari-hari biasa. Kadang-kadang Chekhov dan teman-temannya sesama murid sekolah menyamar dan bahkan mengenakan make up, kacamata atau janggut palsu, untuk menipu staf sekolah biasa yang memeriksa kalau-kalau ada murid yang menonton tanpa izin.

Ibu si pengarang, Yevgeniya, adalah seorang juru cerita yang hebat, dan Chekhov diduga memperoleh bakatnya untuk bercerita dan belajar membaca dan menulis daripadanya. Ayahnya, Pavel Yegorovich Chekhov, seorang yang sangat berdisiplin dan fanatik, menuntut semua anaknya mengabdikan diri kepada Gereja Ortodoks Timur dan bisnis keluarganya. Pada 1875, ketika terancam bangkrut, ia terpaksa melarikan diri dari para kreditur ke Moskwa, tempat kedua anak sulungnya belajar di universitas. Selama beberapa tahun berikutnya keluarganya hidup dalam kemiskinan.

Anton tetap tinggal di Taganrog selama tiga tahun berikutnya untuk menyelesaikan sekolahnya. Ia berusaha mencukupi kebutuhannya dengan memberikan les privat, menjual barang-barang rumah tangga, dan belakangan, bekerja di gudang pakaian. Pada 1879, Chekhov menyelesaikan sekolahnya di gimnasium dan bergabung dengan keluarganya di Moskwa, setelah ia diteima di sekolah kedokteran di Universitas Negara Moskwa.

Tulisan-tulisan awal

Untuk mendukung keluarganya, Chekhov mulai mengarang cerita-cerita pendek, sketsa humor dan vignet dari kehidupan Rusia masa itu, banyak di antaranya dengan menggunakan pseudonim seperti misalnya Antosha Chekhonte (Антоша Чехонте), Laki-laki tanpa perasaan (Человек без селезенки), dan lain-lain. Karyanya yang pertama diterbitkan muncul di mingguan St Petersburg Strekoza (Стрекоза, "Capung") pada Maret, 1880. Tidak diketahui berapa banyak cerita yang ditulis Chekhov selama periode ini, namun ia dengan cepat menjadi penulis yang matang. Ia segera mendapatkan reputasi sebagai penulis satir kehidupan jalanan Rusia.

Nicolas Leykin, salah seorang penerbit terkemuka pada mas aitu dan pemilik Oskolki (Осколки, "Fragmen-fragmen"), yang kepadanya Chekhov mulai memasukkan karya-karyanya yang lebih indah, mengenali bakat si penulis namun membatasi prosa Chekhov, hanya pada sketsa-sketsa sepanjang satu setengah halaman. Sebagian percaya bahwa batasan inilah yang mengembangkan ciri khas gaya penulisan Chekhov yang ringkas padat.

Chekhov lulus sebagai dokter pada 1884, namun tetap menulis untuk terbitan-terbitan mingguan dan pada 1885 mulai mengirimkan tulisannya ke Peterburgskaya Gazeta ("Gazeta Petersburg") karya-karya yang lebih panjang dan sifatnya lebih serius. Leykin menolak karya-karya ini. Pada Desember 1885 ia diundang untuk menulis untuk salah satu koran yang paling dihormati di St Petersburg, Novoye vremya (Новое Время, "Zaman Baru"), yang dimiliki dan disunting oleh milyuner Alexey Suvorin. Pada 1886 Chekhov sudah menjadi penulis terkenal, namun ia masih menganggap mengarang sebagai hobi.

Dmitrii Grigorovich, salah seorang dari banyak penulis yang tertarik pada cerita-cerita Chekhov, membujuknya agar ia lebih serius dengan bakatnya. Dalam suatu tahun yang sangat produktif, Chekhov menulis lebih dari seratus cerita pendek dan menerbitkan kumpulannya yang pertama, "Aneka Cerita" {Pestrye rasskazy) dengan dukungan dari Suvorin, dan pada tahun berikutnya kumpulan cerita pendeknya "Di Kala Senja" (V sumerkakh) memenangkannya Penghargaan Pushkin yang sangat diincar. Ini menandai awal kariernya yang sangat produktif sebagai pengarang.

Tahun-tahun kematangan

Pada akhir 1880-an, Chekhov tertulari tuberkulosis dari pasiennya. Pada 1887, dipaksa oleh beban kerja yang berlebihan dan kesehatannya yang memburuk, Chekhov melakukan perjlanaan ke Ukraina timur. Sekembalinya, ia mulai menulis cerita pendeknya yang panjang, Steppa (Step), yang akhirnya diterbitkan dalam sebuah jurnal sastra yang serius, Severny vestnik ("Utusan Utara"). Cerita pendek ini menandai puncaknya yang baru sebagai pengarang, karena karyanya diterbitkan dalam sebuah terbitan terkemuka pada masa itu dan menunjukkan kematangan yang membedakan fiksinya yang belakangan.
Dengan Maxim Gorky di Yalta pada 1900.
Dengan Maxim Gorky di Yalta pada 1900.

Produksi pertama "Burung Camar", yang ditampilkan pertama kali pada 17 Oktober 1896, di St. Petersburg, merupakan bencana bagi Chekhov. Pada malam pembukaannya, penonton mengharapkan sebuah komedi, dan kelompok sandiwara itu hanya punya sembilan hari untuk berlatih. Ejekan dan cemooh menyambut monolog Nina pada akhir Babak I. Begitu kecewanya Chekhov sehingga ia menulis, "Saya tidak akan pernah melupakan kejadian semalam... saya tidak akan pernah menampilkan sandiwara itu di Moskwa, tidak akan pernah. TAK PERNAH lagi saya menulis atau menampilkannya lagi." (Secara kebetulan, para penonton pada malam ke-2 dan ke-3 lebih menghargainya, namun Chekhov tidak memedulikannya.)

Setelah produksi kedua Burung Camar (dan suksesnya yang pertama) oleh Teater Seni Moskwa, pada 1898, ia menulis tiga buah drama lagi untuk kelompok yang sama: Paman Vanya, Tiga Saudari dan Kebun Ceri. Pada 1901 ia menikah dengan Olga Leonardovna Knipper (1870-1959), seorang aktris yang bermain dalma drama-dramanya.


Karya-karyanya

Drama

* That Worthless Fellow Platonov (Platonov yang Tidak Berguna) (l.k.1881) - satu babak
* On the Harmful Effects of Tobacco (Bahaya Racun Tembakau) (1886, 1902)
* Ivanov (1887) - empat babak
* The Bear (1888) – (Orang Kasar) komedi satu babak
* The Proposal atau A Marriage Proposal (Pinangan) (l.k.1888-1889) - satu babak
* The Wedding (1889) (Pesta Perkawinan) - satu babak
* The Wood Demon (Hantu Kayu) (1889) – komedi empat babak
* The Seagull (Burung Camar) (1896)
* Uncle Vanya (Paman Vanya) (1899-1900) – berdasarkan The Wood Demon
* Three Sisters (Tiga Saudari) (1901)
* The Cherry Orchard (Kebun Ceri) (1904)

Non fiksi

* Perjalanan ke Sakhalin (1895), termasuk:
o Pulau Saghalien [atau Sakhalin] (1891-1895)
o Melintasi Siberia
* Surat-surat

[sunting] Cerita pendek

Banyak dari cerita-cerita yang lebih awal ditulis dengan nama samaran "Antosha Chekhonte".

