Minggu, 31 Agustus 2008

Tiga Hari Itu...

1

Ketika jejak semakin berliku
Dan apa yang harus kudaki semakin meninggi
Aku tahu kau tetap menantiku
Dalam hening sunyi ini


Ketika aku akan membelokkan tubuhku
Mengikuti jejak jalan ini
Aku rindu suasana ini
Menetaskan kedamaian paling damai

2


Aku hanya sesaat saja di sini
Menantang alam, itu tujuannya
Memanjakan diri dengan hembus angin
Menikmati matahari yang akan terbit tenggelam

Rindu ini semakin syahdu mengetuk dada
Kurasa kau kehilangan nyawa tanpaku
Maka aku kembali pada pelukanmu
Aku hanya sesaat pergi

3

Esok pagi aku kembali
Kurindukan dirimu seperti kau merindukanku
Ternyata alam tak bisa kunikmati tanpamu
Aku ingin mengajakmu ke sini

Kemarilah... kemarilah...
Nikmati alam ini, nikmati segalanya
Lalu raihlah kemenangan atas alam
Karena semua adalah hidup


-28-30 Agustus 2008-
Sukabumi, Jawa Barat - Menantang Alam Tiga Hari
Kuingin mengajakmu, Adryan Adisaputra...

Jumat, 22 Agustus 2008

Catatan Malam Itu....

Pada hening malam, aku masih sibuk dengan layar komputerku. Padahal waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Entah mengapa, jemari ini masih ingin terus membentuk pola – pola kalimat. Kegilaan besar untukku semalam. Seolah mata dan jemari telah bekerjasama untuk menyiksa malam – malamku dengan tak ingin berhenti beraktifitas.

Kadangpun aku juga mersakan jenuh. Ketika mengetik, aku kehilangan apa yang harusnya aku katakan. Atau aku hanya berdiam diri, menatapi layar komputer semalam suntuk.

Tapi tidak malam itu… Tidak… Malam itu, sungguh gila!

Mengapa dia harus datang pada dunia maya ini? Setelah akupun ingin terlelap dalam mimpi, malah dia mengajakku bercakap – cakap. Ah, kupikir tak ada salahnya juga untuk membicarakan hal yang sebenarnya kuanggap tak penting.

Sampai dia mengatakan: kamu sudah lihat foto perpisahan?

Aku tak menjawabnya untuk yang pertama kali. Sampai dia memanggilku yang ketiga kali: apakah kamu sudah lihat foto perpisahan?

Mengapa? Dan mengapa? Aku hanya ingin bertanya mengapa? Aku sudah mulai belajar melupakan hal – hal yang membuatku tenggelam dalam dunia yang sempit nan gelap. Namun mengapa dan mengapa lagi, dia menanyakan itu.

Pertanyaan itu, seperti ia membasuhku dengan segalon air pada dahaga malam.

Awalnya aku tak ingin melihatnya, tak ada keinginan sama sekali. Setelah ia menunjukkan tempat di mana foto itu, ah… seperti setan merujukku ke dalam dosa. Aku menekan mouseku.

Beberapa wajah yang kukenal menghiasi foto itu terpampang dengan manisnya. Tak ada aku. Aku tak ambil bagian pada kebahagiaan mereka. Kuanggap itu bukan acara perpisahan, tetapi acara selamat tinggal. Karena aku percaya, aku tak akan pernah lagi kembali pada hidup itu. Hidup pada imajinasi yang sungguh menyiksa.

Beberapa wajah bahkan pernah kuanggap sebagai saudaraku. Dan kini mereka telah menjadi pengkhianat. Seolah tak acuh lagi padaku. Aku terdiam. Terpaku pada seseorang. Orang pertama yang memulai sebuah pertengkaran yang kuanggap konyol.

Orang itu. Aku langsung tertawa melihatnya. Bukan mentertawakan wajahnya yang bulat, atau kulitnya yang hitam. Aku menertawakan hidupku yang konyol. Konyol karena harus bertemu dengannya. Konyol karena harus bercakap dengannya. Dan konyol karena dia menjadi dalang pada lakon permainan wayang yang bodoh.

Air mata? Untuk hari ini tak ada air mata. Aku puas mentertawakan hidupku yang konyol. Hidup… hahahaha… sebuah permainan yang berbatas pada waktu.

Mata dan jemari memang sepertinya telah bekerja sama menyiksaku dengan membawaku pada layar masa lalu kehidupanku.




Batas – batas waktu kehidupan,

A. A. T. – Sebuah Inisial

Thanks for your link, my friend. 

