Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intektual yang merdeka: sendirian, kesepian, dan penderitaan.
Surat kepada Soe Hok Gie
Sabtu, 17 September 2011
Intelektual Merdeka
Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intektual yang merdeka: sendirian, kesepian, dan penderitaan.
Surat kepada Soe Hok Gie
Surat kepada Soe Hok Gie
Jumat, 16 September 2011
Perihal: Cinta
aku selalu yakin, kau telah mengenal cinta sejak kau menjadi embrio
mungkin kau tak pernah menyadarinya sampai kau sendiri tahu apa itu cinta
meski kau tak pernah bisa mendefinisikannya ketika kutanya 'apa itu cinta'
jawabannya tetap sama: rasa sayang
namun, rasa sayang yang seperti apa, lagi-lagi kubertanya
kita tidak pernah tahu kapan cinta datang bertamu dan pamit pulang
kita pun tidak pernah tahu bagaimana cinta bergelut dan hadir di dalam lingkup dunia
cinta bisa saja dikenal sebagai orang asing, atau datang sebagai seorang pencuri
bisa saja cinta datang sebagai orang yang tak tahu seperti apa cinta
tak seorang pun bisa memahaminya tentang dirinya itu
kadang pula, cinta datang seperti pecundang, menantang dalam kecut
tapi ketika ia pergi, barulah sadar cinta baru saja bertamu di beranda hatimu
risau, gelisah, dan rusuh hati melanda hatimu yang berkecamuk
tapi kubisik kepadamu: cinta pergi untuk datang kembali, suatu hari nanti
Bandung, 17 September 2011 | 08.34
A.A. - dalam sebuah inisial
mungkin kau tak pernah menyadarinya sampai kau sendiri tahu apa itu cinta
meski kau tak pernah bisa mendefinisikannya ketika kutanya 'apa itu cinta'
jawabannya tetap sama: rasa sayang
namun, rasa sayang yang seperti apa, lagi-lagi kubertanya
kita tidak pernah tahu kapan cinta datang bertamu dan pamit pulang
kita pun tidak pernah tahu bagaimana cinta bergelut dan hadir di dalam lingkup dunia
cinta bisa saja dikenal sebagai orang asing, atau datang sebagai seorang pencuri
bisa saja cinta datang sebagai orang yang tak tahu seperti apa cinta
tak seorang pun bisa memahaminya tentang dirinya itu
kadang pula, cinta datang seperti pecundang, menantang dalam kecut
tapi ketika ia pergi, barulah sadar cinta baru saja bertamu di beranda hatimu
risau, gelisah, dan rusuh hati melanda hatimu yang berkecamuk
tapi kubisik kepadamu: cinta pergi untuk datang kembali, suatu hari nanti
Bandung, 17 September 2011 | 08.34
A.A. - dalam sebuah inisial
Kamis, 15 September 2011
Sebuah Kotak Pandora
G,
Mungkin, hanyalah sebuah kemungkinan dari ribuan kemungkinan lain yang tak pernah bisa kita duga sebelumnya. Seperti tak seorang pun yang tahu tentang masa depan seperti apa, seperti sedang membaca sebuah buku. Kita tak pernah tahu apa yang ada di halama berikutnya. Seperti sedang menonton sebuah opera, kita tak tahu akan ada kejutan macam apa dalam adegan berikutnya.
Akhirnya, ada cerita yang membuat kita kembali merasa akan pulang. Aku bagai membungkus rindu yang tiada mengenal tepi. Ada fase di mana aku cuma bermain-main dalam ranah yang tak tahu akan seperti apa. Cerita-cerita di dalam kebisuan hanya sanggup teruntai manis sampai ke ujung hati. Seketika itu, masih ada harap dan pilu yang datang saling berkejar ke garis akhir.
Kadang, kuinsafi sebuah hal yang kumengerti tentang kamu. Tentang sebuah kotak pandora yang tak pernah berdebu untuk menyimpan kenangan kita. Siapa yang menjaganya, aku pun tak tahu, pula dengan kamu. Kita tak pernah tahu. Tapi, sungguhlah berterima kasih, kotak itu tetap tersimpan rapi dan tetap tak terlupakan untuk singgah kepadanya.
Masih ada catatan tentang aku yang menulis usia. Kita tak pernah menginginkan mati di usia tua, bukan? Terbahak seketika itu, aku berdiam di dalam permainan waktu. Usia yang bertambah bukan menjadi sebuah beban bagiku, tetapi menjadi sebuah refleksi yang menarik untuk disimak bagai buku yang begitu menarik dari anyaman aksara, seperti lagu yang begitu nyaman didengar dari denting melodi, dan seperti petualangan yang kuharap tak habis-habisnya untuk dilewati.