* "Intrigues" (1879-1884) - sembilan cerita
* "Late-Blooming Flowers" (1882)
* "The Death of a Government Clerk" (1883) (difilmkan di Indonesia oleh Syuman Djaya dengan judul "Si Mamad")
* "The Swedish Match" (1883)
* "Lights" (1883-1888)
* "Oysters" (1884)
* "Perpetuum Mobile" (1884)
* A Living Chronology (1885)
* "Motley Stories" ("Pëstrye Rasskazy") (1886)
* "Excellent People" (1886)
* "Misery" (1886)
* "The Princess" (1886)
* "The Scholmaster" (1886)
* "A Work of Art" (1886)
* "Hydrophobia" (1886-1901)
* "At Home" (1887)
* "The Beggar" (1887)
* "The Doctor" (1887)
* "Enemies" (1887)
* "The Examining Magistrate" (1887)
* "Happiness" (1887)
* "The Kiss" (1887)
* "On Easter Eve" (1887)
* "Typhus" (1887)
* "Volodya" (1887)
* "The Steppe" (1888) - memperoleh Penghargaan Pushkin
* "An Attack of Nerves" (1888)
* "An Awkward Business" (1888)
* "The Beauties" (1888)
* "The Swan Song" (1888)
* "Sleepy" (1888)
* "The Name-Day Party" (1888)
* "A Boring Story" (1889)
* "Gusev" (1890)
* "The Horse Stealers" (1890)
* "The Duel" (1891)
* "Peasant Wives" (1891)
* "Ward No 6" (1892)
* "In Exile" (1892)
* "The Grasshopper" (1892)
* "Neighbours" (1892)
* "Terror" (1892)
* "My Wife" (1892)
* "The Butterfly" (1892)
* "The Two Volodyas" (1893)
* "An Anonymous Story" (1893)
* "The Black Monk" (1894)
* "The Head Gardener's Story" (1894)
* "Rothschild's Fiddle" (1894)
* "The Student" (1894)
* "The Teacher of Literature" (1894)
* "A Woman's Kingdom" (1894)
* "Three Years" (1895)
* "Ariadne" (1895)
* "Murder" (1895)
* "The House with an Attic" (1896)
* "My Life" (1896)
* "Peasants" (1897)
* "In the Cart" (1897)
* "The Man in a Case", "Gooseberries", "About Love" - the 'Little Trilogy' (1898)
* "Ionych" (1898)
* "A Doctor's Visit" (1898)
* "The New Villa" (1898)
* "On Official Business" (1898)
* "The Darling" (1899)
* "The Lady with the Dog" (1899)
* "At Christmas" (1899)
* "In the Ravine" (1900)
* "The Bishop" (1902)
* "The Bet" (1889)
* "Betrothed" atau "A Marriageable Girl" (1903)
* "Agafya"
* "The Pipe"
* "The Lottery Ticket"
* "Verochka"
Novel

* The Shooting Party (1884-1885)

Aneka rupa

* Ada sebuah kawah di Merkurius yang dinamai Chekhov untuk menghormatinya.

Max Arifin

Rating:★★★★★
Category:Other
Max Arifin (lahir dengan nama Mohammad Arifin di Sumbawa Besar, 18 Agustus 1936, meninggal dunia di Mojokerto, 1 Maret 2007) adalah seorang tokoh teater Indonesia. Semasa hidupnya hingga akhir hayatnya ia bekerja sebagai pegawai negeri di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, di Mataram, Lombok.
Pendidikan

Max menempuh pendidikan SD dan SMPnya di Sumbawa Besar, kemudian melanjutkan ke SMA di Yogyakarta. Setamatnya dari SMA ia melanjutkan ke Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, lalu pindah ke IKIP Mataram mengambil jurusan bahasa dan sastra Inggris.

[sunting] Pekerjaan

Sejak di bangku SMA ia sudah aktif dalam bidang seni sastra dan teater. Di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat ia bekerja pada Bidang Kesenian, diserahi seksi drama dan sastra (tradisional dan modern). Selama masa tugasnya itu ia pernah tiga kali mengikuti penataran seni drama di Cisarua dan Cipayung yang diselenggarakan oleh Depdikbud. Ia juga banyak menulis naskah drama, cerpen, dan puisi dan memimpin serta menyutradarai kelompok Teater Gugus Depan Mataram. Pada saat yang sama ia aktif membina seni drama/teater pada beberapa SMA dan fakultas di Mataram.

[sunting] Aktivitas lainnya

Ia juga banyak mengikuti berbagai pertemuan dan seminar yang berkaitan dengan kesenian dan teater. Ia merangkap pula sebagai redaktur budaya di harian Suara Nusa [sekarang Lombok Post) dan koresponden majalah Tempo untuk Lombok 1975-1979. Ia pernah menjadi juri pada beberapa festival teater di Jawa Timur dan di tingkat nasional (2000) dan se-Jawa Timur (2004), dan Jember (2004). Ia pernah membawa berbagai makalah dan menjadi nara sumber untuk teater dan kebudayaan umumnya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Mojokerto, Jember. Pada tahun 2004 dan 2005 ia menjadi kurator bidang teater pada Festival Seni Surabaya.

Bibliografi

* Teater, sebuah Pengantar, diterbitkan oleh Nusa Indah, Flores, 1990
* Putri Mandalika (naskah drama) tiga kali dipentaskan secara kolosal di pantai Seger, Kuta, Lombok Selatan, 1988-1990
* Matinya Demung Sandubaya, pernah dibawakan/dipentaskan oleh Kontingen NTB pada Festival Teater di Solo dan dimuat sebagai cerita bersambung pada harian Suara Nusa di Mataram
* Badai Sepanjang Malam, naskah drama dalam kumpulan drama remaja, Gramedia, Jakarta 1988. Diikutkan sebagai naskah yang dipilih oleh Taman Budaya Jatim dalam Festival Teater Remaja 2003.
* Teknik Penyutradaraan (stensilan FKIP Unram, Mataram)
* Teknik Baca Puisi, sebuah Pengantar, BKKNI, NTB, 1990.
* Balada Sahdi Sahdia (naskah drama), 1992.
* Tumbal Kemerdekaan (naskah drama), 1987.
* Petunjuk Teknis Penilaian/Pengamatan Lomba/Festival Teater, Bidang Kesenian, Depdikbud NTB 1985.

Karya terjemahan

* Pemberontak (The Rebel) oleh Albert Camus, penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta, 2000.
* Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude) oleh Gabriel Garcia Marquez, penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta, 2003 dan sebagai cerita bersambung di harian Jawa Pos, 1997.
* The Shifting Point - Teater, Film dan Opera oleh Peter Brook, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), Jakarta 2002.
* Menuju Teater Miskin (Towards a Poor Theatre) oleh Jerzy Grotowski, MSPI, Jakarta, 2002.
* Teori-teori Drama Brecht, oleh Hans Egon Holthusen, Dewan Kesenian Surabaya.
* Seribu Burung Bangau (Thousand Cranes), oleh Yasunari Kawabata, Nusa Indah, Flores 1978 dan penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta 2001.
* Orang Aneh (The Stranger) oleh Albert Camus, penerbit Nusa Indah, Flores 1980, dan penerbit Mahatari, Yogyakarta
* Pengembaraan (Walkabout) oleh James van Marshall, penerbit Nusa Indah, Flores, 1978 dan sebagai cerita bersambung di harian Kompas 1976.
* Nyanyian Laut (The Sound of Waves) oleh Yukio Mishima, cerita bersambung di harian Kompas 1976 dan penerbit Mahatari, Yogyakarta.
* Kecantikan dan Kesedihan (The Beauty and Sadness) oleh Yasunari Kawabata, cerita bersambung di harian Kompas, 1983, dan penerbit Mahatari, Yogyakarta.
* Antonin artaud,Ledakan dan Bom (Antonin Artaud, Blows and Bombs), oleh Stephen Barber, tentang biografi dan konsep teater Antonin Artaud, Dewan Kesenian Jakarta, 2006
* My life in art (Hidupku dalam seni) oleh Konstantin Stanislavsky, Pustakakayutangan, Malang, 2006
* Pertaruhan mewujudkan tulisan, wawancara dengan penulis pria,Writing at risk (Jason Weiss), Penerbit Jalasutra, Yogyakarta
* Pertaruhan Mewujudkan tulisan, wawancara dengan penulis wanita, Women writers at work, George Plimpton, Penerbit jalasutra, Yogyakarta--Banyumili 10:11, 29 Juni 2007 (UTC)

Naskah yang belum terbit

* Suara yang lain (The Other Voice) oleh Octavio Paz
* Pertaruhan Mewujudkan Tulisan (Writing at Risk) oleh Jason Weis dan “Women Writers at Work” oleh George Plimpton, penerbit Jalasutra, Yogyakarta
* Masalah-masalah Seni (The Problems of Art) oleh Susanne K. Langer
* Gema Surga (An Echo of Heaven) oleh Kenzaburo Oe, penerbit Bentang Pustaka, Yogyakarta.
* Hidupku dalam Seni (My Life in Art) oleh Konstantin Stanislavski
* Kemelut (The Blind Owl) oleh Sadeq Hedayat, dimuat sebagai cerita bersambung di harian Surabaya Post.
* Blows and Bombs, oleh Stephen Barber, tentang biografi dan konsep teater Antonin Artaud
* Surat-surat Negro (The Fire Next Time) oleh James Baldwin
* Teater dan kembarannya (Theatre and its Double) oleh Antonin Artaud
* Teater Politik (Political Theatre) oleh David Goodman
* Kapal Orang-orang Bodoh ( The Ship of Fool) karya Christiana Perri Rossi
* Suatu Salah Paham, terjemahan naskah drama dari Teater l karya Samuel Beckett
* Oedipus Sang Raja, saduran bebas dari skenario film oleh Pier Paulo Pasolini
* Sasmita-Larasmara, saduran bebas dari Antigone karya Sophokles
* Mawar dalam Taman, drama terjemahan dari The Rose in the Cloister oleh Margaret Luce, 1985
* Menerjemahkan beberapa puisi dan cerpen dari Timur Tengah

Jumat, 09 Mei 2008

Putu Wijaya

Rating:★★★★★
Category:Other
Putu Wijaya (bernama asli I Gusti Ngurah Putu Wijaya) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Putu Wijaya lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.

Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.

Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.
Pendidikan

* SR, Tabanan (1956)
* SMP Negeri, Tabanan (1959)
* SMA-A, Singaraja (1962)
* Fakultas Hukum UGM (1969)
* ASRI dan Asdrafi, Yogyakarta
* LPPM, Jakarta (1981)
* International Writing Programme, Iowa, AS (1974)

Karya dan karir

Teater

* Pimpinan Teater Mandiri, Jakarta (1971-sekarang)
Penulis skenario film

Antara lain :

* Perawan Desa (memperoleh Piala Citra FFI 1980)
* Kembang Kertas (memperoleh Piala Citra FFI 1985)
* Ramadhan dan Ramona
* Dokter Karmila
* Bayang-Bayang Kelabu
* Anak-Anak Bangsa
* Wolter Monginsidi
* Sepasang Merpati
* Telegram

Penulis skenario sinetron

Antara lain :

* Keluarga Rahmat
* Pas
* None
* Warung Tegal
* Dukun Palsu (komedi terbaik pada FSI 1995)
* Jari-Jari Cinta
* Balada Dangdut
* Dendam
* Cerpen Metropolitan
* Plot
* Klop
* Melangkah di Atas Awan (penyutradaraan)
* Nostalgia
* Api Cinta Antonio Blanco
* Tiada Kata Berpisah
* Intrik
* Pantang Menyerah
* Sejuta Makna dalam Kata
* Nona-Noni

Karya drama

* Dalam Cahaya Bulan (1966)
* Lautan Bernyanyi (1967)
* Bila Malam Bertambah Malam (1970)
* Invalid (1974)
* Tak Sampai Tiga Bulan (1974)
* Anu (1974)
* Aduh (1975)
* Dag-Dig-Dug (1976)
* Gerr (1986)
* Edan
* Hum-Pim-Pah
* Dor
* Blong
* Ayo
* Awas
* Los
* Aum
* Zat
* Tai
* Front
* Aib
* Wah
* Hah
* Jpret
* Aeng
* Aut
* Dar-Dir-Dor

Karya novel

* Bila Malam Bertambah Malam (1971)
* Telegram (1972)
* Stasiun (1977)
* Pabrik (1976)
* Keok (1978)
* Aduh
* Dag-dig-dug
* Edan
* Gres
* Lho (1982)
* Nyali
* Byar Pet (Pustaka Firdaus, 1995)
* Kroco (Pustaka Firdaus, 1995)
* Dar Der Dor (Grasindo, 1996)
* Aus (Grasindo, 1996)
* Sobat (1981)
* Tiba-Tiba Malam (1977)
* Pol (1987)
* Terror (1991)
* Merdeka (1994)
* Perang (1992)
* Lima (1992)
* Nol (1992)
* Dang Dut (1992)
* Cas-Cis-Cus (1995)

Karya cerpen

* Karyanya yang berupa cerpen terkumpul dalam kumpulan cerpen Bom
(1978)
* Es (1980)
* Gres (1982)
* Klop
* Bor
* Protes (1994)
* Darah (1995)
* Yel (1995)
* Blok (1994)
* Zig Zag (1996)
* Tidak (1999)

Karya Novelet:

* MS (1977)
* Tak Cukup Sedih (1977)
* Ratu (1977)
* Sah (1977)

Karya esai

Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.

Penghargaan yang telah diterima

* Pemenang penulisan lakon Depsos (Yogyakarta)
* Pemenang penulisan puisi Suluh Indonesia Bali
* Pemenang penulisan novel IKAPI
* Pemenang penulisan drama BPTNI
* Pemenang penulisan drama Safari
* Pemenang penulisan cerita film Deppen (1977)
* Tiga buah Piala Citra untuk penulisan skenario (1980, 1985, 1992)
* Tiga kali pemenang sayembara penulisan novel DKJ
* Empat kali pemenang sayembara penulisan lakon DKJ
* Pemenang penulisan esei DKJ
* Dua kali pemenang penulisan novel Femina
* Dua kali pemenang penulisan cerpen Femina
* Pemenang penulisan cerpen Kartini
* Hadiah buku terbaik Depdikbud (Yel)
* Pemenang sinetron komedi FSI (1995)
* SEA Write Award 1980 di Bangkok
* Pemenang penulisan esei Kompas
* Anugerah Seni dari Menteri P&K, Dr Fuad Hasan (1991)
* Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang (1991-1992)
* Anugerah Seni dari Gubernur Bali (1993)

Kegiatan lainnya

* Wartawan majalah Ekspres (1969)
* Dosen teater Institut Kesenian Jakarta (1977-1980)
* Wartawan majalah Tempo (1971-1979)
* Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985)
* Dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS (1985-1988)

Jumat, 02 Mei 2008

Chairil Anwar

Rating:★★★★★
Category:Other
Chairil Anwar (Medan, 26 Juli 1922 — Jakarta, 28 April 1949) atau dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku [1]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.
Masa kecil

Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, yang bekerja sebagai pamongpraja. Dari pihak ibunya, Saleha dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. [1]

Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. [2] Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.[3]

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Masa Dewasa

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[4]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[5]

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Akhir Hidup

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[6] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Buku-buku

* Deru Campur Debu (1949)
* Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
* Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
* "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
* Derai-derai Cemara (1998)
* Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
* Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Terjemahan ke dalam bahasa asing

Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:

* "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
* "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
* Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
* "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
* The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
* The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
* Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
* The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Karya-karya tentang Chairil Anwar

* Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
* Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
* Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
* S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York, 1976)
* Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
* Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
* H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
* Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
* Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
* Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
* Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
* Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)

Ramadhan Karta Hadimadja

Rating:★★★★★
Category:Other
Ramadhan K.H. yang nama lengkapnya adalah Ramadhan Karta Hadimadja, dilahirkan di Bandung pada 16 Maret 1927, dan meninggal di rumahnya di Cape Town, Afrika Selatan pada 16 Maret 2006 setelah menderita kanker prostat selama ±3 bulan.

Kang Atun, panggilan akrab Ramadhan, adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Rd. Edjeh Kartahadimadja, adalah seorang patih Kabupaten Bandung pada masa kekuasaan Hindia Belanda. Ia dilahirkan dari perkawinan ayahnya dengan Saidah. Aoh K. Hadimadja (1911 - 1972) yang juga dikenal sebagai penyair dan novelis itu, adalah kakak kandung seayah Ramadhan yang lahir dari rahim istri pertama ayahnya yakni Rd. Djuwariah binti Martalogawa. Ketika usia Ramadhan masih belum genap tiga bulan, ayahnya terpikat perempuan lain dan menceraikan Saidah yang langsung dikembalikan ke kampung. Pengalaman tersebut membuat ia dekat dengan sosok ibu dan menghayati derita kaum perempuan.
Pendidikan dan pekerjaan

Ramadhan pernah bekerja selama 13 tahun sebagai wartawan Antara. Lalu, dia minta berhenti karena tak tahan melihat merajalelanya korupsi waktu itu. Dia tercatat sebagai mahasiswa ITB dan Akademi Dinas Luar Negeri di Jakarta, kedua-duanya tidak tamat. Dia juga pernah bertugas sebagai Redaktur Majalah Kisah, Redaktur Mingguan Siasat dan Redaktur Mingguan Siasat Baru.

Semasa hidupnya Ramadhan terkenal sebagai penulis yang kreatif dan produktif. Ia banyak menulis puisi, cerpen, novel, biografi, dan menerjemahkan serta menyunting.