Salahkah Aku

Salahkah aku mencintaimu

Dengan hati yang terlalu sederhana

Atau aku terlalu nekat mencintaimu

Dengan hati yang belum sempurna

Seperti yang engkau dambakan

Seperti yang engkau inginkan

Seperti yang engkau miliki

 

Salahkah aku mencintaimu

Dengan cara yang demikian tulus

Atau aku terlalu bergebu memilikimu

Dengan cinta yang tak selayaknya

Seperti yang engkau tunjukkan

Seperti yang engkau gambarkan

Seperti yang engkau miliki

 

Salahkah aku mencintaimu

Dengan sifatku yang berbeda denganmu

Atau aku yang terlalu egois memilikimu

Dengan sifatku yang sulit berubah

Seperti yang engkau harapkan

Seperti yang engkau mimpikan

Dan aku akan berusaha tak melukakanmu

Dalam ketidaksempurnaan ini



*) Atas permintaan seseorang

Selasa, 19 Agustus 2008

Teruntuk Sahabat

Semuanya seperti biasa
Jerit dan pahit
Tawa dan tangis
Air mata mengalir
Bahak tawa terdengar

Aku menjalani kepenatan hidup
Seperti aku mendengar bunyi mono
Pada lagu - lagu yang seharusnya syahdu

Dingin dan beku
Melihat apa yang kau rasakan
Dan aku hanya menatap
Terduduk dalam hening yang bisu

Tentang luka
Tentang jerit
Tentang sakit
Tentang luka

Aku manusia
Aku manusia
Dan aku manusia


Aku juga bisa merasakan jeritmu
Aku juga bisa merasakan lukamu
Aku juga bisa merasakan sakitmu
Aku juga bisa merasakan lukamu

Langkah tak selamanya ringan
Namun itulah hidup
Harus ada tawa dan tangis
Ada yang mewarnai
Ada yang dijejakki


Untuk sahabat
Yang ini dan ini

Sabtu, 16 Agustus 2008

Doa Untuk Bangsa

Telah genap 63 tahun Tuhan melangkah bersama kami
Baik dalam sisi suka maupun sisi duka
Kau hantarkan negeri ini ke arah yang lebih baik
Kau mengangkat kami ke arah era pembebasan

Telah Kau berikan tanah air yang tak hentinya menghasilkan
Kejernihan kehidupan untuk kami sebagai yang ada di atasnya
Telah Kau berikan gunung yang menjulan tinggi
Telah Kau berikan laut yang tak henti menghasilkan

Semuanya telah Kau berikan sejak kami terlahir dan akan mati di tanah ini

Perjuangan bangsa ini tak akan terhenti di sini, Tuhan
Kami sebagai generasi yang akan menjadi pengolah semua yang Engkau berikan
Berikanlah kami kebijaksanaan dan hati yang bersih
Hadirkanlah kami sebagai pengayom bangsa untuk generasi berikutnya

Untuk mereka yang berjuang di atas, berikanlah mereka kebijaksanaan
Berikanlah mereka hati yang bersih dan bebas dari segala bentuk keharaman
Biarkanlah mereka memimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik, Tuhan

Memerdekakan bangsa ini juga perlu pengorbanan

Maka itu, kami juga berdoa untuk mereka yang telah gugur
Demi sebuah kemerdekaan, mereka yang tertawan, mereka yang terfitnah
Semoga doa ini menjadi balas jasa dari kami untuk mereka
Yang rela merenggangkan nyawa demi kebebasan
Yang rela meneteskan darah demi kebebasan

Untuk mereka yang belum bisa menikmati kemerdekaan
Berikanlah mereka harapan untuk merdeka
Agar mereka bisa merasakan arti kemerdekaan seperti dunia lainnya

Dan untuk kami sebagai masyarakat
Semoga kami bisa mencintai bangsa kami
Sebagai mana yang telah diberikan Tuhan kepada kami
Sebagai anugerah tak ternilai...

jakarta, 1 jam menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia

Aveline Agrippina Tando
Indonesia Raya - Twilite Orchestra

Senin, 11 Agustus 2008

Mereka... Laut...

Derap kaki - kaki kecil berlari
di atas putihnya butir - butir halus

mereka berlari ke sana ke mari
menyusuri jalanan pantai

ombak menggulung
memecah di tengah perjalanan

mereka - kekasih kecilku -
menanti senja
menanti kapal datang
yang akan membawa ayah mereka

kembali setelah melintas di laut luas



Pagi ini, sebelum melintas di bumi Jakarta