Senin, 17 Oktober 2011

Bila Aku Dilarang Menulis

bila aku dilarang menulis, pun itu bukan masalah besar bagiku
aku akan menulis dengan tetes darah sebagai tinta*
dan tembok di muka rumahmu kujadikan kertas tak habis

bila aku dilarang menulis, aku tak akan pernah marah
akan kucabik setiap kata dan menempelkannya di pintumu
biar kau tahu kata-kata itu yang akan memenjarakanmu

bila aku dilarang menulis, aku memilih untuk diam
karena kau tidak akan pernah sadari dari diam itu
jantungmu telah berhenti karena jutaan aksara menyumbat detakmu




*) dari puisi Widji Thukul



Bandung, 18 Oktober 2011 | 01.46
A.A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 14 Oktober 2011

'Senyawa Apologi' merdeka di dalam 21 Juara Harapan LMCR 2011. Eureka!

Perihal: Berangkat

mungkin memang pulang yang mesti menjadi jawaban
dari semua kegelisahan yang lahir dari rahim waktu
yang dikandung oleh perempuan bernama rindu
dari sana ia menjadi seonggok anak yang sempurna

mungkin memang pulang memberi kecukupan
tentang haus akan cinta dan kasih di dalam dekap
tentang peluk di dalam setiap sapaan yang lembut
tentang cium yang mesra di bibir usia yang menua

dan pula mungkin pulang yang memberikan kecup kenang
biar kamu enggan untuk pergi lagi karena kamu tahu langkahmu
kamu tahu semestinya kamu memang berada di mana
dan di sanalah sesungguhnya rumahmu, letak hatimu bersemayam





Jakarta, 14 Oktober 2011 | 20.12
A.A. - dalam sebuah inisial

Kamis, 13 Oktober 2011

A Part of A Farewell

be a part of you
be a part of your heart
be a part of your journey
and be a part of your life

thank you
to make my life wonderful
to make my love colorful
to make my day beautiful

nice to meet you
but (very) not nice to separate you






Jakarta, October 14th 2011 | 08.04
A.A. - in an initial

Selasa, 11 Oktober 2011

Perihal: Perih

mungkin tuhan tahu seberapa engkau menderita karena perih itu
perih yang tak bisa kau bagikan kepada sekitarmu, kepadaku
perih yang hanya boleh kau nikmati seorang diri di dalam waktumu
atau kau memang hanya ingin menjadikannya bagian dari dirimu

tentang sakit itu bisa saja terobati, tetapi sejarah sudah lebih lekas mencatat
boleh kulit hatimu terluka, ditahirkan, tetapi akan meninggalkan bekas
biar kau ingat lagi rasa sakitmu, rasa perih yang tak bisa kau lupakan
biar kau selalu berusaha untuk tidak menggores luka kepada lawan bicaramu

mungkin tuhan tahu seberapa perih luka jiwamu yang meradang
ia hanya butuh tempat untuk beristirah dan memulihkan isi batin
lebih mengenal siapa dirinya dan tahu caranya untuk menjadi pulih
dari sana, ia menghargai perih sebagai bagian dari darah waktunya



Bandung, 12 Oktober 2011 | 07.27
A.A. - dalam sebuah inisial

Sabtu, 08 Oktober 2011

Ia yang Disebut dengan Cinta

Bukankah kau yang memanggilnya demikian? Adapun aku tidak pernah melarang akan kehadirannya.

Aku hanya membuka pintu agar ia hendak bertamu, menikmati segala suguhan yang ada di rumah hati.

Kau memanggilnya dengan nama itu, aku pun demikian.

Memang mungkin ia yang disebut dengan cinta, ia yang dikenal dengan cinta.

Sehingga bukanlah hal yang tidak indah bila orang-orang bahagia karena ia, pula berlara karena ia.

Ia bisa menjadi sumber bahagia dan sumber nestapa. Ia seperti air yang melegakan, tetapi juga air yang menjadi bah.

Tapi tanpanya, hidup adalah tawar, tak lagi beragi.


Jakarta, 8 Oktober 2011 | 11.18
A.A. - dalam sebuah inisial

Selasa, 04 Oktober 2011

Perihal: Air Mata

bukankah kita pernah mendiskusikan hal ini
di mana kita hanya bisa menderita sakit seorang diri
menyimpan dendam yang tak terbalaskan
mengubur rasa sakit hati yang tak terbuka
dan benar-benar sungguh kesepian
air mata menjadi jawaban untuk memilih langkah
sebagaimana kita pernah pergi kepada waktu
untuk mengemis agar ia tak cepat berlari
agar tak sia-sialah semua hari yang ada
agar tetap ada harapan meski di tengah sepi
meski kau dan aku benar-benar merasa kesepian
air mata menjadi jawaban, untuk kau tahu tentang sebuah kehidupan
yang tak selalu semua orang tahu tentangnya



Bandung, 5 Oktober 2011 |5.01
A.A. - dalam sebuah inisial