Kumpulan puisinya yang diterbitkan dengan judul "Priangan Si Djelita" (1956), ditulis saat Ramadhan kembali ke Indonesia dari perjalanan di Eropa pada 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya, Jawa Barat, sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.

Sastrawan Sapardi Djoko Damono, menilai buku tersebut sebagai puncak prestasi Ramadhan di dunia sastra Indonesia. Menurut Sapardi, buku itu adalah salah satu buku kumpulan puisi terbaik yang pernah diterbitkan di Indonesia. "Dia adalah segelintir, kalau tidak satu-satunya, sastrawan yang membuat puisi dalam format tembang kinanti," papar Sapardi.

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Ramadhan tinggal di Capetown mengikuti istrinya, Salfrida Nasution, yang bertugas sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di kota itu. Sebelumnya ia pernah tinggal di Los Angeles, Paris, Jenewa, dan Bonn, menyertai istrinya yang terdahulu, Pruistin Atmadjasaputra, juga seorang diplomat, yang dikenal dengan panggilan "Tines". Tines, yang dinikahinya pada 1958, mendahuluinya pada 10 April 1990 di Bonn, Jerman. Setelah ditinggal istrinya, pada tahun 1993 Ramadhan menikah kembali dengan Salfrida, seorang sahabat istrinya yang pernah menyumbangkan darahnya ketika Tines sakit.

Korban fitnah

Pada tahun 1965 Ramadhan sempat ditahan selama 16 hari di Kamp Kebon Waru, Bandung, bersama-sama dengan Dajat Hardjakusumah, ayah kelompok pemusik Bimbo yang saat itu menjabat pimpinan Kantor Antara Cabang Bandung.

Keduanya ditahan karena dilaporkan bertemu A. Karim DP dan Satyagraha, pimpinan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat yang masa itu dianggap berideologi kiri dan mendukung G-30-S. Oleh karena itu, mereka juga dianggap pendukung G-30-S. Belakangan ia baru tahu bahwa mereka difitnah kelompok lain dapat menguasai kantor Antara cabang Bandung. Sesudah enam belas hari dalam tahanan, keduanya dibebaskan dan pimpinan pusat Antara memindahkannya ke Jakarta. Ramadhan langsung pindah ke Jakarta.

Menulis biografi Presiden Soeharto

Pada 1982, ketika tinggal di Jenewa, Ramadhan dihubungi oleh Kepala Mass Media Sekretariat Negara di Jakarta, Gufran Dwipayana yang mengajaknya untuk menulis biografi Soeharto yang masih menjabat sebagai presiden R.I. waktu itu. Ramadhan mula-mula menolak, karena sebagai orang Jawa Barat merasa tak menguasai budaya Jawa, daerah asal Soeharto. Namun Soeharto sudah menjatuhkan pilihan pada Ramadhan.

Nama Ramadhan dipilih lantaran bukunya, Kuantar ke Gerbang, biografi kisah cinta Inggit Garnasih dengan Presiden Soekarno sangat berkesan bagi Dwipayana, orang dekat Soeharto, yang dipercayai menentukan calon penulis biografi Soeharto.

Selama penulisan biografi Soeharto hanya dua kali Kartahadimadja bertemu dengan orang terkuat di masa Orde Baru. Pertanyaan di luar pertemuan itu diajukan Kartahadimadja dengan cara merekamnya. Lalu rekaman itu dititipkannya lewat Dwipayana, yang setiap Jumat bertemu Soeharto. Berdasarkan rekaman jawaban itulah Ramadhan lebih banyak bekerja.

Penulisan biografi Soeharto membuat Ramadhan merasa tertekan, tak sama dengan ketika dia menulis buku biografi tokoh lain. Dia merasa berat melakukannya karena takut salah tulis atau malah ditangkap.

Ramadhan biasanya mengajak seorang atau lebih penulis lain untuk menulis biografi. Selain meringankan tugas, sekiranya dia berhalangan, sakit, atau meninggal dunia, penulisan buku itu tidak terhenti.

Tidak selamanya perjalanan Ramadhan dalam menulis berjalan mulus. Rencana menulis biografi Ibnu Soetowo, mantan Direktur Utama Pertamina, dan Wiweko, tokoh penerbangan nasional, gagal lantaran perselisihan antara narasumber dengan rekan Kartahadimadja yang membantunya menulis. Penulisan biografi Yulia Sukamdani juga batal karena permintaan suaminya.

Setelah Tines berpulang, Ramadhan kembali ke Indonesia bersama kedua anaknya. Ia ingin menagih honor kepada Soeharto, tetapi Dwipayana sudah meninggal dunia. Sekretaris Militer Presiden Syaukat Banjaransari menyarankannya agar menulis surat langsung kepada Presiden. Beberapa hari kemudian datang telepon dari Kolonel Wiranto, ajudan Presiden Soeharto. Ia diminta datang ke Jl. Cendana. Bersama Gumilang ia datang, masuk ke halaman, langsung diberi mobil Honda Accord warna merah. Mobil baru dengan jok terbungkus plastik. Namun Soeharto tidak menemuinya. Mereka hanya bertemu di depan garasi dan terbatas dengan Wiranto.

Akhir hayat

Pada hari-hari terakhirnya, Ramadhan kembali menekuni kegemarannya di masa lalu, melukis. Salah satu tema lukisan kesayangannya adalah rangkaian pegunungan di belakang rumahnya di Cape Town.

Ia meninggal dunia tepat pada peringatan hari kelahirannya yang ke-79 tahun. Ia meninggalkan istrinya, Salfrida, dua orang putra dari Tines, Gilang dan Gumilang, dan lima orang cucu.

Ramadhan pernah mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain "Hadiah Sastra ASEAN" (Southeast Asia Write Award) pada 1993. Pada tahun 2001 ia diangkat menjadi anggota kehormatan Perhimpunan Sejarahwan Indonesia. Selain itu Ramadhan juga merupakan salah seorang anggota Akademi Jakarta.

Karya-karya Ramadhan

Biografi

* Kuantar ke Gerbang: kisah cinta kisah cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (1981)
* Gelombang hidupku: Dewi Dja dari Dardanella (1982)
* Soeharto pikiran, ucapan, dan tindakan saya: otobiografi (1988)
* A.E. Kawilarang - untuk Sang Merah Putih: pengalaman, 1942- 1961 (1988)
* Bang Ali demi Jakarta (1966-1977): memoar (1992)
* Hoegeng, polisi idaman dan kenyataan: sebuah autobiografi (ditulis bersama dengan Abrar Yusra) (1993)
* Soemitro, mantan Pangkopkamtib: dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib (1994)
* Gobel, pelopor industri elektronika Indonesia dengan falsafah usaha pohon pisang (1994)
* Sjamaun Gaharu, cuplikan perjuangan di daerah modal: sebuah autobiografi (ditulis bersama dengan Hamid Jabbar, Sjamaun Gaharu) (1995)
* D.I. Pandjaitan, pahlawan revolusi gugur dalam seragam kebesaran: biografi (ditulis bersama dengan Sugiarta Sriwibawa) (1997)
* Demi bangsa - liku-liku pengabdian Prof. Dr. Midian Sirait: dari guru SR Porsea sampai Guru Besar ITB (ditulis bersama dengan Sugiarta Sriwibawa) (1999)
* H. Priyatna Abdurrasyid - dari Cilampeni ke New York: mengikuti hati nurani (2001)
* H. Djaelani Hidajat - dari tukang sortir pos sampai menteri: sebuah otobiografi (ditulis bersama dengan Tatang Sumarsono) (2002)
* Pergulatan tanpa henti - Adnan Buyung Nasution (dibantu dituliskan oleh Ramadhan K.H. dan Nina Pane) (2004)

Novel

* Rojan revolusi (1971)
* Kemelut hidup (1977)
* Keluarga Permana (1978)
* Ladang Perminus (1990)

Puisi

* Priangan si Djelita: kumpulan sandjak (1956)
* Am Rande des Reisfelds: zweisprachige Anthologie moderner indonesischer Lyrik / herausgegeben von Berthold Damshäuser und Ramadhan K.H. aus dem indonesischen übersetzt von Berthold Damshäuser = Pinggir sawah : antologi dwibahasa puisi Indonesia modern / disunting bersama dengan Berthold Damshäuser, diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Berthold Damshäuser (1990)
* Gebt mir Indonesien zurück! - Anthologie moderner indonesischer Lyrik / herausgegeben von Berthold Damshäuser und Ramadhan K.H.; aus dem Indonesischen übersetzt von Berthold Damshäuser, mit einem Vorwort von Berthold Damshäuser (1994)
* Jakarta & Berlin dalam cermin puisi: antologi dwibahasa dengan puisi mengenai Jakarta dan Berlin (2002)
* Antologie Bilingue de la Poesie Indonesienne Contemporaine: antologi puisi dwibahasa Indonesia-Prancis (..)