Ada kalanya, aku rindu akan kotak pandora itu. Ingin aku masuk ke dalamnya, bermain di sana dan menikmati hidup. Tapi inilah dunia, di mana semuanya butuh dengan perjuangan. Tak ada satu pun yang didapat secara cuma-cuma atau berdasarkan belas kasih.
G,
Benarkah rindu yang membuat kita tidak bisa berpaling dari kenyataan? Seandainya kita tahu jawaban sesungguhnya.
Jakarta, 15 September 2011 | 22.30
A.A. - dalam sebuah inisial
Rabu, 14 September 2011
Petang di Sebuah Sore
Kita berangkat di dalam sunyi
Aku enggan untuk berkata: aku pulang
Karena ini bukanlah lama, bukan sebentar
Tapi bagiku adalah bahagia
Sebuah manifestasi yang tak seorang pun dapat membentuknya
Bandung, 14 September 2011 | 14.59
A.A. - dalam sebuah inisial
Aku enggan untuk berkata: aku pulang
Karena ini bukanlah lama, bukan sebentar
Tapi bagiku adalah bahagia
Sebuah manifestasi yang tak seorang pun dapat membentuknya
Bandung, 14 September 2011 | 14.59
A.A. - dalam sebuah inisial
Sabtu, 10 September 2011
Bertamu di Rumah Tuhan
siang ini, aku hanya singgah ke rumah Tuhan
Ia mengajakku untuk makan siang
ternyata sederhana:
hanya nasi, tempe-tahu, ayam goreng, dan sayur bayam
ada sambal terasi sebagai penggodaku
ada es teh manis yang jelas sekali nikmat untuk diseruput
bayam itu diambilnya dari kebun di belakang rumah
ayamnya baru tadi pagi disembelih dari kandang
tempe dan tahu dibelinya dari pasar
dirawinya sebagai makanan yang sederhana
tak ada burger, spagheti, atau pizza
tak pula ada jus atau karbonasi
sekadar es teh manis
Tuhan memasaknya sendiri? ya
enak juga
Bandung, 11 September 2011 | 11.14
A.A. - dalam sebuah inisial
Ia mengajakku untuk makan siang
ternyata sederhana:
hanya nasi, tempe-tahu, ayam goreng, dan sayur bayam
ada sambal terasi sebagai penggodaku
ada es teh manis yang jelas sekali nikmat untuk diseruput
bayam itu diambilnya dari kebun di belakang rumah
ayamnya baru tadi pagi disembelih dari kandang
tempe dan tahu dibelinya dari pasar
dirawinya sebagai makanan yang sederhana
tak ada burger, spagheti, atau pizza
tak pula ada jus atau karbonasi
sekadar es teh manis
Tuhan memasaknya sendiri? ya
enak juga
Bandung, 11 September 2011 | 11.14
A.A. - dalam sebuah inisial
Kamis, 08 September 2011
Melawan Lupa
adalah tugas yang tak ada habisnya
untuk berbicara tentang melawan lupa
di mana seorang pun datang dan pergi
hadir dalam lingkup sebuah kejujuran
ada di dalam sebuah kebenaran
dan berkelindan di antara ranum-ranum
yang tak bisa dihitung dengan manis
melawan lupa adalah tugas
tugas yang tak menemui ujung
agar kenang dan harap
agar cita dan asa
agar kehidupan kita bertalu-talu
selalu dan harus berpilah pada esok
dan kebenaran serta kejujuran ada yang diungkap
hari ini adalah melawan lupa
melawan lupa mereka yang tak pernah mengingat tentang hari yang belum usai
Bandung, 9 September 2011 | 07.14
A.A. - dalam sebuah inisial
untuk berbicara tentang melawan lupa
di mana seorang pun datang dan pergi
hadir dalam lingkup sebuah kejujuran
ada di dalam sebuah kebenaran
dan berkelindan di antara ranum-ranum
yang tak bisa dihitung dengan manis
melawan lupa adalah tugas
tugas yang tak menemui ujung
agar kenang dan harap
agar cita dan asa
agar kehidupan kita bertalu-talu
selalu dan harus berpilah pada esok
dan kebenaran serta kejujuran ada yang diungkap
hari ini adalah melawan lupa
melawan lupa mereka yang tak pernah mengingat tentang hari yang belum usai
Bandung, 9 September 2011 | 07.14
A.A. - dalam sebuah inisial
Langganan:
Postingan (Atom)