Terjemahan

* Yerma: drama tragis dalam tiga babak dan enam adegan oleh Federico García Lorca (1956)
* Romansa Kaum Gitana oleh Federico García Lorca (1973)
* Rumah Bernarda Alba oleh Federico García Lorca (1957)

Lain-lain

* Bola Kerandjang - liputan Olimpiade Helsinki (1952) - bukunya yang pertama
* Syair Himne Asian Games Jakarta (1963)
* Menguak duniaku - kisah sejati kelainan seksual (ditulis bersama dengan R. Prie Prawirakusumah) (1988)
* Amatan para ahli Jerman tentang Indonesia, disunting bersama dengan Berthold Damshäuser (1992)
* Rantau dan renungan: budayawan Indonesia tentang pengalamannya di Perancis (1992)
* Transmigrasi: harapan dan tantangan (1993)
* Dari monopoli menuju kompetisi: 50 tahun telekomunikasi Indonesia sejarah dan kiat manajemen Telkom (ditulis bersama dengan Sugiarta Sriwibawa, Abrar Yusra) (1994)
* Mochtar Lubis bicara lurus: menjawab pertanyaan wartawan (1995)
* Pers bertanya, Bang Ali menjawab (1995)
* Rantau dan Renungan I: budayawan Indonesia tentang pengalamannya di Perancis (penyunting bersama dengan Jean Couteau, Henri Chambert-Loir) (1999)
* Kita banyak berdusta - wawancara pers dan tulisan Laksamana Sukardi (penyunting bersama dengan Endo Senggono) (2000)
* Peran historis Kosgoro (ditulis bersama dengan Sugiarta Sriwibawa) (2000)

Habiburrahman El Shirazy

Rating:★★★★★
Category:Other
Habiburrahman el-Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 September 1976) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.

Riwayat

Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak dibawah asuhan KH. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Prestasi

Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil adik-adiknya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se- Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006.

Karya-karyanya

Selama di Kairo

Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr.Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)

Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.

Karya puisi

Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).

Karya sastra populer

Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening], dan Bulan Madu di Yerussalem.

Aktifitas

Selama di Kairo

Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Kairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti “Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua” yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu, ia berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan tersebut. Pernah aktif di Mejelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo (1998-2000). Pernah menjadi koordinator Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastrawan muda ini pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.

Selama di Indonesia

Setibanya di tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedi Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).

Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya dan pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia bersama adik dan temannya.

Subagio Sastrowardoyo

Rating:★★★★★
Category:Other
Subagio Sastrowardoyo (Madiun, 1 Februari 1924 – 18 Juli 1995) adalah penyair, penulis cerita pendek dan esei, serta kritikus sastra Indonesia. Berpendidikan HIS di Bandung dan Jakarta, HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM selesai tahun 1958, Universitas Yale tahun 1961-1966. Pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia Kursus B-I di Yogyakarta (1954-1958), dosen Kesustraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1658-1961), dosen UNPAD, dosen SESKOAD keduanya di Bandung, dosen bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Universitas Flinders, Adelaide, dan terakhir bekerja di Penerbit Balai Pustaka.

Sekitar tahun 1950-an, ia lebih menonjol sebagai pengarang cerpen daripada seorang penyair. Cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik. Puisi-puisinya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam. Renungan filosofis itu tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan-perumpamaan dan lambang yang digunakan hendaknya ditafsirkan secara dewasa dan matang. Dalam cerpen dan sajak-sajaknya banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang nafsunya. Manusia-manusia Subagio adalah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oleh sifat-sifat kedagingannya. Pak Bagio juga terjun dalam dunia kritik dan telaah sastra. Esei-eseinya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam.

Sajaknya yang berjudul Dan Kematian Makin Akrab memenangkan Hadiah Horison untuk sajak-sajak yang dimuat tahun 1966-1967, dan tahun 1970 mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah RI untuk kumpulan sajaknya Daerah Perbatasan (1970).

Bibliografi

* Simphoni (kumpulan sajak, 1957)
* Kejantanan di Sumbing (Kumpulan Cerpen, 1965)
* Bakat Alam dan Intelektualisme (kumpulan esei, 1972)
* Keroncong Motinggo (Kumpulan sajak, 1975)
* Sosok Pribadi dalam Sajak (kumpulan esei, 1980)
* Sastra Belanda dan Kita (telaah sastra, 1980)
* Hari dan Hara (Kumpulan Sajak, 1982).

Ahmadun Yosi Herfanda

Rating:★★★★★
Category:Other
Ahmadun Yosi Herfanda atau juga ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH (lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958) adalah seorang penulis puisi, cerpen, dan esei dari Indonesia. Ahmadun dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik. Namun, penyair Indonesia dari generasi 1980-an ini juga banyak menulis sajak-sajak sosial-religius. Sementara, cerpen-cerpennya bergaya karikatural dengan tema-tema kritik sosial. Ahmadun juga banyak menulis esei sastra.

Sehari-hari kini Ahmadun menjadi wartawan (dengan inisial AYH) dan redaktur sastra Harian Republika dan pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2006, tapi mengundurkan diri. Ia juga sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya maupun menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan sastrawan serta diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional.

Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-2 jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta, 2005. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, ia mendirikan Creative Writing Institute (CWI). Tahun 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Cerpen Indonesia (KCI, 2007-2010). Tahun 2008 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2006-2009, tapi mengundurkan diri. Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Dianggap sebagai salah satu sastrawan Indonesia terkemuka saat ini.

Karya

Karya-karya Ahmadun dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri, antara lain, Horison, Ulumul Qur'an, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana (Brunei), antologi puisi Secreets Need Words (Ohio University, A.S., 2001), Waves of Wonder (The International Library of Poetry, Maryland, A.S., 2002), jurnal Indonesia and The Malay World (London, Ingris, November 1998), The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995).

Beberapa kali sajak-sajaknya dibahas dalam "Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman" (Deutsche Welle). Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989). Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Beberapa buku karya Ahmadun yang telah terbit sejak dasawarsa 1980-an, antara lain:

* Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980),
* Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984),
* Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986),
* Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990),
* Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997),
* Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997),
* Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997),
* Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, bilingual, Logung Pustaka, 2004),
* Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004),
* Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004),
* The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005),
* Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006),
* Koridor yang Terbelah (kumpulan esei sastra, Jakarta Publishing House, 2006).

Nugroho Notosutanto

Rating:★★★★★
Category:Other
Nugroho Notosusanto (Rembang, 15 Juli 1930 - Jakarta, 3 Juni 1985) adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1985). Sebelumnya juga ia pernah menjadi Rektor Universitas Indonesia (1982-1983). Ia berkarir di bidang militer dan pendidikan. Selain itu ia juga terkenal sebagai sastrawan, yang oleh H.B. Yassin digolongkan pada Sastrawan Angkatan 66.

Masa Kecil

Nugroho Notosusanto lahir di Rembang, Jawa Tengah pada tanggal 15 Juli 1930. Ayah Nogroho bernama R.P. Notosusanto yang mempunyai kedudukan terhormat, yaitu seorang ahli hukum Islam, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, dan seorang pendiri UGM. Kakak Nugroho pensiunan Patih Rembang dan kakak tertua ayah Nugroho adalah pensiunan Bupati Rembang. Pangkat patih, apalagi bupati sangat sulit dicapai rakyat pribumi pada waktu itu di daerah pesisiran Rembang. Nugroho adalah anak pertama dari tiga bersaudara.

Keluarga

Ketika Nugroho sedang giat-giatnya dalam gerakan mahasiswa, ia berkenalan dengan Irma Sawitri Ramelan (Lilik). Perkenalan itu kemudian diteruskan ke jenjang perkawinan pada tangal 12 Desember 1960, di Hotel Indonesia. Istri Nugroho adalah keponakan istri mantan Presiden RI Prof. Dr. B.J. Habibie. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai tiga orang anak, yang pertama bernama Indrya Smita sudah tamat FIS UI, yang kedua Inggita Sukma, dan yang ketiga Norottama.

Pendidikan

Pendidikan yang pernah diperoleh Nugroho adalah Europeese Lagere School (ELS) tamat 1944, kemudian menyelesaikan SMP di Pati Tahun 1951 tamat SMA di Yogyakarta. Setamat SMA ia masuk Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah, Universitas Indonesia, dan tamat tahun 1960. Tahun 1962 ia memperdalam pengetahuan di bidang Sejarah dan Filsafat di University of London. Ketika tamat SMA, sebagai seorang prajurit muda ia dihadapkan pada dua pilihan, yaitu meneruskan karier militer dengan mengikuti pendidikan perwira ataukah menuruti apa yang diamanatkan ayahnya untuk menempuh karier akademis. Ayahnya dengan tekun dan sabar mengamati jejaknya. Ternyata, setelah 28 tahun, keinginan ayahnya terkabul meskipun sang ayah tidak sempat menyaksikan putranya dikukuhkan sebagai guru besar FSUI karena ayahnya telah wafat pada tanggal 30 April 1979. Dengan usaha yang sebaik-baiknya, amanat ayahnya kini telah diwujudkan meskipun kecenderungan pada karier militernya tidak pula tersisih. Pada tahun 1977 ia memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra bidang sejarah dengan tesis "The Peta Army During the Japanese Occupation in Indonesia", yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia. diterbitkan oleh penerbit Gramedia pada tahun 1979. Nugroho mendapat pendidikan di kota-kota besar seperti Malang, Jakarta, dan Yogyakarta.

Pengalaman Kemiliteran

Pengalaman Nugroho Notosusanto di bidang kemiliteran, pernah menjadi angota Tentara Pelajar (TP) Brigade 17 dan TKR Yogyakarta. Sejak Nugroho menjadi anggota redaksi harian Kami, ia semakin menjauh dari dunia sastra, akhirnya ia tinggalkan sama sekali. Ia kemudian beralih ke dunia sejarah dan tulisannya mengenai sejarah semakin banyak. Pada tahun 1967, Nugroho mendapatkan pangkat tituler berdasarkan SK Panglima AD No. Kep. 1994/12/67 berhubungan dengan tugas dan jabatannya pada AD. Pangkat terakhirnya adalah Brigadir Jenderal, pangkat tertinggi yang mungkin diraih dalam karir sipil di kemiliteran saat itu. Sejak tahun 1964, ia menjabat Kepala Pusat Sejarah ABRI. Ia juga menjadi anggota Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan serta aktif dalam herbagai pertemuan ilmiah di dalam dan di luar negeri. Pada tahun 1981 namanya kembali disebut-sebut berkenaan dengan bukunya "Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara". Buku ini menimbulkan polemik di berbagai media massa. Bahkan banyak pula yang mengecam buku itu sebagai pamflet politik.

Nugroho Notosusanto sebagai Penulis

Nugroho dikenal sebagai penulis produktif. Di samping sebagai sastrawan dan pengarang, ia juga aktif menulis buku-buku ilmiah dan makalah dalam berbagai bidang ilmu, dan terjemahannya yang diterbitkan berjumlah dua puluh satu judul. Buku-buku itu sebagian besar merupakan lintasan sejarah dan kisah perjuangan militer. Wawasan yang mendalam tentang sejarah perjuangan ABRI menyebabkan ia mampu mengedit film yang berjudul ‘Pengkhianatan G.30S/PKI.”

Di bidang keredaksian dapat dicatat sejumlah pengalamannya, yaitu memimpin majalah Gelora, menjadi pemimpin redaksi Kompas, anggota dewan redaksi Mahasiswa bersama Emil Salim Tahun 1955-1958, menjadi ketua juri hadiah sastra, dan menjadi pengurus BMKN. Sewaktu di perguruan tinggi ia menjadi koresponden majalah Forum, dan menjadi redaksi majalah Pelajar.

Nugroho juga aktif dalam berbagai pertemuan ilmiah baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam tahun 1959-1976 tercatat empat kali pertemuan ilmiah internasional yang dihadirinya.

Karir di Bidang Pendidikan

Di bidang pendidikan, Nugroho banyak memegang peranan penting. Ia pernah menjadi Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FSUI, menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, UI. Tahun 1971-1985 Nugroho menjadi wakil Ketua Harian Badan Pembina Pahiawan Pusat. Ketika Nugroho dilantik menjadi Rektor UI, ia disambut dengan kecemasan dan caci maki para mahasiswa UI. Mahasiswa menganggap Nugroho adalah seorang militer dan merupakan orang pemerintah yang disusupkan ke dalam kampus untuk mematikan kebebasan kehidupan mahasiswa.

Pada tanggal 19 Maret 1983, Nugroho dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam Kabinet Pembangunan IV. Ia dikenal sebagai orang yang kaya ide, karena semasa menjadi menteri, ia mencetuskan banyak gagasan, seperti konsep wawasan almamater, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Pendidikan Humaniora. Di samping itu, banyak jasa-jasanya dalam dunia pendidikan karena ia yang mengubah kurikulum menghapus jurusan di SMA, sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru (Sipenmaru). Walaupun Nugroho hanya dua tahun menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, banyak hal yang telah digarapnya, yaitu Universitas Terbuka (UT) sebagai perguruan tinggi negeri yang paling bungsu di Indonesia. Program Wajib Belajar, Orang Tua Asuh, dan pendidikan kejuruan di sekolah menengah. Nugroho adalah satu-satunya menteri yang mengeluarkan Surat Keputusan mengenai tata laksana upacara resmi dan tata busana perguruan tinggi. Akan tetapi, sebelum SK ini terlaksana Nugroho telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa.

Penghargaan

Puncak pengakuan atas sumbangan Nugroho terhadap bangsa Indonesia adalah diberikannya Bintang Dharma, Bintang Gerilya, Bintang Yudha, Dharma Naraya, Satyalencana Penegak.

Nugroho Notosusanto sebagai Sastrawan

Pengarang yang dimasukkan H.B. Jassin ke dalam golongan sastrawan Angkatan 66 termasuk juga sastrawan angkatan baru (periode 1950-an) menurut versi Ajip Rosidi di antaranya adalah Nugroho Notosusanto.

Di antara pengarang semasanya, Nugroho dikenal sebagai penulis esai. Sebagian besar pengarang waktu itu hanya menulis cerpen dan sajak, tetapi Nugroho banyak menulis esai. Nugroho menyelami zamannya, terutama tentang sastra dan kebudayaan. Tulisan-tulisan yang berisi pembelaan para sastrawan muda, yaitu ketika terdengar suara-suara tentang krisis kesusastraan, menyebabkan Nugroho Notosusanto tertarik dalam dunia sastra Indonesia. Nugroholah yang memprakarsai simposium sastra FSUI pada tahun 1953; yang kemudian dijadikan tradisi tahunan sampai tahun 1958.

Bakat Nugroho dalam mengarang sudah terlihat ketika masih kecil. Ia mempunyai kesenangan mengarang cerita bersama Budi Darma. Cerita Nugroho selalu bernapas perjuangan. Pada waktu itu Republik Indonesia memang sedang diduduki oleh Belanda. Dari cerita-cerita yang dihasilkan Nugroho waktu itu, tampak benar semangat nasionalismenya. Menurut ayahnya, Nugroho mempunyai jiwa nasionalisme yang besar.

Sebagai sastrawan, pada mulanya Nugroho menghasilkan sajak dan sebagian besar pernah dimuat di harian Kompas. Oleh karena tidak pernah mendapat kepuasan dalam menulis sajak, Nugroho kemudian mengkhususkan diri sebagai pengarang prosa, terutama cerpen dan esai. Karyanya pernah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar seperti Gelora, Kompas, Mahasiwa, Indonesia, Cerita, Siasat, Nasional, Budaya, dan Kisah. Di samping itu, Nugroho juga menghasilkan karya terjemahan. Hasil terjemahan Nugroho, yaitu Kisah Perang Salib di Eropa (1968) dari Dwight D. Eisenhower, Crusade in Europe, Understanding Histotry: A Primer of Historical Method. Terjemahan tentang bahasa dan sejarah, yaitu Kisah daripada Bahasa, 1971 (Mario Pei, The Story of Language), dan Mengerti Sejarah. Karena Nugroho cukup lama dalam kemiliteran, ia dapat membeberkan peristiwa-peristiwa militer, perang serta suka-dukanya hidup, seperti dalam cerpennya yang berjudul ‘Jembatan’, “Piyama”, “Doa Selamat Tinggal”, “Latah”, dan “Karanggeneng’. Dalam cerpen ini bahasa yang digunakan padat dan sering ada kata-kata kasar. Nugroho juga dapat bercerita dengan bahasa yang halus, seperti yang terdapat pada cerpen yang berjudul “Nini.” Cerpen yang berjudul “Nini” ini bertema seorang anak yang cacat dan ditinggal meninggal oleh ibunya, tetapi masih mengingat-ingat kebaikan ibunya. Cerpen ini bahasanya sederhana dan isinya mudah dimengerti pembaca. Isi cerpen ini tentang seorang ayah mencintai anaknya yang cacat dan yang mirip dengan almarhumah istrinya.

Lingkungan pendidikan kata-kata kasar agaknya memberi pengaruh pada sikap dan pandangan hidupnya, seperti sikap terhadap dunia nenek moyang yang magis religius. seperti kita lihat dalam cerpennya yang berjudul “Mbah Danu”, yaitu mengisahkan dukun “Mbah Danu” yang terjadi di kota kelahiran pengarang. Dukun besar yang diakui keampuhannya di seluruh daerah dalam menyembuhkan orang sakit dengan mengusir roh-roh, setan-setan, dan jin-jin yang biasanya menghuni orang yang sedang sakit. Adanya kepercayaan mistik ini kemudian menimbulkan pertentangan di kalangan ilmuwan yang berpendidikan modern yang tak mau tahu tentang ilmu gaib. Begitu juga seorang dokter yang melakukan tugasnya dengan perhitungan ilmiah.

Sebagai pengarang dan sebagai tentara Nugroho dapat bercerita tentang suasana pertempuran, baik tentang tempat, maupun peralatan peperangan. Pengarang mau berkata sejujurnya bahwa manusia itu tidak bebas dari kesalahan, baik dia tentara, pelajar, maupun pemimpin, seperti yang dilukiskannya dalam cerpen “Pembalasan Dendam.”

Kumpulan cerpen Hujan Kepagian berisi enam cerita pendek yang semuanya menceritakan masa perjuangan menghadapi agresi Belanda. Buku ini cukup memberi gambaran tentang berbagai segi pengalainan manusia yang mengandung ketegangan, penderitaan, pendambaan, dan sesalan yang sering terjadi dalam peperangan. Dari sini tampak bahwa Nugroho mempunyai bakat observasi yang tajam.

Bukunya yang berjudul Tiga Kota berisi sembilan cerita pendek yang ditulis antara tahun 1953-1954, judul Tiga Kota diambil karena latar cerita terjadi di tiga kota, yaitu Rembang, Yogyakarta, dan Jakarta, kota yang paling banyak memberinya inspirasi untuk lahirnya cerita. Rembang melatari cerita kenangan “Mbah Danu”, “Penganten”, dan “Tayuban”. Yogyakarta dan Jakarta melatari cerita “Jeep 04-1001 Hilang” dan “Vickers Jepang.” Oleh karena itu, kumpulan cerpen tersebut diberi judul Tiga Kota. Cerpen-cerpen yang terkandung dalam Tiga Kota ini pada umumnya sangat menarik, tidak hanya karena penuturan cerita yang lancar dan dipaparkan dengan gaya akuan, tetapi juga karena penulis sendiri mengalami peristiwa yang dituturkannya. Dengan demikian, cerpen-cerpen itu kelihatan hidup. Kumpulan cerpen Tiga Kota, ini sedikitnya merekam kehidupan pribadi penulis.

Dalam seminar kesusastraan yang diselenggarakan oleh FSUI tahun 1963, Nugroho membawakan makalahnya yang berjudul “Soal Periodesasi dalam Sastra Indonesia.” Ia mengemukakan bahwa sesudah tahun 1950 ada periode kesusastraan baru yang tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam periodisasi sebelumnya. Menurut Nugroho, pengarang yang aktif mulai menulis pada periode 1950-an adalah mereka yang mempunyai tradisi Indonesia sebagai titik tolaknya, dan juga mempunyai pandangan yang luas ke seluruh dunia.

Nugroho Notosusanto sebagai Sejarahwan dan Kontroversinya

Sebagai seorang sejarahwan, Nugroho dimanfaatkan oleh ABRI maupun Orde Baru untuk menulis sejarah menurut versi pihak-pihak tersebut.[1] Pada 1964 ABRI menggunakan Nugroho untuk menyusun sejarah militer menurut versi militer karena khawatir bahwa sejarah yang akan disusun oleh pihak Front Nasional yang dikenal sebagai kelompok kiri pada masa itu akan menulis Peristiwa Madiun secara berbeda, sementara militer lebih suka melukiskannya sebagai suatu pemberontakan pihak komunis melawan pemerintah.

Ketika diangkat sebagai menteri pendidikan pada 1984, Nugroho menggunakan kesempatan itu untuk menulis ulang kurikulum sejarah untuk lebih menekankan peranan historis militer. Pada tahun ini pula Nugroho ikut menulis skenario untuk film Pemberontakan G30S/PKI yang memuat versi resmi Orde Baru tentang tragedi tersebut. Film ini kemudian dijadikan tontonan wajib untuk murid-murid sekolah di seluruh Indonesia, dan belakangan diputar sebagai acara rutin setiap tahun di TVRI pada malam tanggal 30 September.

Peranan Nugroho dalam penulisan sejarah versi Orde Baru paling menonjol ketika ia mengajukan versinya sendiri mengenai pencetus Pancasila. Menurut Nugroho, Pancasila dicetuskan oleh Mr. Muhammad Yamin, bukan oleh Soekarno. Soekarno hanyalah penerus. Akibatnya, tanggal 1 Juni tidak lagi diperingati sebagai hari lahir Pancasila oleh pemerintah Orde Baru.

Kematian

Nugroho meninggal dunia hari Senin, 3 Juni 1985 pukul 12.30, di rumah kediamannya karena serangan pendarahan otak akibat tekanan darah tinggi. Ia adalah menteri keempat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Orde Baru yang meninggal dunia dalam masa tugasnya. Ia meninggal dunia tepat pada bulan yang mulia bagi umat Islam, yaitu pada bulan Ramadan dan di kebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Bibliografi

a. Cerpen yang Dibukukan

1. Hidjau Tanahku, Hidjau Badjuku. 1963. Jakarta: Balai Pustaka
2. Hudjan Kepagian. 1958. Jakarta: Balai Pustaka
3. Rasa Sayange. 1961. Jakarta: Pembangunan
4. Tiga Kota. 1959. Jakarta: Balai Pustaka

b. Cerpen dalam Majalah

* Prosa

1. “Pondok di Atas Bukit”. Kompas untuk generasi baru, 11.1, (51), 15—17.
2. “Teratak”. Kompas untuk generasi baru, 13.1, (51), 33-34. (Nugroho NS)
3. “Sebuah Pertemuan”. Kompas untuk generasi baru, 2.2, (52), 33-35.
4. “Eksekusi” Madjalah Nasional, 44.4, (53), 20-21.
5. “Gunung Kidul”. Madjalah Nasional, 30.4, (53), 20-2 1.
6. “Jeep 04-1001 Hilang”. Kisah, 1.1, (53), 7, 9-10.
7. “Konyol”. Madjalah Nasional, 33.4, (53), 20-22.
8. “Pembalasan Dendam”. Madjalah Nasional, 37.4, (53), 20-22.
9. “Ideal Type”. Kisah, 1.2, (54), 19-22
10. “Mbah Danu”. Kisah, 9.2, (54), 271-172.
11. “Nokturne”. Kisah, 12.2, (54), .365-368.
12. “Piyama”. Kisah, 6.2, (54), 177-178.
13. “Puisi”. Kisah, 7.2, (54), 210-211.
14. “Raden Satiman”. Kisah, 3.2, (54), 79-81.
15. “Vickers Jepang”. Kisah, 5.2, (54), 129-131.
16. “Jembatan”. Kisah, 8.3, (55), 16-22.
17. “Partus”. Mimbar Indonesia, 25.9, (55), 20-2 1, 24-25.
18. “Senyum”. Madjalah Nasional, 6,7.6, (55), 25-26,22-23,26.
19. “Setan Lewat”. Mimbar Indonesia, 6.9, (55), 20-21.
20. “Panser”. Siasat, 524.11, (57), 29-31, 34.
21. “Tangga Kapal”. Forum, 4-5.4 (57), 24,32.
22. “Kepindahan”. Siasat, 598.12, (58), 31-32.
23. “Piano”. Siasat, 574.12, (58), 24-27.
24. “Ular”. Siasat, 595.12, (58), 26-29.
25. “Karanggenang”. Siasat, 619.13, (59), 28-30.
26. “Latah”. Siasat, 626.13, (59), 23-24.
27. “Sungai”. Budaya, 8.8, (59), 276-279,
28. “Bayi”. Femina, 16, (73), 42-44.

* Prosa

1. “Alun”. Kompas untuk generasi baru, 1.2, (52), 67.
2. “Jerit di Malam Kelam”. Madjalah Nasional, 18.3, (52), 17.
3. “Pesan di Malam yang Penub Bintang”. Madjalah Nasional, 17.3, (52), 19.
4. “Rancangan Requiem”. Kompas untuk generasi baru, 1.2, (52), 67.
5. “Sebuah Pagi”. Madjalah Nasional, 49.3, (52), 21.
6. “Sepotong Kenangan”. Madjalah Nasional, 46.3, (52), 19.
7. “Sesal”. Kompas untuk generasi baru, 2.2, (52), 36.
8. “Tiwikraina”. Madjalah Nasional, 47.3, (52), 19.
9. “Adios Yogya”. Madjalah Nasional. 10.4, (53), 19.
10. “Amerta”. Madjalah Nasional, 16.4. (53), 19.
11. “Bali”. Budaya, 9, (53), 39.
12. “Longka Pura”. Madjalah Nasional, 16.4, (53), 19.
13. “Sebuah Malam Minggu”. Madjalah Nasional, 14.4, (53), 19.

Helvy Tiana Rosa

Rating:★★★★★
Category:Other
Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, 2 April 1970 adalah sastrawan, motivator menulis, editor dan dosen. Helvy memperoleh gelar sarjana sastra dari Fakultas Sastra UI. Gelar magister diperolehnya dari Jurusan Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Mantan Redaktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Annida (1991-2001) ini, tahun 1990 mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus di FSUI yang seluruh anggotanya adalah perempuan, menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater tersebut di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI serta keliling Jawa dan Sumatera.

Helvy merupakan pendiri dan Ketua Umum Forum Lingkar Pena/ FLP (1997-2005), sebuah forum penulis muda beranggotakan lebih 5000 orang yang tersebar di lebih dari 100 kota di Indonesia dan mancanegara. Karena kegiatannya ini The Straits Times dan Koran Tempo menyebutnya sebagai Lokomotif Penulis Muda Indonesia (2003). Bersama teman-temannya di FLP, ia mendirikan dan mengelola “Rumah baCA dan HAsilkan karYA” (Rumah Cahaya) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Tahun 1980-1990 ia memenangkan berbagai perlombaan menulis tingkat propinsi dan nasional. Namun menurutnya yang paling berkesan ketika ‘Fisabilillah” menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Yayasan Iqra, tingkat nasional (1992), dengan HB Jassin sebagai Ketua Dewan Juri. “Jaring-Jaring Merah” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000). Lelaki Kabut dan Boneka mendapat Anugerah Pena sebagai Kumpulan Cerpen Terpuji (2002). Istri Tomi Satryatomo serta Ibu Abdurahman Faiz dan Nadya Paramitha ini pernah terpilih sebagai Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra (2007), Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid Wanita Indonesia (2008), Tokoh Perbukuan IBF Award IKAPI (2006), Tokoh sastra Eramuslim Award (2006), Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004), Ummi Award dari Majalah Ummi (2004), Muslimah Berprestasi versi Majalah Amanah (2000), Muslimah Teladan versi Majalah Alia (2006), dll. Sastrawan yang juga nominator Indonesia Berprestasi Award XL 2007 Bidang Seni Budaya ini, sering diundang berbicara dalam berbagai forum sastra dan budaya di pelosok Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Hong Kong, Jepang, Mesir, Amerika Serikat, dll.

Mantan Sekretaris DPH-Dewan Kesenian Jakarta (2003) dan Anggota Komite Sastra DKJ (2003-2006), sehari-harinya adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta. Kini ia juga Ketua Majelis Penulis Forum Lingkar Pena, Direktur Lingkar Pena Publishing House, Dewan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka, dan Anggota Ahli Majelis Sastra Asia Tenggara/ Mastera.

Karya

Helvy menulis puluhan buku. Beberapa cerpennya telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, Arab, Jepang, Perancis, Jerman,Swedia, dll. Di samping itu ia adalah editor puluhan buku dan kerap diundang sebagai juri dalam berbagai sayembara penulisan di dalam dan luar negeri.

Buku

1. Tanah Perempuan, Naskah Drama (Lapena, 2007)
2. Risalah Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005)
3. Menulis Bisa Bikin Kaya! (MVP 2006)
4. Perempuan Bermata Lembut ( Antologi Cerpen Bersama, FBA Press 2005)
5. Ketika Cinta Menemukanmu (Antologi Cerpen Bersama, Gema Insani Press 2005)
6. Dokumen Jibril (Antologi Cerpen Bersama, Republika 2005)
7. Jilbab Pertamaku (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2005)
8. 1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Biasa (Penerbit Anak Saleh 2004)
9. Dari Pemburu ke Teurapeutik (Antologi Cerpen Bersama, Pusat Bahasa 2004)
10. Lelaki Semesta (Antologi Cerpen Bersama, LPPH, 2004)
11. Matahari Tak Pernah Sendiri I (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
12. Di Sini Ada Cinta! (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
13. Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang, 2003)
14. Segenggam Gumam, Esai-esai Sastra dan Budaya (Syaamil, 2003)
15. Bukan di Negeri Dongeng (Syaamil, 2003)
16. Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist, Kumpulan Cerpen Dwi Bahasa (Syaamil, 2002)
17. Wanita yang Mengalahkan Setan, Kritik Sastra (Tamboer Press, 2002)
18. Pelangi Nurani (Syaamil, 2002)
19. Sajadah Kata (Antologi Puisi Bersama, Syaamil, 2002)
20. Kitab Cerpen: Horison Sastra Indonesia (Yayasan Indonesia & Ford Foundation, 2002)
21. Dunia Perempuan (Antologi Cerpen Bersama, Bentang, 2002)
22. Ini…Sirkus Senyum (Antologi Cerpen Bersama, Komunitas Bumi Manusia, 2002)
23. Luka Telah Menyapa Cinta (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2002)
24. Kado Pernikahan (Antologi Cerpen Bersama, Syaamil, 2002)
25. Graffiti Gratitude (Antologi Puisi Bersama, Penerbit Angkasa, 2001)
26. Dari Fansuri ke Handayani (Penerbit Horison dan Ford Foundation, 2001)
27. Ketika Duka Tersenyum (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2001)
28. Titian Pelangi, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
29. Hari-Hari Cinta Tiara, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
30. Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000)
31. Pangeranku, Cerita Anak (Syaamil, 2000)
32. Manusia-Manusia Langit, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 2000)
33. Nyanyian Perjalanan, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
34. Hingga Batu Bicara, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
35. Lentera (An Najah Press,1999)
36. Kembara Kasih, Novel (Pustaka Annida, 1999)
37. Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Kumpulan Cerpen (Gunung Jati, 1999)
38. Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen (Pustaka Annida, 1997. Cet II dstnya Syaamil )
39. Mc Alliester, Novel (Moslem Press, London, 1996)
40. Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia (Kumpulan Tulisan Bersama, Grasindo, 2000.)
41. Kembang Mayang (Antologi Cerpen Bersama, Penerbit Kelompok Cinta Baca, 2000)
42. Sembilan Mata Hati (Antologi Cerpen Bersama, Pustaka Annida, Jakarta, 1998), dll

Naskah Drama

Menulis naskah dan menyutradarai pementasan Teater Bening di Gedung Kesenian Jakarta, Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI, serta keliling kampus di Jawa dan Sumatera (1991-2000)

1. Tanah Perempuan (2005)
2. Mataairmata Merdeka (bersama Rahmadiyanti, 2000).
3. Pertemuan Perempuan (bersama Muthiah Syahidah, 1997)
4. Mencari Senyuman (1998)
5. Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin (1999)
6. Luka Bumi (1997)
7. Fathiya dari Srebrenica (1994)
8. Maut di Kamp Loka (1994)
9. Negeri Para Pesulap (1993)
10. Aminah & Palestina (1991)